
Calina melakukan pembayaran belanja di salah satu kasir yang berjajar. Tanpa ia ketahui di kasir yang lain, ada Zio yang juga sedang melakukan pembayaran.
Zio menoleh pada Calina yang tengah sibuk mengeluarkan semua barang belanjaan. Berbeda dengan dirinya yang tidak terlalu banyak belanjaan. Sehingga ia bisa selesai lebih awal di banding Calina. Meski keduanya memasuki meja kasir bersamaan.
Zio berdiri di pagar pembatas di luar supermarket. Ia masih menatap Calina dari jarak sekian meter. Sesekali pula ia mengedarkan pandangan ke arah lain.
Lama tak bertemu, ternyata mantan istrinya tak jauh berbeda dengan dahulu. Tetap cantik natural.
Meski begitu tak lantas membuat Zio ingin kembali merebut hati Calina. Ia tau kesalahan dirinya di masa lalu tak akan semudah itu termaafkan oleh wanita manapun yang berada di posisi Calina pada masa itu.
Hanya saja, saat ini ia ingin menjalin hubungan pertemanan dengan mantan istrinya. Jika bisa, berteman dengan suami Calina sekaligus.
Apalagi sejak dulu, ada satu hal yang selalu mengganjal dalam pikirannya. Yakni akibat dari malam yang pernah mereka lalui saat masih berstatus sebagai suami istri.
Untuk itu tak ingin rasanya membangun permusuhan, atau hubungan yang merenggang. Biarlah yang lalu berlalu.
Bukankah kita hanya perlu memetik hikmah di balik semua masa lalu kita?
Saat Zio menunggu sang mantan keluar, sorot matanya tak sengaja menangkap sosok yang cukup ia kenal meski tak terlalu akrab.
Ya, Clarice!
Gadis itu berlarian seorang diri di depan supermarket dengan riangnya. Zio pun mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok lain yang mungkin sedang bersama gadis itu.
Dan memang benar, ada Kenzo yang duduk di salah satu kursi tunggu. Dengan terus meladeni candaan putrinya, dengan senyuman tampan sang bos. Senyuman yang tak pernah sekalipun ia lihat selama mereka di kantor.
Zio hendak mendekati Kenzo, guna bertegur sapa pada orang yang paling ia hormati di gedung dengan sekian tingkat milik keluarga lelaki itu.
Meskipun hari itu ia tengah cuti untuk satu urusan penting. Rasanya tidak sopan jika ia menghindari sang bos. Toh ia cuti, bukan membolos kerja.
Baru satu langkah kakinya berayun, Calina keluar dari area super market. Bingunglah Zio, mana yang harus ia sapa duluan.
Calina kah?
Atau Kenzo kah?
Namun belum juga mendapat keputusan, mata Zio di buat terbelalak dengan langkah Calina yang mengarah pada gadis kecil yang sangat ia kenali sebagai Nona Clarice.
Awalnya Zio berasumsi jika Calina hanya akan menyapa gadis kecil itu. Dan tidak ada hubungan apapun juga setelah maupun sesudahnya. Tapi ternyata gadis itu berlari ke arah Calina yang mendorong troli dengan berisi banyak barang belanjaannya tadi.
__ADS_1
Zio semakin tercengang saat mendengar cara gadis kecil itu menyapa Calina. Tubuh membeku dan denyut jantung seketika berdetak semkin cepat dan tak beraturan.
Jika dia penderita jantung, mungkin saat itu juga Zio akan pingsan di tempat. Atau bahkan .... ya... begitulah.
"Mommy! where is my chocolate?" Clarice menghambur pada troli yang berisi beberapa kantong belanja.
"Di sini!" jawab Calina mengeluarkan chocolate milik Clarice dari salah satu kantong belanja.
"Thank you!' seru Clarice menerima coklat dari sang Ibunda.
Zio masih berdiri membeku di tempatnya tadi. Menanti kejutan demi kejutan yang di berikan oleng sang mantan istri di hari itu. Ia yakin tak lama lagi bosnya akan muncul di antara dua perempuan yang menurutnya sangat cantik. Meski ia baru mengenal Clarice sekalipun.
Semua tau, jika Kenzo adalah Daddy nya Clarice. Dan jika kini ia menemukan seseorang yang di panggil Clarice sebagai Mommy, itu artinya mereka adalah ...
Dan apa yang di perkirakan Zio benar adanya. Kenzo berdiri dan berjalan mendekati Calina dan Clarice. Mengucap satu kalimat yang membuat darah di dalam tubuhnya serasa mendidih. Kaki bahkan terasa lemas tak bertulang.
"Sudah selesai, Sayang?"
JEDAG!!!
Jika mengeluarkan bunyi, mungkin seperti itulah jantung Zio yang jatuh ke lantai marmer karena melompat dari sarangnya yang tiba - tiba terasa panas hanya dalam sekian detik.
Apa hal itu pula yang membuat semua karyawan tidak tau siapa istri Kenzo?
