Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 167 ( Kita Selamanya ... )


__ADS_3

Sekian hari, minggu dan bulan telah berlalu. Bersamaan dengan usia remaja mereka yang terus merambat menuju usia dewasa, tentu ada kisah yang menyertainya di setiap detiknya.


Usia remaja, sejak memasuki bangku SMP sampai lulus SMA adalah momen terbaik untuk bisa memiliki sahabat yang terbaik di kelas dan di sekolah.


Banyak canda tawa yang selalu mereka hadirkan untuk menghilangkan rasa hambar dalam suatu kelompok pertemanan yang tergabung dari berbagai karakter berbeda yang di miliki seseorang.


Ada berbagai kegiatan yang sering mereka lakukan untuk mempererat hubungan persahabatan. Seperti makan siang bersama, belajar kelompok di rumah, hang out, nonton bioskop di mall, liburan bersama, nongkrong di cafe, atau sekedar nonton balap liar di tepian jalan.


Setiap momennya selalu memberikan kenangan tersendiri di salah satu bagian penyimpanan memori yang akan terkenang sampai mereka di panggil Kakek dan Nenek.


Diantara suka cita bersama para sahabat ketika menjalani usia sekolah, pasti ada kisah cinta yang juga ikut turut hadir memberi warna yang tak selalu sama di setiap orang.


Entah, kisah cinta yang mereka alami adalah kisah cinta yang bahagia, atau kisah cinta yang sedih dan mungkin cinta yang bertepuk sebelah tangan.


Tidak semua anak muda mempunyai kisah cinta yang bahagia di usia remaja mereka. Banyak juga yang harus menelan kesedihan dan rasa sakit hati yang luar biasa.


Meskipun tak menutup kemungkinan mereka hanya menjalani cinta monyet yang hanya indah di awal saja. Dan ketika sudah tidak lagi nyaman, bosan, atau juga karena tertarik dengan yang lain, maka cinta itu akan berakhir dengan menyakitkan.


Tak jarang pula, ada anak muda yang yang belum pernah merasakan indahnya saling mencintai, berbagi kasih dan suka cita kebersamaan hingga masa remaja di usia sekolah itu berakhir.


Dan yang di kisahkan dalam cerita ini adalah kisah cinta yang rumit, runyam dan belum menemukan akhir kisahnya. Soal kebahagiaan mereka di luar sana, percayalah... setiap individu memiliki momen yang menurut mereka paling indah. Dan juga memiliki momen yang menurut mereka paling berat atau bahkan sulit membuat mereka bangkit kembali.


Di antara waktu yang berjalan, ada anak muda yang mengharap kisah indah akan di mulai setelah terjadi momen menegangkan dan mendebarkan di dalam salah satu wahana rumah hantu yang mereka datangi di satu waktu saat akhir pekan.


Namun yang terjadi setelah hari berganti, justru apa yang terjadi sebelum hari kemarin kembali terjadi pada sikap awal seorang Arsenio Wilson. Sudah tidak ada lagi obrolan walau mereka berpapasan di lobby sekolah. Hanya senyum datar yang di lempar oleh sang pemuda.


Kemudian saat bertemu di kantin di hari-hari berikutnya, yang terjadi juga tak jau berbeda. Apalagi ketika ia sedang bersama Vino, maka sang pemuda tidak akan tersenyum padanya walau satu detik sekalipun.


Clarice mulai bingung apa yang salah dengan dirinya? Atau masalah apa yang terjadi antara Arsen dan Vino?


Dan hari ujian nasional itu telah tiba, ketika usia mereka sudah beranjak 18 tahun. Ujian yang menentukan kelulusan itu di lakukan selama beberapa hari. Dan itu membuat semua murid hanya fokus pada ujian sampai hari terakhir.


Ujian Nasional, momen yang menjadi ujian terakhir sebelum mereka menempuh pendidikan di tingkat yang baru. Dan kebanyakan di masa kuliah itu nanti kebanyakan mereka semua akan berpencar hingga loss contact.


Karena di usia mereka yang di anggap sudah dewasa, tak jarang orang tua akan melepas kemanapun mereka ingin berkuliah. Bahkan sampai keluar negeri sekalipun.


Sekian waktu berlalu dari masa ujian nasional, pengumuman hasil ujian pun di umumkan. Dan ketika semua di nyatakan lulus, di sanalah titik kepuasan untuk semua siswa kelas dua belas.


