
Setelah melihat Clarice berjalan kembali ke kelas, hingga sang gadis masuk ke dalam kelas, Arsen memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju toilet. Meskipun sesungguhnya ia tidak ingin mendatangi area itu.
Satu yang ingin ia pastikan, benarkah yang ia lihat memasuki toilet tadi adalah Vino. Karena tidak ada murid lain lagi yang berada di koridor kelas hingga toilet yang melintas.
Arsen melangkah lebih cepat, karena sudah sangat tidak sabar ingin tau apa yang terjadi dengan Clarice. Siapa tau Vino mengetahui sesuatu. Atau justru Cla bersedih karena Vino?
Tapi apa masalah mereka berdua yang tak ia ketahui? batin Arsen.
Arsen membuka pintu utama toilet laki-laki, sorot matanya langsung beredar ke seisi ruang toilet. Dan tidak sulit baginya untuk bisa menemukan sosok yang memang sejak tadi ia lihat masuk ke dalam toilet.
Arsen masuk ke dalam toilet, dan ia tutup pintu utama toilet untuk kemudian menyapa Vino yang duduk berjongkok di samping wastafel toilet laki-laki.
Obrolan singkat terjadi setelah Arsen ikut duduk berjongkok di depan Vino, dengan menyandarkan punggungnya pada dinding toilet yang berlapis keramik berwarna putih. Dan keduanya berbincang ala anak muda seusia mereka.
"Itu bukan coklat oleh-oleh, Sen!" jawab Vino setelah Arsen mengumpat, karena di duga Vino jika Arsen menginginkan coklat yang sama seperti yang ia berikan pada Clarice.
Padahal tanpa di ketahui sang Atlit, sesungguhnya seruan Arsen adalah bentuk lain dari menggali informasi lebih dalam. Karena jika hanya berurusan dengan sekedar coklat ataupun oleh-oleh, sungguhlah sang pembalap tidak menginginkan apapun juga dari orang lain.
Karena yang ia kejar hanya apa yang di berikan Clarice untuknya. Dan apapun yang berhubungan dengan gadis yang sampai saat ini membuat dirinya memilih untuk menjomblo saja. Di tengah banyaknya gadis yang ingin menjadi kekasihnya.
Tanpa perlu apapun lagi dari teman yang lain. Apalagi dari teman laki-laki. Arsen hanya butuh sahabat setia, bukan oleh-oleh ataupun keuntungan dalam bentuk apapun juga di dalam sebuah pertemanan dan persahabatan.
Karena dari segi harta, Arsen juga berasal dari keluarga yang tidak main-main. Apapun yang ia ingin mungkin bisa dengan mudah ia dapatkan. Segala cita-cita mungkin bisa ia capai melalui jalur tol jika memang terpaksa.
Tapi Arsen bukanlah pemuda yang demikian. Ia lebih suka berjuang untuk mencapai apa yang ia inginkan. Sehingga dalam pertemanan, ia hanya butuh kawan yang setia. Bukan kawan yang kaya raya ataupun pintar dalam mata pelajaran apapun.
"Lantas?" tanya Arsen dengan sepasang mata yang memicing tajam.
"Sebenarnya aku dan Neha sudah jadian di malam minggu yang lalu..." ucap Vino mengawali ceritanya.
Arsen mengerutkan keningnya, memikirkan apa hubungannya, antara jadiannya Vino dan Neha dengan coklat yang di bawa oleh Clarice tadi?
"Kemudian kami sepakat untuk membuat perjanjian... yaitu memberi tahu pada teman-teman yang kami anggap menimbulkan rasa cemburu pada kami, dengan cara memberikan mereka sesuatu sebagai simbol." ucap Vino menjelaskan.
"Lalu Neha memilih untuk membeli coklat itu sebagai tanda. Akhirnya hari minggu kemarin kami jalan-jalan berdua dengan status baru kami. Lalu membeli coklat itu di Choco Factory."
"Maksud kamu?" Arsen semakin memicingkan matanya dengan dada yang mulai bergemuruh tidak tenang.
"Aku menyebutkan nama-nama yang harus di beri Neha coklat. Dan Neha menyebutkan nama-nama yang harus aku berikan coklat." jawab Vino. "Dengan begitu kami jadi adil."
"Jadi maksud kamu, Clarice menimbulkan rasa cemburu untuk Neha?" tanya Arsen mencari kejelasan.
