Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 117 ( Anggap Dia Sebagai Teman )


__ADS_3

Sesi makan pasca berolah raga sudah selesai. Dengan posisi yang masih sama tanpa perubahan. Clarice di depan sang sahabat, Naufal. Dan di samping kanannya ada Hanna. Kemudian Arsen masih di samping kiri Naufal.


Dan saat itulah, tiba - tiba seorang gadis muncul dari belakang punggung Cla. Gadis yang benar - benar membuat Cla enggan untuk lebih lama berada di meja berbentuk persegi panjang itu.


"Arsen!" seru gadis itu dan langsung menghambur duduk di antara Arsen dan Naufal.


Sementara satu teman yang mengikutinya duduk di kursi yang lain.


' Hemh! Baru saja mau pergi! Keduluan nenek lampir datang! '


Gerutu Clarice dalam hati, menatap tidak suka pada Zuria, Kakak kelasnya di IPS-1.


"Kami balik ke kelas dulu ya!" pamit Clarice pada Naufal. "Ayo, Han!" ajak Clarice dengan nada datar dan seolah menunjukkan sikap tidak sukanya dengan apa yang sedang nampak di depan mata.


"Kenapa buru - buru?" tanya Naufal heran.


"Aku capek! mau lanjut baca novel aja di kelas!" jawab Clarice sedikit ketus. "Bye..."


"I..iya! Cla!" jawab Hanna kikuk. Ia pun bingung kenapa Clarice tiba - tiba mengajaknya untuk pergi. Padahal minuman di gelas Clarice masih tersisa.


Clarice hanya berpamitan pada Naufal. Seolah menganggap Arsen tidak ada di tempat. Namun gadis 16 tahun itu sempat melirik pada Arsen yang duduk dengan terbengong ketika ia berpamitan pada Naufal.


"Clarice!" panggil Arsen sedikit keras.


Namun gadis itu enggan untuk berhenti, apalagi menoleh sang pemuda yang merasa kehilangan waktu untuk bisa bersamanya.


"Kenapa?" tanya Zuria pada Arsen yang seolah mencegah Clarice untuk pergi.


"Tidak apa, aku tadi meminjam uang padanya, karena tidak ada kembalian," jawab Arsen. "Aku pergi dulu ya? aku harus segera mengembalikan uangnya. Tidak enak kalau meminjam terlalu lama." pamit Arsen langsung berdiri dan beranjak dari kursinya.


"Ya... kok pergi, sih?" tanya Zuria menatap kecewa pada Arsen, serta penuh dengan rasa berharap agar pemuda itu tidak pergi.


Karena ia baru saja tiba di kantin setelah menyelesaikan ulangan lebih lambat dari waktu yang di berikan oleh guru kelas. Sementara menemui Arsen di kelasnya sudah pasti sangat di larang oleh pihak sekolah. Larangan keras bagi siswa lain memasuki kelas yang bukan kelas mereka, tanpa alasan yang jelas. Paling jauh hanya boleh sampai batas pintu saja.


"Sorry..." ucap Arsen menatap datar pada Zuria. Kakak kelas yang sangat ia ketahui memang terlihat begitu mengejar dirinya. "Ayo, Fal!" ajak Arsen sembari menepuk pundak teman barunya itu.


Naufal yang mendengar Arsen berpamitan langsung ikut beranjak dari duduknya. Dan bersiap bersama Arsen meninggalkan area kantin untuk mengejar langkah Clarice yang sudah berada di ujung kantin.


Meninggalkan gadis 17 tahun yang menatap kecewa pada punggung yang semakin menjauh tanpa sempat ia ajak untuk berbicara. Padahal ia mendatangi kantin tujuannya hanya untuk menemukan pemuda itu, lalu memeluk lengannya seperti tadi pagi.


***


"Buru - buru sekali..." gerutu Arsen begitu sampai di belakang Clarice.


