
Pagi selanjutnya, tepat hari Sabtu. Hari libur untuk semua pekerja kantor. Baik pekerja swasta ataupun pekerja kantor pemerintahan. Kecuali mereka yang mendapatkan jadwal piket di hari libur.
Kenzo melajukan mobil CRV hitam miliknya menuju apartemen yang di tempati Calina. Rencananya hari ini ia akan membawa keluar gadis itu dari sarangnya. Menunjukkan pada Calina, jika dunia tidak sesempit apartemen miliknya yang di pinjamkan pada Calina. Apartemen yang bisa di tempati Calina sampai kapanpun gadis itu mau.
Sampai di depan pintu apartemen, ia menekan bel beberapa kali. Namun tak juga ada jawaban. Akhirnya ia memasukkan sandi apartemen itu.
Ya, tentu saja ia berhak masuk tanpa melalui standar SOP yang benar. Karena itu apartemen miliknya. Setidaknya ia sudah bersikap sopan dengan menekan bel terlebih dahulu sebelum masuk secara paksa.
Namun sesungguhnya, ada satu hal yang ada dalam benaknya. Khawatir jika terjadi hal yang tak di inginkan pada Calina. Bisa saja di saat sendiri gadis itu stress dengan status barunya yang menjadi janda muda.
Clek!
Handle pintu ia dorong ke dalam. Apa yang pertama kali ia lihat membuatnya mengangkat kedua alisnya. Seolah bertanya pada dirinya sendiri.
' Aneh! '
Gumamnya dalam hati.
Semua lampu utama tampak masih menyala, gorden masih tertutup rapat. Seolah belum ada perubahan sejak semalam.
Kenzo melihat jam tangan Rolex di pergelangan tangan kirinya. Dimana waktu menunjukkan pukul 8 pagi.
"Cal?" panggil Kenzo mengamati sekitar ruang tamu dan pantry yang menyatu dalam satu ruangan lurus.
Ia berjalan mendekati kamar kecil untuk tamu, dan jelas ruang sempit itu kosong. Ia beralih mendekati satu - satunya pintu kamar yang ada di sana.
Tok tok tok!
"Cal?" panggil Jio dari daun pintu bercat putih itu.
"Calina?" panggilnya mengulang.
Tok tok tok!
Sendi jari tengah yang tertekuk semakin kuat memukul pintu kamar yang di tempati Calina. Merasa tak juga mendapat jawaban, Kenzo akhirnya masuk ke dalam secara paksa. Dan beruntung, pintu tidak dalam keadaan terkunci.
"Apa yang terjadi?" gumamnya melihat ruang kamar yang berantakan, sangat berantakan.
Bed cover sudah antah berantah. Bantal sudah terlempar ke sembarang arah. Selimut tebal berwarna biru muda, teronggok di lantai. Berbagai alat kosmetik milik Calina, sebagian bahkan pecah berserakan. Tak lupa surat cerai yang baru di terima gadis itu kemarin siang, kini berantakan di lantai.
Sungguh, keadaan yang tak pernah di lihat Kenzo sebelumnya. Calina adalah gadis yang cukup memperhatikan kerapian dan kebersihan walau tidak terlalu detail.
"Calina! Kamu di mana!" seru Kenzo mulai panik.
__ADS_1
Ia masuk ke dalam kamar, dan langsung menuju pintu kamar mandi. Membuka dengan kasar, meskipun hasil ia dapatkan adalah zonk.
"Calina?" panggil Zio sembari berjalan ke arah pintu balkon.
Ia hempaskan gorden cream dan putih yang menutupi. Kemudian ia geser ke kanan dan ke kiri dua pintu balkon yang terbuat dari kaca itu. Dan tak menemukan siapapun.
"Calina!" teriak Kenzo.
Sekilas ia berfikir apa Calina pergi? Tapi kopernya bahkan tergeletak di lantai. Ponsel baru yang ia belikan, juga masih ada di meja nakas.
Sepasang mata menyapu ruangan. Hingga ia melihat selimut tebal yang teronggok bergerak naik turun dengan sangat pelan, nyaris tak terlihat.
Segera ia tarik selimut tebal itu, dan... Calina ada di balik selimut itu.
"Calina!" pekik Kenzo melihat kondisi Calina yang sangat berantakan. Bahkan rambut pun awut - awutan.
"Calina!" panggil Kenzo menepuk pelan pipi kiri Calina. "Calina, bangun! Ada dengan mu?" tanya Kenzo panik.
Tak sabar, segera saja ia siapkan tempat tidur untuk Calina. Ia pasang bedcover sebisanya dan memasang satu bantal sekenanya. Dan segera ia angkat tubuh Calina yamg sangat lemah itu. Pelan - pelan ia letakkan bunga desa di atas ranjang. Reflek ia sentuhkan punggung tangan di dahinya. Suhu tinggi mulai terasa di sana.
