Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 105 ( Apa yang Kamu Lakukan, Gilang! )


__ADS_3

Pengajuan lamaran di terima, hati siapa yang tidak bahagia?


Setidaknya itulah yang di rasakan oleh Gilang, teramat sangat bahagia. Begitu juga dengan Kayla yang penantiannya ternyata tidak sia - sia. Karena sudah tiga bulan lebih menjalin hubungan tanpa status dan juga tinggal di atap yang sama, ketika Gilang berkunjung ke Indonesia.


Tentu sebagai seorang perempuan merasa cemas jika hanya di jadikan tempat pulang tanpa status hubungan yang jelas. Karena untuk cemburu juga tidak berhak. Bahkan mengkritik pun rasanya tak berhak. Namun semua kebutuhan diri di tanggung sepenuhnya oleh pria itu.


Sungguh tidak jelas, bukan?


Berpelukan ringan di antara banyaknya tamu undangan serta riuh tepuk tangan, membuat Gilang dan Kayla merasa semakin di atas awan. Karena serasa mendapat restu seratus persen dari seluruh penduduk di muka Bumi ini.


Namun mereka melupakan posisi orang tua Gilang, salah satu orang terkaya di Ibukota yang pasti banyak maunya. Dan bahkan sampai detik Gilang melamar Kayla, mereka belum pernah bertemu dengan wanita yang di lamar oleh putra bungsunya.


Bukankah itu akan sangat berbahaya untuk mereka kedepannya nanti?


Ketika kalimat Kayla yang di ucapkan menggunakan mic berakhir, bertepatan dengan dua orang yang merupakan suami istri itu memasuki Ballroom hotel yang sudah di sewa selama satu hari penuh oleh Kenzo.


Mereka adalah pemilik sah perusahaan Adhitama Group yang kini di pimpin oleh anak sulungnya, Kenzo Adhitama.


Tuan Adhitama dan Nyonya Nuritha Adhitama bukan datang tanpa undangan. Melainkan datang karena memang menerima undangan dari salah satu karyawannya yang Memiliki kedudukan cukup tinggi di perusahaan. Yaitu Zio Alvaro, sang General Manager.


Sebagai bos yang menghargai karyawan intinya, tentu Tuan dan Nyonya Adhitama menyempatkan diri untuk datang. Namun siapa sangka, saat ia sampai di depan gedung, mereka justru mendengar momen yang sangat tidak asing bagi mereka. Momen yang sering mereka temukan, apalagi saat berada di luar negeri.


Namun kenapa nama Gilang yang di sebutkan?


Padahal Gilang tak pernah terlihat membawa pasangan. Meskipun sebenarnya mereka curiga karena Gilang sering pulang pergi Indonesia - Australia, dan tidak pernah lagi menginap di rumah utama keluarga Adhitama. Melainkan di apartemen pribadinya.


"Gilang?" suara berat terdengar dari arah belakang Gilang, dan itu membuat keduanya mengakhiri pelukan dan langsung menoleh ke belakang.


Bersamaan dengan itu, Ballroom hotel seketika menjadi hening. Suara seluruh tamu undangan terdiam total.


Dan sontak Gilang di buat shock, melihat siapa yang sedang berdiri dan menatap dirinya dengan dingin. Kemudian beralih menatap Kayla dengan tatapan yang sulit di artikan.


Kenzo yang mungkin menyadari bahaya datang, segera keluar dari kursi, dan mendekati posisi orang tuanya berdiri. Berdiri tepat di samping sang Ibunda, yang ia ketahui cukup kaku untuk seleksi calon menantu. Merasa diri sudah pernah adu argumen dengan sang Ibu, tentu Kenzo tau harus berbuat apa.


Sebagai anak sulung, tentu ia tidak ingin orang tua dan adiknya ribut di tempat umum seperti ini. Apalagi di saksikan oleh banyaknya karyawan Adhitama Group. Apa kata dunia, jika sampai ada kamera iseng dari tamu undangan yang mungkin sedang menyala dan menjadikan pertengkaran keluarganya sebagai objek syuting gratis?


