Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 40 ( Bekas Luka )


__ADS_3

Kembali dari kampung halaman setelah menikmati nasi rawon favoritnya bersama Kenzo, kini Calina sudah kembali berada di apartemen milik Kenzo. Ia merebahkan dirinya di atas tempat tidur nan empuk setelah mengguyur tubuhnya di bawah guyuran air shower.


Akta cerai miliknya sudah tergeletak di atas meja rias. Rasa lega bercampur kecewa menyatu dalam relung hati terdalam.


Siapa yang mau jadi janda cerai? Tidak ada.


Siapa yang mau menjalani hidup seperti dirinya? Tidak ada.


Semua perempuan ingin hidup bahagia bersama pasangan mereka. Pasangan yang mengikrarkan suatu hubungan dalam ikatan yang suci. Kemudian menjadikan ia satu - satunya ratu di dalam istana hati lelakinya. Menjadi satu satunya cinta untuk suaminya.


Tapi semua itu tak sekalipun di dapatkan si bunga desa. Ia harus menjalani hidup penuh liku - liku selama setahun terakhir. Berjuang mempertahankan hati yang sesungguhnya sudah sekian lama retak.


Membiarkan hatinya terluka tersayat belati tak kasat mata, yang semakin hari semakin tajam. Namun di akhir cerita melunak tanpa kejelasan. Semua menjadi ambigu untuk dirinya yang berstatus sebagai istri kedua yang tak di cintai sejak awal.


"Jalani hidup barumu, wahai janda muda..." gumamnya miris, menyebut diri sendiri sebagai janda.


Ia bangkit dari ranjangnya, mendekati meja rias. Menatap diri di depan cermin meja rias yang berukuran cukup besar. Memperhatikan wajah dan tubuhnya yang di balut setelan piyama satun berwarna putih tulang.


"Aku tidak terlihat seperti janda, kan?" gumamnya. "Toh selama menikah aku tidak pernah hamil!" gumamnya sembari terus memperhatikan dirinya sendiri.


"Mungkin aku hanya akan terlihat seperti perawan tua! Hihihi!" kikik nya seorang diri. Namun detik berikutnya tawa itu lenyap.


"Tapi kan...."


Kalimat Calina terhenti. Mengingat kata perawan yang ia sematkan pada kata tua rasanya kurang pas.


"Aku tidak lagi perawan..." gumamnya kemudian.


Wajah yang semula berbinar kini menjadi terlihat masam. Mengingat kembali pada satu malam yang membuat dirinya kini benar - benar merasa sebagai janda. Malam yang dirinya harus menangisi hidupnya hingga pagi.


"Mana mungkin ada perjaka yang mau denganku!" gumamnya kemudian. Wajahnya semakin terlihat lesu. "Apa iya, jika aku menikah lagi nanti, aku hanya akan mendapatkan duda beranak satu, dua, atau bahkan tiga!" lanjutnya berandai - andai tidak jelas.


Menghela nafas berat, "hidup tidak selalu indah, Calina!"


Ia ambil akta cerai miliknya, "setidaknya aku akan belajar untuk menjadi lebih baik akibat kesalahan ini!" gumamnya menatap sedih map di tangannya.


Calina membawa akta cerai itu ke almari. Ia mengambil kopernya, dimana koper itu ia gunakan menyimpan surat - surat penting miliknya. Salah satunya ijazah dan tanda kelulusan lainnya. Juga beberapa barang pribadi yang ia bawa dari rumah Zio.


Krekk...

__ADS_1


Suara resleting koper bergerak memutar dari kiri hingga bagian kanan koper. Calina membuka lebar kopernya, kemudian memasukkan map berisikan akta cerai miliknya.


Ia menekan tumpukan berkas penting sebelum menutupnya kembali. Saat ia hendak menutup kembali, sorot matanya teralihkan oleh benda berwarna pink di pojok kopernya.


Sepasang matanya tertegun. Ia ambil plastik membentuk kotak yang sudah ada bekas sobekan itu. Seolah sudah pernah di ambil pada suatu masa.


"Bagaimana aku bisa melupakan ini..." gumamnya lirih.


Ia segera mengingat, kapan terakhir ia memakainya, dan berapa lama ia tidak pernah memakainya.


Seketika perutnya terasa mulas, "tidak mungkin..." lirihnya dengan ekspresi yang sulit di tebak.


Ia usap perutnya, "Bulan ke tiga!" gumamnya.