Di mana dengan predikat itu, mereka akan melanjutkan pada jenjang kuliah. Jenjang yang lebih serius, karena mereka akan mendapat gelar yang akan terus melekat sampai pemilik nama tiada lagi di muka Bumi ini. Dan lagi, masa ini terjadi di usia yang sudah tidak lagi anak-anak.


Mereka harus mulai belajar untuk dewasa, belajar untuk mandiri, dan juga harus belajar untuk menjaga attitude di manapun mereka mereka berada kelak. Meraih cita-cita juga menunjukkan pada dunia jika inilah hasil perjuangannya suatu saat nanti.


"Lulus! Lulus! Lulus!" seru sekian banyak siswa siswi Alexander International School.


"Yeay!" seru sebagian murid di kelas Clarice, setelah membuka amplop di tangan masing-masing. Dan nama mereka di nyatakan lulus.


Clarice yang masih duduk di bangkunya, memilih untuk membuka amplop setelah sebagian teman-temannya membuka amplop lebih awal. Dan ketika sebagian sudah bersorak senang karena lulus, barulah Cla membukanya.


Dan tak kalah puas dari teman-temannya, ia pun bersorak ketika berhasil mendapat predikat lulus dari hasil perjuangannya belajar di tingkat ini selama tiga tahun.


Memang, sampai lulus pun ia masih menjadi Clarice yang tidak terlalu pintar. Selama tiga tahun ini, ranking terbaik yang ia dapatkan hanya sampai ranking 5 di kelas.


Siswa siswi Alexander International School hari itu semua peserta Ujian Nasional di nyatakan lulus. Dan itu adalah bukti keberuntungan sekolah untuk bisa semakin maju, karena siswanya selalu dinyatakan lulus 100%.


"YES!!!" serunya sangat bahagia.


"Kita lulus!" ujar Hanna menghampiri meja Clarice dan memeluk sang sahabat dengan erat.

__ADS_1


Dan tidak seru rasanya, jika kelulusan 100% ini tidak di rayakan dengan penuh suka cita yang tidak akan mereka rasakan kembali di masa depan. Sesuatu yang paling berkesan dan umum di lakukan oleh setiap generasi kelulusan dari tahun ke tahun.


Apalagi yang lebih seru selain corat coret seragam sekolah mereka untuk melengkapi pembuatan video dokumentasi akhir sekolah?


Mengotori warna putih menjadi penuh coretan warna-warni yang berasal dari Pilok. Kemudian di bubuhi tanda tangan menggunakan spidol permanent dari para sahabat adalah ciri khas untuk mengetahui siapa sahabat terdekat semasa di sekolah dahulu.


Para siswi perempuan memegang spidol sendiri-sendiri di tangan masing-masing, sedang para siswa laki-laki memegang pilok di tangan mereka, ada juga yang membawa flare smoke dengan 5 warna yang berbeda. Mereka semua berlari keluar kelas menuju lapangan basket yang menyatu dengan lapangan bola voli.


Semua berhamburan menuju lapangan yang sudah di tentukan untuk membuat video perpisahan yang paling berkesan sebelum mereka benar-benar tidak akan kembali datang ke sekolah untuk menuntut ilmu.


Sebuah koreo terbaik di persembahkan oleh gabungan seluruh siswa kelas 12 yang sudah berlatih sejak dua minggu yang lalu.


Selesai berpanas-panasan untuk pengambilan video yang cukup spektakuler sambil menabur Flare dan menyemprotkan pilok pada baju putih masing-masing, maka kini saatnya mereka semua saling melukiskan tanda tangan masing-masing di baju para sahabat dekat.


"Di sini, Cla!" pinta Hanna menunjuk baju bagian lengan kanannya.


"Ok!" jawab Cla.


"Aku juga, Cla!" sahut Vino yang juga menunjuk tempat yang sama.


Maka Cla pun kembali melukiskan tanda tangannya pada lengan sang Atlit.


Dari sisi kanan Clarice, berjalanlah dua pemuda lain yang tetap menjalin hubungan baik dengan mereka. Dialah Arsen dan Naufal yang melangkah bersama mendekati gerombolan Clarice setelah berbagi tanda tangan dengan teman satu kelasnya.


Tanpa aba-aba, Naufal langsung memberikan tanda tangannya pada lengan kiri Clarice. Dan Clarice membalas di lengan yang sama. Tak lupa nama singkatnya di sematkan untuk tetap di ingat.


