Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 42 ( Pagi yang Absurd )


__ADS_3

Kenzo keluar dari kamar Calina dan duduk di sofa panjang dekat jendela yang menunjukkan suasana Ibukota di akhir pekan.


"Bersihkan kembali!" perintahnya pada dua petugas kebersihan yang sejak keluar dari kamar, memilih untuk membersihkan ruang tamu dan pantry.


"Baik, Pak!" jawab dua wanita petugas kebersihan itu.


Kenzo menarik nafas dalam, dan menghelanya dengan cukup berat. Ia menatap kosong ke arah luar jendela. Lamunan demi lamunan terus silih berganti Berfikir dan terus berfikir. Mengingat satu persatu hal yang pernah ia lakukan di sepanjang hidupnya.


Meraih prestasi di bidang pendidikan dengan sangat mudah. Menyelesaikan segala bentuk benang di ruwet di perusahaan di Indonesia maupun di Australia cukup mudah.


Namun satu yang menurutnya sangat sulit. Menjalin hubungan dengan lawan jenis!


Di dekati oleh pengusaha ternama untuk di tawari menjadi menantunya adalah hal biasa untuk seorang Kenzo Adhitama. Bahkan banyak dari mereka yang datang sendiri dengan berbagai hadiah mewah, yang pada akhirnya sang adik lah yang memakai.


Menolak wanita dengan berbagai cara sudah sering Kenzo lakukan. Mulai dari cara halus, maupun terang - terangan.


Namun ada satu gadis yang sulit ia tolak. Dia adalah.... Ya.. Itulah.


Dunia yang awalnya ia kira baik untuk satu kata yaitu 'persahabatan', justru membuatnya terbelenggu.


Dunia seolah sengaja menjebaknya dengan perempuan - perempuan yang membuatnya bingung. Perempuan yang awalnya ia kasihani semata.


Calina yang kini di ketahui tengah hamil setelah perceraiannya, membuat ia harus memikirkan cara untuk membuat mental Calina tidak down. Tapi apa yang harus ia lakukan?


Tidak mungkin dia menikahi wanita hamil, yang mana itu bukanlah benih darinya.


Tidak, Kenzo bukanlah lelaki yang dengan mudah mau mengikat janji suci dengan seorang wanita. Meskipun ia bukanlah lelaki brengsek. Apalagi wanita itu baru saja bercerai. Gosip apa yang akan beredar jika sampai hal itu terjadi?


Tapi bagaimana cara menjaga mental perempuan yang hamil di saat sudah tak bersuami. Lebih tepatnya baru tau, kalau ia hamil pasca perceraian.


Melihat cara frustasi Calina, ia yakin jika sesungguhnya Calina tak menginginkan kehamilan itu. Atau bisa saja, dulu pada suatu waktu Zio memaksa Calina untuk melayaninya. Katakanlah pemerkosaan, tapi pada istrinya sendiri.


Kenzo membuang nafasnya kasar. Kepalanya begitu pening. Di sisi lain ada yang ia pikirkan lagi selain Calina. Pikiran yang akhir -akhir ini sudah menguras emosi.


Jika Calina frustasi karena hamil, maka di tempat lain ada yang mentalnya tengah hancur karena cinta yang ia patahkan.


Gadis bercat rambut pirang sebahu, yang kini ada di luar kota, juga tak bisa lepas dari pikirannya begitu saja.


Ia sakit, dan terluka karena kesalahan yang ia tak sengaja pada suatu masa. Apalagi masih ada luka tak berdarah yang di rasakan gadis itu, karena dirinya pula.


"Minggu depan dia pun akan kembali ke kota!" gumamnya. Ia pejamkan matanya dalam. Membiarkan udara dingin di ruang tamu merasuki pikirannya yang pening. Sangat pening.


' Aku tak bisa melepas keduanya begitu saja! Siapa yang menolong Calina yang sudah aku jadikan kunci untuk mengadili Zio nanti yang mengkhianati perusahaan? '


' Dan untuknya, tidak mungkin aku bisa lepas tanggung jawab begitu saja! '


Dunia seolah berputar - putar di atas kepala Kenzo. Membawanya berangan semakin jauh.


***


Di dalam kamar apartemen, Calina mulai mengerjapkan sedikit matanya. Ada yang aneh, semalam ia tidur di lantai. Tapi kenapa sekarang terasa sangat empuk?


Telinganya segera menangkap suara benda - benda kecil yang bertabrakan dengan meja bagian atas. Sontak ia buka matanya lebar ke arah sumber suara.


"Hah! Siapa kalian!" seru Calina seketika ia duduk dari baringnya. Jantung nyaris saja melompat dari sarangnya.

__ADS_1


"Selamat pagi, Bu," seorang petugas menoleh Calina dan menunduk hormat. "Maaf, kami di tugaskan untuk merapikan kamar anda.." jawab salah satu dari mereka.


"Siapa yang menyuruh kalian! Aku tidak memanggil siapapun!" Di tengah kepeningan akibat semalam, Calina tetap bisa sadar dan ingat hal apapun yang terjadi sebelum ia pingsan.


"Pak Kenzo yang meminta kami untuk membersihkan apartemen ini, Bu!"


"Pak Kenzo!" pekik Calina tak percaya. "Dimana dia sekarang?"


"Ada di ruang tamu, Bu!" jawabnya lagi.


Calina segera menyingkirkan selimut tebal yang menutupi sebagian tubuhnya. Dan berlari ke arah pintu keluar.


Brakk!


Calina membuka dengan gerakan cukup kasar. Dan ia segera menemukan keberadaan Kenzo yang duduk bersandar sembari memegangi pelipisnya.