Air mata menetes begitu saja. Tidak ingin semua itu terjadi. Apa yang harus ia lakukan jika benar adanya. Tapi seumur hidupnya, baru kali ini ia mengalami telat datang bulan sampai tiga bulan lamanya.


"Tidaakkk!" serunya tertahan dengan air mata yang mulai mengucur deras. "Aku tidak mau! Aku tidak mau ada bagian dari lelaki itu dalam hidupku!" ucapnya dengan air mata yang mulai membasahi pipi.


"Aaakkh!" teriaknya frustasi.


Ia pukuli perutnya yang masih terlihat datar. Dengan air mata yang terus membanjiri pipi putih mulusnya. Cukup lama ia meratapi nasibnya di depan almari. Meskipun belum ada bukti yang menyatakan diri benar - benar hamil, namun berbagai bayangan tentang masa kehamilan tanpa suami mulai merasuki pikirannya.


Ia remas piyama tidurnya tepat di bagian perut dengan kuat. Melampiaskan rasa yang begitu sesak di dada. Baru saja ia merasa lega karena berhasil bercerai dari Zio. Namun belum juga satu malam, ia harus mendapati kenyataan yang membuatnya mual.


"Mama.... Apa yang harus Calina lakukan sekarang?" lirihnya dengan isakan yang terdengar begitu menyayat hati.


Ia kembali berdiri di hadapan cermin, menatap perutnya dengan benci. Seolah ia tengah menatap Zio dan kembali mengingat malam naas itu.


"Aku membencimu seumur hidupku, Zio!" serunya dengan sorot mata tajam dan gigi yang mengerat kuat.


"AAAKKHH!" teriak Calina frustasi.


Prak! Prak!


Ia geser semua alat make up atau apa saja yang berada di atas meja rias. Ia menggeser dengan gerakan yang sangat kasar. Hingga semua jatuh berantakan membentur lantai. Tak peduli beberapa benda sampai harus pecah tak bersisa.


Kemudian ia sesenggukan dengan menyandarkan punggungnya pada tempat tidur. Ia dekap kedua lutut untuk ia tempat ia menunduk, hingga air mata tak lagi bisa keluar dari pelupuknya.


Lama, cukup lama ia seperti orang linglung yang kehilangan arah. Kepalanya hanya di penuhi dengan pertanyaan - pertanyaan ambigu yang yang tak bisa jelaskan.

__ADS_1


***


šŸ„ Rumah Zio Alfaro. Di waktu yang sama, dimana Calina mendapati kenyataan yang menurutnya pahit.


Naura dan Zio tengah duduk di sofa ruang tengah. Zio yang masih bersedih karena akhirnya harus benar - benar kehilangan Calina, hanya bisa berdiam dengan menyandarkan kepalanya di pangkuan istrinya.


"Jangan terlalu larut dalam kesedihan, Mas..." lirih Naura mengusap lembut rambut hitam legam Zio.


"Aku menyesal sudah menjadi lelaki bodoh selama ini, Sayang!" jawab Zio. "Tuhan memberiku kesempatan untuk memiliki dua bidadari untuk ku jaga, tapi aku tak bisa bersikap adil. Dan sekarang satu bidadari telah pergi entah kemana..."


Naura hanya diam mendengar suaminya yang sedang berbagi keluh kesah. Berulang kali suaminya tampak ingin menangis, namun jelas terlihat jika ia sangat menahannya.


"Akhh!" tiba - tiba Zio terduduk dengan memegangi bagian tengah dadanya.


"Kamu kenapa, Mas?" tanya Naura panik.


"Ssshhh!" Zio berdesis karena bagian dadanya terasa sakit untuk beberapa saat.


Namun kemudian berangsur menghilang. Dan ia kembali bersikap normal. Entah, apa yang di rasakan Zio. Sakit yang menunjam itu tiba - tiba terasa begitu menyiksa. Namun satu menit kemudian menghilang tanpa meninggalkan sisa rasa sakit.


"Kamu kenapa, Mas?"


"Dadaku tiba - tiba sakit!" jawab Zio masih memegangi dadanya.


"Lalu sekarang?"


"Sudah tidak sama sekali..." jawab Zio heran.


Sebelumnya ia tidak pernah sekalipun merasakan rasa sakit yang aneh itu.


"Kamu yakin, atau kita harus pergi ke dokter, Sayang?"


Zio hanya menggeleng lemah, "tidak perlu, Sayang!"


Apakah semu itu ada hubungannya dengan Calina yang memukuli perutnya?


Entahlah...


...🪓 Happy Reading 🪓...

__ADS_1


__ADS_2