"Tanda tangan, ya?" ucap Clarice ketika berhadapan dengan Arsen yang baru saja memberi tanda tangan pada Hanna.


Tersenyum lirih, Arsen memberikan tanda tangannya di punggung sebelah kiri Clarice. Selesai memberi tanda tangan, Arsen menutup kembali spidolnya karena merasa enggan untuk memberi tanda tangan pada Vino. Satu-satunya sahabat yang belum mendapat tanda tangan darinya.


Tanpa menjawab, Arsen mengangkat baju bagian depan yang berada tepat di depan dadanya sebelah kanan. Memberi kode pada Clarice untuk memberikan tanda tangan di sana. Bagian itu masih sangat bersih, seolah tidak ada yang boleh mencoretkan tanda tangan di sana sebelum ini.


Tersenyum manis, Clarice kembali mendekat pada Arsen, mengikis jarak di antara keduanya. Hingga kini Clarice menunduk di depan dada sang pembalap. Memberikan tanda tangan tepat di titik yang di minta oleh Arsen.


Wajah cantiknya merona merah, karena merasa ada sesuatu yang berbeda terasa di dalam sana. Sebuah debaran terasa begitu nyata di masing-masing hati. Hanya saja seperti tidak ada yang berani mengungkapkan apa yang di rasa.


Senyum Clarice semakin lebar tertahan, ketika ia menuliskan namanya dengan tulisan yang sangat tidak biasa. Alias hanya pada Arsen, Cla mendesain namanya secara khusus.


Sementara Cla mendesain tanda tangannya dengan sangat rapi dan bagus. Mata Arsen menatap lurus dan datar pada Vino yang berdiri tidak jauh di belakang Clarice.


Dalam pandangan yang tersirat, seolah Arsen tengah berucap... Aku bisa dengan mudah membawa Clarice pergi darimu, Vino!


Tak mau kalah, Vino membalas tatapan Arsen dengan tatapan setengah sinis, namun sangat mengintimidasi pada sang pembalap. Ia seolah berkata... Aku yang akan mendapatkan Clarice. Aku yakin, cinta itu masih ada untukku! Kesempatan mu untuk memiliki Clarice tidak akan pernah ada, Arsen.


Clarice selesai menuliskan namanya di dada sebelah kanan Arsen, dan kini semua mengambil posisi untuk berfoto bersama di tengah corat-coret yang masih di lakukan oleh teman-teman. Dan juga flare smoke yang masih di tembakkan oleh teman-teman yang lain. Dan itu akan semakin memperindah hasil foto mereka.


"Cheese!!!!" seru Lia yang di mintai Hanna untuk mengambil foto lima orang sahabat yang terjalin di kelas X dahulu.


Sahabat... Benarkah julukan satu ini masih pantas untuk di sematkan?


Ketika ada dua orang anggota yang sedang terjadi perang dingin. Tanpa ada yang tau, tanpa ada yang menyadari selama satu tahun terakhir ini.


Dunia akan menjawab, seperti apa eratnya hubungan ini setelah mereka benar-benar hanya meninggalkan jejaknya di salah satu sekolah terbaik di Ibukota itu.


"Perjuangan kita di sekolah ini telah berakhir... kawan..." ucap Vino yang merangkul pundak Hanna dan Clarice.


Sedangkan di sisi kanan Clarice ada Arsen yang merangkul pundaknya. Tanpa di sadari sang pembalap, posisi ini menciptakan perasaan yang berbeda untu sang mantan ketua Cheerleader.

__ADS_1


Kemudian di sisi kiri Hanna, ada Naufal yang merangkul pundak Hanna dengan erat persahabatan. Dan tangan dua gadis itu ada di pinggang para lelaki yang mengapit mereka.


Saling merangkul satu sama lain. Seolah membuat aliran perasaan yang menyertai hubungan kelimanya saling merambat pada satu sama lain. Begitu erat dan begitu kuat di dalam lubuk hati terdalam.


Berdiri di tengah lapangan basket, menghadap gedung sekolah yang teramat megah. Menatap jauh ke sana, seolah menerawang kembali apa saja yang sudah mereka lakukan selama tiga tahun menjejakkan kaki di sekolah ini. Kisah apa dan perjuangan apa yang sudah mereka lakukan selama 3 tahun ini.


Suka duka, kenakalan, kejahilan, keluar masuk ruang BK, persahabatan, mengukir prestasi dan masih banyak lagi yang sudah mereka lakukan sampai detik terakhir ini.


