Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 97 ( Mas! )


__ADS_3

Kenzo membawa rombongannya untuk masuk ke salah satu restoran yang ada di sana. Tentu saja untuk makan siang bersama sebelum lanjut jalan - jalan. Karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul satu. Anak - anak tidak boleh terlambat makan siang. Apalagi tidak hanya dua anak, melainkan tambah satu anak lagi.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Calina pada Felia dengan nada yang lembut.


Anak itu sedang tidak bersama dengan orang terdekatnya saat ini, jadi Calina menempatkan diri untuk lebih dekat dengan Felia. Supaya gadis sebaya putrinya itu tetap merasa nyaman dan aman bersama dengan orang - orang yang bahkan baru di kenalnya hari ini.


"Felia mau sayur yang ini, Tante..." Felia menunjuk sayuran cap cay yang menunjukkan beberapa irisan brokoli di sana. "Felia suka brokoli!" lanjutnya menunjuk sayuran seperti bunga berwarna hijau itu.


"Okay! sama apa lagi?"


"Sudah!" jawabnya.


"Hanya itu?" heran Calina.


"Ya, Tante!"


"Ayam goreng, mungkin?" Calina mencoba untuk menawarkan makanan tambahan yang lain.


Namun gadis kecil itu menggelengkan kepalanya pelan.


"Baiklah, kalau minumnya, mau minum apa?"


"Ice chocolate! boleh?"


"Boleh, kenapa tidak?"


"Okay, Felia mau ice chocolate!" serunya senang.


"Cla juga mau Ice chocolate!" sahut Clarice menginginkan minuman yang sama dengan Felia.


"Okay, Sayang!" jawab Calina mencatat di dalam buku order. "Makannya mau makan apa?"


"Aku mau makan bakso saja seperti Mommy dan Daddy!" jawab Clarice.


"Okay!"


Semua sudah menuliskan pesanan masing - masing, termasuk untuk Mama Shinta dan Galen. Kini tinggal menunggu semua pesanan datang, untuk kemudian makan siang bersama.


"Habis ini boleh berenang kan, Mommy?" tanya Clarice.


"Boleh! yang penting perutnya harus kenyang terlebih dahulu!" jawab Calina.


"Okay, Mommy!"


"Felia bawa baju ganti?"


""Bawa, tapi semua baju kami di bawa Mama dan Om yang tadi."


"Oh... ya sudah, tidak apa - apa." jawab Calina. "Kita bisa beli kalau nanti tidak ketemu Mama kamu, ya?"


"Iya, Tante..."


***


Sambil menunggu pesanan makan siang untuk rombongan Kenzo datang, mari kita kembali kepada dua sejoli yang sedang di mabuk cinta yang belum pasti ujung nya akan seperti apa.


Bersemi kah?


Atau justru akan menjadi cerita kelam untuk Zio yang sudah berharap banyak pada Zahra.


Wajah malu - malu jelas tergambar di wajah keduanya. Bagaimana, wajah cantik Zahra menjadi bersemu merah, saat melihat semua pergi dan hanya menyisakan dirinya dan Zio, hanya berdua. Sungguh seperti dua remaja yang sedang kencan di tempat wisata yang ramah keluarga.


Setelah Zio mengikis jarak di antara keduanya, kini Zio mencoba untuk mengajak Zahra ke tempat yang lebih tenang, dan jauh dari hiruk pikuk orang - orang yang berlalu lalang. Namun sebelum itu terjadi, Zio melihat wahana yang paling menantang sejak ia kecil dulu.


"Mau coba naik Halilintar?" tawar Zio menghentikan langkah dan melihat pada barisan orang - orang yang sedang mengantri di wahana permainan yang sedang berlari cepat secepat kilat itu.


"Ha?" pekik Zahra menatap wahana semacam roller coaster yang sedang membawa banyak penumpang itu. "Saya mana berani naik yang begituan, Pak!" jawab Zahra dengan wajah polosnya.


"What?" kini giliran Zio yang menatap tak percaya pada Zahra. "Kamu yakin tidak berani naik Halilintar?" tanya Zio dengan kening yang berkerut.


Zahra menggeleng pelan, santai, dan datar. Karena memang ia tidak berani menaiki wahana permainan yang dia anggap sedang menantang maut itu.


Zio sedikit tergelak tanpa suara. Bukan untuk menertawai Zahra. Tapi ia hanya heran dan tak percaya pada Zahra. Di mana menurutnya, mereka yang usianya berada di bawahnya sudah pasti akan menyukai wahana yang menantang dan ekstrim. Tapi Zahra?


