
Waktu terus berjalan, hingga hari-hari pun kembali berganti. Dan hari Senin telah tiba kembali. Saatnya anak-anak kembali dengan aktivitas mereka, yaitu berangkat ke sekolah.
Dan para pemburu dolar kembali bekerja untuk mengais rejeki, demi kelangsungan hidup keluarga masing-masing.
Hari Senin, hari yang sangat terkenal dengan kemacetannya, juga terkenal dengan hari yang sangat sibuk, sekaligus hari yang malas untuk berangkat bekerja.
Tapi dari semua alasan itu, justru banyak yang lebih buru-buru ketimbang yang bermalas-malasan. Atau berkata entar-entar.
Contohnya saja Papa Zio yang memilih mengajak semua anak-anaknya segera bersiap-siap setelah sholat subuh berjamaah untuk bisa berangkat lebih pagi. Demi menghindari keterlambatan untuk tiba di sekolah. Dan untuk dia sendiri, demi menghindari keterlambatan untuk bisa tiba di kantor.
Apalagi pagi itu yang harus di antar ada 3 anak dengan sekolah berbeda. Clarice di Alexander International School, Felia di SMA Bhakti Mulya, dan Zhian di SD Dharma Bunda 21.
Tentu membuat Papa Zio mengatur rute mana yang harus ia ambil untuk bisa sampai lebih cepat dan terhindar dari kemacetan parah Ibukota. Dan Zhian sudah pasti akan turun lebih dulu, karena sekolahnya cukup dekat dari perumahan.
"Siap?" tanya Papa Zio ketika semua sudah masuk ke dalam mobil pada puku 06.00 WIB.
"Siap, Pa!" jawab ke tiga anak serempak.
"Karena sekolah Clarice yang lebih dekat dari pada sekolah kamu, jadi kita antar Clarice lebih dulu ya, Felia?" ujar Papa Zio.
"Iya, Pa." jawab Felia yang duduk di belakang bersama Clarice.
Sedangkan di bangku penumpang bagian depan di tempati oleh Zhian yang baru saja turun.
"Kamu tidak buru-buru, kan?"
"No, Papa!" jawab Felia yang mengenakan seragam putih abu-abu.
Dan sampailah mereka di pintu gerbang megah Alexander International School. Dan mobil Papa Zio langsung antre untuk memasuki pagar pengecekan Senior High School.
Untuk bisa sampai di depan lobby, masih harus menempuh sekitar 300 meter lagi. Sepanjang itu yang mereka lintasi adalah berbagai jenis lapangan dan taman sekolah.
"Wow! keren juga sekolah kamu, Cla!" seru Felia. "Pantas mahal!" ujarnya.
Tanpa di sadari Felia, kalimatnya membuat Clarice merasa tidak enak hati, "Sebenarnya Mommy sudah meminta aku untuk sekolah di sekolah swasta seperti kamu. Tapi Daddy benar-benar ingin aku tetap melanjutkan di sekolah International..." jawab Clarice tanpa bermaksud pamer.
"Kamu beruntung, Cla! Harusnya kamu bersyukur bisa sekolah di sekolah semewah ini!" ujar Felia melihat area Senior High School yang baru pertama kali ia masuki.
Baru kali ini Felia memasuki area Senior High School. Karena biasanya Clarice akan berangkat bersama Naufal naik motor. Ataupun di antar oleh supir Naufal.
Mendengar pernyataan Felia, Clarice tergagu. Ia tidak bisa lagi berucap. Namun sekuat hati ia berkata...
"Aku jauh lebih bersyukur dan merasa beruntung ketika memiliki Mommy dan Papa. Lalu Daddy Kenzo dan Mama Zahra adalah penyempurna kebahagiaan ku, di saat kenyataan Papa dan Mommy berpisah, bahkan sejak aku di dalam kandungan."