Namun yang di ajak bicara seolah pura - pura tidak mendengar apa yang sedang di ucapkan oleh Arsen.


Sementara Naufal, pemuda itu sejak tadi seolah mengamati gerak gerik Clarice dan Arsen yang menurutnya sangat aneh. Seperti ada sesuatu yang sedang di sembunyikan, atau sesuatu yang sedang di tepis?


Jika boleh jujur, maka ia baru tau saat di kantin inilah, jika Clarice dan Arsen sudah saling mengenal lebih dari yang lain. Entah sejak kapan sebenarnya mereka dekat.


Naufal menatap lekat punggung sang sahabat yang bergerak di depannya. Karena Clarice berjalan tepat di depannya. Kemudian melirik Arsen di sampingnya, yang dapat ia simpulkan dari Arsen adalah... jika pemuda itu juga tengah melihat punggung sang sahabat.


' Sebenarnya ada apa dengan mereka? '


Gumam Naufal dalam hati. Tidak mungkin juga kan, jika seorang Arsen meminjam uang pada teman sekelasnya. Ia tau tadi Arsen membayar makanannya pakai uang sendiri tanpa meminjam pada Clarice.


Berhasil mengejar langkah Clarice, mereka pun kembali ke kelas secara bersamaan. Dengan Cla yang berjalan beriringan dengan Hanna. Kemudian Naufal dan Arsen di belakang dua gadis cantik itu.


Sepanjang langkah, maka sepanjang waktu itulah Cla melihat banyak sekali anak perempuan yang menyapa ataupun hanya sekedar mencuri pandang pada sosok Arsen.


Sesungguhnya Naufal tak kalah tampan dari Arsen. Bedanya mereka sudah biasa melihat Naufal di sekolah. Sedangkan Arsen? Dia adalah anak baru yang menjadi pusat perhatian satu sekolah untuk saat ini.


Melangkahkan kaki dengan berulang kali memiringkan bibir karena malas sekali melihat banyak gadis yang mencuri pandang untuk melihat Arsen, dengan tatapan yang seolah - olah Arsen adalah santapan lezat.


Entah, apa yang sesungguhnya di rasakan gadis itu. Ia bersikap sangat aneh. Hati dan jiwanya yang masih sangat belia membuat sang gadis belum bisa bersikap stabil.


Apa mungkin dia cemburu? tapi ia sama sekali tidak merasa mencintai Arsen. Meskipun ia mengakui kesempurnaan seorang Arsenio Wilson.

__ADS_1


Kalaupun ia cemburu, untuk apa? Toh mereka bukan sepasang kekasih. Dan ia selalu bersikap ketus dan acuh pada Arsen yang ia rasa tengah mencoba untuk mendekati dirinya.


Semua demi menjaga janjinya pada empat orang tuanya, supaya tidak berpacaran di sepanjang usia sekolah.


Jatuh cinta adalah perasaan yang rawan muncul di usia remaja. Di mana di usia itu mereka masih labil, hingga sering melakukan kesalahan. Tanpa berfikir resiko yang mungkin saja akan mereka hadapi di kemudian hari.


Apapun pergaulan yang di milih setiap orang, semoga masa remaja kita terselamatkan dari kejamnya pergaulan bebas.


***


Beranjak dari sesi itu, perjalanan waktu masih terus berputar. Clarice masih duduk di bangkunya, menatap teman - temannya yang satu persatu keluar dari kelasnya untuk pulang.


Ia sengaja untuk keluar paling akhir, karena Daddy yang menjemputnya akan datang terlambat. Sehingga anak - anak masih harus tinggal di sekolah sampai jemputan datang, tanpa ada yang boleh meninggalkan area sekolah.


Seketat itulah Alexander International School mengatur para murid yang antar jemput. Kalaupun pulang bersama teman lainnya, harus ada konfirmasi ijin dari orang tua yang bertanggung jawab. Dan tidak boleh ada miskomunikasi.


