Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 138 ( Jatuh! Sejatuh-Jatuhnya! )


__ADS_3

Waktu terus berlalu... Kala itu jam dinding sudah menunjukkan pukul 2 siang. Yang mana satu jam lagi adalah waktu bagi para Senior High School meninggalkan sekolah.


Namun di antara waktu yang berjalan, di antara para murid yang sedang mengikuti pelajaran, ada gadis yang lebih dulu keluar dari kelasnya dan hendak meninggalkan sekolah. Tentu bukan tanpa alasan sang gadis meninggalkan sekolah.


Clarice mulai menuruni tangga kembali untuk menghampiri kedua orang tuanya yang sudah menunggu di lobby gedung sekolah bersama teman baru mereka, khususnya teruntuk Mommy Calina, yang tak lain adalah kedua orang tua Arsen.


Di sana, di kursi besi yang berjajar, kedua orang tuanya tengah bersama kedua orang tua Arsen tengah mengobrol. Entah, apa yang mereka obrolkan. Yang jelas, ketika ia datang, maka semua menoleh padanya. Seolah tengah membicarakan dirinya.


"Daddy. Mommy! Cla sudah siap pulang!" ujar Clarice.


"Baiklah, sebaiknya kita semua pulang saja..." jawab Kenzo.


"Ya!" jawab Nathan yang langsung beranjak dari duduknya dan di ikuti oleh para wanita.


Setelah bersalam-salaman, semua langsung berjalan meninggalkan gedung Alexander International School bersama-sama.


"Jangan ragu untuk mengobrol dengan ku, yaa..." ujar Rania pada Calina ketika mereka berjalan menuju 2 mobil mewah yang terparkir.


"Ya, tentu saja!" sahut Calina yanng berjalan di depan Rania.


keduanya baru saja bertukar nomor ponsel. Untuk menjalin silahturahmi, meski tidak ada hubungan bisnis apapun.


Sementara Clarice memilih untuk berjalan di samping sang Daddy di banding di samping sang Mommy. Gadis itu belum siap untuk diceramahi panjang lebar oleh sang Mommy yang super duper cerewet, tapi juga super sayang pada dirinya dan adik-adik.


"Daddy... nanti kalau Mommy memarahi Cla, Daddy bela Cla, ya!" bisik Clarice mendongak ke atas, menatap sang Ayah sambung yang 25 cm lebih tinggi di banding dirinya.


"Iya, Sayang!" jawab sang Daddy mengusap lembut puncak kepala sang anak gadis. "Selema kamu membela kebenaran, Daddy akan berdiri di barisan paling depan untuk membela kamu."


"Thank you, Daddy..." Clarice merangkul lengan Daddy Kenzo dengan hangat dan manja.


Sementara Mommy Calina menggelengkan kepalanya pelan. Samar-samar ia tetap mendengar apa yang di bicarakan sang putri pada suaminya.


Mungkin saja, semua ini tidak akan berakhir seperti ini, jika yang datang Papa Zio. Selain Afrizal mungkin bisa menghina Zio yang hanya seorang General Manager, juga pastilah Afrizal bisa dengan mudah mengancam balik Zio yang notabene nya hanya karyawan.


Tapi beruntunglah Clarice, karena yang di hina Ibunya, bukan Ayah kandung nya. Sehingga yang datang adalah orang nomor satu di Adhitama Group. Dan dengan mudah membuat sang rival kocar-kacir tidak jelas sampai detik ini.


***


Sementara itu di ruang BK masih ada orang tua Zuria beserta Zuria sendiri yang tampak masih melakukan negosiasi dengan pihak sekolah. Lantaran merasa hukuman kali ini sangat berat. Dan lagi untuk kali pertama mereka di panggil ke sekolah untuk sebuah kasus. Dan sialnya, kasus pertama Zuria ini langsung menyangkut salah satu investor terbesar di perusahaan yang di dirikan oleh sang Ayah.


