
Arsen dan Vino kembali ke kelas dengan sedikit berlari sambil saling melayangkan protes dan juga obrolan singkat. Juga saling melempar argumen masing-masing.
Sedangkan guru Kimia yang sedang mengajar di kelas mereka, berjalan jauh di belakang keduanya dengan raut wajah yang masih dingin. Sang guru bagai tengah menggiring binatang ternak peliharaannya menuju kandang di depan sana.
Dan ketika sang guru sampai, maka jenis hukuman pun di jatuhkan pada kedua siswa yang sengaja meninggalkan kelas itu. Hukuman di berikan dengan cara yang berbeda. Karena kesalahan keduanya di anggap berbeda. Terutama tentang waktu lamanya meninggalkan kelas dengan sengaja.
Arsen dengan 10 soal Kimia, yang minimal harus benar 8. Sedang Vino dengan 15 soal Kimia yang harus di kerjakan dengan soal benar mencapai minimal 12 soal.
Kimia sangat rumit, bukan?
Berat memang. Karena keduanya sangat tidak suka dengan pelajaran yang satu ini. Tapi itu kenyataan yang harus mereka hadapi. Resiko dari pilihan mereka sendiri, demi menghindari nama mereka tercantum di dalam daftar siswa yang pernah masuk ke ruang Bimbingan Konseling.
Terutama Arsen yang sudah mencatatkan namanya di sana demi menemani Clarice saat berhadapan dengan Zuria.
Meninggalkan kegiatan di sekolah hari itu, dimana Arsen sedikit banyak mengetahui sesuatu yang tak pernah ia duga sebelumnya, maka kini sang pemuda tengah berada di dalam kamarnya.
Sang pemuda membanting tubuhnya yang tinggi ke atas tempat tidur, saat langit di luar sana mulai menggelap dan bintang pun bermunculan satu persatu. Setelah melempar buku Kimia yang baru saja selesai ia kerjakan atas bantuan guru les yang di datangkan secara pribadi oleh Mama Rania tentu saja. Kini dua buah buku sudah tergeletak di atas meja belajarnya dengan 10 soal yang sudah terselesaikan.
Sedang sang pemilik kamar tergeletak di atas tempat tidurnya yang berukuran king size dengan tingkat kenyamanan yang luar biasa nyaman. Tentu saja, anak orang kaya mah semua fasilitasnya serba mewah dan berkelas.
Arsenio Wilson, pemuda yang mendedikasikan dirinya untuk menjadi seorang pembalap muda itu menatap kosong pada langit-langit kamarnya yang terdapat pantulan sinar dari lampu-lampu kecil yang berbaris dan meliuk di sela-sela plafonnya yang memiliki bagian kosong di dalamnya.
"Aku tidak pernah menyangka selama ini... Cla menyimpan rasa untuk Vino?" gumam sang pembalap, merasakan nyeri di ulu hatinya. "Kenapa aku baru menyadarinya?" gumam Arsen lagi dengan dada yang kembang kempis ketika merasa dirinya ternyata tiada arti untuk sang gadis pujaan.
"Pantas saja saat Hanna akan mengajak Vino untuk datang ke rumahnya, dia tampak berbeda... Ekspresi wajahnya berubah hanya dalam waktu 1 detik saja. Ternyata ..." gumam sang pembalap yang kini tengah merasa kerdil di hadapan sang gadis pujaan.
Arsen mengingat kembali, bagaimana tadi Clarice tidak mau menjawab pertanyaannya dengan jujur. Bahkan semua yang di tanyakan pada sang gadis, tak satupun di jawab oleh sang ketua Cheerleader itu.
"Apa yang ada di dalam diri Vino?" tanya Arsen pada dirinya sendiri. "Kenapa Cla sampai menyukai nya?"
"Jika tentang tampan... Aku juga tak kalah tampan. Bahkan lebih banyak yang mengejar ku di banding Vino." lanjutnya percaya diri.
