Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 96 ( Minggu Ceria )


__ADS_3

Meninggalkan kisah pilu masa lalu Kayla yang di ceritakan kemarin, maka hari baru juga datang bersamaan dengan kesepakatan untuk mengubur masa suram yang terjadi belasan tahun yang lalu. Sepakat untuk tidak mengenang maupun mengungkitnya kembali suatu hari nanti.


Tiga orang dewasa mencoba untuk berfikir logis.


Setiap orang memiliki masa lalu, dan tak semua masa lalu hanya dipenuhi dengan kisah yang buruk - buruk saja. Banyak pula kisah bahagia yang tergerus oleh kisah sedih, sehingga kisah yang indah terlupakan.


Dan Gilang, lelaki 32 tahun itu, sama sekali tidak keberatan dengan masa lalu Kayla yang memang cukup pedih dan menyayat hati siapa saja. Apalagi bagi dirinya yang tentu saja mengharapkan dirinya sebagi lelaki pertama yang menyentuh perempuan itu.


Meski harapan tak seindah kenyataan, nyatanya Gilang bersedia menerima Kayla dengan lapang dada. Toh, apa yang terjadi dengan Kayla bukanlah kesengajaan, ataupun hasil dari kenakalan remaja.


Dan hari ini, sesuai rencana beberapa hari yang lalu. Maka pagi - pagi sekali Zio sudah berada di depan pintu apartemen Kenzo. Menekan bel, dan di buka oleh Mama Shinta yang cukup terkejut dengan kehadiran Zio di pagi buta.


Mama Shinta meminta Zio untuk masuk dan duduk di ruang tamu. Namun sebelum Mama Shinta memanggil penghuni rumah, Mama Shinta perlu tau tujuan Zio datang di jam sepagi itu.


"Ini masih jam setengah enam pagi, Nak Zio... kamu mau bawa Clarice kemana? Dia saja batu bangun..." tanya Mama Shinta sedikit keheranan, sembari duduk di sofa yang lain.


Tentu semua orang tau, jika Zio datang ke apartemen Kenzo, tujuannya pasti hanya satu. Yaitu menjemput Clarice, untuk entah pergi kemana. Yang jelas tujuan duda anak satu itu pasti untuk menemui Clarice.


Sudah tidak mungkin untuk menemui atau membawa Calina keluar. Karena jika berani, itu artinya ia sedang menyetorkan nyawanya.


"Kami akan jalan - jalan, Ma." jawab Zio dengan tanpa beban sedikitpun. Ia justru sudah tak sabar untuk waktu yang akan mereka habiskan hari ini.


"Jalan - jalan kemana?" selidik Mama Shinta.


"Dufan!" jawab Zio dengan senyum ceria.


"Sudah izin Calina dan suaminya?"


"Tentu saja sudah, Mama Shinta...." jawab Zio dengan senyum yang masih terus mengembang.


"Ada apa dengan kamu? kenapa Mama lihat kamu sangat bahagia!" ujar Mama Shinta. "Dari tadi senyum - senyum tidak jelas."


"Yap! Mama Shinta memang selalu benar! Zio memang sedang bahagia, Ma!" seru Zio bangga.


"Bahagia kenapa?" tanya Mama Shinta yang jadi penasaran.


"Hari ini aku tidak hanya pergi dengan Clarice. Tapi juga dengan seorang wanita yang Zio inginkan untuk menjadi istri Zio! Jadi Mama sambung Clarice!"


"Hah?" pekik Mama Shinta. "Siapa namanya? kamu yakin dia wanita yang baik? kamu yakin dia tidak akan jahat maupun melukai Clarice?" kejar Mama Shinta yang tak ingin sang cucu menjadi salah asuhan di rumah Zio nanti.


"Mama tidak perlu khawatir! dia sangat baik dan sangat menyayangi Clarice!"


"Cla sudah mengenalnya?"


"Sudah, Ma...Mama tidak perlu khawatir!" jawab Zio. "Tapi, Ma..."


"Apa?" tanya Mama Shinta yang penasaran dengan apa yang ingin di ceritakan sang mantan menantu yang masih memanggilnya dengan sebutan Mama itu.


"Dia belum memberi Zio jawaban. Apakah dia mau atau tidak? Tapi aku sudah meminta padanya untuk menjawab permohonanku hari ini." lirih Zio dengan raut sedikit pilu.


"Dia sudah jawab?"


"Belum lah, Ma! Baru juga mau Zio jemput setelah ini!" jawab Zio. "Yang penting hari ini Zio harus mendapat jawaban. Do'a kan Zio ya, Ma... semoga Zio di terima sebagai suaminya!"


Menatap lekat wajah tampan sang mantan menantu, tak ada pilihan lain, selain berkata...