Untuk bisa mengikuti ujian tengah semester ini, sungguhlah syarat yang di berikan oleh pihak sekolah bagi mereka terdengar sangat berat. Kalau untuk di dengar saja sudah sangat berat, apalagi untuk di lakukan oleh seorang Afrizal?


Karena lawannya memang bukan sembarang lawan. Benar-benar tidak bisa membuat dirinya mengangkat dagu walau sedikit.


"Mungkin Mrs. Maria bisa memberi pilihan lain... Misalnya Zuria harus membersihkan area sekolah selama masa skors... Atau apapun juga!" saran Afrizal.


"Daddy!" seru Zuria yang langsung tidak setuju dengan saran yang di berikan oleh sang Ayah. "Zu tidak mau!" tegas Zuria dengan nada setengah menghentak sang Ayah. "Zu tidak akan pernah mau membersihkan sekolah ini! sangat memalukan, Daddy!"


Tentu saja ia akan sangat malu jika harus membersihkan area sekolah. Bahkan di bagian tersembunyi sekalipun. Bagi Zuria membersihkan area sekolah adalah tugas Cleaning Service. Dan semua teman-temannya di sekolah ini adalah anak-anak orang kaya, yang rata-rata tidak pernah memegang sapu, alat pel dan juga lap.


Lalu jika ia mendapat hukuman semacam itu, apa kata dunia? Ia bahkan tidak pernah melakukan pekerjaan itu di rumahnya yang tiga tingkat lantai itu.


"Zu? ssttt!" Gita menoleh putrinya dan memintanya untuk diam tanpa perlawanan.


Karena jika sampai permohonan sang Ayah di ACC oleh pihak sekolah, tentu hal itu di rasa jauh lebih mudah untuk di laksanakan. Dari pada harus memohon dan merayu seorang Kenzo Adhitama. CEO dingin yang selalu tegas dan ketat dengan urusan apapun juga. Sudah pasti hal itu lebih berat di bandingkan menaklukkan raja hutan yang lapar.

__ADS_1


Jika Singa lapar di lempari satu ekor kancil mungkin akan diam dan kenyang. Tapi Kenzo Adhitama? Di berikan seluruh saham yang di miliki oleh Afrizal saja belum tentu akan tertarik untuk mengizinkan sang putri mengikuti ujian. Karena Kenzo sudah memiliki saham berlipat-lipat dari yang di miliki oleh seorang Afrizal.


"Maafkan kami, Tuan... tugas kami adalah memberi hukuman sesuai dengan peraturan yang berlaku," jawab Mrs. Maria. "Dan mengenai hukuman yang jatuh bertepatan dengan waktu ujian tengah semester, itu adalah kesalahan mereka, kenapa harus berulah di saat mendekati ujian tengah semeter. Di mana seharusnya mereka lebih fokus untuk belajar."


"Perlu di pahami dari sini, Tuan. Sebenarnya kami tidak memberikan kesempatan bagi Zuria untuk mengikuti ujian selama masa skors... apapun caranya." sahut Mr. Faiz.


"Dan jika memang Zuria ngotot ingin mengikuti ujian, pilihannya hanya satu. Mintalah maaf dan izin dari Tuan Kenzo dan keluarganya. Mengingat Zuria yang pertama kali membawa-bawa orang tua dalam masalah mereka berdua, dan mengatai dengan kalimat yang tidak sepantasnya di berikan kepada orang tua manapun." lanjut Mr. Faiz tegas.


"Kami pihak sekolah merasa tidak pernah mengajari murid-murid untuk mengatai orang menggunakan kalimat-kalimat yang jelek dan tidak pantas. Apalagi untuk di tujukan pada mereka yang lebih tua. Dan yang di lakukan Zuria sangat bertentangan dengan apa yang kami ajarkan.


"Tapi Mr. Faiz, saya yakin! anda semua pasti pernah mendengar nama Kenzo Adhitama dari Adhitama Group, dan semua orang tau, berurusan dengannya bukanlah hal yang mudah..." jelas Gita yang duduk di samping putrinya.


