Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 154 ( Peringkat Sekolah )


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu sejak berakhirnya ujian tengah semester di Alexander International School. Semua nilai sudah tercatat di raport tengah semester masing-masing siswa.


Semua siswa hadir di sekolah khusus untuk hari ini. Karena sudah pasti ingin tau, mereka berada di peringkat ke berapa di kelas masing-masing dan juga di tingkat sekolah.


Salah satunya siswa kelas X-3 di mana hari itu seluruh muridnya yang berjumlah 20 siswa, hadir semua. Tak satupun yang tidak hadir.


Pengumuman ranking kelas sudah di umumkan. Dan raport khusus ujian tengah semester pun sudah di bagikan satu persatu untuk kemudian di tanda tangani oleh wali murid dan kembali di kumpulkan esok hari.


Di setiap perjuangan yang di tempuh bersama oleh 20 siswa, pasti akan ada yang mendapatkan juara 1 dan pasti akan ada yang mendapatkan nomor terakhir, alias peringkat 20.


Bagi Clarice dan teman-teman satu gengnya, tidak masalah jika tidak mendapatkan juara 1, yang penting masuk 10 besar. Dan bukan peringkat 5 terakhir.


Dan kini jumlah nilai yang ia dapatkan sudah berada di genggaman. Dengan mendapat peringkat 7, Cla merasa kurang bagus memang. Namun dengan demikian peringkat ini akan ia jadikan pedoman untuk mendapat nilai yang lebih baik di semester pertama nanti.


Dan kini, semua siswa tentu tidak sabar untuk bisa melihat peringkat berapa mereka di tingkat sekolah. Tak terkecuali Clarice dan kawan-kawan.


Bel istirahat pertama telah berbunyi, dan semua menghambur ke arah mading-mading yang tersebar. Guna melihat peringat yang berhasil mereka raih di tingkat sekolah.


Namun seperti dugaan, semua mading di serbu oleh banyak sekali siswa yang tidak sabar untuk melihat nilai masing-masing.


Cla and the genk pun menatap mading di lobby dengan tatapan lelah dan malas untuk ikut berjubel dengan yang lain. Hanya melihat saja sudah membuat mereka malas untuk ikut berebut tempat.


"Kamu tunggu di sini saja, biar aku ambil foto-fotonya!" ucap Arsen pada Clarice yang berdiri di sampingnya.


Mereka semua masih berdiri di anak tangga terakhir dan ketiga. Belum ada yang berniat untuk mendekati mading. Karena akan sangat malas jika harus berkerumun dengan banyaknya siswa dari berbagai tingkat. Meskipun setiap tingkat berada di kotak mading yang berbeda.


"Nah! ide bagus tuh, Sen!" sahut Naufal yang mendengar ucapan Arsen.


"Hanya Cla yang akan aku kirimi fotonya!" ujar Arsen menjulurkan lidah pada Naufal yang berdiri di depannya.


"Cih! sialan kamu!" gerutu Naufal.


"Ayo!" Arsen mendorong pundak Naufal. "Jangan jadi perempuan yang hanya menunggu di sini!" ajak Arsen pada Naufal untuk ikut berbaur di mading. Mengambil foto lembaran peringkat nilai.


"Duuh... malasnya berbaur dengan mereka!" gerutu Naufal lagi.


"Sudahlah, ayo!" paksa Arsen. "Kamu juga pasti penasaran 'kan? peringkat berapa kamu di sekolah?" tanya Arsen. "Secara kamu ranking 4 di kelas."


"Iya sih!"


Akhirnya kedua pemuda itu ikut berbaur dengan yang lain. Bergantian mengambil foto tingkat kelas 10 yang berada di mading paling kiri. Meninggalkan Hanna dan Cla yang berdiri di tepi tangga paling bawah. Menunggu Arsen dan Naufal yang sedang berburu foto barisan nama.


"Tidak penasaran dengan nilai mu?" suara seseorang tiba-tiba terdengar dari belakang Clarice.


"Itu! Menunggu mereka saja, lebih gampang!" jawab Cla menoleh ke sisi kiri.


Di mana Vino tiba-tiba muncul di belakang. Entahlah, kemana sebelum ini. Sang atlit tiba-tiba muncul di belakang Cla yang bersandar pada pagar tangga.


Meskipun ada desiran aneh yang selalu menelisik relung hati setiap suara Vino terdengar di telinga. Tetap saja ia harus pandai berpura jika ia mengidolakan sang pemuda. Dan bersikap biasa-biasa saja.


"Mereka berdua memang istimewa, ya?" gumam Vino.


"Kenapa?" tanya Clarice mengerutkan keningnya.


"Seperti nya mereka berdua menyukai kamu dengan cara mereka masing-masing!" ucap Vino membuat Cla menarik nafas lebih panjang dan menghelanya kasar.