Lalu menjadi trending topik! Kehidupan seorang pengusaha yang terkenal di Ibukota cukup di sorot oleh kamera wartawan. Karena memang cukup menarik perhatian orang - orang di luaran sana yang penasaran dengan kisah hidup orang kaya.


Bukan hanya Kenzo yang langsung bereaksi, tapi Zahra dan Zio juga langsung berdiri dari duduknya di kursi pelaminan. Begitu juga dengan Titan dan Mama Shinta. Mereka semua bisa melihat dengan jelas seperti apa situasi yang terjadi antara Gilang dan kedua orang tuanya. Karena meraka berada di posisi yang tak terhalang oleh tamu undangan lainnya.


Kita semua pasti sudah tau seperti apa sifat Nyonya Nuritha. Yang juga sempat tak menyetujui Kenzo menikah dengan Calina. Karena menganggap Janne jauh lebih sempurna di banding Calina yang merupakan janda cerai beranak satu.


"Pa? Ma?" sapa Gilang dengan wajah tegang, namun sebisa mungkin ia menutupi semua kegundahan yang ada di dalam dada dengan tetap menatap mata kedua orang tuanya secara bergantian. Ia genggam tangan Kayla, supaya gadis itu tidak takut, meski jelas terlihat jika gadis itu  sudah gugup setengah mati.


Selain untuk Kayla, juga untuk dirinya yang harus kuat jika seandainya ada penolakan dari kedua orang tuanya. Gilang mempersiapkan jawaban terbaik, seperti yang di lakukan sang Kakak ketika memperjuangkan Calina.


Hanya saja satu yang membuat Gilang kecewa. Kenapa harus di keramaian? Kenapa harus di momen yang baru saja mengharu biru?


"Apa yang kamu lakukan, Gilang?" hardik Mama Nuritha pada putra bungsunya.


Sebagian besar anak laki - laki sangat menyayangi Ibunya. Begitu juga sebaliknya. Karena itulah, banyak Ibu yang seperti sangat tidak rela jika anak laki - lakinya menikah dengan gadis yang tidak sesuai dengan harapan mereka. Meskipun harapan mereka belum tentu juga menjadi yang terbaik.


Mungkin sebab itulah banyak Ibu mertua yang tidak bisa akur dengan menantu perempuan mereka. Selain rasa sayang yang berlebihan pada sang putra, juga bisa jadi karena cemburu, kasih sayang anaknya terbagi untuk wanita selain dirinya. Padahal mereka sendiri juga merupakan seorang menantu dari Ibu mertua mereka.


"Ma?" panggil Gilang dengan lembut. Ia tarik pelan tangan Kayla untuk ikut mendekati sang Ibu. "Namanya Kayla... dia saudara kembar zahra." Gilang menoleh Zahra yang berdiri dengan tegang di atas pelaminan.


"Mama tau, Mama juga melihat kalau mereka mirip." jawab Mama Nuritha. "Mama hanya bertanya apa yang kamu lakukan pada gadis itu? kenapa ada pelukan segala? kenapa ada tepuk tangan? dan kenapa seolah semua tidak terencana? Kamu bahkan tidak pernah mempertemukan dia dengan Mama sebelum ini!"


Kejar Mama Nuritha dengan berbagai pertanyaan dan penyataan yang membuat Gilang merasa terpojokkan.


Lagi - lagi Gilang harus berkata dalam hati, kenapa harus terjadi di dalam acara dengan undangan berlimpah seperti ini?

__ADS_1


Atau ini memang menjadi ujian dan tantangan bagi dirinya, supaya ada perjuangan dalam mendapatkan cinta?


' Baiklah... Berjuanglah Gilang. Buktikan kamu bukan lelaki yang lemah dan mudah menyerah! Kayla sudah pernah di tolak beberapa tahun yang lalu. Saatnya kita berjuang! saatnya kamu tunjukkan kamu bisa seperti Kak Kenzo! '


Gilang menyemangati dirinya sendiri.


