
Jika Kenzo dan Clarice sudah dalam perjalanan menuju apartemen. Maka berbeda dengan Gilang.
Paman tampan yang seharusnya saat ini bersiap untuk berangkat ke Bandara, justru tengah mengikuti sebuah motor matic yang dikemudikan oleh seorang wanita cantik, bernama Titania Azzahra.
Zahra kini berhenti tepat di depan sebuah sekolah Taman Kanak - Kanak. Sekolah yang identik dengan lukisan dan taman bermain yang berisi ayunan, jungkat - jungkit dan sejenisnya. Zahra langsung menemui penjaga sekolah, yang mana langsung masuk ke dalam area sekolah begitu melihat siapa yang datang.
Gilang yang mengikuti Zahra ikut memarkirkan mobilnya di tepi jalan. Memantau terus menerus apapun yang di lakukan Zahra dari jarak sekian meter.
Hingga dari pagar besi bercat hitam, keluarlah seorang anak berusia lima tahun yang di antar oleh seorang perempuan berseragam guru.
Gilang tak merasakan apapun saat melihat anak perempuan seusia Clarice itu. Ia hanya menatap lucu dan gemas, karena memang dia menyukai anak kecil.
Gadis kecil yang tak lain adalah Felia anak perempuan Zahra itu kini duduk di bagian depan motor Zahra. Dan Zahra kembali melajukan motornya.
Dari apa yang ia lihat, Gilang bisa menduga, jika gadis kecil itu adalah anak Zahra. Dan di titipkan di sekolah itu, kemudian di jemput saat ia pulang bekerja.
Kenapa demikian?
Hanya pertanyaan itu yang muncul di benak kepala Gilang.
Apakah tidak menyewa baby sitter?
Ataukah tidak ada orang sama sekali di rumahnya?
Ataukah memang suami istri bekerja semua?
Atau....?
Entahlah, Gilang hanya berandai - andai tanpa harus tau kebenaran tentang sosok kecil yang di jemput Zahra.
Gilang terus saja mengikuti kemanapun Zahra melajukan motor maticnya. Hingga Zahra masuk ke dalam gang sempit yang mana roda empat tidak bisa memasukinya.
Akhirnya Gilang hanya bisa menitipkan mobilnya pada tukang parkir di swalayan terdekat. Kemudian ia berjalan ke arah gang yang di masuki Zahra.
Tak di sangka ternyata Zahra mendorong motornya dengan posisi anaknya masih berada di atas motor dengan berdiri di belakang setir. Yang artinya memasuki gang itu memang di larang untuk menaiki motor seperti saat di luar gang.
Gilang terus mengikuti langkah Zahra dengan menjaga jarak aman. Ia tak memperdulikan tatapan aneh dari beberapa orang yang ia lewati. Ia hanya akan tersenyum jika ada yang menyapanya dengan ramah.
Mungkin sebagian dari mereka berfikir bagaimana bisa ada bule nyasar masuk gang sempit seperti dia? Apa dia gila?
Sampai akhirnya Zahra berhenti tepat di depan sebuah rumah kecil dua susun. Dari luar saja sudah bisa di tebak Gilang, jika rumah itu berukuran kecil.
Zahra memarkir motornya di teras rumah yang hanya berukuran satu meter dan panjang 3 meter saja. Kemudian membuka pintu rumah yang terkunci.
__ADS_1
Ya, Zahra memang janda yang hanya tinggal sendiri bersama sang anak perempuan yang masih duduk di bangku Taman Kanak - Kanak.
Zahra mengajak putrinya untuk masuk dan membersihkan diri. Jika sang putri sudah pulang dalam keadaan bersih,berbeda dengan Zahra yang masih bau polusi udara jalanan di jam pulang kerja.
Zahra kembali menutup pintu rumahnya untuk kemudian ia mandi. Dan meninggalkan putrinya untuk sesaat bermain sendiri.
Gilang pun melangkah mendekati pintu rumah Zahra. Namun ia tak langsung mengetuknya. Melainkan mengamati rumah sempit yang belum pernah ia lihat itu.
' Ada rumah sesempit ini... '
Gumamnya dalam hati.
Menarik nafas panjang, kemudian ia hela pelan, sebelum memutuskan untuk mengetuk pintu selebar satu meter, dan tinggi dua meter itu.
Tok tok tok!
Ketukan Gilang seketika di sambut oleh gorden yang terbuka di balik kaca bening yang berada di jendela dekat pintu. Dan munculah kepala gadis kecil yang ia lihat bersama Zahra tadi.