Entahlah, Zio hanya menilai jika Zahra memang sangat polos dan tidak suka dengan tantangan ekstrim.


"Padahal aku saja dulu sangat suka!" gumam Zio mengenang masa mudanya dulu.


"Oh, ya?" tanya Zahra.


"Hemm.." Zio mengangguk.


"Sekarang mau coba naik dengan ku?" tawar Zio. "Tenang, semua pasti aman!" ujar Zio meyakinkan.


"Tau dari mana semuanya aman?" tanya Zahra tak ingin percaya begitu saja.

__ADS_1


"Lihat saja, mereka semua turun dengan selamat, bukan?" Zio menunjuk rombongan yang baru saja turun dari wahana Halilintar.


Zahra mengangkat kedua alisnya, sebagai pertanda iya, benar. Tapi ...


"Tapi semua orang memiliki takdir masing - masing, bukan?"


"Maksud kamu?"


"Yaa... Pak Zio pasti sering dengar berita tentang kecelakaan wahana permainan, 'kan? Entah itu di Indonesia sendiri, maupun di Luar Negeri. Dan menurut ku menjadi korban kecelakaan wahana permainan adalah kecelakaan yang paling mengerikan!" ujar Zahra.


"Kenapa begitu?" tanya Zio.


"Karena tujuan mereka menaiki wahana adalah untuk menghibur diri, mencari kesenangan, menguji adrenalin, atau untuk menaklukkan tantangan pada wahana permainan yang sudah mereka bayar dengan mahal dan sudah di janjikan keamanannya. Tapi ternyata mereka harus menjadi korban." ucap Zahra dengan nada sedih.


Zio mendengarkan dengan seksama apa yang di jelaskan Zahra. Memang ada benarnya, dan ia beruntung karena selalu selamat di setiap wahana permainan yang ia naiki.


"Jadi kamu memang tidak pernah menaiki wahana permainan?"


"Pernah lah!" jawab Zahra. " Hanya saja wahana yang pasti aman, dan tidak berbahaya." jawab Zahra santai.


"Kalau itu, kamu berani?" tanya Zio menunjuk Bianglala.


Zahra melihat wahana apa yang di tunjuk Zio. Kemudian dia mendongak ke atas. Betapa tinggi Bianglala di Dufan.


"Sebenarnya saya berani... Tapi ini terlalu tinggi, Pak.." gumam Zahra.


Zio menoleh pada Zahra. Menatap dengan tatapan datar. Bukan heran karena gadis itu tidak berani naik Bianglala, tapi...


"Ini di luar kantor, dan kita hanya berdua. Bisa tidak jangan panggil aku dengan sebutan Pak?" ucap Zio.


Seketika Zahra mendatarkan pandangannya yang masih melihat betapa tinggi si Bianglala. Menoleh pada Zio yang masih menatapnya dengan lekat.


"Tapi... akan tidak sopan jika saya memanggil anda tanpa sebutan Pak. Kan Bapak atasan saya."


"Iya, aku tau itu... tapi ini kita sedang..." Zio ragu untuk melanjutkan kalimat yang ingin ia maksudkan.


"Sedang apa?" tanya Zahra yang ingin tau kelanjutan dari kalimat Zio. Sedikit banyak ia tau maksud Zio. Hanya saja ia tak ingin terlalu besar kepala.


"Sedang... berlibur," kilah Zio. "Dan tidak ada karyawan yang lain yang melihat kita. Bahkan Pak Kenzo saja memilih pergi." jelas Zio.


"Jadi saya harus panggil apa?" tanya Zahra lagi.


"Panggil Mas Zio saja, bisa?"


"Tapi, itukan..." kini Zahra yang tidak berani melanjutkan kalimatnya.


Zahra menghela nafas panjang, "tidak sopan, lebih terkesan kita ada hubungan di luar rekan kerja."


"Bukankah kita memang ada hubungan di luar sebagai rekan kerja?" goda Zio dengan senyum menawan khas miliknya. Tentu ia sudah tak sabar menagih janji Zahra untuk menjawab permintaannya.


"Ya... tapi... itu terkesan sangat dekat."


"Kita bahkan berdua di sini, tanpa harus mengawasi anak - anak. Kurang dekat bagaimana?"


Zahra mulai kelabakan sendiri. Antara salah tingkah dan belum berani untuk menjawab.


"Lihat! bagaimana kalau kita main air saja?" tanya Zahra mengalihkan pembicaraan yang terlalu intim untuk di bicarakan saat ada beberapa orang tak di kenal berlalu lalang di sekitar mereka.


