Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 136 ( Mulai Panas )


__ADS_3

Suasana yang sempat dingin kembali memanas ketika sang guru, alias Mrs. Maria menyampaikan hukuman yang di terima oleh masing-masing siswa.


Ketiga siswa itu di anggap layak untuk mendapatkan sanksi skors. Meski sebenarnya di sini Arsen di anggap tidak terlalu bersalah. Karena memposting apapun tentang kehidupan pribadi adalah hak masing-masing pengguna media sosial. Tidak terkecuali Arsen, si bocah tengil yang kedatangannya mengundang banyak perhatian siswi perempuan di sekolah.


"Harusnya Clarice juga sama seperti saya! Karena membuat saya jadi kotor begini!"


Gerutu Zuria dengan di sertai sebuah dengkusan singkat yang sangat keras.


"Zuria! jangan emosi!" dengkus Afrizal lirih pada sang putri.


Afrizal sadar, jika cara sang putri menyampaikan bisa mematik emosi seorang Kenzo yang ada di depannya. Selaku orang terakhir yang di ajak bicara oleh Zuria, dan lagi Kenzo adalah Ayah dari Clarice.


"Tapi Daddy, ini benar-benar tidak adil untuk Zuria!" jawab Zuria menoleh sang Ayah dan memberikan tatapan tegas pada sang Ayah. Seolah ia memang tidak main-main dengan protes yang ia layangkan. "Lusa adalah ujian tengah semester! kalau Zuria di skors, itu artinya Zuria tidak bisa mengikuti ujian itu dan nilai Zuria akan nol!" seru Zuria terengah.


"Daddy tau! tapi jaga bicara mu pada Tuan Kenzo!" hentak sang Ayah memperingati.


"Dasar tidak punya sopan santun!" seloroh Clarice, membuat Mommy Zuria yang bernama Gita itu sedikit mendelik.


Kalau saja yang mengatai bukan Clarice, sudah pasti Gita akan turun tangan untuk memarahi atau melakukan hal lain pada orang yang berani mengatai anaknya tidak punya sopan santun.


Tapi ini Clarice! meski ia asing dengan namanya, namun yang duduk di sampingnya adalah salah satu penentu bisnisnya tetap berjalan lurus tanpa hambatan.


Bukan hanya Gita yang mendelik, Zuria sendiri ikut menatap tak percaya pada selorohan Clarice. Ingin sekali Zuria membalas. Tapi, ia hanya bisa diam tanpa  melawan.


"Tapi, Dad..." bibir Zuria yang hendak melayangkan protes kembali akhirnya hanya bisa menganga tanpa suara. Ia ragu untuk kembali berucap. Mendengar peringatan sang Ayah, sedikit banyak membuat Zuria kembali mengingat siapa yang sedang ia hadapi.


Seorang pengusaha ternama Ibukota, yang nama perusahaannya terdaftar dalam daftar investor terbesar di perusahaan sang Ayah.


"Maafkan anak saya, Tuan Kenzo..." Afrizal mengangguk dengan rasa bersalah pada Kenzo yang tak berniat untuk menjawab permintaan maaf Afrizal.


Zuria menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa dengan sangat kecewa dan kesal. Kemudian matanya memicing tajam menatap wajah Clarice yang menatapnya balik dengan sebuah seringai yang tak semua orang tau artinya.


' Awas kamu, Clarice! kalau sampai aku tidak bisa ikut ujian, aku pastikan kamu juga tidak akan bisa ikut! '


Ujar Zuria di dalam hati. Nafas menggebu, meneriaki gadis cantik yang duduk dengan bangga di samping Ayahnya yang terlihat paling berpengaruh di ruangan itu.


' Tapi bagaimana kalau Daddy nya tidak terima dan semua jadi berantakan? '


' Bisa-bisa bisnis Daddy ku kena imbasnya! '


Hati Zuria terasa terbakar dengan apa yang sedang terjadi. Ia sungguh berada di posisi yang sangat tidak menguntungkan.