Meskipun memang itu adalah nyata. Tapi percaya diri berlebih juga tidak baik, bukan?
"Tentang kepintaran? peringkat ku masih di atas Vino."
"Tentang kekayaan? Orang tua ku juga masih di atas Vino..." gumam Arsen tanpa niat menyombongkan harta orang tuanya. Maupun menganggap keluarga Vino berada di bawah keluarganya.
"Apa mungkin karena Vino seorang Atlit?" lanjutnya berfikir keras.
"Aku memang tidak memiliki kelebihan yang imbang dengan Vino. Aku hanya hobi dengan dunia balap liar ku. Dunia yang tidak terlalu di gandrungi oleh gadis remaja seperti Clarice, yang notabene nya adalah anak rumahan, sekaligus anak yang selalu berada di bawah pengawasan orang tuanya."
Hati sang pemuda pembalap tengah kacau dengan dugaannya itu. Meski ia belum mendapatkan bukti yang konkrit dari video Vino yang belum sempat ia lihat. Tapi sang pemuda sudah bisa memprediksi, jika sedihnya Clarice siang ini karena Vino resmi jadian dengan Neha, kakak kelas mereka sendiri.
"Apa mungkin Vino juga merasakan hal yang sama dengan Clarice?" gumamnya lagi. "Hanya saja Vino tidak enak hati dengan Cla, karena posisi Ayahnya di perusahaan Uncle Kenzo? Bukankah Vino pernah mengatakan akan alasan itu saat di ajak ke rumah Clarice?"
"Jika benar Vino sesungguhnya menyukai Clarice juga, itu artinya selama ini Cla dan Vino hanya terhalang oleh kesepakatan Cla dengan orang tuanya, untuk tidak berpacaran di usia sekolah. Dan juga karena posisi orang tua mereka di tempat kerja." gumamnya terus berlanjut.
"Kalau benar iya, apa mungkin Neha hanya pelarian?" gumamnya. "Rasanya tidak mungkin... Mereka sudah sangat dekat sejak lama."
BUGGH!!
Arsen memukul tempat tidurnya sendiri menggunakan kadua tangannya yang berada di sisi kanan dan kiri tubuh nya.
"ARSEENNN! Kenapa kau tidak seberuntung Vino yang di sukai oleh Clarice?" jeritnya tertahan dengan mengacak kasar rambut hitamnya yang tidak gatal. Dan mengakhiri frustasi itu dengan menghela nafas kasar dan panjang.
Sang pembalap berkedip beberapa saat, mengingat saat jam istirahat kedua tadi. Di mana Clarice tidak ingin meninggalkan kelas. Dan memilih untuk henya membaca novel di bangkunya saja.
Sedangkan dirinya ingin sekali mendekat. Tapi rasa percaya diri untuk mendekati Clarice memudar begitu saja. Entahlah, semua seolah menghilang terbawa hembusan nafas kasar yang berulang kali ia hela akibat terlalu resah dan gelisah.
Karena setiap saat, yang ada di dalam benaknya hanya tentang kenyataan Cla yang ternyata sudah menyukai lelaki lain.
Dan meski tau jika Cla menyukai pemuda lain, tak membuat Arsen menghilangkan rasa cinta itu dengan paksa. Ia masih berharap dan terus berharap, kelak ia lah yang menjadi pemilik hati Clarice. Entah, bagaimana caranya kelak.
Tapi... rasa percaya diri itu saat ini telah luntur. Arsen merasa dirinya telah kalah oleh pemuda lain. Sang pembalap benar-benar sudah tidak tau apa yang harus di banggakan di hadapan sang gadis yang ia anggap menyukai Vino karena Vino seorang Atlit dengan tubuh yang sehat.
__ADS_1
Dan satu lagi... Vino bukan perokok aktif. Sedangkan dirinya? Ia sesekali menghisap barang berbentuk batang kecil itu saat bergabung bersama teman-teman balap liarnya.