Zio mengigit bibir bawahnya karena menahan gemas. Ada saja cara wanita mengalihkan pembicaraan untuk menghindari pertanyaan - pertanyaan yang membuat mereka bingung.


"Kamu bawa baju ganti?" tanya Zio mengikuti saja jalan cerita yang di buat oleh sang wanita.


Zahra tersenyum kaku lalu menggeleng.


"Ya sudah, kita beli saja." jawab Zio menuruti keinginan sang wanita, demi apa?


Zio dan Zahra mulai berjalan mendekati area kolam, sebelum masuk tentu mereka membeli handuk dan baju dari dalam sampai luar untuk berenang. Karena tidak mungkin mereka berenang menggunakan apa yang sedang mereka kenakan sekarang. Selain berat, juga pasti di larang di dalam sana menggunakan baju itu untuk berenang.


Zahra keluar dari ruang ganti menggunakan baju renang ketat berwarna hitam yang menutupi tubuhnya dari atas lutut hingga lengan bagian atas. Kemudian ada rok mini untuk menutupi area bokongnya.


Untuk sesaat, Zio yang berdiri di depan ruang ganti tertegun melihat penampilan Zahra yang berbeda dari biasanya. Kali ini betis putih mulus terlihat oleh Zio yang untuk beberapa detik tidak bisa berkedip. Sedikit banyak kulit Zahra sangat mirip dengan kulit Naura yang juga putih dan mulus tanpa celah.


"Siap?" tanya Zio setelah Zahra sudah sampai di depannya.


"Siap!" jawab Zahra riang.


"Kamu bisa berenang?"


"Bisalah!" jawab Zahra enteng.


"Ok! ayo!"


Keduanya pun langsung berlari ke tepi kolam untuk melakukan pemanasan ringan sebelum masuk ke dalam kolam renang yang berukuran 150 cm.


Ya, mereka jelas terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan di area kolam. Wajah tampan dan cantik yang mereka miliki benar - benar tak memperlihatkan jika hari ini mereka adalah pasangan duda dan janda yang sedang PDKT.

__ADS_1


Kita semua pasti tau, apa yang di lakukan oleh pasangan lelaki dan wanita ketika hanya bermain berdua di kolam, meskipun hanya teman. Canda tawa begitu riang, saling melempar air dan sebagainya. Seolah tidak ada lagi jarak di antara keduanya. Mereka tampak sangat akrab dan dekat. Hanya satu yang menjadi masalah, saat mereka berdua baru saja meluncur menggunakan pelampung ganda.


"Aku mau lagi! ayo, Pak!" ucap Zahra dengan sedikit kencang. Dan itu membuat beberapa orang yang ada di dekat mereka menoleh dengan tatapan heran.


Usia terlihat tak terlalu jauh berbeda, tapi kenapa memanggil dengan sebutan Pak?


Mungkin itu yang ada di dalam benak mereka semua. Padahal mereka terlihat seperti sepasang suami istri untuk sekilas. Yang entah anaknya ada di mana.


Sontak Zio mendekati Zahra dengan menahan rasa gemas. Karena menahan malu setengah mati dengan sebutan yang masih saja di sematkan Zahra untuknya. Ia rangkul pundak Zahra untuk berbisik. Seolah menghalau pikiran buruk orang lain yang mungkin menganggap mereka adalah pasangan selingkuh, antara bos dan sekretarisnya.


"Bisa tidak jangan panggil aku Pak? ini sangat memalukan, Zahra!" bisik Zio dengan sangat lirih dengan gigi yang mengerat.


"Heheheh!" Zahra tersadar jika beberapa orang bahkan masih melihat ke arah mereka. "Lalu saya harus panggil apa?" tanya Zahra melirik Zio yang berada sangat dekat di sisi kanan dirinya.


Berada di dalam kolam dengan baju basah, dan kulit sedikit banyak bersentuhan, membuat desiran aneh di dalam tubuh mereka semakin terasa nyata. Hanya saja keduanya masih menahan gejolak yang ada. Menahan sekuat hati untuk tidak terlihat, jika jantung sedang berdetak tidak normal.


"Mas!" jawab Zio memberikan solusi sebutan terbaik. Karena dulu istri - istrinya juga memanggil dengan sebutan itu.


"Mas?" tanya Zahra mengerutkan keningnya.


"Ya, panggil aku, Mas! dan tidak yang lain!"


"Harus?"


"Ya!" tegas Zio.


"Wajib?"


"Iyaa... Zahra.." jawab Zio dengan nada yang panjang, dengan gemas.


"Mas?" Zahra mencoba untuk memanggil Zio dengan sebutan yang baru. Namun semua terasa sangat kaku dan saru.