"Nah, itulah sebabnya, Nyonya. Jika sudah tau berurusan dengan Tuan Kenzo Adhitama bukanlah hal yang mudah, seharusnya Tuan dan Nyonya bisa mewanti-wanti putri nya untuk tidak berurusan dengan keluarga Kenzo Adhitama." jelas Mr. Faiz. "Apalagi membawa-bawa istri yang sudah pasti di cintai teramat sangat oleh Tuan Kenzo.


"Tapi putri kami masih 17 tahun, Mr! dia tidak tau terlalu banyak tentang sosok Kenzo Adhitama..." elak Afrizal.


"Begini, Tuan... Zuria dengan tegas dan lantang menyebut nama Kenzo Adhitama, itu artinya dia tau siapa Kenzo Adhitama, yaitu Ayah dari salah satu murid yang ada di sekolah ini, Clarice." jawab Mrs. Maria. "Saya juga yakin Tuan dan Nyonya tau, jika putri sulung Tuan Kenzo Adhitama bersekolah di sini."


"Setidaknya sampaikan pada putri Tuan dan Nyonya untuk menghindari berurusan dengan anak Tuan Kenzo, jika memang bagi Tuan dan Nyonya, mereka adalah keluarga yang bisa mengancam keluarga anda, Tuan..."


Afrizal menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak semudah itu, Mr!" jawabnya resah.


"Maafkan kami, Tuan... Kami pun sama, tidak bisa semudah itu melanggar peraturan hukum yang sudah di tetapkan di sekolah ini." jawab Mrs. Maria. "Untuk itu, kami memohon untuk Tuan dan Nyonya bisa memahami posisi kami..."


Afrizal menoleh pada sang istri dan Zuria yang terlihat sangat murung dan marah dengan apa yang terjadi. Gita mengangguk kecil, dan hanya Afrizal yang paham akan maksud sang istri.


"Apa kita bisa melalui jalur pribadi?" tanya Afrizal memberi ultimatum yang merupakan sebuah kode.


"Apa maksud, Tuan?" tanya Mr. Faiz yang merasa tersentil dengan pertanyaan sang wali murid.


Sontak Mr. Faiz dan Mrs. Maria saling tatap satu sama lain. Hal semacam ini sangat sering mereka jumpai ketika berhadapan dengan orang-orang ber-uang yang rata-rata ingin enaknya saja. Tanpa mau berjuang dan berusaha untuk meraih apa yang mereka inginkan.


"Berapapun yang kalian minta akan kami berikan, asal Mr. dan Mrs. memberikan lembar soal ujian pada anak saya" ujar Afrizal. "50 juta? 100 juta? 200 juta juga akan saya berikan, Mr. asal anak saya bisa ikut ujian!" lanjutnya menawar.


Di tempat dan masalah seperti inilah, penawaran akan semakin tinggi. Tidak seperti saat tawar menawar di pasar. Di mana pembeli ingin menawar dengan harga serendah-rendahnya.


Tersenyum tipis, Mr. Faiz kembali menatap suami istri yang seketika menghela nafas ketika sang guru menoleh pada mereka dengan sebuah senyum tipis nan ramah.


Akhirnya berhasil... pikir mereka berdua. Begitu juga dengan Zuria yang mengharapkan hal yang sama.


"Maaf, Tuan... jika sampai Tuan Kenzo tau kami selaku perwakilan dari sekolah menerima suap dari Tuan dan Nyonya... yang ada Tuan Kenzo akan menuntut kami!" ucap Mr. Faiz.


"Dan bisa jadi tuntutan itu akan lebih besar dari yang anda tawarkan..." lanjut Mrs. Maria dengan tegas menolak tawaran dari Afrizal.


"Belum lagi jika kepala sekolah mengetahui kecurangan ini, selain kami di pecat, kami juga akan masuk penjara!" sahut Mr. Faiz lagi.


"Jadi sampai sini saya harap Tuan dan Nyonya paham dengan maksud kami..." Mrs. Maria berusaha mengakhiri aksi tawar menawar yang di layangkan oleh Afrizal dan istri.