"Ya, Neha menyebut nama Clarice sebagai taman perempuan yang harus aku beri coklat. Karena Neha tau kalau aku pernah main ke rumah Clarice bersama kalian." jawab Vino sejujur mungkin. "Padahal hanya main untuk belajar, tapi Neha sudah cemburu." lanjut Vino tersenyum mengingat kecemburuan Neha.
Dan Vino kembali teringat, jika Neha pernah sengaja mencium pipinya di depan Clarice. Padahal saat itu keduanya belum sedekat sekarang. Hanya saja ternyata Neha mendapat laporan dari anak basket kela XII, jika ia pernah mengajari Clarice memasukkan bola basket ke dalam ring, di saat jam pulang sekolah. Dan Neha sudah pulang.
Di situlah awal mula Neha mulai cemburu dengan sosol Brighta Clarice Agasta.
Sedikit banyak, Vino yang tau jika Arsen memiliki perasaan pada Clarice, berusaha untuk mengatur kalimat supaya tidak menimbulkan kesalahpahaman antara dirinya dan Arsen.
"Jadi Clarice adalah gadis pertama yang aku berikan coklat itu. Karena Neha pun menyebut namannya pertama kali." jelas Vino.
"Memangnya Neha akan percaya kalau kamu sudah memberikan coklat itu pada Clarice dan menjelaskan sedemikian detail pada Cla?" selidik Arsen menahan gemuruh yang berdebur di dalam dadanya.
"Aku sudah merekamnya secara diam-diam..." jawab Vino menekan tombol di sisi kanan atas layar, hingga layar pun langsung menyala, dan menunjukkan sebuah video. "Supaya Neha tidak berfikir aku mengarang cerita." lanjut Vino.
Tanpa mencari atau menggeser-geser layar lagi, Vino sudah langsung menunjukkan video itu pada Arsen yang masih mengerutkan keningnya.
"Jadi sedari tadi kamu di toilet nonton rekaman itu?" tanya Arsen.
"Ya, aku mengirimnya pada Neha."
"Di balas?" tanya Arsen. "Apa katanya?"
"Belum... Aku rasa dia sedang mengikuti pelajaran...."
Arsen terdiam, mencerna dan merangkai dengan baik setiap kejadian di depan mata. Juga cerita yang ia dapat dari sekian banyak penjelasan Vino.
' Jadi sejak tadi dia menonton video rekaman ketika memberikan coklat pada Clarice? untuk apa di ulang berulang kali? Atau Vino... '
Gumam Arsen dalam hati. Meskipun sangat lirih, Arsen bisa mendengar suara Cla dan Vino secara bergantian melalui rekaman yang di mainkan oleh Vino. Walau tidak jelas apa yang sedang mereka bicarakan. Karena Volume yang di gunakan Vino sangat kecil dan lirih.
Arsen berulang kali menatap Vino yang menatap layar ponselnya. Seolah ingin bertanya. Tapi sangat ragu untuk bertanya.
"Boleh akau lihat videonya?" tanya Arsen.
' Siapa tau aku mendapat petunjuk dari rekaman itu, dan apa yang aku duga benar adanya... '
__ADS_1
Lirih Arsen di dalam hati. Ada perkiraan yang muncul di dalam benaknya yang tidak ingin ia ungkap terlebih dahulu sebelum semua jelas dengan bukti yang lebih kuat.
"Apa yang kalian lakukan di sini!"
Suara seseorang bertanya dengan sedikit membentak keras, mengagetkan keduanya. Hingga keduanya menoleh ke arah pintu secara bersamaan. Suara itu sungguh tidak asing, dan sering juga mereka hindari.
"Sir!" pekik keduanya langsung melompat untuk berdiri tegak menghadap arah pintu utama yang berjarak sekitar 2 meter di depan mereka.
Vino langsung mengantongi ponselnya pada saku celana. Tidak jadi menunjukkan pada Vino tentang video rekaman tadi.
Padahal sebelum ini Vino sudah berniat untuk menunjukkan video itu pada Arsen. Karena sang Atlit merasa sang pembalap perlu tau, supaya tidak menimbulkan kesalahpahaman.
"Apa yang kalian lakukan di toilet!" hentak seorang pria yang tak lain adalah guru Kimia yang sedang mengajar di kelas mereka.
"Ka..ka..kami..." Arsen tergagap dan langsung menoleh pada Vino dengan cepat.