"Ya, Mama akan selalu mendo'akan yang terbaik buat kamu, Nak Zio. Tapi kamu juga harus menjadi lelaki yang jauh lebih baik!" ucap Mama Shinta. "Jangan menyakiti hati wanita manapun lagi. Semua membawa takdir dan karma. Kamu harus ingat itu..."


"Siap, Mama!" seru Zio meraih dan mencium tangan Mama Shinta.


"Tunggu di sini, Mama akan siapkan Clarice dulu."


"Ya, Ma! Terima kasih."


"Hemm.." Mama Shinta mengangguk, kemudian beranjak untuk menyiapkan Clarice.


"Siapa, Ma?" tanya Kenzo saat berpapasan dengan Mama Shinta di tangga.


"Ada Zio, Nak! katanya mau bawa Cal ke Dufan. Sudah izin kalian?" tanya Mama Shinta memastikan ulang.


"Sudah, Ma." Kenzo mengangguk.


"Ya sudah kalau begitu, Mama siapkan Cal dulu."


"Ya, Ma... Dan kata Calina, Cla ingin menginap di rumah Zio malam ini."


"Oh, begitu... jadi sekalian bawa seragam sekolah?"


"Ya, Ma.."


"Baiklah..."


Setelah Mama Shinta masuk ke kamar Clarice, Kenzo turun untuk menemui salah satu petinggi di perusahaan milik Ayahnya itu.


"Pagi, Pak Kenzo!" sapa Zio sembari berdiri dan menyalami Kenzo yang muncul di ruang tamu dengan baju casual yang rapi dan tampan.


"Hm.." balas Kenzo memberi kode pada Zio supaya kembali duduk, dan ia pun juga duduk di sofa yang tadi di duduki oleh Mama Shinta.


"Kamu sudah mantap memilih Zahra untuk menjadi istri mu?" tanya Kenzo.


"Ya, Pak! hanya saja Zahra belum memberi kepastian."


"Kalau sudah pasti, jangan lupa untuk mengajukan surat pengunduran diri. Aku tidak suka ada kesalahan yang sama yang di lakukan oleh orang yang sama!"


"Saya tau, Pak Kenzo!" jawab Zio yakin.

__ADS_1


"Hemm!" jawab Kenzo.


"Selamat pagi, Daddy!" spa Clarice mencium pipi Daddy nya.


"Pagi, Sayang!" jawab Kenzo membalas dengan mencium gemas pipi gembul Clarice.


"Selamat pagi, Papa!" sapa Clarice ganti mencium pipi Zio.


"Pagi juga, kesayangan Papa!" jawab Zio mencium pipi gembul yang satunya.


Clarice muncul dengan baju santainya, yakni hotpants berwarna cream, kemudian kaos tanpa lengan berwarna pink. Kaki mungil di balut dengan sepatu pink yang sangat lucu. Rambut panjangnya di kepang dua ala Anna dalam serial Frozen. Kemudian topi Bucket berwarna cream dengan gambar jerapah mungil di bagian depan.


Tak lama dari itu, Calina muncul dengan membawa tas sekolah Clarice dan sebuah koper kecil milik Clarice yang berisi beberapa baju ganti.


"Dia bilang mau menginap di rumah kamu, Mas Zio" ucap Calina meletakkan koper mini dan tas sekolah Clarice.


"Oh ya?" pekik Zio tak percaya.


"Yes, Papa!" seru Clarice.


"Dengan senang hati, Sayang!" ujar Zio kembali mencium pipi Clarice yang masih berada di depannya.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Clarice?"


"Of course!" jawab Zio.


"Bye Daddy! Bye Mommy!" pamit Clarice setelah keluar dari pintu apartemen sang Daddy.


"Bye, Sayang!" jawab Kenzo dan Calina bersamaan.


Dengan perginya Zio dan Clarice dari apartemen, maka Kenzo dan Calina saling memberi kode untuk saling bersiap. Ya, mereka semua juga akan pergi ke Dufan siang ini.


***


Zio dengan dada yang berdebar, kini melajukan mobilnya menuju rumah Zahra yang konon katanya berada di dalam gang sempit. Tak masalah, meski begitu sang duda tetap semangat untuk menjemputnya.


Bukankah kalau cinta sudah membara, jangankan bawa mobil untuk menjemput seseorang di gang sempit. Melompati kawat berduri pun ayo!


"Aku sudah hampir sampai.." ucap Zio melalui note voice.


"Iya, Pak.." balas Zahra melalui chat.


' Masih saja panggil Pak. Haduh! '


Gerutu Zio dalam hati.


