
š Dua minggu berlalu . . .
Sidang perceraian Zio dan Calina telah usai. Detik itu, keduanya telah resmi bercerai. Zio keluar dari kantor pengadilan agama dengan wajah lesu dan murung. Penampilannya carut marut tak karuan.
Terlihat Naura berjalan di sampingnya dengan ekspresi yang tak jauh berbeda. Keduanya seolah baru saja kehilangan intan berlian.
Di tangan Zio, ada seberkas akta cerai yang ingin rasanya ia sobek, atau bakar sekalian. Tapi tak mungkin bisa ia lakukan. Itu akan menjadi satu - satunya bukti, jika ia pernah dengan bodohnya menyia - nyiakan berlian suci dari desa.
Selama proses sidang, tak sekalipun sosok Calina muncul di sana. Membuat Zio dan Naura kesulitan untuk sekedar berbicara dari hati ke hati dengan penggugat.
"Mungkin dengan begini, Calina akan lebih bahagia, Mas..." lirih Naura saat keduanya berjalan mendekati mobil putih milik Zio. Dalam hatinya kecilnya juga terselip rasa kecewa yang teramat dalam.
"Aku memang bodoh, Naura... Aku tidak pernah mau mendengar kata - katamu.." lirih Zio berhenti sesaat di samping mobilnya.
Zio membalikkan badan, menatap pilu kantor pengadilan agama yang membuat hatinya sesak. Tempat yang menjadi saksi ia kehilangan sosok yang baru ia sadari bahwa kehadirannya teramat berharga.
Naura mengusap lembut lengan suaminya, "kita pulang, Sayang.." ucapnya. "Kamu harus bangkit! Kita do'a kan supaya Calina bertemu dengan orang yang tepat!"
"Hemm.." jawab Zio mengangguk pelan. Namun dalam sesungguhnya ia tak rela, jika Calina menemukan sosok lain selain dirinya. Tapi apalah daya, semua sudah terlambat. Apalagi mendapati kenyataan jika Calina yang polos itu di bela oleh lawyer kelas kakap.
"Terima kasih sudah menemaniku hari ini..." ucap Zio menoleh Naura dengan tatapan sendu nan lembut.
"Kamu tidak perlu berterima kasih, Mas..." jawab Naura tersenyum samar. "Aku mencintaimu lebih dari aku mencintai diriku.." lirih Naura membalas tatapan sendu suaminya dengan senyuman tulus.
***
Sedangkan di salah satu sisi halaman parkir kantor pengadilan agama, seseorang duduk di jok penumpang bagian depan sebuah mobil CRV berwarna hitam.
Sedari tadi ia ada di sana, hingga melihat sepasang suami istri yang sangat ia kenali keluar dari kantor pengadilan agama dengan wajah masam mereka.
' Maafkan aku, Mas... '
Lirih sebuah hati yang lama tersakiti. Yang tak lain adalah hati seorang Calina Agasta. Ia pun menatap lirih keduanya. Baginya, perceraian adalah pengalaman terburuk yang pernah ia lakukan.
"Kamu menyesal?" tanya seseorang yang berada di samping Calina. Tepat duduk di balik kemudi.
Menggeleng pelan, "Sama sekali tidak..." jawab Calina menoleh sekilas. "Aku rasa ini adalah pilihan terbaik yang aku ambil. Meskipun menjadi pengalaman terburuk untukku!" lanjutnya menatap lurus ke depan.
"Kamu yakin?"
__ADS_1
"Iya, tentu saja!" jawab Calina dengan nada sedikit berat.
Kali ini ia menoleh dan menatap yakin pada lelaki di sampingnya.
"Kamu harus terus berjalan ke depan! Masa depanmu masih panjang! Dan jangan sungkan untuk meminta bantuan ku!"
"Bantuan apa lagi yang aku inginkan dari kamu?" tanya Calina. "Hampir dua bulan kamu yang mengurusi ku! Membayar pengacara mahal untukku, makanan untukku, bahkan menyiapkan apartemen yang bagus untukku!" ucap Calina.
"Terima kasih... Pak Kenzo!" ucap Calina tersenyum lebar. Bibirnya selalu tak bisa menahan senyum setiap melihat wajah tampan lelaki yang tak lain adalah bos mantan suaminya.
"Hem.." Kenzo mengangguk santai. "Tidak perlu berterima kasih! Kita berteman, bukan?"
Calina terperangah, kata teman rasanya kurang pas untuk mereka. Tapi apalagi yang pantas untuk di sebutkan selain itu. Toh mereka bukan bos dan anak buah. Mereka hanya di pertemukan di saat yang tak terduga saja.
"Hemm.. Kita berteman!" jawab Calina tersenyum gamang. "Sesuai percakapan kita waktu itu!"
Calina memendam semua rasa kagum atau apalah, pada sosok yang ia anggap sebagai Malaikat di malam ia mendorong motor seorang diri.