"Maafkan Gilang tidak memberi tahu Mama sebelum ini, tapi Gilang melamar gadis yang Gilang cintai, Ma..." jawab Gilang tersenyum pada sang Ibu, sembari mengangkat tangan Kayla di udara. Menunjukkan bahwa gadis itulah yang ia cintai. Bukan yang lain. "Mumpung Gilang mendapatkan momen yang baik."


"Tanpa sepengetahuan Papa dan Mama?" hardik Mama Nuritha dengan sorot mata yang cukup tajam untuk di lihat oleh orang baru seperti Kayla.


"Papa dan Mama pernah menolaknya. Dan kini, seperti Kak Kenzo yang memperjuangkan Calina, maka Gilang juga akan memperjuangkan Kayla, Ma! gadis yang Gilang cintai..." jawab Gilang berterus terang dengan nada yang tegas, seolah tidak ingin di batah lagi oleh kedua orang tuanya.


Dan kalimat jawaban dari Gilang membuat Mama Nuritha terbelalak. Begitu juga dengan Papa Adhitama. Jawaban Gilang seolah bentuk dari suatu pemberontakan. Kedua orang tua Gilang langsung saling bersilang tatap.


Sementara Kenzo menarik nafas dalam dan resah. Menghelanya dengan menatap sang istri yang berdiri dengan tegang. Apalagi perhatian seluruh tamu undangan benar - benar sudah tersedot pada masalah keluarga Adhitama.


"Harus mengingatkan Papa dan Mama dengan cara seperti ini, Gilang?" tanya Mama Nuritha dengan suara bergetar karena menahan emosi dengan dada kembang kempis.


Gilang tau ia sudah salah mengambil oktaf saat bicara dengan sang Mama. Apalagi selama ini ia di kenal sebagai anak yang selalu bersikap lembut pada sang Mama. Sedikit berbeda dengan Kenzo yang kadang masih sedikit tegas dan membantah.


Gilang beralih mendekati sang Mama, meraih tangan yang sudah merawatnya sejak kecil itu,


"Maafkan Gilang, Ma... Gilang tidak bermaksud bicara kasar pada Papa dan Mama," ucapnya. "Tapi saat Gilang melihat perjuangan Kak Kenzo untuk mempertahankan Calina, Gilang rasa Gilang juga harus melakukan hal yang sama." lanjut Gilang dengan suara yang lebih lembut dari sebelumnya. "Gilang tidak ingin menyerah akan cinta yang memang sulit untuk Gilang lupakan.."


Mama Nuritha menatap Gilang dengan mata yang berkaca - kaca. Entah apa yang di rasakan oleh Ibu dua anak itu pada sang putra bungsu. Tatapan matanya pada Gilang cukup sulit untuk di artikan, bahkan oleh Kenzo.


"Please, Ma... jangan menangis..." lirih Gilang sembari menciumi tangan Mamanya. "Gilang tidak sanggup melihat Mama menangis. Maafkan Gilang, Ma! Maafkan Gilang..." lirih Gilang terdengar pilu.


Kasak kusuk dari seluruh tamu undangan mulai berdengung seperti kawanan lebah yang merancau tidak jelas. Entah apa yang mereka katakan pada orang di sebelah mereka. Yang jelas Kenzo, Gilang, bahkan Calina pasti bisa menduga apa yang sedang mereka semua bicarakan.


"Ma... di sini sedang banyak orang, Ma... Kenzo tidak ingin kita satu keluarga jadi bahan gunjingan oleh mereka semua." ucap Kenzo lirih sembari  merangkul pundak sang Ibu. "Bukankah Mama adalah orang yang sangat menjaga harga diri? jangan sampai kita jadi bahan pembicaraan bawahan untuk urusan pribadi. Apalagi di pesta pernikahan mereka." bisik Kenzo lagi.


"Bukankah kamu sendiri juga menjadi gunjingan mereka karena menikahi mantan istrinya Zio?" balas Mama Nuritha tak ingin di salahkan.


"Masalah Kenzo dan Calina beda konsep dengan masalah ini, Ma... Tapi jika Mama sampai marah pada Gilang karena tidak menyetujui Gilang dan Kayla bersama, kemudian berdebat di keramaian semacam ini, yang ada nama Mama sendiri yang akan buruk. Sementara semua orang akan bersimpati pada Gilang dan Kayla." ucap Kenzo.