Sedikit banyak, Clarice merasa secara tidak langsung atau tanpa sadar, Felia tengah membandingkan nasibnya yang mendapatkan Papa sambung kaya raya. Sedangkan Felia memiliki Papa sambung yang merupakan Papanya, yang tak lain adalah bawahan Papa sambungnya.
Clarice takut hati sang Papa yang sedang mengemudi di depan tergores oleh kalimat Felia yang seolah merasa tidak beruntung.
Dan apa yang di duga Clarice memang benar adanya. Papa Zio pun seketika merasa bersalah, dan merasa tertampar oleh kalimat anak sambungnya, karena tidak bisa memasukkan Felia ke sekolah International seperti Papa sabung Clarice.
' Apa kamu merasa tidak beruntung memiliki Papa sambung seperti Papa ini, Felia? '
Sebenarnya bukan tidak sanggup. Semua bisa saja dan mampu saja kalau di paksakan untuk sekedar membayar sekolah.
Tapi jika semua uang di masukkan untuk biaya sekolah International, bagaimana dengan kebutuhan yang lain dan masa depan anak-anaknya yang lain? Biaya kuliah kelak juga tidak murah.
Apalagi jika usianya tak lagi muda dan harus pensiun, di saat anak-anak masih sekolah. Bukankah wajib menyediakan dana lebih untuk masa tua nanti?
Karena jika salah satu anak masuk ke sekolah International, pada akhirnya semua anaknya pasti menginginkan sekolah International yang sama.
Hati Papa Zio menciut, merasa di remas ketika mendengar kalimat anak sambungnya, kemudian membedakan nasib Clarice yang memiliki Papa sambung kaya raya. Seolah merasa dirinya adalah Papa sambung yang miskin dan berkekurangan.
Hati Papa Zio semakin resah. Apakah selama ini Felia tidak menyayanginya dengan tulus?
Padahal ia tak pernah membeda-bedakan antara Clarice dan Felia. Jika keduanya memiliki sesuatu yang berbeda, yaa itu karena Clarice memiliki uang jajan lebih di banding dengan Felia.
Tidak mungkin juga, kan? jika Papa Zio lepas tangan akan tanggung jawabnya pada Clarice, anak kandungnya? Meskipun sang anak gadis memiliki Ayah sambung yang kaya raya.
Toh, selama ini ia sudah tak pernah mengeluarkan biaya untuk makan dan sekolah sang anak gadis yang mahalnya tida karuan. Jadi sangat wajar jika ia tetap memberi uang jajan Clarice setara dengan Felia yang sudah tidak punya Ayah kandung.
' Felia... apa yang kurang dari Papa di matamu, Nak? '
Batin Zio gelisah.
"Kamu benar! aku juga bahagia memiliki Papa Zio!" jawab Felia kemudian. "Papa Zio juga sangat baik dan menyayangi aku dengan tulus!" lanjutnya. "Beliau mencintai aku seperti beliau mencintai kamu, Cla!"
Kalimat Felia menghentak hati Clarice dan Papa Zio yang semula menganggap Felia merasa tidak beruntung karena memiliki Papa sambung yang tidak sebanding dengan Daddy Kenzo yang masuk jajaran orang kaya Ibukota.
"Thank you, Papa!" seru Felia mengangkat bokongnya, dan mencium pipi sebelah kiri sang Papa sambung yang sedang mengemudi di depan Clarice.
Tersenyum lega, Clarice dan Papa Zio melepas rasa resah yang sejak tadi bergelayut di dalam diri mereka. Clarice menatap Felia dengan mata sayunya.
Darah yang sama membuat keduanya seolah memiliki ikatan batin yang kuat, dan memiliki perasaan yang sama. Bukankah memang begitu kuat ikatan batin antara anak perempuan dengan cinta pertamanya? Alias sang Ayah.
"Sama-sama, Sayang!" jawab Papa Zio melirik sang anak sambung melalui spion tengah dengan seulas senyum. Kemudian melirik sang anak gadis yang sedang tersenyum senang.