"Hmm.. bagus!" tanggap Zio.


"Hahahaha!" Zahra justru tertawa terbahak - bahak.


"Kenapa tertawa?" Zio memicingkan matanya.


"Sangat lucu!" jawab Zahra masih menahan gelak tawanya.


"Coba ulangi!" perintah Zio, berpindah menghadap Zahra.


"Hahahaha!" tapi Zahra justru tertawa lepas saat melihat wajah Zio ada di hadapannya.


"Cepat! jangan tertawa terus!" kejar Zio meminta Zahra untuk memanggilnya dengan sebutan Mas.


"Mas... Hahaha!" Zahra benar - benar sakit perut gegara di minta untuk memanggil Mas, di saat lidah yang masih kilu dan kaku. Mengingat lelaki di depannya adalah atasannya, bukan sembarang lelaki.


Zio yang semula berwajah serius kini berubah. Bibirnya mulai ikut tertawa melihat Zahra yang tertawa sampai harus memegangi perutnya yang rata.


"Berani kamu menertawakan aku?"


Tangan kanan Zahra terangkat untuk melambai. Mewakili kata tidak, karena bibirnya sungguh sulit untuk berhenti tertawa.


Zio yang sudah tidak sabar lagi melihat betapa Zahra terlihat sangat menggemaskan jika tampil dan berperilaku apa adanya, langsung meraih kedua tangan Zahra, dan langsung mengunci tubuhnya. Memeluk Zahra dari belakang, dengan tangan yang juga di kunci.


Dengan tenaganya sebagai seorang lelaki, Zio mendorong tubuh Zahra sampai ke tepi kolam yang tidak ada orang di sekitar sana. Hingga tubuh Zahra menempel pada dinding kolam.


Meski shock, Zahra hanya bisa mengikuti apa yang di lakukan Zio padanya.


Punggung sang wanita menempel sempurna pada dada Zio yang tegap dan bidang. Hanya terhalang oleh kain - kain basah saja.


Untuk sesaat, Zio membiarkan sampai tawa Zahra habis. Namun ia sama sekali tidak mengendurkan kuncian nya. Dan saat tawa Zahra benar - benar habis, maka yang terdengar hanyalah deru nafas keduanya.


Jantung berdebar hebat, bahkan Zahra bisa merasakan detak jantung Zio yang terasa begitu kuat di punggungnya. Namun ia hanya bisa diam. Ingin memberontak, tapi dekapan itu terasa begitu nyaman.


Ingin terus membiarkan tubuhnya menempel, tapi sangat banyak pasang mata yang ada di area kolam. Meskipun tidak ada yang berada dekat dengan mereka. Tapi bisa saja mereka melihat, dan berfikir jika dirinya bukanlah wanita baik - baik.


Hendak memberontak, namun bisikan Zio lebih dulu terdengar. Membuat bibir yang hampir berucap, hanya bisa diam dan terpaku.


"Tidak ada yang tau kalau kita bukan sepasang suami istri..." bisik Zio menjawab arti dari tatapan Zahra pada orang - orang di sana. "Mereka hanya akan mengira jika kita ini sepasang kekasih, atau suami istri yang sedang bermesraan. Hal ini sudah biasa terjadi, bukan?"


Suara Zio yang terdengar begitu lirih dan sangat dekat dengan telinga membuat jantung Zahra kian berdebar. Bagiamana tidak, bibir tipis sang bos hanya menyisakan jarak satu sentimeter saja dari daun telinganya. Apalagi kalimatnya yang mampu membuat para wanta yang lemah iman, terhanyut ke dalam sana.


Tidak terkecuali mereka yang kadang suka mengingatkan ini itu. Namun jika mereka sendiri berada di dalam posisi seperti Zahra, akhirnya hanyut juga.


"Sekarang aku ingin mendengar jawaban kamu, Titania Azzahra!" desis Zio membuat Zahra hampir kehabisan nafas.


"Bersediakah kamu menikah dengan ku?" bisik Zio dengan suara yang sangat tulus dan intim. Meski tempat sama sekali tidak masuk akal untuk di jadikan lokasi melamar seseorang.


Bahkan detak jantung sang lelaki begitu terasa berdebar saat berucap demikian.


...🪴 Bersambung ... 🪴...


✍️ Sebelumnya Author minta Maaf sebesar - besarnya, Author harus menulis sampai ber - season. Tidak sesuai dengan rencana awal. Karena Author harus mengejar target untuk novel Cinta yang Tak Ku Rindukan. 🙏

__ADS_1


Salam, Lovallena ❤️🥰


__ADS_2