"Kenzo yakin banyak yang sengaja merekam kejadian ini, Ma... please..." bisik Kenzo mencoba menyadarkan sang Ibu. "Bisa saja media massa akan mengendus momen ini.


Kenzo dan Gilang berada dalam posisi yang paling dekat dengan sang Ibu. Gilang masih dengan menggenggam tangan sang Mama. Sedangkan Kenzo masih dengan memeluk pundak Mama Nuritha. Lalu arah mata Mama Nuritha tajam menatap menatap Kayla.


Dan Papa Adhitama? sedari tadi beliau menatap wajah Kayla dengan tatapan menyelidik.


"Ayolah, Ma... setidaknya jangan marah dan emosi di depan banyak orang seperti ini..." rayu Gilang lagi.


Suasana semakin riuh. Kasak - kusuk semakin terdengar kencang. Kayla mulai merasa minder dengan keberadaannya. Bahkan gadis itu mulai meraba cincin di jari manisnya yang baru saja di sematkan oleh Gilang. Seolah ingin melepas benda bundar kecil itu.


Zahra di atas pelaminan mulai berkaca  kaca, sebagai saudara kembar, tentu ia sangat prihatin dengan situasi yang di alami Kayla. Ia sampai meremas lengan Zio dengan sangat erat.


Dan itu membuat Calina yang hanya bisa melihat dari mejanya semakin resah dan bingung harus berbuat apa. Namun detik kemudian ...


"Sebenarnya kalan ini kenapa?" tanya Mama Nuritha dengan suara yang lebih kencang dan tatapan yang berubah menjadi heran pada kedua putranya secara bergantian. Hingga seisi ruangan kembali diam. Dan semua yang terlibat mengerutkan kening mereka menatap Mama Nuritha.


"Ma... jangan sampai Mama emosi..." bisik Kenzo.


"Sebenarnya siapa yang emosi?" tanya Mama Nuritha lagi dan itu membuat kedua putranya terlibat saling tatap dengan pertanyaan yang seolah sama - sama heran.


"Mama yang emosi..." celetuk Gilang.


"Sebenarnya sedari tadi Papa juga heran..." sahut Papa Adhitama. "Papa hanya bertanya apa yang kamu lakukan? kenapa reaksi kalian seperti Papa dan Mama ingin menelan kalian semua hidup - hidup?" seloroh Papa Adhitama membuat seisi ruangan semakin mengerutkan kening mereka. Seolah bertanya apa maksud dari Mama Nuritha dan Papa Adhitama sebenarnya.


"Mama juga heran, kenapa reaksi kalian seperti Mama ini predator untuk wanita yang kalian cintai..." sahut Mama Nuritha memicingkan matanya menatap Gilang.

__ADS_1


Sampai di sini sepertinya Kenzo dan Gilang mulai merasa salah mengartikan maksud sang Mama dan Papa. Dan itu membuat kedua putra Adhitama semakin menatap heran satu sama lain.


"Mama ini hanya bertanya... kenapa momen sebesar ini tidak satu pun yang memberi tahu Mama...?" ucap Mama Nuritha sedikit geram.


"Papa bahkan tidak tau, kalau kamu memiliki kekasih yang hendak kamu lamar!" jengkel Papa Adhitama memukul lengan putra bungsunya.


Gilang mulai menatap mata Papa dan Mamanya, benarkah ia sudah salah duga?


"Kalau bukan karena Calina yang beberapa hari lalu datang ke rumah dan menceritakan semua yang terjadi, Mama tidak akan tau, kalau kamu sedang dekat dengan seorang gadis!" ujar Mama Nuritha. "Kenapa tidak bilang, hah?" tanya Mama Nuritha mendorong dada Gilang dengan sangat pelan. "Kenapa tidak bercerita jujur pada Mama!"


"Tapi tadi Mama..." Gilang tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


"Maksud Mama kami salah paham?" tanay Kenzo menatap lekat pada wanita yang sudah melahirkan dirinya itu.