' Eh, kan memang belum ada kejelasan di antara kami. Pantas saja kalau dia memanggil ku, Pak! '


' Lagi pula aku terlalu percaya diri sekali... Iya kalau di terima, kalau tidak? '


Wajah cerah menjadi suram untuk sesaat. Mengingat hubungan yang memang belum jelas. Kemudian saat memasuki area yang mengarah pada gang sempit, wajah Zio kembali cerah. Apalagi saat mendapati Zahra ternyata sudah menunggunya di depan gang.


Clarice yang duduk di depan langsung lah melambaikan tangan pada Felia yang berdiri di samping sang Ibu.


"Felia!" teriak Clarice meskipun tak akan terdengar oleh pemilik nama.


Mobil berhenti tepat di depan Zahra dan Felia. Clarice dan Zio turun bersamaan, untuk menghampiri Zahra.


"Clarice!" sapa Felia.


"Hai" keduanya pun berpelukan bagai lama tak jumpa.


"Ayo, masuk! sudah jam tuju," ajak Zio ketika baru saja saling melempar senyum pada Zahra.


"Kita beli sarapan dulu, ya?" ajak Zio


Namun Zahra justru tersenyum dan mengangkat tas besar di tangan kirinya. Sedang tangan kanannya berisi baju ganti untuk Felia dan juga sebuah tikar lipat.


"Apa ini?" tanya Zio keheranan.


"Kita piknik di pantai Ancol saja dulu, sambil nunggu Dufan buka!" celetuk Zahra memberikan ide.


"Piknik di pantai?"


"Ya!" jawab Zahra dengan ceria.


"Dan ini..." Zio menunjuk tas besar di tangan kiri Zahra.


"Saya tadi bangun jam tiga pagi. Lalu masak semua ini, buat kita bisa sarapan bersama di tepi pantai. Pasti seru bukan?" ujar Zahra dengan senyum yang sangat cantik.


Zio membeku dengan penjelasan Zahra. Tanpa di sadari oleh Zahra, sesungguhnya apa yang di lakukan Zahra sangat menyentuh hati Zio. Tak di sangka ternyata Zahra sudah menyiapkan sedemikian detail untuk acara hari Minggu ini.


Tersenyum, "Setuju!"


Zio segera meraih tas Zahra untuk ia bawa. Dan kemudian ia letakkan di bagasi belakang. Begitu juga tas yang berisi baju ganti. Semua berada di bagasi bersama dengan tas dan koper Clarice.


"Zio membuka pintu penumpang belakang, "Clarice dan Felia di belakang, ya?" pintanya.


"Okay, Papa!" jawab Cla langsung masuk ke dalam mobil Papanya.


"Ok! Om!" jawab Felia mengikuti Cla!"


' Setelah ini, kamu harus belajar panggil Papa ya, Felia! '


Ujar Zio mempraktekkan di dalam hati.

__ADS_1


Padahal jawaban belum di dapat. Tapi sang duda sudah terlalu percaya diri sekali.


Setelah menutup pelan pintu belakang, kini Zio membuka pintu penumpang bagian depan. Tentu saja untuk Zahra yang sedari tadi menunggu di perintahkan untuk masuk pintu yang mana. Mengingat ini momen pertama kalinya ia menaiki mobil sang General Manager.


"Ayo masuk!" pinta Zio pada Zahra.


"Baik, Pak!"


Kini kuda besi itu kembali melaju. Meninggalkan komplek sempit, menuju pantai Ancol untuk piknik di sana terlebih dahulu.


Sepanjang jalan tak hentinya Zio membayangkan apa yang di lakukan hari ini akan dapat terus berlangsung. Mereka sungguh seperti keluarga bahagia yang siap untuk menghabiskan hari bersama.


Pantai yang indah, yang mana setiap hari pasti ada saja orang yang mengunjungi tempat Itu. Akan menjadi tempat pertama untuk Zio dan Zahra pergi bersama.


Dan hari Minggu begini sudah bisa di tebak jika akan semakin rami oleh para pengunjung. Entah itu liburan keluarga, maupun bersama kekasih saja.


Sampai di pantai, Zio segera menggelar tikar dan di ikuti Zahra yang langsung menata hasil masakannya. Ada satu gurame bakar berukuran besar beserta sambalnya, yang disiapkan untuk dirinya dan Zio. Lalu ada ayam goreng untuk anak - anak bisa sarapan.


Nasi ia simpan di dalam box berukuran sedang yang pasti cukup untuk empat orang. Di dalam botol berbaris, ada susu, ada jus, ada juga air mineral. Semua Zahra siapkan dengan sangat sempurna. Buah kupas pun ada di antara semua itu.


Duduk melingkar menghadap makanan di atas tikar, dengan ia berdampingan dengan Zahra, rasanya dunia yang beberapa bulan ini terasa sepi karena perginya sang istri, kini kembali ceria. Jika hany di lihat, tentu semua akan mengira jika mereka adalah keluarga kecil dengan anak kembar mereka.