"Tapi ini bukan akhir persahabatan kita, guys!" sahut Naufal masih melihat jauh ke arah gedung di antara banyaknya teman yang masih bersorai gembira dengan pewarna yang ada di tangan masing-masing.


Di depan sana, ada barisan guru yang menatap bangga pada murid-muridnya. Ada barisan para guru yang mungkin selama ini menyimpan rasa lelah karena sudah membimbing banyaknya siswa yang tidak semua adalah murid yang penurut.


Di antara para guru, ada yang juga menatap lirih pada seluruh siswa kelas XII yang sedang bergembira. Mereka adalah para guru yang bersedih karena merasakan perpisahan setiap tahunnya.


"Yap!" sahut Clarice. "Di mana pun kita kuliah setelah ini... Jangan pernah melupakan satu sama lain..." ucap Clarice dengan suara yang nyaris bergetar. Melirik pada Arsen dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Kemudian menoleh pada Vino, Hanna dan Naufal secara bergantian.


"Aku tidak akan pernah melupakan kamu..." sahut Arsen memiringkan kepalanya ke arah Clarice. Menatap dengan tatapan yang dalam dan juga sendu.


Kalimat ini, tatapan ini membuat jantung Clarice berdebar hebat. Apalagi ketika ia menoleh pada Arsen, sorot mata keduanya bertemu dan beradu untuk beberapa saat.


"Dan juga kalian semua..." lanjutnya menoleh pada Arsen dan Hanna.


Melirik sekilas pada Vino yang sesungguhnya enggan untuk ia lihat. Tapi mau bagaimanapun, mereka pernah dekat pada masanya. Dan kini hendak berpisah dalam keadaan jalinan yang tidak 100% baik-baik saja.


Untuk sesaat, kelima anak ini sama-sama terdiam. Hanya menatap pada gedung sekolah, dan membayangkan rindu yang akan tercipta setalah ini.


"Kita selamanya...." ucap Hanna menatap jauh pada gedung yang menjulang, kemudian mendongak ke atas. Menatap pada langit biru yang mungkin ikut berbahagia dengan apa yang sedang di banggakan oleh mereka semua.


"Alexander International School?" teriak Naufal dengan kencang memanggil nama sekolah mereka, menatap pada gedung yang sejak tadi tak lepas dari pandangan.


Membuat semua siswa yang mendengarnya terkesiap, dan berhenti melakukan aktifitas apapun juga. Berganti dengan menatap sekolah yang menjadi kebanggan mereka selama ini.


"I WILL MISS YOU!!!!" teriak seluruh murid kelas XII yang masih genap di lapangan.


Setidaknya itu adalah kalimat yang ada di dalam salah satu scene dokumentasi perpisahan sekolah.


Para guri yang sudah diliputi kesedihan akhirnya pecahlah air mata yang sudah di tahan sekian waktu lamanya.


Beberapa siswa tampak menghampiri guru terfavorit mereka, dan saling berpelukan erat.


Mengucap kata-kata perpisahan yang terus di bubuhi kata terima kasih di akhir kalimat.


"Kalian adalah calon orang-orang hebat di kemudian hari..." jawab Miss Tiara dengan derai air mata dan suara yang bergetar ketika di peluk oleh tiga siswi perempuan yang mengidolakan dirinya.


"Datang dan beri tahu kami, pencapaian apa yang sudah kalian dapatkan 10 tahun yang akan datang... Jangan ragu untuk datang... Selamanya kalian adalah anak-anak kami..."


"Miss Tiara akan menjadi legenda di sekolah ini..." sahut salah satu siswi dengan tangis haru dan sedih.


Teriakan, sorak sorai kembali terdengar di sertai dengan tepuk tangan bahagia. Dan tak sedikit di antara mereka yang berpelukan dengan sahabat terbaik selama ini. Kemudian bersama, mereka menangis dalam tangisan haru, sedih dan bangga yang bercampur menjadi satu.


Clarice dan ke empat sahabatnya kini berpelukan dengan melingkar. Clarice dan Hanna sudah mulai menangis karena harus berpisah, dan belum tentu akan memiliki waktu yang sama seperti saat mereka masih menjadi pelajar kelas atas.


Setelah ini pun, keduanya kuliah di tempat yang berbeda.


"Kita selamanya ..." Hanna mengulang kalimatnya dengan suara yang masih bergetar. Isakan dari sisa-sisa tangis air mata pun masih terdengar.


...🪴 Bersambung... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2