Clarice mulai melangkah keluar kelas, ia berjalan seorang diri menuruni tangga. Paper bag berisi baju olah raga yang kotor sudah berada di tangan kirinya.


Kurang lebih 1 jam lagi sang Daddy baru akan datang. Entah apa yang akan Cla lakukan selama 1 jam itu. Mungkin hanya duduk di kursi tunggu sambil membaca novel yang belum ia selesaikan?


Setidaknya hanya itu yang ada di dalam benak Clarice.


Sementara Hanna dan Naufal sudah di jemput oleh Papa nya. Lalu Arsen? entah, ia tidak melihat Arsen setelah keluar dari kelas.


Clarice berdiri di depan gedung, melihat sekitar, di mana semua murid yang pulang sedang antre untuk melewati pagar pemeriksaan ketat. Entah bagi mereka yang membawa kendaraan sendiri, ataupun merkea yang sudah masuk kedalam mobil jemputan masing - masing.


Sampai akhirnya mata Clarice melihat ke arah lapangan yang berada di sisi kanan gedung sekolah. Di mana lapangan sekolah sedikit terlihat dari posisinya berdiri.


Mengingat dirinya yang sangat buruk di dunia basket ball, Clarice berfikir untuk menunggu sang Daddy sembari mencoba bermain basket saja. Bukankah kesempatan baik untuk belajar, di saat tidak ada satu orang pun yang melhat dia tengah berlatih.


Melangkah dengan semangat, Clarice tersenyum senang. Berharap suatu saat tidak lagi beraksi memalukan di hadapan lelaki yang ia idolakan, Malvino Lubis.


Sampai di lapangan basket, Clarice meletakkan paper bag yang ia bawa di tangan kirinya di bangku penonton. Begitu juga dengan tas sekolahnya. Kemudian ia segera mengambil satu bola basket yang ada keranjang.


Melangkah ke tengah lapangan, ia mengambil posisi di tempat yang tadi pagi ia gunakan untuk praktek memasukkan bola ke dalam ring.


Menatap yakin pada bola orange itu, jika ia pasti bisa memasukkan benda itu ke dalam ring yang memang sudah di siapkan khusus untuk si orange.


"You can do it, Cla!" serunya lirih, menatap yakin pada tiang ring yang berdiri tegak di depan sana. "Taklukkan benda tinggi itu!" ujarnya lagi.


Memutar pelan bola di tangannya, dan Cla mulai melakukan dribel pelan di tempat. Setelah yakin bola di kuasai oleh tangannya, ia segera melangkah pelan dengan memastikan bola tetap dalam kekuasaan tangan kanannya. Setelah semakin dekat dengan ring, Clarice langsung melompat pelan, dan mendorong bola menuju ring.


Namun ia harus kembali kecewa, karena bola gagal masuk ke dalam ring.


"Okay! tidak masalah! gagal di percobaan pertama adalah hal yang biasa dan wajar, Cla!" gumamnya menyemangati diri setelah mengambil bola yang berlari ke sembarang arah.


"Tapi jangan pernah menyerah dengan kegagalan! buktikan pada kegagalan itu, jika kamu pasti bisa mengubahnya menjadi satu kemenangan!" gumamnya lagi memicingkan matanya pada tiang ring yang menurutnya menjadi musuh terberatnya untuk saat ini.


Kembali mengulang apa yang baru saja di lakukan, Cla kembali gagal di percobaan kedua. Mengulang kembali dan berhasil di percobaan ketiga.


Gadis 16 tahun itu melompat girang karena keberhasilan yang menurutnya sangat luar biasa.


Kembali mengulang dan mengulang, ia seolah tidak pernah bosan dengan bola orange di tangannya.


Dari 10 percobaan, Cla hanya berhasil memasukkan bola sebanyak tiga saja. Sungguh buruk. Tapi setidaknya masih ada bola yang bisa masuk. Meski hanya tiga kali.