Kembar? oh tidak! Cla dan Felia memiliki paras yang berbeda meski sama - sama cantik dan menggemaskan.


Zahra membagi piring berbentuk rotan yang di lapisi dengan kertas minyak berbentuk bunga. Sungguhlah, pagi terasa begitu sempurna untuk seorang Zio Alvaro.


"Terima kasih, Zahra... masakan kamu sungguh mantap!" ujar Zio di tengah - tengah sesi makan.


"Tapi saya tidak pintar memasak, Pak Zio."


"Memangnya aku percaya?" tanya Zio dengan melirik lembut dan dalam pada Zahra yang seketika wajahnya bersemu merah.


Ah! dunia remaja mereka seolah kembali hari ini. Dunia yang dulu di bilang cinta abu - abu kini terasa kembali berdesir. Menimbulkan getaran yang luar biasa hebat. Dan sangat mempengaruhi denyut jantung keduanya.


***


Selesai dengan makan pagi dan puas bermain di pantai, mereka langsung menuju lokasi yang menjadi tujuan utama liburan hari ini. Ya, Dufan!


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi, saat mereka sampai di sana. Waktu yang bertepatan dengan jam buka Dufan. Berbekal tiket yang sudah di beli Zio secara online, maka mereka bisa cepat untuk masuk ke sana.


Sebagai orang tua, hal pertama yang di lakukan saat memasuki sebuah wahana wisata pasti menanyakan sang anak, mau naik wahana yang mana?


"Aku mau nai kereta!" jawab Clarice ketika Zahra bertanya.


"Aku juga!" sahut Felia.


Dan sungguh menggemaskan, ketika dua bocah itu memilih untuk naik wahana yang sama. Dan hanya berdua.


Clarice dan Felia sudah berada di dalam kereta yang berjalan memutar. Sementara Zio dan Zahra hanya boleh mengawasi dari pagar pembatas saja.


"Bye... anak - anak!" seru Zahra ketika kereta mulai berjalan.


Dan begitulah seterusnya. Dua orang dewasa terus sibuk mengantarkan anak - anak berpindah - pindah. Dari satu wahana ke wahana yang lainnya. Sampai...


"Yakin kalian tidak butuh waktu untuk berdua?"


Suara yang tidak asing terdengar dari arah belakang Zio dan Zahra. Sontak keduanya menoleh ke belakang. Dan tetap terkejutnya mereka, ketika melihat ada Kenzo, Calina, Galen dan Mama Shinta.


"Pak Kenzo!" pekik keduanya.


"Ya!" jawab Kenzo selaku yang tadi bertanya.


"A..apa yang... kalian lakukan di sini?" tanya Zio heran, sampai bicara pun tergagap.


"Memangnya apa yang kalian lakukan jika mendatangi tempat seperti ini?" tanya Kenzo balik.


"Em... kami... berlibur..." jawab Zio menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Yakin hanya berlibur?" tanya Calina ikut menyahuti dengan seulas senyum penuh arti.


"Ya... lalu apalagi...?"


"Daddy! Mommy! kalian di sini juga!" tiba - tiba suara seruan Clarice terdengar, saat gadis itu keluar dari wahana bermain komedi putar.


"Yes, Baby!" jawab Kenzo langsung mendekap putri tirinya yang merangkul kakinya.


"Kalian ikut Daddy dan Mommy, ya!" sahut Mama Shinta. "Papa dan Mama kalian ada urusan yang harus di selesaikan!"


"Kemana?" tanya Clarice.


"Lanjut jalan - jalan lah!" sahut Calina. "Ayo kita jalan lagi!" ajak Calina kembali mendorong stroller kaki tiga Galen.


Kenzo menggandeng tangan Clarice, dan Mama Shinta menggandeng tangan tangan Felia.


"Tapi, Bu.. saya khawatir kalau Felia rewel..." ucap Zahra yang merasa tidak enak hati pada keluarga bos nya.


"Tidak masalah, Felia pasti pintar kok. Ya, kan?" tanya Mama Shinta.


"Iya, Nenek!" jawab Felia memanggil Mama Shinta.


"Tuh, kan!"


Dan pergilah mereka dari hadapan Zio dan Zahra yang hanya bisa pasrah. Membawa para anak - anak untuk kembali berkeliling tempat wisata itu. Dan menjajal permainan yang lainnya.


Punggung - punggung yang di anggap Zio berjasa, tak lagi terlihat. Karena sudah berbaur dengan para pengunjung lainnya.

__ADS_1


Zio yang semula berdiri dengan jarak satu meter dari Zahra, kini mulai mengikisnya. Keduanya menatap punggung orang - orang itu hingga menghilang dari pandangan. Dan barulah ...


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2