Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 124 ( Curahan Hati Clarice )


__ADS_3

Clarice memajang papan bertuliskan nominal uang hadiah balapan milik Arsen tadi di atas meja belajarnya di rumah Papa Zio. Entah, ia bingung kenapa harus ia yang menyimpan semua itu. Tapi demi menghargai pemberian orang, Cla pun menempatkan benda itu di tempat yang layak.


Setelah bingung masalah peletakan papan, kini gadis remaja dengan keuangan yang tidak pernah terasa sulit itu, kembali di buat bingung dengan uang 2 juta yang turut di berikan oleh Arsen kepadanya.


Jika ia termasuk ke dalam golongan gadis yang kekurangan uang, sudah pasti senang bukan kepalang di beri uang 2 juta secara cuma-cuma oleh teman kaya raya yang sudah pasti tidak akan pernah meminta uang itu di kembalikan.


Tapi dia sendiri sudah merasa cukup dengan apa yang dia punya. Sehingga yang ada ia merasa tidak enak hati menerima uang itu. Karena bagaimana pun 2 juta juga termasuk sangat banyak untuk ukuran remaja seperti mereka.


Amplop putih itu ia letakkan di atas meja belajar. Ia tatap dengan nanar. Dia bingung di mana harus meletakkan uang itu. Di laci? Atau di rekeningnya? rasanya tidak mungkin.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam lebih, tapi gadis itu tak lantas ingin segera tidur. Lampu utama kamarnya masih menyala dengan terang. Hingga sebuah ketukan pintu terdengar di daun pintu kamarnya.


Clarice yang sudah terlanjur mengunci pintu, akhirnya berdiri dan membuka pintu kamarnya, untuk melihat siapa yang mencarinya malam-malam begini. Namun ia sudah bisa mengira siapa yang mencarinya tengah malam.


"Hai, Cla!" sapa Felia yang sudah berdiri di ambang pintu.


"Hai, Fel! masuklah!" ajak Clarice meminta sang saudara tiri untuk masuk ke dalam kamar Flamingo kesayangannya.


"Hemm..." Clarice merebahkan tubuhnya santai di atas tempat tidurnya.


"Kita habiskan malam minggu ini dengan menonton drakor yang belum pernah kita tonton!" ujar Felia yang langsung mengambil remote TV milik Clarice.


"Of course!" sahut Clarice antusias.


Setelah Felia menyalakan TV dan memilih drama Korea yang belum pernah mereka tonton sebelumnya melalui saluran TV youtube, ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Clarice.


Clarice mengerutkan keningnya ketika melihat tahun liris film yang terlihat di layar.


"2013?" tanya Clarice..


"Ya! malam ini kita nonton film jadul by Oppa Lee Min Hoo..." jawab Felia dengan seulas senyum manis.


Clarice tergelak dengan tingkah Felia, "It's Okay! terserah kamu sajalah! yang penting dia tetap terlihat tampan!"


"Hahahahaha!" keduanya tergelak bersama.


Memiliki hobi yang sama, keduanya sama sekali tidak akan pernah bosan menghabiskan malam minggu dengan maraton drakor seperti biasa, jika Cla menginap di rumah Papa Zio. Toh, besok tidak perlu buru-buru untuk bangun pagi karena sekolah.


"Emang seru?" tanya Cla ketika layar mulai menunjukkan aksi sang Oppa bermain surfing.


"Berdasarkan penilaian netizen sih iya! haha!" gelak Felia yang memilih drakor berdasarkan apa yang ia tonton di aplikasi Tik Tok.


"Okay! Ternyata Oppa Lee Min Hoo memang sudah sangat tampan sejak muda!" gumam Clarice.


"Ya! kamu benar!" sahut Felia.


Keduanya pun kini fokus dengan layar televisi berukuran 32 inchi yang menempel di dinding kamar Clarice.