Karena identitas Calina benar - benar di sembunyikan. Apalagi sebagian karyawan sudah mengenali Calina sebagai istrinya di masa lalu. Dan mantan istri di masa sekarang.
Zio menatap lemah tiga sosok manusia yang melangkah pergi meninggalkan area supermarket. Dengan Kenzo yang mendorong troli untuk di bawa keluar area mall. Mereka sungguh terlihat sebagai keluarga bahagia.
Nafas Zio terengah, seolah kesulitan untuk memasuki kerongkongannya. Bagaiman tidak, Calina menikah Kenzo, yang mana adalah laki - laki yang pernah membuatnya cemburu. Hingga ia memutuskan melakukan hal yang membuat Calina semakin membencinya.
Keluarga kecil itu mulai menuruni eskalator. Zio pun reflek mengikuti ketiganya dari jarak sekian meter. Sungguh sakit mata memandang ketidakjelasan ini. Tapi semua ini adalah nyata. Ia ingin tahu, kenapa ada anak sebesar Clarice di antara mereka?
Sementara perceraian mereka belum genap 6 tahun lamanya. Bagaiman bisa Clarice sudah berusia 5 tahun.
' Apa mungkin mereka sudah mengenal sebelum percerian itu berlangsung? atau mereka sudah berselingkuh? '
Pertanyaan demi pertanyaan merasuki pikiran gelap sang duda tampan.
Sampai akhirnya keluarga itu masuk ke dalam gedung apartemen yang tak jauh dari lokasi mall, lebih tepatnya gedung Mall dan Apartemen adalah berdampingan.
__ADS_1
Dengan melakukan berbagai cara, akhirnya Zio berhasil menemukan apartemen Kenzo. Zio tak peduli meski harus melakukan cara licik dan picik sekalipun untuk mendapatkan nomor lantai dan nomor apartemen Kenzo.
Dengan langkah yang nyaris tak bisa menginjak tanah, Zio akhirnya sampai di depan sebuah pintu berwarna putih. Dengan perasaan yang campur aduk, ia tekan bel yang berada di dekat pintu.
Dan tak lama kemudian terbukalah pintu itu oleh seseorang yang sangat ia kenali. Yaito Kenzo Adhitama, sang CEO di tempatnya bekerja. Dua sorot mata saling beradu pandang untuk beberapa detikn dalam suasan sunyi.
"Selamat siang, Pak Kenzo?" sapa Zio dengan wajah datar dan sebuah senyu yang di paksakan.
Kenzo yang membuka pintu pun di buat sedikit kaget melihat siapa yang datang. menyesal karena tak melihat lubang kecil untuk mengintip, rasanya sudah percuma.
"Zio!" pekik Kenzo berusaha menutupi kegugupan yang selama ini ia khawatirkan.
Di saat seperti ini, dalam hati hanya ada keterpaksan. Yaitu terpakasa akan menggunakan kekuasaan jika sampai hal yang tak ia inginkan menjadi kenyataan. Toh, Zio hanyalah seorang GM di kerajaan bisnis sang Ayah. Sementara dirinya adalah putra mahkota Adhitama Group.
"Untuk apa kamu datang kemari?" tanya Kenzo.
Tersenyum miring dan dingin, Zio berucap, "apa ada yang ingin Bapak jelaskan kepada saya?" tanya Zio dengan rasa takut pada lelaki itu yang sudah hilang entah kemana.
Kenzo menerawang jauh ke dalam sorot mata Zio, yang mana ia tau ada kecewa yang sedang sulit di artikan oleh lelaki itu.
"Apa yang harus aku jelaskan padamu?" tanya Kenzo dengan raut wajah yang datar namun menyimpan sejuta makna.
"Sejak kapan kalian menikah?" tanya Zio langsung pada inti permasalahan yang mengganjal di dalam dada. Ia tatap serius wajah Kenzo yang terlihat biasa saja. Senyum smirk yang sempat muncul telah hilang. Berganti wajah tampan yang tegas dan menantang.
"Apa harus aku menjawabnya?"
"Bukankah semua pertanyaan memiliki jawaban?" balas Zio tak kalah sengit. "Apa susahnya tinggal menjawab?"
"Bukankah setiap orang punya hak untuk memilih memberi jawaban atau tidak?"
Keduanya bersitegang dalam pertanyaan. Saling melempar pertanyaan mematikan adalah cara yang mereka ambil tanpa perencanaan.
Jika di tanya siapa yang menang di antara keduanya, maka jawabannya adalah tidak ada. Karena kenyataannya, pertanyaan yang paling mematikan adalah ...
"Siapa, Mas? kenapa kamu suara kamu sampai ke dalam?"
Sebuah pertanyaan yang membuat dua lelaki tampan yang sama - sama pintar iyu menoleh ke arah dalam. yang mana pembatas antara ruang depan dan ruang tamu.
...🪴 Happy Reading 🪴...
__ADS_1