Clarice kembali berdiri di posisi semula, menatap ring dengan nafas yang mulai naik turun. Keringat mulai terlihat membasahi dahi dan pelipis sang putri sulung. Namun Clarice tidak ingin menyerah begitu saja. Waktu untuk menunggu kedatangan sang Daddy masih cukup panjang.


"Kamu harus bisa, Cla!" ucapnya dengan sedikit keras. "Kamu pasti bisa menaklukkan benda itu!"


"Kamu bisa menaklukkan benda itu, jika kamu menganggap bola di tanganmu sebagai teman!"


Kalimat panjang dari suara yang cukup ia kenali. Suara yang tadi pagi berbicara padanya terdengar dari arah belakang. Dan suara itu terdengar tengah berjalan mendekat. Dan langkahnya semakin terdengar oleh telinga Clarice yang langsung fokus untuk mendengarkan suara itu, saat pertama kali terdengar.


Nafas Clarice tiba - tiba berubah menjadi berat. Jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Dan dada tiba - tiba bergemuruh merasakan sesuatu yang sangat tidak biasa. Tubuh gadis 16 tahun benar - benar seperti patung di tengah persimpangan jalan raya.


"Jadikan dia sebagai teman yang bai!" lanjutnya berucap, sembari berhenti tepat tiga langkah di belakang Clarice yang mematung, dan hanya bisa berkedip dan menelan ludahnya dengan sangat susah.

__ADS_1


Dengan sangat ragu dan kaku, Cla menoleh ke belakang, dan membalikkan badan untuk melihat pemuda yang selalu ia usahakan untuk mencuri pandang padanya itu.


"Vi...Vino?" gumam Cla yang tidak percaya jika siswa idolanya masih berada di sekolah. Dan entah sejak kapan lelaki itu melihat dirinya sedang bermain basket.


"Hem?" tanya Vino. "Kenapa? kaget aku ada di sini?" tanyanya sembari tersenyum seperti biasanya.


"Ka..ka..kamu belum pulang?" tanya Clarice masih tergagap.


"Belum..." jawab Vino berjalan mendekat.


Semakin pemuda itu mengikis jarak, maka jantung sang Nona semakin berdetak tidak karuan. Entah seperti apa perasaan Clarice pada seorang Malvino Lubis. Ia sungguh bingung dengan perasaan yang muncul untuk dua lelaki yang sama - sama ada di kelasnya itu.


"Aku ada latihan futsal setengah jam lagi..." jawab Vino meraih bola di tangan Cla.


BagaI kehilangan konsentrasi dan nyawanya, Cla hanya diam dan tak terlihat bergerak sama sekali ketika bola di tangannya sudah berpindah tangan. Ia seolah tidak sadar jika di tangannya sudah tidak ada lagi bola orange yang meresahkan itu. Terlihat dari tangannya yang masih membentuk seperti saat masih memegang bola.


Tatapannya hanya fokus menatap Vino yang kini menggiring bola menuju ring. Dan tanpa melihat ring, lelaki itu dengan mudah memasukkan ke dalam ring.


Clarice terhentak. Semudah itu seorang Vino mendapatkan skor. Dan semudah itu sang pemuda menangkap kembali bolanya.


Lalu dirinya? Ia sampai harus berlari untuk mengambil bolanya lagi. Sangat jauh berbeda. Itulah kenapa mereka di sebut Atlit, karena mereka memiliki kelebihan yang ia geluti kemudian menjadi profesi yang sesuai dangan passion mereka.


Vino kembali membawa bola itu mendekati Clarice yang masih mematung. Hanya saja tangannya sudah berada di sisi kanan dan kiri tubuhnya. Ia menatap Vino dengan tatapan yang penuh dengan kekaguman. Namun sebisa mungkin ia menyembunyikan semua itu.


"Ambil ini..." ucap Vino menyerahkan bola itu kepada Clarice.