Vino pun melakukan hal yang sama, hingga akhirnya kedua bocah itu saling tatap dan saling memberi kode dengan gerakan mata. Seakan-akan saling menyuruh untuk memberi jawaban pada sang guru.
"Tinggal jawab saja! Kenapa lama sekali di toilet!" hentak lagi oleh sang guru sebelum keduanya berhasil menjawab di pertanyaan pertama.
Keduanya langsung di landa panik. Arsen dan Vino saling tatap kemudian sama-sama menatap sang guru dengan raut wajah yang sudah pucat tak tertolong. Keduanya kembali bersilang tatap.
"JAWAAAAB!" teriak sang guru dengan sangat kerasa membuat keduanya reflek melompat satu kali dengan saling berpelukan erat.
"Dasar guru gila..." lirih Arsen berbisik pada Vino yang sama melompat saking kagetnya.
"Si botak benar-benar keterlaluan!" balas Vino sangat lirih, tak kalah panik dari Arsen yang hampir terjungkal.
"JAWAB! Jangan banyak bertingkah!" hentak sang guru sekali lagi. "Lepaskan pelukan kalian! Atau saya akan memaksa kalian untuk berjalan menuju kantin dengan pelukan seperti ini!" teriak sang guru. "jeruk kok makan jeruk!" gerutu sang guru.
Sontak keduanya saling melepas pelukan dan memberi jarak pada tubuh masing-masing dengan kembali menatap ragu dan takut pada sang guru Kimia yang sedang tidak ramah.
"Kalian berdua tadi izin untuk buang air kecil! Tapi kenapa sampai 30 menit lebih tidak kembali? apa yang kalian keluarkan dari ******** kalian itu, HAH?!" tanya sang guru dengan nada yang sangat tidak bersahabat. Bahkan menatap tajam pada arah ******** Arsen dan Vino.
"Terutama kamu, Vino!" seru sang guru menatap tajam Vino yang memang keluar jauh lebih dulu di banding Arsen. "Apa saja yang kamu lakukan di sini?"
"Saya..." bingung lah sang atlit memberi alasan.
"Kenapa? tidak bisa menjawab? tidak ada alasan yang tepat?" tanya sang guru pada Vino. "Kalau kamu?" tanya sang guru ganti menatap pada Arsen yang sontak terkesiap di tatap sedemikian tajam oleh sang guru.
"Saya..." Arsen menunjuk bilik-bilik toilet, namun ia tetap bingung harus menjawab apa. Karena ia bahkan tidak memasuki bilik toilet sama sekali. "Saya baru saja buang air kecil, Sir!" jawab Arsen menatap tak yakin pada sang guru. Takut jika ekspresi bohongnya benar-benar terbaca oleh sang guru Kimia.
"Saya... melihat Vino di sini... Jadi saya memutuskan untuk menemani dia supaya tidak ketempelan makhluk halus karena terlalu lama di dalam toilet seorang diri, Sir!" jawab Arsen menoleh pada Vino yang langsung menoleh dan melotot tajam pada sang pembalap yang memberi jawaban teramat random dan cenderung merugikan dirinya itu.
' Apa-apaan? dasar bocah tengil sialan! '
Umpat Vino dalam hati dengan menatap tajam dan penuh tanda tanya pada Arsen yang mengedik kan bahunya tanpa rasa bersalah sama sekali. Justru ingin sekali menertawai jawabannya sendiri.
"Jadi apa yang kamu lakukan di sini sejak tadi?" tanya sang guru menoleh pada Vino yang di anggap sebagai dalang kasus kali ini. "Melamun? atau..." sang guru menatap saku celana sang Atlit. Sang guru tau di saku itu tadi Vino memasukkan ponselnya.
"Saya hanya..." Vino gelagapan mencari alasan untuk memberi jawaban yang bisa menyelamatkan dirinya.
"Hanya apa?" tanya sang guru. "Menonton sesuatu!" hentak sang guru menuduh dengan sebuah kode yang menjurus pada sesuatu yang tabuh untuk di bahas, tapi umum di lakukan. "Ini jam sekolah! tidak boleh memainkan ponsel selain di jam istirahat!"
Vino mendelik mendengar tuduhan sang guru yang menganggapnya tengah menonton sesuatu yang memang sering ia tonton bersama Arsen dan Naufal di rumah ketiganya secara bergantian.
Sedangkan Arsen terkekeh mendengar tuduhan sang guru yang menganggap Vino tengah menonton sesuatu, yang mana isi kepala tiga orang di dalam toilet itu pastilah sama. Tidak jauh dari dunia... maya.