"Ya!" jawab Mama Nuritha menatap putra sulungnya. "Mama sampai heran! apa salah Mama sampai kamu sering datang ke Indonesia, tapi tidak pernah tidur di rumah!" omel Mama Nuritha pada Gilang.


"Jadi Mama tidak marah Gilang melamar Kayla?" tanya Gilang pada sang Ibu.


Mama menarik nafas panjang sebelum menjawab. Dan itu membuat seisi ruangan menunggu dengan dada yang bergemuruh. Terutama Kayla dan Zahra.


Hanya Calina yang mulai merasa lega. Karena memang ini yang harusnya terjadi. Bukan ketegangan semacam tadi. Ia sudah berusaha memberi penjelasan pada Mama Nuritha dengan sangat hati - hati.


"Siapa yang marah sih, Gilang!" sahut Mama Nuritha. "Mama itu heran kenapa momen sebesar ini tidak ada yang memberi tahu! sampai akhirnya Mama datang saat acara kalian sudah selesai!" protes Mama Shinta. "Padahal Mama juga ingin tau! ingin menyaksikan seperti apa momen kamu melamar kekasihmu!" sembur Mama Nuritha.


Sontak ekspresi wajah seisi ruangan berubah total. Dari yang tegang dan riuh, menjadi wajah dengan seulas senyum tipis dan lega.


"Jadi sebenarnya Mama dan Papa setuju jika Gilang menikah dengan Kayla?" tanya Gilang semakin ingin tau kejelasan dari sang Ibu.


"Why not?" sahut Mama dengan tegas.


Sontak senyum ceria dan tawa suka cita terbit dari semua bibir yang ada di dalam sana. Semua merasa lega dengan jawaban Mama Nuritha.


Menit berikutnya adalah suara riuh tepuk tangan kembali menyeruak di dalam Ballroom hotel yang berisi ratusan orang itu.


Gilang langsung menghambur dan memeluk sang Mama. Menciumi pipi sang Mama dengan rasa sayang. Wanita yang selama ini ia pikir tidak akan menyetujui cintanya pada Kayla.


Kenzo pun ikut tersenyum dan memeluk dua orang itu dari samping. Dan Papa Adhitama akhirnya melakukan hal yang sama. Mereka saling berpelukan, di antara riuh tepuk tangan tamu undangan.


Sedangkan Kayla yang hampir melepas cincin pemberian Gilang, langsung menangis haru. Karena ternyata tidak ada penolakan dari keluarga Gilang. Dan Calina langsung mendekat untuk memeluk calon iparnya itu.


"Selamat, Kayla...." ucap Calina.


"Terima kasih, Kak..." lirih Kayla.


Melepas pelukan sang putra, Mama Nuritha mendekati Kayla. Gadis yang di gadang - gadang akan menjadi istrinya Gilang.


"Selamat siang, Tante..." sapa Kayla langsung meraih tangan Mama Nuritha dan mencium punggung tangan itu dengan lembut, masih dengan air mata yang menetes.


"Siang... siapa nama mu? Tante lupa."


"Kayla, Tante." jawab Kayla dengan seulas senyuman ramah di antara pipi yang basah oleh air mata.


"Hai, Kayla... maafkan Tante atas kesalahpahaman selama ini.." ucap Mama Nuritha mengarah pada suatu masa, di mana ia pernah menolak gadis itu karena di anggap tidak waras. Siapa sangka ternyata hanya pura - pura.


"Maafkan Kayla pula, Tante..." jawab Kayla.


"Kita bicara di meja sana, ya? " ajak Mama Nuritha menunjuk meja yang di tempati oleh Calina dan Kayla sebelumnya. Dimana meja itu juga menjadi meja untuk Gilang, Kenzo dan dua kursi yang masih kosong.


Dan semua kembali pada acara selanjutnya yaitu bersalaman dengan pengantin, makan lalu pulang dengan membawa souvenir di tangan. Begitu seterusnya hingga jam pesta berakhir.


Sementara keluarga inti Adhitama, termasuk Zio dan Zahra tergabung dalam obrolan ringan untuk saling mengenal satu sama lain.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2