Sedangkan sedari tadi Kenzo mengamati pergerakan dan tingkah anak Afrizal yang semakin lama semakin memuakkan mata sang CEO.


Yang paling membuat sang CEO geram adalah ketika nada bicara Zuria yang semakin lama semakin meninggi, dan itu mengarah pada dirinya dan sang putri. Belum lagi tatapan gadis itu pada Clarice. Sebuah tatapan kebencian yang teramat dalam.


Sungguhlah baru kali ini ada yang berani meneriaki dirinya. Apalagi orang itu masih anak remaja 17 tahun.


' Baiklah... Game is on... '


Dada sang CEO bergemuruh saking kesalnya.


"Semakin kamu memberontak, kami bisa memberikan hukuman yang lebih berat buat kamu, Zuria!" ujar Mr. Faiz yang tidak suka cara Zuria menyampaikan protesnya. "Jadi bersikaplah yang baik selama musyawarah berlangsung."

__ADS_1


"Tolong maafkan putri kami, Mr." ucap Afrizal dan istrinya bersamaan.


"Pokoknya hukuman aku dan Clarice harus sama!" keukeh Zuria tak mau kalah begitu saja.


"Sekali lagi kamu protes dengan tujuan memperberat hukuman putriku, aku pastikan kamu dan orang tua mu yang akan menyesal!" sahut Kenzo yang mulai bosan dengan apa yang sedang ia hadapi di ruang BK. "Kau tau nama kku, harus nya kau juga tau siapa aku"! hentak Kenzo.


"Tuan, tolong maafkan putri kami!" ucap Afrizal memelas. "Dia hanya terbawa emosi, Tuan!" jelas Afrizal.


"Perilaku seorang remaja terlihat dari bagaimana orang tuanya mendidik!" desis Kenzo. Tatapan matanya mengerikan bagaikan sebuah tikungan tajam. "Dan kau lihat sendiri seperti apa perilaku anakmu..."


"Kami paham, Tuan Kenzo.. sungguh maafkan putri kami... Dan kami akan berusaha memperbaiki sikap Zuria." lirih Afrizal dengan penuh kerendahan diri.


"Daddy apaan sih!" lirih Zuria, sangat lirih, hingga hanya bisa di dengar oleh Afrizal seorang. Ia tidak terima seolah di akui oleh orang tuanya sendiri jika dirinya adalah anak yang buruk.


"Setiap orang tua pasti akan ikut menanggung kesalahan yang di buat anak-anaknya!" ucap Kenzo tanpa melihat siapapun yang ada di dalam ruangan itu.


"Jadi jangan salahkan aku jika sampai kamu ikut menanggung kesalahan putri mu!" dengkus Kenzo menoleh angker pada Afrizal yang seketika menarik nafas panjang karena saking gugupnya.


"Maaf, jika saya menyela!" sahut Mr. Faiz. " Saya rasa untuk saat ini... biarlah cukup anak-anak saja yang menjalani hukuman. Tolong untuk urusan dengan orang tua, bisa di selesaikan di luar lingkungan sekolah..." lanjut Mr. Faiz tak ingin mendengar ataupun terlibat dalam urusan yang menyangkut masing-masing orang tua.


Sedikit banyak Mr. Faiz sendiri juga pasti bisa menduga jika ada bisnis atau hal apapun yang menyangkut keduanya. Mengingat yang ada di sekolah itu rata-rata adalah anak orang kaya yang berlatar belakang sebagai pengusaha, atau juga anak pejabat.


Dan apa yang di ucapkan sang guru olah raga membuat Kenzo menghela nafas kasar. Tentu ia tau cara menghormati seorang guru. Dan yang lain pun hanya bisa diam membisu.


"Zuria, bersikap buruk di saat sedang di lakukan musyawarah seperti ini bisa memperberat hukuman kamu!" ucap Mrs. Maria. "Jadi berhentilah bersikap buruk dan membantah!"