__ADS_1
Papa Zio sangat paham jika tadi Clarice mencoba untuk menenangkan dirinya, dengan jawaban yang tak terlihat membanggakan keberuntungannya sebagai anak tiri orang kaya yang sangat menyayanginya.
' Kamu memang sangat mengerti Papa, Clarice! My little angel! '
Lirih Papa Zio di dalam lubuk hatinya yang terdalam.
"Cla, turun dulu ya, Pa! bye!" pamit Clarice mencium pipi Papa Zio yang mengemudi di depannya.
"Iya, Sayang!" jawab Papa Zio dengan mengusap pipi Clarice ketika mencium pipinya.
"Bye, Felia!" pamit Clarice dan langsung membuka pintu mobil penumpang bagian belakang.
"Bye, Clarice!" jawab Felia yang ternyata juga ikut turun untuk berpindah di jok depan. Supaya Papa Zio ta terlihat seperti seorang supir yang tengah mengantar anak majikan.
"Nanti jadi pulang ke mana?" tanya Papa Zio membuka kaca di samping kanannya, dan menatap pada Clarice yang masih berdiri di sisi kanan mobil.
"Tadi Daddy bilang, akan di jemput! jadi Cla pulang ke rumah Daddy saja!" jawab Clarice. "lagi pula buku pelajaran Cla untuk besok ada di rumah Daddy, Pa."
"Baiklah, Sayang! Papa pergi dulu,ya... bye.." jawab Papa Zio yang tidak kecewa dengan jawaban sang putri. Karena ia sangat tau, seperti apa rasa sayang Daddy sambung Cla, pada Cla.
"Bye, Pa!"
Dan mobil pun melaju meninggalkan area depan lobby Alexander International School.
***
Jika Clarice langsung berjalan masuk ke dalam gedung. Maka di jalanan menuju pintu keluar sekolah Alexander ada Felia yang menunduk lemah di jok depan mobil sang Papa.
"Kamu kenapa, Felia?" tanya Papa Zio yang tak biasa melihat gelagat Felia yang aneh saat bersamanya.
Biasanya saat perjalanan ke sekolah, Felia suka sekali bercerita dan banyak bicara untuk menceritakan teman-temannya di sekolah. Ataupun cita-cita sang anak sambung kelak.
"Maafkan Felia ya, Pa..." ucap Felia yang masih menunduk. Tanpa berani melihat mata sang Ayah sambung.
"Maaf untuk apa?" tanya Papa Zio yang kini sudah melajukan mobil di tengah jalan raya untuk menuju SMA Bhakti Mulya.
"Felia tidak sadar, tadi Felia mengucapkan sesuatu yang tidak pantas untuk di ucapkan Felia..." jawab Felia menoleh Papa Zio.
"Yang mana?" tanya Papa Zio pura-pura tidak tau.
"Yang mengatakan Clarice beruntung.... sungguh Felia tidak pernah merasa tidak beruntung dengan memiliki Papa Zio..." lanjut Felia dengan nada penuh penyesalan.
Hati Papa Zio mulai kembali merasa melow. Sebagai orang tua, rasanya sangat mudah memaafkan kesalahan anaknya. Bahkan kini ia memilih untuk amnesia mendadak ketika sang putri sudah meminta maaf dengan tulus.
"Tanpa Papa, Felia tidak akan pernah mendapatkan pendidikan dari seorang Ayah. Kalau bukan Papa, belum tentu akan ada Papa yang mau menerima Felia dengan baik dan menyekolahkan Felia di sekolah swasta terbaik di Ibukota."
"Felia..." gumam Papa Zio menoleh sang anak gadis dengan tatapan penuh kasih sayang layaknya ia menatap Clarice tadi.