Beginilah remaja jaman sekarang. Mereka bisa dengan mudah menonton film yang mereka inginkan. Baik film jadul maupun terbaru, hanya dengan beberapa kali tekan dan sentuhan saja. Apalagi fasilitas di kamar mereka saja sudah lengkap seperti fasilitas seisi rumah.


Tanpa terasa dua episode drama sudah di putar, namun keduanya tampak belum mengantuk, padahal waktu sudah lewat dari jam 12 malam. Hingga mata Felia secara tidak sengaja menangkap sesuatu yang ada di meja belajar Clarice ketika ia tengah merilekskan lehernya ke kanan dan ke kiri.


Gadis itu sangat ingat, jika papan itu adalah papan yang di dapatkan oleh sang pembalap dengan jaura bertahan tadi sore. Yang namanya baru ia ketahui tadi sore pula. Tak menyangka jika papan itu benar-benar akan di berikan pada Clarice.


Kemudian matanya juga menangkap sesuatu di atas meja. Sebuah amplop putih. Sudah pasti isinya adalah uang dari hadiah dengan nominal yang tertera di papan.


' Apa kalian berpacaran? '


Gumam Felia dalam hati. Berangan sendiri. Ingin bertanya, tapi juga ragu.


"Kamu habis memenangkan lomba apa, Cla?" tanya Felia pura-pura tidak tau jika itu adalah hadiah yang di dapatkan oleh seorang pemuda yang menurut Felia sangat tampan, bahkan lebih tampan dari Naufal Mahardhika.


Clarice menoleh papan di meja belajarnya sekilas. Kemudian kembali menatap layar TV, sebelum ia menjawab pertanyaan Felia.


"Tadi... ternyata Naufal ngajak aku pergi nonton balapan liar di area stadion," jawabnya. "Eh, ternyata yang main teman satu kelasku! anak baru, namanya Arsen!" lanjutnya. "Tak di sangka dia memenangkan balapan itu. Dan mendapatkan hadiah itu!" jawab Clarice melirik kembali papan lambang uang tunai menggunakan ekor matanya.


"Lalu kenapa ada di kamu? Apa dia tidak bisa membawa papan itu pulang? Lalu minta kamu bawakan?" tanya Felia dengan sedikit tebakan asal yang ia sendiri sudah yakin pasti salah.


"Tidak juga! Dia sengaja memberikan hadiah itu untukku! bahkan uangnya juga di berikan padaku..." jawab Clarice santai. "Katanya bulan lalu dia juga sudah memenangkan balapan itu."


"Jadi maksud kamu dia juara bertahan?" tanya Felia pura-pura tidak tau.


Karena ia juga merasa tidak enak hati, jika ia bilang bahwa sebenarnya ia juga berada di lokasi saat adu balap itu berlangsung. Karena ia jelas-jelas tidak menyapa Clarice di sana tadi.

__ADS_1


"Katanya sih iya... tapi aku tidak tau. Baru kali ini aku di ajak Naufal nonton balap liar!" jawabnya jujur.


Begitulah Clarice. Gadis apa adanya yang tidak suka mengarang cerita. Apalagi ia menganggap Felia adalah saudara sekaligus teman cerita. Sangat wajar bukan, jika ia bercerita pada Felia apa adanya. Terutama tentang kehidupan remaja mereka.


"Eghm!" Felia berdehem mencoba untuk mengulik lebih jauh. "Kalau kamu di beri hadiah yang sudah pasti susah di dapatkan, itu berarti kamu spesial, bukan?" tanya Felia melirik Clarice.


"Spesial bagaimana?" tanya Cla mengerutkan keningnya. "Setiap hari dia selalu menggangguku. Ada... saja ulahnya dan alasan buat gangguin aku!"


"Em... mungkin dia suka kamu..." gumam Felia mencoba kembali menebak. "Jadi dia lebih suka ganggu kamu, untuk mencari perhatian kamu."