"Dia memang sedang menonton, Sir!" sahut Arsen setengah mati menaham gelak tawa.
"Sen! jangan kompor kamu, ya!" hentak Arsen menatap tajam pada sang sahabat.
"Coba lihat! berikan ponselmu!" teriak sang guru pada Vino.
"Sen! bener-bener kamu, ya!" desis Vino lirih yang hanya bisa di dengar oleh Arsen saja.
"Hkshkshks!" Arsen menunduk dalam, menahan perutnya yang sakit sekali karena menahan gelak tawa ketika melihat ekspresi Vino yang tidak karuan. Bibir sang pembalap tertutup rapat, namun ingin sekali meledakkan tawanya saat itu juga.
' Sorry, Vin. Kamu benar-benar lucu! '
Batin Arsen yang kesulitan menahan tawanya.
"CEPAT!" teriak sang guru dengan kembali meneriaki Arsen.
"Iya, Sir! Iya!" reflek Vino memasukkan tangannya ke dalam kantong celana, meski masih sangat ragu untuk menunjukkan ponsel miliknya.
"Hkshkshks!" gelak tawa Arsen semakin sulit untuk di tahan. Kedua pundak sang pemuda sampai bergerak naik turun, saking parahnya rasa ingin tertawa yang ingin ia ledakkan saat ini. perut terasa semakin kaku seiring dengan tangan Vino yang sudah menggenggam kembali ponselnya.
__ADS_1
"Kalau sampai di ponselmu ada yang biasa kita lihat, mati lah kau, Vin!" lirih Arsen berbisik di tengah-tengah rasa tawanya yang tertahan.
"Awas kamu, Sen!" desis Vino tanpa membuka mulutnya lebar untuk bisa berbisik dengan Arsen.
"Hkshkshks!" lagi-lagi Arsen semakin terpingkal tertahan.
Dengan wajah yang setengah pucat, Vino menyerahkan ponselnya pada guru Kimia yang menangkap basah keduanya di toilet tengah duduk bersantai. Seolah tidak peduli dengan pelajaran yang sedang beliau ajarkan.
"Buka kuncinya!" ucap sang guru kembali menyodorkan ponsel yang masih terkunci itu.
Vino kembali meraih ponselnya dan langsung membuka kunci sesuai perintah. Dan menyerahkan kembali pada sang guru.
Guru Kimia yang menangkap basah aktivitas tidak berguna yang di lakukan Arsen dan Vino di toilet langsung mengecek sisa aplikasi atau apapun yang baru di buka oleh sang pemuda. Dan sang guru membuka galeri yang terakhir di buka oleh Vino.
Berulang kali scroll, sang guru tidak menemukan hal mencurigakan. Namun sang guru penasaran dengan Video yang berada di barisan paling ahir. Yang menunjukkan koridor sekolah. Tepat di depan toilet yang kini menjadi beliau menyidang Vino dan Arsen.
Dan suara Clarice dan Vino yang berbincang pun terdengar cukup keras di dalam toilet. Vino dan Arsen saling lirik satu sama lain. Kenapa pula yang di buka harus vidio itu? batin keduanya.
"Ini baru di rekam?" tanya sang guru Vino setelah video singkat itu selesai di putar. "Saat tadi Clarice ke toilet?"
"Em.... Yes, Sir!" jawab Vino dengan gugup.
"Jadi tujuan kamu ke toilet untuk mengejar Clarice?" sarkas sang guru. "Bukan karena ingin buang air kecil seperti apa yang kamu sampaikan pada saya tadi?" hardik sang guru mulai mencium bau-bau kebohongan di sini.
"Saya benar-benar ke toilet, Sir! Saya juga buang air kecil sesuai permintaan izin saya!" sahut Vino cepat. "Hanya saja saya bertemu Clarice di depan situ, jadi sekalian menyampaikan titipan dari Neha." jelas Vino yakin dengan jawaban kali ini.
Meskipun belum tentu sang Atlit bisa mengelak di pertanyaan atau tuduhan berikutnya.
"Kenapa tidak berbicara di luar jam pelajaran saja?" tanya sang guru. "Soal sepele seperti ini bisa di bicarakan di jam istirahat, bukan?" hardik sang guru dengan tegas.
"Maafkan saya, Sir..." ucap Vino menunduk dalam.