"Tau dari mana kamu?" tanya Cla kemudian.


"Aku juga laki-laki. Aku tau seperti apa gelagat mereka!" ucap Vino mengedikan bahunya.


"Sok tau kamu!" ujar Cla sedikit ketus.


Vino tersenyum smirk. Mengejek kepolosan Clarice.


"Aku tidak tau, kamu itu benar-benar polos atau bagaimana?" ucap Vino. "Kenapa tidak bisa membaca gelagat laki-laki." lanjutnya menyindir.


"Hei! Jangan sembarangan kamu kalau mengejek!" balas Clarice lagi dengan ketus. "Lebih baik kamu pergi ke sana! biar tidak jadi perempuan seperti aku dan Hanna!"


Namun sang atlit lagi-lagi hanya tergelak kecil sembari menggelengkan kepalanya pelan. Kemudian mengangguk pelan, dan langsung melangkah mendekati Arsen dan Naufal yang masih mengambil beberapa foto lagi.


' Kalau kamu peka dan mengaku bisa membaca gelagat mereka, apa kamu tidak bisa membaca gelagat ku? '


Batin Clarice dalam hati.


Siapa sangka obrolan Vino dan Clarice sesungguhnya di dengarkan dengan baik oleh Hanna yang berdiri di depan Clarice. Meski tidak menoleh ke belakang dan tidak ikut menimpali, tapi Hanna bisa mendengar dengan jelas. Dan sang gadis hanya bisa menarik nafas pelan dan menghelanya dengan singkat. Menetralkan diri yang... entahlah.


***


"Sudah aku kirim ke WA kamu, Cla!" ucap Arsen menghampiri Cla dan Hanna.


"Thanks!" jawab Clarice mengeluarkan ponselnya yang memang ia buat mode silent selama di sekolah.


"Yo'i!" jawab Arsen yang langsung berdiri di samping Clarice.


"Aku?" tanya Hanna pada Arsen.


"Sudah aku kirim, Han!" sahut Naufal yang muncul di samping Hanna.


"Okay, Thanks, Naufal!" ucap Hanna tersenyum simpul.

__ADS_1


"Sebaiknya kita cek di taman saja, bagaimana!" Cla memberi ide.


"Ayok!" sahut Hanna.


Dan semua mulai berjalan ke arah pintu keluar yang menuju halaman belakang sekolah. Di mana taman yang luas dengan beberapa gazebo dan kursi sekaligus mejanya yang bertebaran di sana.


"Vino tidak ikut?" tanya Arsen melirik Vino yang masih mengambil foto. Bedanya Vino mengambil foto di mading yang berisi nilai kelas XI.


"Tidak mungkin!" sahut Clarice. "Lihat!" Cla menunjuk arah belakang.


Di tangga sana, turunlah seorang gadis yang di ketahui mereka semua sebagai bidadari Vino. Gadis berseragam yang sama dengan keempat anak itu, bedanya menggunakan bet berwarna kuning di lengan kirinya, yang tak lain adalah Neha. Siswi kelas XI-IPA 3.


"Beuh! tidak mungkin ikut kita kalau begini caranya!" ucap Arsen.


"Ya sudah, ayo!" sahut Hanna mengajak semua untuk kembali melangkah.


***


Duduk berempat di kursi kosong dengan berhadapan di meja persegi panjang yang berada di bawah pohon besar, keempat anak itu mulai meneliti dan mencari nama masing-masing.


Cla berseru ketika ia mengetahui dirinya ternyata peringkat 21 dari total kurang lebih 120 siswa kelas X.


"Yeay, 21! tidak terlalu buruk!" seru Clarice berseru senang. "Daddy akan tetap bangga dengan hasil ini."


"Aku 25!" sahut Arsen. "Tidak terlalu buruk juga!" lanjutnya berseru senang.


"10!" sahut Naufal melihat namanya berada di peringkat 10.


"Wiih! Kamu memang selalu lebih unggul sejak kita masih di Junior dulu!" sahut Clarice memuji Naufal.


Naufal hanya tersenyum tipis menanggapi pujian Clarice. Ia sudah biasa di puji tentang kepintaran oleh Clarice.


"Kamu peringkat berapa, Han?"


"41!" jawab Hanna tersenyum kecut melihat peringkatnya jauh di bawah teman-temannya.


"Tidak masalah..." ucap Clarice merangkul pundak Hanna. "Yang penting tidak sampai peringkat 100!" lanjut Cla memberi semangat pada Hanna yang mereka semua siswa tau jika sang gadis lebih dominan di dunia olah raga dan kreatifitas di banding mata pelajaran apapun.


"Cla benar! kamu sudah termasuk sangat bagus!" sahut Arsen memberi semangat.