Clarice menarik nafas panjang, mendengar dugaan Felia yang sebenarnya juga ia rasakan. Namun selama ini sekuat hati ia tepis. Karena belum yakin dengan pemuda yang baru ia kenal selama dua bulan itu.


"Aku juga tidak tau, Fel..." jawabnya kemudian.


"Yaa... logikanya, kalau dia tidak ada rasa sama kamu, sepertinya tidak mungkin dia memberikan hadiah yang ia dapat dengan mempertaruhkan nyawanya itu secara cuma-cuma."


Clarice tampak kembali berfikir. Menimbang ulang perkataan Felia yang memang di rasa cukup masuk akal. Tapi keraguan tentang Arsen masih terus saja ada. Karena hal yang masih sama. Sesuatu yang pernah di ungkapkan Cla pada masa itu.


Apalagi akhir-akhir ini Carren sepertinya mulai dekat dengan Arsen. Karena bangku Carren kini berpindah tepat di depan Arsen. Membuat keduanya sering ngobrol secara tidak langsung.


Sudah lama Clarice mengintai Arsen dan Vino. Mengira-ngira apakah keduanya juga sama tertariknya dengan Carren, sama seperti siswa laki-laki yang lain.


Tapi sepertinya Carren lebih respect pada Arsen. Mungkin karena sang pemuda selain tampan, juga karena idola di sekolah. Jadi akan sangat membanggakan jika memenangkan hati sang pujangga.


Clarice dan semua gadis di kelas menyadari, jika Carren adalah bunga kelas. Kecantikan dan keanggunannya benar-benar tiada tanding di kelas X-3.


"Aku justru curiga, kalau Arsen menyukai gadis paling cantik di kelasku!" jawab Clarice.


"Siapa?"


"Namanya Carrenina Louis! dia cantik, putih, dan blasteran Jerman. tapi wajahnya lebih keindo-indoan sih."


Felia mengangguk paham, "Tapi yang aku tau... tidak semua laki-laki melihat seorang gadis itu hanya dari segi kecantikannya saja loh, Cla!" jawab Felia menghibur.


"Oh, ya?" tanya Clarice yang seolah tidak percaya dengan penjelasan Felia.


"Iya..."


"Tapi aku tidak pernah merasa ada teman laki-laki yang mendekati aku selama ini," jawab Clarice. "Kamu tau, dari SMP sampai sekarang, hanya Naufal yang paling setia berteman denganku. Dan dia adalah satu-satunya lelaki yang dekat dengan ku." lanjut Clarice.


"Bukan tidak dekat... dia itu anak baru. Baru dua bulan di sekolah. Tapi yang mendekati dia, beh! banyak banget! " jawab Clarice sedikit menghentak. "Untuk saat ini, Arsen itu primadona sekolah! makanya aku ragu, kalau ada yang bilang dia suka sama aku!"


"Ragu kenapa?"


"Ya... karena banyak saingan!"


Felia kembali mengangguk, "Jadi dia anak baru?"


"Iya!" jawab Clarice. "Beberapa hari lalu malah Kakak kelas ku yang bernama Zuria, bertengkar dengan temannya sendiri. Gara-gara mendekati orang yang sama yaitu Arsenio Wilson!" jawab Clarice jengah dengan kenyataan jika Arsen adalah idola di sekolahnya.


"Berarti levelnya bukan lagi kelas! tapi sudah satu sekolah!"


"Ya, kamu benar! memang begitu! makanya aku ragu!"


"Keren sih!" gumam Felia.


"Kalau kamu tau wajahnya, mungkin kamu juga akan tertarik padanya. Dan aku menganggap itu sangat normal! Karena memang kenyataannya dia sangat tampan dan mempesona. Apalagi dia anak pengusaha batubara. Aku juga sempat dengar, kalau dia punya jet pribadi!"