Sang Atlit yang menyadari posisinya di sekolah itu tentulah paham harus berbuat apa. Ia merasa tak memiliki orang yang memiliki kedudukan kuat untuk membela dirinya di sekolah seperti Arsen dan Clarice. Karena memang dirinya masuk sebagai siswa Atlit yang harus menjaga attitude dan sebagainya dengan baik. Termasuk nama baik sang Atlit sendiri.
"Jadi kalian mau hukuman yang seperti apa?" tanya sang guru dengan masih menggenggam ponsel Vino. "Mengerjakan tugas dari saya, atau menghadap ruang BK dengan bukti ponsel dan CCTV yang ada?" tawar sang guru laki-laki berusia sekitar 50 tahun, yang kepalanya sudah mulai botak itu.
"Mengerjakan tugas, Sir!" sahut keduanya bersamaan dengan cepat.
Karena tentu keduanya tidak mau mengukir nama mereka di ruang BK. Terutama Arsen yang sudah pernah mengukir namanya di ruang BK di semester lalu.
Apalagi jika sampai guru BK memutar ulang rekaman CCTV, pastilah apa yang ia lakukan bersama Clarice di koridor tadi akan menjadi masalah yang cukup panjang lagi untuk dirinya dan Cla. Di tambah Cla yang sudah mengingatkan dirinya tentang keberadaan CCTV, bisa membuat sang Pembalap kewalahan menghadapi marahnya seorang gadis yang merasa peringatannya tidak di gubris.
"Kembali ke kelas!" ucap sang guru menyerahkan ponsel Vino kembali dan langsung di terima dengan baik oleh pemuda itu.
"SEKARANG!" teriak sang guru kembali.
"Yes, Sir!" sahut keduanya langsung bergerak cepat ke arah pintu utama toilet. Melewati tubuh guru Kimia yang bisa di bilang tinggi dan besar itu. Meski usianya sudah setengah abad.
Keduanya berlari dengan cukup cepat meninggalkan area toilet. Seolah tengah beradu kecepatan satu sama lain.
"Kurang ajar kamu, Sen! Bisa-bisanya bilang aku sedang menonton sesuatu!" protes Vino saat keduanya berlari di koridor lantai kelas merkea berada.
"Bukankah kamu memang sedang menonton sesuatu?" tanya Arsen kembali tergelak mengingat apa yang baru saja mereka lalui di toilet bersama.
"Untung aku tidak menyimpan aneh-aneh di ponselku!" ujar Vino menghela nafas kasar.
"Hahaha! tumben?" tanya Arsen yang tergelak karena membayangkan jika video aneh itu sampai tersimpan di ponsel Vino, pasti saat ini keduanya sudah berada di ruang BK.
"Neha terus saja memantau ponselku! Dia selalu ingin tau apa yang aku simpan di ponselku!" jawab Vino ketika keduanya memasuki ruang kelas.
"Serius?" tanya Arsen seolah tak percaya dengan hubungan yang di jalin oleh Vino dan Neha yang seketika di nilai Arsen berlebihan. "Berlebihan sekali..." gumam Arsen.
"Itu wajar, Sen!" jawab Vino berbisik ketika keduanya memasuki sela-sela bangku untuk kembali ke bangku masing-masing. "Perempuan memang seperti itu..."
Arsen mencibir apa yang di ucapkan Vino. Seolah tak percaya dengan argumen Vino.
"Kamu saja yang kurang menguasai perempuan!" ucap Arsen mengejek. "Harusnya kamu yang handle dia. Bukan dia yang menggenggam mu..." ucap Arsen ketika sudah duduk di bangku masing-masing.
"Ck!" Vino berdecih. "Kamu belum tau saja rasanya menjalin hubungan dengan mereka di usia kita yang sekarang."
Arsen memiringkan bibirnya, benar-benar tidak percaya dengan apa yang di ucapkan sang Atlit.
Kemudian Arsen menoleh pada Clarice duduk terdiam di bangkunya. Sejak awal memasuki kelas, ia sudah mencuri pandang pada Cla yang juga menoleh ke arah pintu ketika dia dan Vino memasuki kelas.
Bahkan sorot mata keduanya sempat bertemu untuk sekilas. Namun sang gadis langsung memutus pandangan begitu saja.
' Apa mungkin, Cla ... '
__ADS_1
Lirih sang pemuda di dalam hatinya. Menatap dalam punggung sang gadis yang membelakangi dirinya.
...🪴 Bersambung ... 🪴...