"Kamu sudah sangat berprestasi di bidang non akademik, kalau kamu berprestasi juga di bidang akademik, matilah kami yang tidak punya prestasi non akademik!" sambung Naufal memberi gambaran.


"Benar itu!" sahut Clarice dan Arsen bersamaan.


"Ya..ya..kalian benar... Tuhan memang adil." jawab Hanna tersenyum tulus kali ini. "Lalu Vino peringkat berapa?" gumam Hanna yang langsung mencari nama rekan sesama atletnya itu.


"32!" sahut Naufal yang menemukan lebih dulu nama Vino.


"Kami sesama atlit, tapi dia cukup pintar rupanya!" sahut Hanna merasa dirinya sangat kecil.


"Aku dengar karena Papanya ingin dia kelak menjadi penerus Papanya di perusahaan Daddy nya Cla." ucap Naufal.  "Untuk itu Papanya juga ingin Vino agar berprestasi juga di bidang mata pelajaran. Dan aku yakin Vino bekerja keras untuk nilai-nilainya ini."


Mendengar itu Clarice cukup terhentak. Benarkah kelak Vino akan bekerja di Adhitama Group suatu hari nanti? Dan... mungkinkah mereka akan kembali bertemu?


Entahlah, semua masih menjadi rahasia Tuhan.


"Oh..." sahut Hanna mengangguk paham. Sang atlit mulai menyadari jika memang dirinya tidak mendapat paksaan siapapun untuk bisa meraih nilai yang baik.


Tiba-tiba notifikasi berupa gambar pesan muncul di layar ponsel Clarice. Dan ia langsung membuka pesan yang ternyata dari Vino, yang entah di mana sang pemuda sekarang berada.


Dan entah pula sejak kapan Vino menyimpan nomornya. Baru kali ini nama Vino yang sudah ia simpan sejak pertama kali masuk sekolah itu mengirim pesan padanya.


Jantung Clarice berdebar, menahan senyum ketika muncul nama Vino di aplikasi chatting miliknya. Clarice menormalkan nafas yang gugup, agar tidak terlihat oleh yang lain. Kemudian ia menggerakkan ibu jarinya.


Satu foto tampak ter-download otomatis, dan Cla langsung membuka chat dari Vino. Karena ingin tau gambar apa yang di kirim oleh Vino padanya.


Sebuah foto yang ia pikir menunjukkan deretan peringkat namanya dan teman-teman, ternyata peringkat kelas XI.


"Untuk apa Vino mengirim daftar peringkat kelas XI?" gumam Clarice yang di dengar oleh teman-temanya.


"Hah?" pekik Hanna yang ada di sampingnya. Sang atlit perempuan langsung mendekat dan ikut membaca gambar yang di kirim oleh Vino.


Belum selesai mereka memahami kenapa Vino mengirim foto peringkat kelas XI, sebuah pesan chat menyusul masuk dari nama yang sama.


"Zuria peringkat 87, apa dia ikut ujian?" tanya Vino melalui chat yang di baca lirih oleh Clarice, namun tetap terdengar oleh yang lain.


"What!" pekik empat anak itu bersamaan.


"Daddy mu memberi izin?" tanya Arsen langsung menatap lekat pada Cla yang bingung.


"Daddy tidak bilang apapun padaku..." jawab Cla mengingat-ingat. Ia sangat yakin jika sang Daddy tidak bicara apapun tentang Zuria sejak hari itu. Karena memang di larang pula untuk bertanya.


"Tapi aku tidak melihat dia datang di hari pertama dan kedua ujian..." sahut Arsen lagi.


"Papa atau Mama kamu tidak cerita?" tanya balik Cla pada Arsen. "Keluarga kalian kan dekat."


"Tidak!" jawab Arsen. "Papa tidak pernah membahas tentang mereka sejak kita di ruang BK. Yang ada hanya membicarakan ternyata aku dan kamu yang ternyata berteman di sekolah." lanjutnya.


"Apa hubungannya?" tanya Hanna.

__ADS_1


"Yaa... karena ternyata Mama ku dan Daddy nya Clarice adalah sahabat baik saat masih sekolah dulu..." jawab Arsen. "Eh... sekarang anak mereka satu kelas dan berteman pula."


"Ooo..." jawab Hanna mengangguk.


"Aku akan tanyakan pada Daddy nanti..." ucap Clarice, kemudian langsung mengetik pesan untuk Vino.


"Aku tidak tau..." balas Clarice melalui ketikan di aplikasi chatting nya.


"Oh.." jawaban oh dari Vino itu begitu cepat muncul di layar ponsel Clarice.


"Aku dengar dia akan pindah sekolah..." ucap Naufal kemudian.


"Kamu tau dari mana?" tanya Clarice.