"Panas!" gumamnya.
Segera ia raih ponsel dari saku celananya. Dna menghubungi nomor dokter pribadinya. Dan juga satu nomor lagi, adalah petugas kebersihan apartemen.
Jika tidur, apa mungkin gadis cantik sepertinya tidur seperti kerbau?
Jika pingsan, sejak kapan?
Dan apa yang membuat sang gadis pingsan?
Di antara pikirannya yang berputar - putar, dua orang petugas kebersihan secara kompak merapikan kamar Calina yang nyaris seperti kapal pecah.
Hingga suara bel berbunyi, dan segera ia meminta salah satu petugas kebersihan membukanya.
"Selamat pagi, Pak Kenzo!" sapa dokter laki - laki yang sudah berusia sekitar 40 tahun lebih.
"Hem..." jawab Kenzo datar. "Kalian bisa keluar dulu!" ucap Kenzo pada dua petugas kebersihan.
"Baik, Pak!" jawab mereka bersamaan.
"Periksa dia!" perintah Kenzo pada sang Dokter.
"Baik, Pak!" jawab Dokter itu.
__ADS_1
Memanggil Kenzo dengan sebutan 'Pak', karena Kenzo salah satu orang yang wajib ia hormati. Sebagai anak pemilik Rumah Sakit yang ia tempati. Meski usia mereka jauh berbeda.
"Dia pingsan..." gumam Dokter itu duduk di tepi ranjang.
Berulang kali Dokter itu mengerenyitkan keningnya. Merasa aneh, tapi juga bertanya dalam hati siapa wanita ini?
"Selain demam, apa ada hal lain yang membuatnya tidak sadarkan diri?" tanya Kenzo yang masih duduk di kursi sofa yang sama. Tatapan matanya datar, namun menyimpan kekhawatiran yang samar.
"Sebenarnya siapa dia, Tuan?" tanya Dokter itu.
"Apa aku memberimu hak untuk bertanya siapa dia?" tanya Kenzo balik.
Sang Dokter hanya bisa kembali terdiam dan menghela nafas samar. Melihat kamar yang di penuhi dengan kosmetik yang baru saja di rapikan itu, ia yakin jika gadis itu tinggal di sana. Apalagi baju yang dikenakan adalah piyama, alias baju tidur.
"Kapan Pak Kenzo menikah? Kenapa tidak pernah memberi kabar pada kami semua?"
"Menikah? Memangnya kapan aku menikah?" tanya Kenzo sedikit sinis. "Apa hubungannya dengan pekerjaan mu ini, hah? aku meminta mu datang untuk memeriksa dia! Bukan bertanya kapan aku menikah!" amuk Kenzo kesal.
Sangat tidak wajar pertanyaan Dokter pribadinya ini. Kepala yang sedari tadi sudah bingung, sekarang semakin pusing. Ingin rasanya ia menonjok salah satu pipi lelaki dengan jas putih khusus itu.
"Maafkan saya, Pak! " ucap Dokter itu bernada penuh penyesalan. "Saya kira dia istri yang anda sembunyikan! semua anggota keluarga Tuan Adhitama saya tau, kecuali gadis ini."
"Apa - apaan kau ini!" teriak Kenzo mendelik. "Cepat katakan apa yang terjadi padanya! Jangan membahas yang lain!"
"Maafkan saya sekali lagi, Pak. Tapi gadis ini sedang... hamil..." jawab Dokter dengan sangat hati - hati.
"Hamil!" pekik Kenzo mendelik.
"Ya, Pak!" jawab Dokter itu. "Sebaiknya Bapak membawanya ke dokter kandungan. Atau bis meminta mereka untuk datang kemari.
"Kau yakin dia hamil?" Kenzo memicingkan matanya.
"Iya, Pak!" jawab Dokter itu yakin. "Saya akan meminta Dokter kandungan untuk datang kemari." jawab sang Dokter.
"Tidak perlu!" sahut Kenzo ketus. "Tinggalkan obat untuk menurunkan demamnya, dan pergilah!"
"Baiklah, Pak!" jawab Dokter itu pasrah. Dan bekerja sesuai perintah, yaitu pergi dari apartemen, setelah urusannya selesai.
Setelah Dokter pergi, Kenzo berdiri menghadap Calina dengan dada kembang kempis. Kedua tangan melilit resah di depan dada. Kenyataan ini memang benar - benar gila. Hidup gadis di depannya itu seolah tidak pernah beruntung.
' Jadi ini yang membuatmu frustasi? '
' Jangan khawatir! Kita akan selesaikan ini bersama! '
__ADS_1
...🪴 Happy Reading 🪴...