Clarice reflek menerima bolanya kembali. Kemudian memperhatikan lelaki yang kini memposisikan diri di sisi kanan nya itu.


"Pertama - tama tumbuhkan rasa sayangmu pada bola di tanganmu. Anggap ia sebagai teman yang kamu ajak untuk bekerja sama mengalahkan ring di sana." ucap Vino memberi pengarahan.


Clarice menarik nafas panjang sebelum mengikuti arahan Vino. Kemudian dengan yakin ia mulai menatap bola itu. Seolah sedang bertelepati untuk mengajak bola orange itu bekerja sama.


"Sekarang lakukan dribel!" ucap Vino serius.


Clarice mengikuti arahan Vino dengan sebaik mungkin. Dan lelaki itu dengan telaten mengarahkan Clarice sampai gadis itu ini melompat kecil untuk memasukkan bola ke dalam ring. Dan ia gagal.


"Okay! gagal di set pertama adalah wajar!" ujar Vino ketika melihat Clarice seolah kecewa dengan hasilnya sendiri. "Coba ulangi!"


"Hemm!" Clarice mengangguk serius. Sejak tadi gadis itu seolah kehilangan pita suaranya. Tak sanggup untuk berkata apalagi bertanya. Ia benar - benar masih shock dengan kehadiran sosok Vino di lapangan basket.


Clarice kembali mengulang apa yang tadi di jelaskan oleh Vino. Kali ini ia lakukan menggunakan hati dan penuh pertimbangan. Sampai akhirnya ia benar - benar bisa mencetak skor di percobaan kedua.


"YEAY!"' teriak Clarice saking girangnya.


Vino tersenyum dengan hasil pertama yang di cetak Clarice. Dan ia meminta Cla untuk mengulangi lagi dan lagi. Hingga Clarice berhasil berulang kali mencetak angka. Meskipun ada beberapa yang gagal. Namun kali ini keberhasilan lebih mendominasi.


Sampai akhirnya, Clarice merasakan lelah. Dan ia meminta untuk istirahat. keduanya berjalan ke tepi lapangan. Lalu duduk berdua di kursi penonton. Clarice langsung mengambil botol air minum kecil yang ada di dalam tasnya. Meneguknya untuk melepas dahaga.


"Kenapa belum pulang?" tanya Vino. "Sengaja ingin berlatih?"


"Tidak, Daddy bilang akan terlambat menjemput ku." jawab Clarice yang kini berhasil menetralkan degup jantungnya. Karena momen yang baru saja mereka ciptakan.


"Oh.." Vino mengangguk paham.


"Kamu tidak latihan futsal?"  tanya Clarice melihat jam tangan di pergelangan tangan kirinya. "Aku rasa ini sudah setengah jam dari yang pertama kali kamu datang..."


"Iya, kamu benar!" jawab Vino melihat jam tangan yang juga melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Aku pergi dulu, ya! bye!" pamit Arsen berdiri dari duduknya.


"Vino!" panggil Clarice, membuat Vino yang baru melangkahkan kakinya kembali berhenti dan menoleh ke belakang.


"Ya?"


"Thanks, ya!" ucap Clarice tulus, dan ia sudah berdiri sejak memanggil nama Vino tadi. "Kamu sudah membantuku untuk mengenal lebih jauh dengan bole basket." Cla tersenyum, sembari mengagumi ketampanan sang pemuda.


"Hemm..." Vino mengangguk datar. "Ya, sama - sama..." jawab Vino dan akhirnya ia benar - benar pergi meninggalkan area lapangan basket. Tanpa menoleh pada Clarice lagi.


Sementara Clarice masih mematung dengan seulas senyum tipis. Melihat lelaki mengarah pada gazebo yang ternyata di sana sudah ada beberapa murid laki - laki yang sudah berganti seragam futsal.

__ADS_1


"Thanks, Vino...." lirih Clarice.


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2