"Papa yang bilang." jawabnya. "Saat Papa tau Daddy mu menarik saham di perusahaan keluarga Zuria, ternyata dugaan ku di hari itu benar. Papa pasti juga akan menarik sahamnya walau hanya 5% saja." jelas Naufal. "Dan benar, Papa menarik semua sahamnya dari ARL Express.


"Lalu?"


"Lalu Papa bilang katanya Zuria akan di pindah ke sekolah swasta. Atau bahkan mungkin negeri."


"OOOHH.." semua yang mendengar ber-oh ria.


"Kasian juga ya... Ketika melihat seseorang yang bersekolah di International School, kemudian harus pindah ke sekolah swasta atau bahkan negeri." ucap Hanna. "Bukan karena sekolah negeri dan swasta buruk. Tapi mereka pasti akan kena mental. Karena di anggap bangkrut atau bahkan buangan!" lanjutnya. "Tapi mau bagaimana lagi. Itu hukuman yang tepat untuk anak yang sombong!"


"Kamu benar!" saut Clarice. "Aku juga sesungguhnya kasian, tapi Daddy kalau mara memang seperti itu. Untuk itu ku tidak berani menentang semua keputusan Daddy!" lanjutnya.


"Kalau masalah Zuria ikut atau tidak, kalau ternyata Zuria ikut, aku yakin Daddy sudah menimbang dengan sangat matang kenapa mengizinkan Zuria ikut ujian." lanjut Clarice. "Kalau Zuria tidak ikut, tidak mungkin ia bisa berada di peringkat sekarang."


"Aku jadi penasaran...." gumam Arsen.


"Apa?"


"Kalau dia memang ikut, dimana dia ujian? karena aku sama sekali tidak melihat dia di ujian hari pertama dan kedua."


"Benar juga..." gumam yang lain ikut berfikir.


***


Dalam saluran telepon seseorang ...


"Berapa peringkatnya?"


"Peringkat di kelas 19, Tuan... Dan peringkat di sekolah 87." jawab Mrs. Maria.


"Sebelum ini, saat kelas X dulu dia sering berada di peringkat berapa?"


"Biasa nya di kelas dia berada di kisaran peringkat 9 sampai 13, Tuan. Dan peringkat sekolah di kisaran peringkat 30 sampai 60!"


"Hemm... Baiklah!" jawab si penelepon di sebrang sana.


"Iya, Tuan... Ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Mrs. Maria.


"Tidak ada!" jawaban di sebrang. "Permudah saja dia pindah sekolah!" lanjutnya.


"Baik, Tuan!" jawab Mrs. Maria.


Sambungan pun terputus. Mrs. Maria menutup telepon dengan menghela nafas panjang.


"Kalian memang luar biasa!" gumam Mrs. Maria kemudian.


***


"Kalian pantas mendapat hukuman ini..." gumam Kenzo dari kursi kebesarannya sebagai CEO sekaligus pemilik Adhitama Group.


"Kalau Pak Kenzo tau, dua hari itu wajah anak itu benar-benar ingin mati saja kalau bisa." sahut Venom yang duduk di depannya.


"Sesungguhnya aku memang ingin melihat anak itu dalam tekanan." jawab Kenzo. "Hanya saja aku masih sangat muak untuk bertemu dengan orang tuanya termasuk melihat anak itu."


"Dan itu sudah dia rasakan selama dua hari menyelesaikan ujiannya, Pak!"


"Kau memang selalu bisa membuat seseorang merasa tertekan, Venom!" puji Kenzo.


"Dan itu karena belajar banyak dari anda, Pak Kenzo." jawab Venom berbangga diri karena menjadi kepercayaan Kenzo sejak belasan tahun yang lalu.


"Lantas kapan kau siap mengemban tugas dari ku?" tanya Kenzo.


"Maksud Pak Kenzo menjadi CEO?" tanya Venom.


"Ya!" jawab Kenzo. "Kepada siapa lagi aku mempercayakan jabatan itu kalau tidak kepadamu?"


"Tapi saya masih nyaman menjadi Asisten pribadi anda, Pak Kenzo."


"Bukankah yang penting aku akan tetap berada di atasmu? Tetap berada di sini bersama mu? Bedanya kamu yang lelah dan aku yang terima hasilnya di rumah!" ujar Kenzo dengan gelak tawa lirih.


Venom tersenyum simpul. Begitulah sang Asisten, irit tawa dan senyum. "Saya rasa Zio juga punya dedikasi yang bagus untuk menjadi CEO, Pak Kenzo." usul Venom. "Saya lebih nyaman menjadi Asisten anda."


Kenzo tampak menimbang-nimbang usul Venom. Berfikir keras, karena sudah saatnya ia menjadikan seseorang untuk menjadi CEO. Menggantikan dirinya yang kini menjadi pemegang saham, dan ingin meluangkan banyak watu bersama keluarga.


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2