Atau saat sedang nongkrong di Cafe bersama teman laki-laki yang memang rata-rata perokok sejak usia sekolah. Bahkan sejak mereka masih duduk di bangku SMP.
Meski begitu ia tidak berani melakukan itu, jika di depan orang tuanya maupun di area rumah dan sekolah. Ia bahkan tidak pernah membawa benda itu masuk ke dalam rumah.
Ia beli 1 bungkus untuk bersama teman-teman. Sedang sisanya tak akan pernah masuk ke dalam saku celana, tas atau bahkan mobil sang Ibu yang mungkin sedang ia pakai untuk hang out bersama kawan-kawannya.
Semua ada tempatnya, pikir seorang Arsenio Wilson.
"Clarice tidak tau kalau aku perokok aktif saat jauh dari keluarga. Toh, Naufal juga sama sepertiku..." lanjutnya bermonolog. "Tidak mungkin hal itu menjadi pertimbangan untuk dirinya, kan?"
"Karena Naufal bilang, Cla dan Hanna tau kalai Naufal perokok!"
Arsen berulang kalai berkedip menatap atap kamarnya. Meski tidak ada yang berubah di atas sana.
"Jika di pikir lebih jauh... Vino sudah menjadi kekasih Neha...." gumamnya. "Harusnya menjadi kesempatanku untuk bisa menarik perhatian Clarice lebih mudah, bukan?"
# # # # # #
Sejak hari itu, hari di mana Clarice kehilangan sosok yang mungkin tidak bisa ia harapkan lagi, ia memilih untuk menjauh dari sang Atlit. Memilih untuk tidak melihat ataupun mencuri-curi pandang pada sang Atlit seperti biasa.
Walaupun dalam hatinya berkata, bukankah kita bebas mengidolakan siapa saja? walaupun mereka sudah punya kekasih sekalipun? Selama tidak berusaha untuk merebut. Sepertinya mengidolakan ataupun menyukai itu sah-sah saja.
Tapi kenyataan hatinya tak bisa semudah itu bisa menerima semuanya. Pernah berkata tak peduli dengan siapa Vino akan berdekatan, nyatanya ketika Vino benar-benar memiliki kekasih ia justru kecewa dan nyaris hancur.
Apalagi tak jarang ia justru melihat keduanya semakin dekat dan mesra. Setiap hari mereka pulang pergi sekolah selalu berboncengan berdua. Sangat jarang Neha terlihat di antar jemput oleh mobil yang biasanya.
Dunia di anggap sudah berakhir, bersamaan dengan runtuhnya hati Brighta Clarice Agasta.
# # # # # #
Dua bulan telah berlalu sejak hari Clarice di beri coklat oleh Vino. Dan hari-hari berjalan tak seperti biasa untuk Clarice, Arsen dan Vino. Jika Clarice mengurangi tatapan pada Vino. Dan Vino dengan sengaja menjaga jarak pada semua gadis di kelasnya.
Maka selama dua bulan itu, Arsen benar-benar kehilangan rasa percaya dirinya untuk mendekati Clarice.
Walau ia masih sering mencuri-curi pandang pada sang gadis, ia juga masih sering menatap punggung Clarice dari bangkunya berada di belakang. Tetap saja ia tidak bisa seluwes sebelum mendapati kenyataan ini.
Ia bahkan tidak akan pergi kemanapun bersama Clarice selama di sekolah, jika tidak ada Naufal yang mengajaknya.
***
Siang itu, seperti biasa Clarice tengah berada di kantin sekolah bersama Hanna. Naufal tidak masuk sekolah hari itu. Karena sedang sakit katanya. Sehingga keduanya pergi ke kantin tanpa mengajak siapa pun lagi.
Gadis itu sudah terbiasa untuk tidak berkomunikasi ataupun melihat Vino bergabung dengan mereka. Karena di jam istirahat sang Atlit lebih sering untuk makan berdua di kantin bersama Neha. Atau melakukan hal apapun bersama Neha, bahkan teman-teman perempuan Neha. Atau justru teman-teman Vino yang laki-laki. Yang jelas tidak pernah satu meja dengan dirinya dan Hanna.