"Kita rahasiakan saja! hanya kita saja yang tau, Mr.!" Afrizal tidak mau menyerah begitu saja. "Saya tambah, jadi 500 juta!"


"2 milyar pun kami akan menolaknya, Tuan! Karena kecurangan di sekolah ini akan selalu di tindak tegas. Bukan hanya untuk murid, tapi juga untuk para guru yang bekerja di sekolah ini.


"Anda sendiri takut dengan Tuan Kenzo, kami pun sama, Tuan! justru kami ini tenaga pendidik yang sudah di sumpah oleh kepala sekolah ini untuk tidak menerima suap ataupun melakukan kecurangan dalam bentuk apapun. Jika sampai Tuan Kenzo tau, bukan hanya kami yang bermasalah, tapi Tuan, Nyonya dan Zuria sendiri juga pasti akan kena imbasnya!"


Sontak dua wajah yang sempat sumringah kini kembali masam dan pucat pasi. Hancur sudah harapan mereka. Sudah tidak ada pintu lagi bagi mereka untuk bisa membuat putri mereka bisa mengikuti ujian tengah semester. Jangankan di UKS, di lokasi tersembunyi pun tidak bisa mereka dapatkan.

__ADS_1


"Kami sebagai guru juga ingin mengingatkan pada Tuan dan Nyonya, supaya tidak terlalu memanjakan anak-anak. Jangan ajari mereka dengan aksi suap-menyuap, Tuan... Itu akan menjadikan mereka manja dan tidak mau bekerja keras untuk meraih apa yang mereka inginkan."


Sepasang suami istri itu menghela nafas panjang. Selain merasa tak berdaya juga merasa malu, karena penawarannya di tolak mentah-mentah oleh pihak sekolah.


"Sebaiknya Tuan dan Nyonya segera meninggalkan ruangan ini, karena kami harus kembali bekerja." pinta Mrs. Maria dengan sopan dan penuh dengan kehati-hatian. "Karena kepala sekolah akan segera datang untuk mengevaluasi kasus ini, Tuan..." lanjutnya tanpa mengurangi rasa hormat pada wali murid yang baru saja menawarkan sesuatu yang memang menggiurkan untuk siapa saja.


"Baiklah, kami permisi..." pamit Afrizal mewakili keluarganya.


Kenyataan buruk sudah berada di depan mata. Dengan langkah gontai, ketiga orang itu keluar dari ruang BK. Sementara Zuria, dengan rasa kecewanya langsung melesat ke ruang kelasnya untuk mengambil tas dan perlengkapan sekolahnya untuk pulang bersama dengan orang tuanya.


***


Afrizal dan Gita menunggu putri mereka di parkiran khusus tamu. Hanya ada mobil mereka yang ada di sana. Dua mobil putih milik Kenzo dan Jonathan sudah tidak ada di tempat masing-masing. Jelas saja, mereka pastilah sudah meninggalkan area sekolah dengan cepat.


Berdiri di depan pintu penumpang bagian belakang yang terbuka sembari menunggu kedatangan sang putri, ponsel Afrizal berdering dengan nyaring, tanda sebuah panggilan masuk ke dalam nomor pribadi miliknya.


Segera ia meraih ponsel di saku celananya. Dan melihat siapa yang menghubunginya. Karena jika tidak terlalu penting pasti tidak akan melakukan panggilan pribadi, ke nomor yang tidak terlalu banyak di ketahui orang.


"Siapa, Dad?" tanya Gita yang sudah duduk di salah satu kursi penumpang di belakang sopir.


"Romi..." gumam Afrizal membaca nama si penelepon.


"Angkatlah, Dad!" sahut Gita dengan sedikit lesu. Rasa kecewa karena sang putri gagal mengikut ujian tengah semester, membuat Gita merasa letih sendiri memikirkan kedepannya nanti akan seperti apa.


Membayangkan sang putri mendapat nilai kosong di ujian tengah semester, sudah cukup memuat Gita merasa gagal mendidik anaknya.