"Hemmhh!" Zuria kembali membuang muka ke arah lain. Mendengus kesal dan resah. Ingin memberontak, tapi siapa sangka jika ternyata keluarganya terlihat begitu kerdil di ruangan ini.


Ancaman apapun yang sudah di ucapkan sang CEO akan benar di wujudkan. Karena sangat mudah bagi Kenzo untuk mewujudkan keinginannya.


Meski secara garis besar, gadis 17 tahun itu belum terlalu paham dengan urusan orang dewasa.


"Lantas.. apa perlu anak saya sampai harus di skors 1 hari, Mrs.?" tanya Rania yang seperti tidak rela pula sang anak di skors. Mengingat lusa sudah ujian tengah semester ganjil. Harusnya hari-hari terakhir ini jangan sampai tertinggal ulangan dan pelajaran dalam bentuk apapun.


"Benar!" sahut Jonathan. "Bukankah setiap orang memiliki kebebasan untuk bersosial media?" tanyanya. "Kita bebas memposting apapun juga, selama tidak melanggar sara."


"Sebenarnya kami para guru tidak pernah membatasi anak-anak menggunakan sosial media, asal apa yang di unggah dan apa yang mereka tuliskan tidak melanggar syariat, juga aturan yang sudah di bentuk oleh negara." jawab Mr. Faiz. "Hanya saja setiap postingan atau pun unggahan yang memicu kericuhan atau masalah di sekolah ini, sudah kami anggap sebagai pelanggaran, Tuan." lanjutnya.


"Kalau saja Zuria tidak sampai membuat kericuhan di kantin, misal hanya berbicara baik-baik dengan kepala dingin dan tanpa aksi bullying, maka Arsen akan terlepas dari hukuman semacam apapun, dan hanya Zuria serta Clarice saja yang akan kami beri arahan. Dan hukuman ringan jika diperlukan." sahut Mrs. Maria.


Mendengar namanya di sebut kembali, seketika Zuria memicingkan matanya tajam. Namun ia sudah ragu untuk kembali melayangkan protes. Kenzo Adhitama yang sudah membawa-bawa ke dalam urusan orang tu, rasanya sudah cukup untuk membuat dirinya takut jatuh miskin.


"Point pertama yang harus di perhatikan di sini adalah, saat pertama kali Zuria datang menghampiri Clarice dan Hanna, Zuria sudah menuangkan jus yang seharusnya masih bisa di minum, ke dalam piring Clarice yang mana spaghetti nya juga masih bisa untuk di makan." sambung Mr. Faiz.


"Dari situ sudah bisa di ketahui dalang dari permasalahannya. Dan yang membuat memperparah masalah adalah aksi adu mulut antara keduanya, yang berakhir dengan penyiraman di muka Zuria. Dan itu masuk ke dalam kesalahan Clarice, karena menjadi yang pertama melibatkan fisik." ujar Mrs. Maria.


"Itu karena dia mengatai Mommy ku murahan!" sahut Clarice menatap zuria dengan sedikit hentakan dalam berucap. "Demi apapun! aku tidak akan rela ada yang menghina Mommy ku! Siapa pun itu! Bahkan orang sudah tua sekalipun!" lanjut Clarice tidak memberi jeda pada siapapun yang ingin menyela.


Jika saja kalimat Clarice muncul beberapa saat yang lalu, mungkin Zuria sudah akan meneriaki sang anak sambung. Tapi ia sudah harus berfikir ulang, sehingga i hanya bisa mendengkus kesal dan benci.


"Cla..." lirih Mommy Calina mengusap lengan sang putri sulung.


"Dan jika itu terjadi di depan ku! maka bukan hanya wajah mu yang tersiram jus! tapi juga urusan yang lain juga aku pastikan akan terkena imbasnya!" desis Daddy Kenzo dengan tatapan yang memicing.