"Sekali lagi maafkan Felia, Pa..." ucap Felia menyandarkan kepalanya di lengan sang Papa dengan wajah sedihnya.
"Iya, Sayang. Kamu cukup tau, kalau Papa sangat menyayangi kamu, sama seperti Papa menyayangi Clarice," ucap Papa Zio. "Maaf jika Papa tidak bisa memasukkan kalian bersamaan di sekolah International."
Menggelengkan kepalanya dengan cepat, Felia tersenyum.
"Bhakti Mulya sudah jauh lebih dari cukup untuk Felia, Pa! Felia beruntung bisa sekolah di Bhakti Mulya dengan memiliki Ayah seorang General Manager!" ucap Felia dengan rasa bangga.
"Apalagi uang jajan Felia ternyata tidak kalah banyak di banding uang jajan teman-teman yang lain." lanjut Felia membanggakan sang Papa, setelah tanpa sadar menjatuhkan sang Papa sambung.
"Oh, ya? jadi uang jajan dari Papa kebanyakan?" tanya Papa Zio. "Bulan depan patong saja. ya?" gurau Papa Zio.
"Jangan Papa...." rengek Felia kembali memposisikan diri pasa posisi duduk yang benar, dengan bibir yang mengkerut, meski ia tau jika Papa Zio pasti bercanda.
Papa Zio pun tergelak.
***
Semua anak-anak tengah sibuk dengan aktivitas sekolah mereka. Sementara di Mall Metropolitan, ada Mommy Calina yang tengah berbelanja di supermarket.
Dengan memakai celana jeans ketat dan atasan berupa kaos lengan pendek berwarna pink muda di usianya yang menginjak 42 tahun, Mommy Calina benar-benar tak nampak jika ia adalah seorang Ibu beranak tiga.
Apalagi rambut panjangnya yang hitam bergelombang di gerai dengan sebuah penjepit rambut kecil untuk mengunci poni yang memanjang di sisi kiri kepalanya.
Penampilan yang sangat sederhana dan simpel, namun sungguh membuatnya terlihat masih muda di saat sudah memiliki anak remaja berusia 16 tahun, dan dua anak laki-laki di tingkat sekolah yang berbeda.
Mendorong troli, Calina memasuki deretan perlengkapan rumah, seperti sabun dan sejenisnya. Calina berdiri di deretan sabun mandi. Ia biasa membeli beberapa jenis sabun mandi, karena Clarice dan dirinya lebih suka pakai scrub. Sedangkan para lelaki lebih suka memakai sabun batangan.
Maka sang Mommy mulai memilih banyak varian rasa supaya tidak bosan hanya dengan satu varian saja. Ia memasukkan beberapa varian dari beberapa brand. Karena kalaupun rasa sama tapi brand nya beda, sudah pasti saat di pakai juga hasilnya akan beda.
Saat ia mengambil sabun mandi dengan varian dingin, tangannya bertabrakan dengan tangan seseorang yang rupanya ingin pula mengambil varian yang sama dengannya.
"Eh, maaf!" reflek Calina menarik tangannya tanpa melihat tangan siapa yang bertabrakan dengan tangannya barusan. Dan ia terdiam untuk menunggu orang itu mengambil sabun yang sama dengan yang ingin ia ambil.
Namun tangan yang di ketahui Calina sebagai tangan laki-laki itu hanya diam menyentuh sabun berwarna biru terang itu. Dan tak kunjung mengambilnya.
"Kamu...?" orang itu bergumam lirih.
__ADS_1
Calina mulai bingung, namun sungkan untuk meminta supaya tangan itu menyingkir.
"Kamu Calina?" tanya orang asing yang menyentuh sabun yang ingin di ambil oleh Cal.
Mendengar namanya di sebut oleh suara yang ia rasa cukup asing tapi seperti pernah mendengarnya, Calina pun menoleh ke sisi kiri. Untuk melihat siapa yang mengenali dirinya di tengah keramaian seperti ini. Dan sat ia menoleh, ia melihat wajah yang seperti tidak asing, namun ia lupa nama sang pemilik wajah.