"What!" pekik Felia semakin menciut nyalinya untuk mengenal sosok kaya raya seperti Arsen.


"Iya!" sahut Clarice. "Tapi dia tidak sombong seperti anak orang kaya biasanya. Dia bahkan tidak pernah menyebutkan silsilah, atau latar belakang keluarganya yang kaya raya itu!" lanjut Cla. "Makanya uang 2 juta itu mungkin bagi Arsen hanya beberapa keping uang koin saja!"


"Padahal 2 juta uang jajan ku selama 3 minggu!" gumam Felia.


Clarice tersenyum kelu. Karena ia juga mendapat uang jajan yang sama dengan Felia. Bedanya ia mendapat tambahan dari Daddy Kenzo berlipat-lipat dari itu.


"Kalau uang jajan dari Papa kurang, jangan sungkan buat minta bantuan aku!"


"Tidak! itu sudah cukup bagiku, Cla! bahkan setiap bulannya masih bisa aku tabung!"


"Kamu memang pintar!" puji Clarice.


"Kamu punya fotonya Arsen?" tanya Felia yang pura-pura belum pernah melihat wajah Arsen.

__ADS_1


"Kamu follow saja IG nya. Ketik saja Arsenio Wilson!" jawab Clarice. "Tapi IG nya di privacy! jadi kamu harus sabar menunggu konfirmasi darinya!"


Felia mengangguk dan langsung meraih ponselnya untuk membuka akun IG miliknya. Dan ia ketikkan nama Arsenio Wilson.


"Kamu benar, IG nya di privacy!" ucap Felia.


"Ini, lihat dari ponsel ku dulu!"


Clarice membuka ponselnya dan membuka IG miliknya. Dan yang pertama kali ia lihat adalah notifikasi di lambang cinta, dimana ternyata Arsen sudah men-tag akunnya untuk sebuah picture.


Clarice segera membuka notif itu. Dan langsung muncullah foto dirinya bersama Arsen yang tadi sore di ambil oleh Naufal. Dan foto terfavorit Arsen-lah yang di post oleh sang pemuda.


"Ternyata dia sudah posting foto ini!" gumam Clarice memandangi foto pertamanya yang hanya berdua dengan Arsen.


"Tuh, kan!" sahut Felia yang ikut mengintip layar ponsel Clarice. "Kalau dia tidak ada rasa sama kamu, tidak mungkin secepat itu dia posting foto kamu. Paling jauh hanya akan di jadikan story WA saja!" lanjut Felia yang semakin yakin, jika Arsen memang suka dengan saudara tirinya itu.


"Entahlah!" cuek Clarice tak ingin membuat dirinya rumit, dengan cara bersaing dengan banyaknya gadis yang mengidolakan sosok Arsen. "Ini lihat, memang tampan kan dia?"


"Iya..." jawab Felia yang sesungguhnya sudah tau seperti apa wajah sang pembalap.


"Aku malas jika harus berantem dengan gadis-gadis yang mengejarnya!" gumam Clarice membiarkan Felia memegang ponselnya untuk melihat berbagai postingan Arsen di media sosial.


"Apalagi dengan dia memposting foto itu, satu sekolah dan semua followernya akan tau, jika dialah sang juara bertahan di arena balap tadi sore! pasti daia akan semakin banyak yang mengidolakan. Malas sekali rasanya dekat dengan lelaki yang punya banyak fans!" lanjut Clarice.


"Bukankah seharusnya kamu bangga, Cla?"


"Kenapa bangga?"


"Karena dari sekian banyak anak gadis yang mengejarnya, dia hanya mendekati kamu. Dan lihat! semua postingannya hanya berisi dia seorang, atau dengan beberapa teman laki-laki saja. Dan kamu satu-satunya teman gadisnya yang masuk dalam daftar postingan."


Clarice ikut menatap layar ponselnya yang masih berada di tangan Felia.


"Apa iya, hal itu harus di banggakan?"