__ADS_1


Lagi-lagi Daddy Kenzo mengeluarkan ultimatum secara tidak langsung. Tentu itu membuat Afrizal dan istrinya semakin ketar-ketir. Saham Adhitama cukup besar di perusahaannya. Tidak akan semudah itu merkea rela kehilangan saham itu.


"Tolong maafkan kami, Tuan Kenzo... Saya rasa urusan seperti tidak perlu sampai pada urusan kita..." Afrizal mencoba untuk mengambil hati Kenzo dengan sikap baiknya.


Alih-alih menjawab, Kenzo justru menyeringai kejam.


"Maaf Tuan dan Nyonya, saya rasa untuk saat ini hanya ini yang bisa kami sampaikan," ucap Mr. Faiz ingin menyudahi ketegangan antara Kenzo dan Afrizal. "Tidak ada hukuman yang perlu di revisi kembali. Karena semua hukuman yang di jatuhkan, sudah sesuai dengan hukum dan aturan yang berlaku di sekolah ini. Jadi tidak ada tawar menawar lagi."


"Tujuan kami memanggil orang tua adalah supaya Tuan dan Nyonya tau, jika putra-putri kita dalam masa skors. Supaya tidak ada yang bilang berangkat sekolah, padahal mereka sedang di skors!" lanjut Mrs. Maria. "Kami berharap supaya orang tua bisa membantu kami para guru dalam membentuk karakter pada anak-anak kita. Apalagi mereka sudah berada di rusi remaja. Usia yang masih sangat labil. Mengingat waktu mereka bersama keluarga lebih banyak, di banding bersama kami..."


"Aku tau!" sahut Kenzo tanpa melihat dua guru yang sedang bertindak sebagai hakim.


"Baik!" sahut Jonathan. Lelaki dewasa yang tampak paling santai untuk saat ini. Tapi memang begitulah pembawaan seorang Jonathan Wilson.


"Baiklah..." jawab Afrizal dengan sangat berat dan berwajah masam.


Karena nasib anaknya yang tidak bisa mengikuti ujian selama dua hari sudah di depan amat. Bukankah itu artinya nilai sang gadis akan nol?


"Tapi bagaimana dengan nilai ujian tengah semester anak saya, Mrs.?" tanya Gita, Mommy Zuria.


"Ada satu cara yang bisa di lakukan untuk mengisi kekosongan nilainya, Nyona.." jawab Mrs. Maria.


"Apa itu, Mrs.?" tanya Gita penuh harap.


Bukan hanya Gita, tapi Afrizal dan Zuria juga ikut menatap sang guru.


Sang guru menatap satu keluarga tu dengan tatapan nanar dan juga ragu untuk berucap.


"Apa, Mrs.?" tanya Gita sudah tidak sabar.


"Zuria bisa mengikuti ujian di UKS sendirian, jika pihak Clarice memberikan izin. Mengingat kesalahan terbesar Zuria adalah mengatai Nyonya Calina yang merupakan Ibu kandung dari Clarice." jawab Mrs. Maria.


DEG!


Jantung tiga orang itu bagai di hantam batu sebesar karang. Di sambar petir di bawah panasnya terik matahari. Dan tusuk belati yang menghujam sampai menghilangkan detak jantung di dalam dada.


' Ini pasti jauh lebih sulit dari yang aku perkirakan... '


Gumam Afrizal dalam hati.


Sedangkan Kenzo menyeringai semakin kejam.


' Bagus! urusan ini tidak akan semudah itu kau selesaikan, Afrizal! '


Desis Kenzo dalam hati. Sebuah seringai semakin nyata terlihat di bibir tipis sang CEO.


...🪴 Bersambung... 🪴...


✍️ Duh, kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya?


Stay tune di Cinta yang Tak Ku Rindukan, yaaa 🥰


Salam Lovallena, 🤩

__ADS_1


__ADS_2