Membawa satu mangkok bakso dan satu gelas jus alpukat, Clarice memilih untuk duduk di meja yang pernah menjadi saksi bisu pertengkarannya dengan si belatung betina, alias Zuria Agatha. Karena meja itu memang menjadi meja favorit sang gadis bersama Hanna.
Pemandangan pertama yang di lihat Clarice dan Hanna adalah Vino yang berjalan menuju kantin berdua bersama Neha. Hingga sepasang kekasih itu berjalan masuk menuju bilik kantin yang menyediakan spaghetti dan memesan sesuatu yang tak terbaca oleh Clarice maupun Hanna dari posisi mereka duduk.
Dan Cla memilih untuk memutus pandangan matanya saat itu juga. Karena sudah mulai bosan dan kecewa dengan kenyataan satu ini.
"Vino semakin jauh dengan kita..." gumam Hanna yang masih menatap intens ke arah Vino dan Neha.
Clarice menarik nafas panjang, dan menghelanya pelan. Tanpa tau harus menjawab gumaman Hanna dengan kalimat yang seperti apa. Ia bahkan sudah tidak berniat untuk menoleh pada sang Atlit.
"Dia bahkan tidak pernah lagi mengobrol ataupun bercanda dengan ku saat kami sedang rapat anggota seluruh Atlit di sekolah... untuk turnamen antar sekolah bulan depan."
"Biasanya kalian mengobrol?" tanya Clarice yang tau, jika Hanna dan Vino sering meninggalkan untuk rapat ataupun latihan persiapan turnamen.
"Ya, kami sering mengobrol, bercerita ini dan itu dan juga bercanda. Karena kami memang sering bertemu, bukan?" jawab Hanna. "Entah di dunia olah raga, maupun di dunia OSIS."
Clarice hanya mengangguk. Tak ingin menanggapi terlalu jauh apapun itu yang berhubungan dengan sang Atlit. Ia sendiri kadang melamun, membayangkan jika seandainya ia bisa berada di posisi Neha.
Bisa dengan bebas berdekatan dengan Vino kapanpun ia mau. Tapi kenyataan, tak semua yang kita inginkan bisa kita wujudkan. Dan inilah contoh nyata yang tak bisa ia miliki dengan mengandalkan uang ataupun kedudukan dan kekayaan orang tua.
__ADS_1
Pemandangan kedua adalah kemunculan Arsen bersama dengan beberapa teman laki-laki, salah satunya ada Rafli, murid paling pintar di kelas. Dia pemegang juara 1 di ujian tengah semester dan di ujian semester 1 di kelas X-3. Tidak tanggung-tanggung, dia juga juara 1 tingkat sekolah di semester 1 tahun ini.
Sang pembalap berjalan sejajar dengan Rafli di jalan setapak menuju kantin. Sang pemuda selalu terlihat tampan dalam kondisi apapun juga. Dan selalu menarik perhatian gadis mana saja yang melihatnya.
Tak terkecuali Clarice sendiri. Ia menatap Arsen yang mengenakan seragam sekolah itu bagai menatap pangeran yang memasuki sebuah perkampungan. Untuk kemudian menjadi pujaan para gadis yang ada di dalam sana.
Apapun yang di pikirkan tentang sosok Arsen, sampai detik ini juga masih di tepis sendiri oleh sang gadis.
' Sudah lama Arsen tidak datang ke rumah dengan alasan belajar berenang... '
Gumam sang gadis di dalam hati. Merasa ada yang sangat berbeda.
' Ada apa dengannya? '
' Dia juga jarang bahkan tidak pernah lagi berkomentar di story ku... '
' Dan sekarang ... Tidak ada Naufal juga dia enggan untuk bergabung dengan ku... '
' Dia juga sudah tidak pernah... jahil dan menggoda ku dengan memanggilku... Sayang... '
Clarice terkesiap di tengah lamunannya. Menatap intens dengan dada yang mulai bergemuruh pada Arsen yang kini berada di area yang lebih banyak di huni oleh anak laki-laki.