Karena Gilang yang menyukai anak - anak, reflek ia tersenyum dan melambaikan tangannya pada Felia yang menatapnya dengan penuh tanda tanya. Sama sekali tak ada senyuman dari gadis kecil itu.
"Mama! ada tamu!"
Gilang dapat mendengar teriakan gadis itu untuk memanggil Mamanya, yang tak lain adalah karyawan Adhitama Group.
"Siapa?" suara Zahra terdengar cukup jauh dari Gilang. Karena memang Zahra ada di dalam kamar mandi.
Bahkan setelah tau nama Felia, Gilang langsung berjongkok guna menyamakan tinggi dengan Felia, meski terhalang jendela.
"Jangan buka pintu, Nak!" suara Zahra kembali terdengar oleh Gilang.
Dan Gilang kembali tersenyum.
"Ya, Ma!" teriak Felia.
Takut melihat orang yang tak kenal berlama - lama, akhirnya Felia menghilang di balik gorden merah yang menutupi wajah lucu sang gadis kecil.
Clek Clek!
Suara kunci yang di buka membuat Gilang kembali menoleh pintu, setelah sempat berdiri membelakangi pintu.
"Pak Gilang!" pekik Zahra mendelik tak percaya, begitu melihat siapa yang datang.
"Selamat sore, Zah...ra!" sapa Gilang ragu. Mengingat nama Zahra. Karena yang ia kenal bukanlah berakhiran dengan nama Zahra.
__ADS_1
"Se..selamat so...re, Pak... Gilang..." jawab Zahra tergagap. Ia sama sekali tak menyangka Gilang ada di depan matanya. Di depan rumahnya yang sempit itu.
"Ba..bagaimana Pak Gilang bisa sampai di sini?" tanyanya ragu dan takut.
Tak langsung menjawab, Gilang tampak berfikir terlebih dahulu.
"Em... bisa kita bicara?"
"Bicara? Tapi..."
Zahra melihat kanan kiri dan juga melihat ke dalam rumah. Ia tinggal seorang diri dengan status jandanya. Rasanya tak mungkin memasukkan seorang laki - laki ke dalam rumah. Tapi jika bicara di depan rumah pun rasanya tak sopan. Apalagi jarak rumah dengan rumah yang lainnya sangat dekat. Bisa jadi obrolan mereka akan di dengar tetangga lainnya.
"Saya tinggal hanya sendiri, Pak..." lanjut Zahra lirih.
"Maksud ku kita bicara di luar." sahut Gilang yang menyadari posisi Zahra.
"Baiklah, saya siap - siap sebentar."
"Saya tunggu di sini."
***
Beberapa saat telah berlalu, kini Zahra sudah berada di dalam mobil Gilang. Begitu juga Felia yang duduk di kursi belakang. Zahra tampak sangat canggung berada di dalam mobil seorang anak bos, dan sekaligus adik kandung CEO nya.
Sepanjang perjalanan, Gilang tak berucap sapatah katapun. Ia hanya memikirkan tempat terbaik untuk membawa Zahra dan anaknya.
Hingga akhirnya ia memilih sebuah mall untuk menjadi tempat ia dan Zahra mengobrol.
"Have fun!" ucap Gilang pada Felia, saat menitipkan Felia di salah satu playground yang cukup aman untuk bisa ia tinggal bicara dengan ibu gadis itu.
***
"Sebenarnya apa yang ingin Bapak tanyakan pada saya?" tanya Zahra mengawali obrolan.
Tentu saja setelah Gilang memesan beberapa makanan di salah satu Cafe yang dekat dengan playground yang di tempati Felia bermain.
Gilang menarik nafas panjang, sebelum menjawab pertanyaan Zahra yang pasti akan ia balas dengan sebuah pertanyaan pula.
"Apa hubungan mu dengan Titania Azkayla?"
Seketika Zahra terperangah dengan pertanyaan Gilang yang sangat langka. Selama ini nama itu tak pernah ada yang menanyakan pada dirinya.
"Bapak mengenalnya?" tanya Zahra dengan sepasang mata yang membulat lebar. Wajah terlihat sangat kaku bahkan tegang.
__ADS_1
...šŖ“ Happy Reading šŖ“...
āļø Hari ini bukan 2 episode ya, kak.. Melainkan yang tadi pagi itu up kemarin, tapi baru lulus review š