"Tentu saja, Clarice" jawab Felia sambil mengembalikan ponsel Clarice. "itu artinya kamu gadis yang beruntung. Karena terpilih dari sekian puluh atau bahkan ratusan dan ribuan gadis yang mengejarnya, maupun mengidolakan dirinya!"


"Tapi aku tidak yakin, kalau dia benar-benar suka padaku!" jawab Clarice kembali menatap layar TV yang sudah sampai di episode 3.


"Dasar kamu, keras kepala!"


"Kalaupun seandainya dia suka padaku, apa yang akan terjadi?" tanya Clarice. "Aku tidak berani melanggar aturan yang di buat Mommy! Mommy melarang keras untuk anak-anaknya berpacaran di usia sekolah!" jawabnya lesu. "Terutama aku! anak perempuan satu-satunya!" gerutunya.


"Hemm..." menghela nafas berat, kali ini Felia ikut merasa lesu. "Nasib kita sama, Cla. Harus menjomblo sampai hampir tiga tahun ke depan!" gumam Felia menutup wajahnya dengan bantal.


"Hahaha!" tawa Clarice melihat tingkah Felia. "Menurut kamu seberat itu ya, Fel?"


"Bukan lagi berat, Cla! tapi menyiksa!" jawabnya. "Teman-teman tiap malam minggu di jemput pacar masing-masing. Sementara kau selalu di jemput oleh sesama jomblo!"


"Hahahaha! sudahlah, tak apa! yang penting kita patuh pada aturan mereka! aku yakin Papa, Mama, Daddy dan Mommy ku pasti punya alasan yang benar, kenapa melarang kita berpacaran."


"Iya, aku juga berfikir seperti itu!" jawab Felia membuka bantal yang ia gunakan untuk menutupi wajah cantiknya.


***


Dua anak gadis Papa Zio menghabiskan malam minggu dengan menonton drakor sampai jam tiga pagi. Keduanya tertidur dengan kondisi TV yang masih menyala. Ya, Felia tertidur di kamar Flamingo milik Clarice. Begitulah yang memang sering mereka lakukan.


Kadang juga terbalik, Clarice yang tertidur di kamar Felia. Karena menonton drakor di kamar Felia.


Jam setengah empat pagi, Mama Zahra tiba-tiba terbangun, untuk mengecek kamar Zhian dan Zefa yang ada di sebelah kamar Felia. Dua anak itu tidur di kamar yang sama. Satu kamar dengan di isi dua tempat tidur dan dua perlengkapan kamar tidur, seperti almari dan meja belajar. Dan semua di bentuk berdasarkan karakter masing-masing.


Keduanya belum bisa di pisahkan, meskipun sering bertengkar dan berebut apapun itu, sampai kepala kedua orang tuanya serasa kadang mau pecah.


Saat melintas di depan kamar Clarice menuju kamar Zhian yang ada di depan kamar Cal, sayu-sayu Mama Zahra mendengar suara  TV yang masih menyala. Membuat Mama Zahra mengerutkan keningnya, dan menajamkan pendengarannya.


"Clarice belum tidur?" gumamnya sembari mendekati pintu kamar Cla.


Dengan menempelkan daun telinganya ke daun pintu kamar Clarice, kini sang Mama tiri yakin, jika Cla belum tidur. Maka ia bukalah pintu kamar Clarice dengan sangat pelan, setelah satu ketukan kecilnya tak membuahkan hasil.


Namu yang di lihat Mama Zahra adalah pemandangan yang sering beliau lihat. Yakni kedua putrinya yang tidur di satu kamar dengan kondisi TV masih menyala.


Menghela nafas panjang dengan seulas senyum, Mama Zahra mematikan TV, kemudian mendekati kedua putrinya untuk di kecup satu persatu pipi mereka.


Setelah itu keluarlah Mama Zahra dari kamar Flamingo milik Clarice.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2