Afrizal menggeser tombol hijau di layar ponselnya. Dan suara Romi sang Asisten pribadi terdengar dari sebrang sana. Belum juga Romi berbicara, firasat Afrizal sudah buruk duluan. Entah apa yang akan di sampaikan oleh sang Asisten. Semoga bukan tentang hal buruk.


"Halo, Rom?" jawab Afrizal mengarahkan ponsel ke telinga kanannya. "Ada apa?"


"Tuan, Adhitama Group menarik seluruh saham yang meraka tanamkan pada anda!" lapor sang Asisten dengan suara panik bukan kepalang.


Di sebrang sana, sang Asisten kepercayaan Afrizal berdebar tidak karuan. Jantungnya bagai di hujam batu karang, ketika seseorang yang di ketahui sebagai Asisten pribadi Kenzo Adhitama mengirimkan email yang berisi surat resmi dari CEO Adhitama Group, jika mereka menarik seluruh saham milik mereka.


Yang di pikirkan oleh sang Asisten pertama kali adalah nasibnya ke depan. Saham Adhitama tidak main-main di perusahaan sang bos. Mencapai 20% dari total keseluruhan saham yang di kelola oleh Afrizal.


Jika 20% di ambil oleh Adhitama Group, memanglah masih ada 80% lainnya. Tapi yang terjadi adalah... Jika Adhitama Group menarik sahamnya seperti ini, sudah pasti Investor yang lain akan ikut berfikir ulang, dan bisa-bisa ikut menarik saham mereka. karena menganggap perusahaan Afrizal sedang mengalami krisis moneter.


Karena sesungguhnya saham asli milik Afrizal hanya sekitar 30% saja. Adhitama Group dan satu perusahaan lagi memiliki saham terbesar kedua yaitu masing-masing 20%. Dan 30% lainnya adalah saham dari beberapa Investor lainnya.


Dan kenyataan itu bisa membuat nasib sang Asisten akan terombang-ambing bagaikan mengambang di atas lautan lepas. Tidak punya arah dan tujuan. Hanya mengikuti kemana arus air asin itu akan membawanya. Ke tepi pantai, kah? atau justru menyebrangi samudra hingga ia mengalami hipotermia dan mungkin akan mati, bagai Jack dalam film kenamaan Titanic, yang harus tewas kedinginan di samudra Atlantik.


Tapi di situlah kesetiaan sang Asisten akan di uji. Maukah mereka tetap bertahan dengan keadaan yang membuat mereka harus bersiap-siap untuk berjuang bersama sang bos.


"A...APA?" pekik Afrizal mendengar kabar terburuk yang sempat ia prediksi bisa saja akan terjadi. Dan ternyata dugaan itu terjadi jauh lebih cepat dari prediksinya.


Ini sungguh musibah yang teramat tidak wajar untuk sang pengusaha. Dunia serasa runtuh di atas kepalanya yang selama ini berdiri tegak, karena merasa memiliki rekan bisnis yang terkenal dengan jam terbang yang tidak main-main.


Dan Tuan Adhitama adalah salah satu Investor yang selama ini ia bangga-banggakan, dan selalu ia sebut di mana-mana ia menceritakan bisnis yang sedang ia kembangkan. Karena tidak semua pengusaha memiliki kesempatan untuk bisa menjadi rekan bisnis Tuan Aditama pada masanya.


Namun kini.... nama itu, dan Investor lainnya seolah akan menghilang satu-persatu dengan di tariknya saham Adhitama Group. Lalu dia akan menjadi.... ya, miskin.


Adhitama Group, perusahaan besar yang pengaruhnya terlampau luar biasa di mata para pebisnis tanah air. Mereka tidak akan ragu untuk menjadi bisnis dengan perusahaan itu. Di bawah kepemimpinan para petinggi yang luar biasa, membuat Adhitama Group semakin bertambahnya tahun, maka akan semakin jaya dan mendunia.


"Katakan padaku, jika kamu berbohong!" hentak sang pengusaha pada sang Asisten pribadi yang kini hanya bisa memutari ruang kerjanya dengan perasaan gelisah. Layar laptop masih menunjukkan surat resmi yang ia terima dari Venom.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2