Saat Calina membuka pintu dengan kasar, Kenzo spontan menoleh, dan sorot mata beradu untuk beberapa detik.


Seketika Calina salah tingkah. Bukan karena malu, tapi karena suaranya yang membuat sang CEO kaget. Pelan - pelan Calina berjalan keluar setelah menutup pintu. Dengan penampilan yang masih sangat acak - acakan.


"Sejak kapan kamu di sini?" tanya Calina duduk di kursi kayu meja makan.


"Satu jam yang lalu.." jawab Kenzo menatap lekat Calina. Tatapan yang belum pernah di lihat Calina sebelum ini.


Ia pernah mendapat tatapan tajam Kenzo, saat awal - awal ia harus mengakui kisah hidupnya bersama Zio.


Tentulah seketika jantung Calina berdebar. Kali ini baru ia merasa malu. Karena penampilannya yang sangat tidak biasa. Bukan hanya itu, tapi lebih tepatnya karena tatapan Kenzo yang seolah mengunci dirinya untuk tidak bergerak sedikitpun.


"Kamu yang menyuruh mereka?" tanya Calina kikuk. Mencoba mengajak Kenzo bicara santai seperti biasa.


"Kamu yang memindahkan aku ke atas tempat tidur?" tanya Calina lagi dengan ragu.


"Yaa.." lagi - lagi Kenzo hanya menjawab datar singkat dan jelas artinya apa.


Mendengar suara datar Kenzo, Calina hanya bisa menelan ludahnya sendiri. Tidak biasanya Kenzo sedingin ini. Sedari tadi ia tak menemukan titik senyum sedikitpun di wajahnya. Namun juga tak terlihat emosi atau sedang marah.


' Ada apa dengan manusia satu ini? '


' Dear lord! Apa dia marah kamarnya berantakan? '


Nafas Calina memburu karena gugup. Ia siap jika sewaktu - waktu Kenzo akan mengusirnya keluar dari apartemen itu. Akibat ulahnya semalam. Membuat apartemen yang selalu rapi itu berantakan dalam waktu sekejap.


"Maaf... Kamarnya berantakan..." lirih Calina, menunjuk pintu kamar dengan nyengir bingung.


"Hmm... Aku tau!" jawab Kenzo kembali menjawab dengan nada datar sembari menoleh jendela kaca di sampingnya.


Sedangkan Calina mendelik, menatap tak percaya pada ekspresi seorang Kenzo. Ia garuk kepala yang tidak gatal sembari menghela nafas panjang dan berat.


"Kamu... tidak marah?" tanya Calina ragu.


"Why?" tanya Kenzo balik, kembali menoleh Calina.


Namun Calina lagi - lagi hanya bisa nyengir kida. Ah, ini bukanlah seorang Calina Agasta. Tapi berhadapan dengan sosok Kenzo yang belum sepenuhnya ia kenal rasanya memang harus seperti ini.


Istilah lainnya adalah memahami sikap lawan teman baru.

__ADS_1


Clekk! Pintu kamar terbuka, dua petugas kebersihan keluar dari sana.


"Pak, Bu! Kamarnya sudah bersih.." lapornya.


"Hemm.. Pergilah!" jawab Kenzo.


"Baik, Pak!" jawab keduanya berlalu dari apartemen Kenzo.


Kenzo dan Calina kembali diam untuk sesaat. Namun Calina mencoba membuka obrolan baru. Siapa tau sikap Kenzo berubah menjadi seperti biasanya.


"Kamu tidak bekerja?"


' Haduh! Kenapa yang terlontar hanya pertanyaan konyol! Padahal ini kan hari Sabtu! '


Calina merutuki ketidak jelasan dirinya pagi itu. Semua benar - benar terasa absurd baginya yang baru terbangun dari tidur atau pun pingsan. Entahlah..


"Bekerja di Sabtu?" tanya Kenzo.


"Ah! Maaf.. Sepertinya aku lupa menghafal hari... Hihihi!" Calina semakin bingung sendiri.


"Apa kamu tidak punya pertanyaan lain yang lebih kongkrit untuk aku menjawabnya?"


"Ah...?" Calina tampak berfikir dengan melirik jam dinding yang menggantung tepat di atas sofa yang di duduki Kenzo.


"Kalau tidak ada, biarkan aku yang bertanya."


Kalimat Kenzo seolah mengetuk hati dan pikiran Calina untuk kembali sadar dan menjadi dirinya 100%.


"Baiklah..." pasrah Calina.


' Di usir pun, biarlah! '


Batinnya merasa miris.


"Melihat dari kamarmu yang sedemikian berantakan, sebenarnya apa masalah kamu?" tanya Kenzo menatap Calina dengan lekat.


"Masalah?" pekik Calina melirik kanan kiri. "Masalah apa?" tanyanya balik.


Namun Kenzo hanya mengangkat kedua bahunya.


"Mana aku tau! Tidak mungkin seseorang tiba - tiba menghancurkan kamarnya sendiri, bukan?"


Calina kembali hanya bisa menelan ludahnya dengan sangat susah. Ia serasa sedang di hakimi oleh hakim pengadil yang kejam.


"Bapak benar!"


"Lalu apa masalahnya?" tanya Kenzo mengulang.


"Em... Bukan masalah besar. Hanya masalah kecil!" jawab Calina tersenyum manis.


Namun Kenzo bukanlah anak kemarin sore yang tak paham arti senyuman dan jawaban Calina.


"Kamu hamil?"


Tanya Kenzo langsung pada intinya. Seketika sepasang mata Calina mendelik. Menatap tak percaya pada pertanyaan spontan seorang Kenzo.

__ADS_1


...🪴 Happy Reading 🪴...


__ADS_2