"Kamu..." Calina mengerutkan keningnya untuk mengingat, siapa gerangan yang sudah menyapa dan mengenali dirinya.
"Reynaldi!" jawab pemuda itu.
"Ah! aku ingat!" seru Calina mengingat nama yang kini tidak asing lagi di telinganya.
"Apa kabar?" lelaki itu menyapa dengan mengulurkan tangannya pada Calina.
Menghela nafas tak percaya karena masih di ingat oleh teman yang bahkan sudah tidak bertemu sekitar 17 tahun lebih.
"Aku baik, Al!" jawab Calina menyambut uluran tangan lelaki bernama Reynaldi itu. Hanya sekilas, dan langsung sama-sama melepaskan. "Kamu?"
"Aku juga baik-baik saja. Lama tidka mendengar kabarmu!" jawab lelaki yang terbiasa di panggil Aldi itu. "Kamu sendirian?"
"Iy, tapi suamiku sebentar lagi akan menyusul, aku tadi berangkat naik taksi!"
"Oh..." Aldi mengangguk.
"Kamu sendirian?"
"Sama anak aku, tapi dia minta masuk playground! jadi tinggal membeli beberapa keperluan rumah."
Calina memicingkan matanya, menatap Aldi yang tampak belanja seorang diri tapa di dampingi seorang istri. Terlihat juga dari ia yang mendorong troli sendirian.
"Kenapa kamu yang belanja? kemana Ibunya anak-anak kamu?" tanya Calina.
Aldi tampak ragu untuk menjawab, namun akhirnya ia menjawab juga...
"Kami bercerai!" jawab Aldi.
"Bercerai?" tanya Calina tak percaya.
"Kenapa bercerai?"
"Karena ada masalah yang tidak bisa aku selesaikan secara kekeluargaan."
"Oh..." Calina mengangguk.
Ia pun pernah mengalami masalah yang sama, bercerai karena masalah terlalu runyam untuk di selesaikan secara kekeluargaan. Meski bercerai bukanlah satu-satunya jalan untuk menyelesaikan masalah. Dan juga tidak di sarankan untuk siapa saja.
"Kamu masih bekerja di sana?" tanya Calina menanyakan peusahaan tempat ia bekerja terdahulu. Ia menolak untuk mengetahui urusan Aldi lebih jauh tentang perceraiannya dengan sang mantan istri.
"Masih!" jawab Aldi mengangguk.
"Sebaai apa sekarang?" tanya Calina yang seingatnya dulu Aldi menjabat sebagai salah satu staf di divisi pemasaran.
"Sekarang aku manager pemasaran." jawabnya bangga.
"Wow!" seru Calina. "Naik pangkat kamu, ya?"
"Ya... begitulah..."
"Selamat ya..." ucap Calina. "Lantas hari ini tidak bekerja?"
"Aku sedang mengambil cuti. Kemarin baru saja kembali dari mengurusi pekerjaan yanga ada di luar kota."
"Wih! sibuk ya sekarang!"
Dan saat Calina mengucapkan itu, berdering lah ponsel Nyonya Kenzo.
"Halo?"
"Halo, Sayang! kamu di sebelah mana?"
"Aku etalase sabun-sabun, Mas..." jawab Calina,
"Ok! aku ke sana!"
"Iya, Mas!"
Dan panggilan pun berakhir. Calina kembali memasukkan ponsel ke dalam tas tangan yang ia bawa.
"Kerja di mana suami kamu, Cal?" tanya Aldi yang melihat penampilan Calina cukup lumayan berkelas. Ia tau jika tas yang di bawa Calina juga bukan tas murah. Belum lagi ponsel dan jam tangannya.
"Suami ku di Adhitama Group!"
"Sebagai apa?"
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1