' Ada apa dengannya? Apa dia menghindari ku? Tapi kenapa? '
' Dia bahkan tidak menoleh ke arah ku sama sekali... '
' Arsen berubah? Kenapa aku baru menyadarinya? Bahwa kami semakin jauh... '
Clarice terdiam. Menatap Arsen terus bergerak, hingga sang pemuda duduk dengan membelakangi posisinya saat ini.
"Woy, Cla!" seru Hanna menyenggol lengan sang gadis. "Ngelamun apaan sih?" tanya Hanna mengikuti arah gerak mata Clarice yang lurus ke depan.
Dan sang Atlit perempuan tau, jika pandangan mata Clarice berhenti pada punggung pemuda yang juga sangat ia kenali.
"Arsen?" tanya Hanna langsung menyebut nama pemuda yang pasti sedang di pandangi oleh Clarice.
"Eh..." Cla menoleh pada Hanna. "Kamu merasa atau tidak, kalau Arsen sekarang berbeda?" tanya Cla pada Hanna.
"Berbeda bagaimana?" tanya Hanna yang tak merasakan perubahan Arsen.
Tentu saja karena Arsen memang tidak terlalu dekat dengan Hanna. Selama ini dengan Hanna hanya bersahabat biasa. Tidak ada obrolan berarti yang perlu di bahas di luar sekolah.
Berbeda dengan Clarice. Yang sebelum ini hampir setiap hari di chat dan di komentari setiap postingan yang menarik perhatian sang pemuda. Karena semua tentang Clarice memang menarik untuk sang pembalap.
"Dia jadi jarang bicara dengan kita..." gumam Clarice. "Dia jadi jarang mendatangi aku, kan?" tanya Cla. "Biasanya dia akan langsung duduk di depan kita, kalau tau kita ada di sini... Meskipun tidak ada Naufal sekalipun." ucap Clarice yang masih menatap punggung Arsen dengan tatapan... mungkin rindu.
"Bukankah sejak dulu seperti ini?" tanya Hanna. "Eh, itu sih dengan ku!" lanjut Hanna merasa biasa saja. "Kalau dengan mu aku tidak tau..." jawab Hanna mengedikkan bahunya.
Clarice terdiam. Mengingat-ingat, apakah dia punya salah pada sang pembalap. Kenapa sang pembalap sampai menjauhi dirinya seperti ini. Tapi apa salah dirinya?
"Dia tidak pernah lagi chatting dengan ku. Di hanya akan membalas jika aku bertanya duluan..." lanjut Clarice menatap kosong ke dapan.
"Bukankah dia sering ke rumah kamu untuk berlatih renang?" tanya Hanna.
"Itu dulu... sejak kita kembali ke sekolah... Dia tidak pernah lagi datang ke rumah ku saat hari sabtu atau minggu." jawab Clarice menoleh pergelangan tangan kirinya. Di mana di sana ada jam tangan berwarna hijau tosca yang berdampingan dengan gelang tali yang terdapat 3 huruf membentuk namanya yang di buat dari emas asli.
Hanna mengikuti arah gerak mata Clarice yang mengarah pada kenang-kenangan yang di berikan oleh Arsen.
"Kamu menyukai Arsen?" tebak Hanna lirih, supaya tidak terdengar oleh murid yang lain.
"Hah?" pekik Clarice menoleh sang sahabat.
"Iya... Aku tanya, apa kamu menyukai Arsen? Kenapa seperti sangat kehilangan Arsen ketika menurut kamu ia terlihat menjauh?" tanya Hanna memperjelas tebakannya.
Sementara yang di tanya justru terbengong dengan pertanyaan Hanna. Menatap sang sahabat dengan tatapan yang seolah tidak mengerti arah pembicaraan sang sahabat.
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...