Mengangguk lagi, "apa rencanamu setelah ini?" tanya Kenzo menoleh Calina.
"Emm. .. Sepertinya aku akan mencari pekerjaan!" jawab Calina.
"Ya.. memang.. Tapi sampai kapan aku minta makan sama kamu, Pak Kenzo yang terhormat?" tanya Calina dengan anda sedikit bercanda. "Uang ku di tabungan juga tidak banyak! kalau aku tidak bekerja, lama - lama aku tidak bisa makan!"
"Bukankah aku sudah memberimu kartu?" tanya Kenzo, "kamu bisa memakainya sampai kapanpun!" lanjut Kenzo. "Selama saldonya masih cukup! Aku hanya bisa mengirim jumlah yang sama setiap bulan." tambahnya sedikit terkekeh.
' Ah manisnya dia, kalau sedang terkekeh. Walau hanya... sedikit! '
Gumam perempuan cantik, yang baru saja menyandang status janda itu.
Terkekeh kecil, "bahkan kamu selalu mengisinya 3 kali lipat dari uang belanja yang di berikan Mas Zio untukku! Mana mungkin tidak cukup untuk aku makan selama sebulan!" jawab Calina kembali terkekeh. "Itu sudah setara dengan tiga kali gaji ku saat bekerja sebagai resepsionis!" lanjutnya.
"Jadi gajimu... Hanya 5 juta?"
"Iya!" jawab Calina santai.
"Dan mantan suami mu hanya memberimu uang 5 juta per bulan?" selidik Kenzo lebih jauh.
"Iyaa.. Dan itu sudah lebih dari cukup! Aku sudah biasa dengan uang di angka itu untuk satu bulan!" jawab Calina santai.
__ADS_1
"Padahal tahun ini gaji suamimu 10 kali lipat dari itu!" ujar Kenzo terlihat biasa saja.
Menghela nafas panjang, "bukankah kamu sekarang sudah tau, kenapa dia memberiku uang belanja sebesar itu?" tanya Calina balik. Malas rasanya jika harus kembali menjelaskan kisah hidupnya bersama Zio. "Baru saat Mama Reni tidak ada dia baru memberiku 10 juta."
"Yaa..yaa.. Aku tahu..." jawab Kenzo, "karena dia memiliki dua istri! Dan aku akan memberinya hukuman untuk kasus ini!"
"What!" pekik Calina seketika menoleh Zio yang tampak datar - datar saja. "Hukuman apa? Please, jangan pecat dia!"
"Bukan hukuman berat! Hanya hukuman kecil saja!" Kenzo menyipitkan sebelah matanya.
Memutar bola matanya malas, sesungguhnya Calina sudah tahu konsekuensi dari kesalahan yang di lakukan Zio. Tapi memohon agar tidak di pecat pun, siapa lah dirinya?
"Kamu takut dia aku pecat?" Kenzo menoleh ke samping, menatap Calina yang seperti orang banyak pikiran.
"Setidaknya jangan hancurkan mimpinya yang sudah ia capai, sebagai seorang manager! Dia tidak lagi punya tempat untuk bergantung... Kamu tau itu, Pak!" jawab Calina.
Tersenyum kecil, "aku tau! untuk itu aku hanya akan memberinya hukuman kecil." jawab Kenzo. "Kalau untuk menghancurkan mimpinya, itu bukan aku yang jadi pelakunya, tapi dia sendiri! Dia yang memulai kesalahan itu, padahal dia sebagai Manager sudah tau konsekuensi apa yang akan dia terima."
"Lalu apa hukuman yang kamu siapkan untuk nya?"
"Itu akan menjadi urusanku besok!" jawab Kenzo dengan entengnya. "Sekarang kamu mau kembali ke Kota apa pulang ke rumah Ibumu?"
"Rasanya aku belum siap untuk bertemu Mama. Aku akan pulang sendiri jika aku sudah benar - benar siap!"
"Baiklah, terserah kamu saja!" jawab Kenzo sembari menyalakan mesin mobilnya. "Kita kembali ke kota sekarang!"
"Em.. Pak Kenzo?" panggil Calina saat roda mobil Kenzo mulai bergerak meninggalkan blok parkir.
"Hem?" jawab Kenzo tanpa melihat Calina.
"Kita makan dulu, ya? aku lapar! Heheh!" kikik Calina mengusap perutnya yang berbunyi.
"Baiklah! Kamu mau makan apa?"
"Nasi rawon, dekat taman kota!" jawab Calina cepat. "Sejak kemarin aku membayangkan makanan itu..." lanjutnya membayangkan Nasi Rawon yang pernah menjadi favoritnya semasa kuliah di kota kelahirannya itu.
"Baiklah, tunjukkan jalannya!" jawab Kenzo.
"Siap, Pak Kenzo yang baik hati!" seru Calina senang. Ia menepukkan kedua tangan di depan dadanya...
__ADS_1
...šŖ“ Happy Reading šŖ“...