
Zio berjalan memasuki lobby perusahaan dengan langkah buru - buru karena sudah jam di pergelangan sudah menunjukkan hampir jam 8. Meski ia seorang GM yang di hormati banyak karyawan, tak lantas membuat Zio terbiasa datang seenaknya.
Zio melangkah cepat, melewati penjagaan security di depan pintu lobby yang menyapa hormat padanya. Dan saat pintu kaca terbuka otomatis, bersamaan dengan datangnya sebuah mobil Alp*rd berwarna putih tepat di depan lobby.
Sadar jika sang bos besar datang, maka Zio pun menoleh ke belakang. Daddy tiri putrinya itu telah tiba. Meninggalkan segala keegoisan di luar sana karena masa lalu, saat di dalam kantor ia hanyalah seorang anak buah dari seorang Kenzo Adhitama. Sehingga ia memilih untuk menunggu kedatangan Kenzo di lobby, dan kemudian menaiki lift secara bersamaan seperti biasa yang ia lakukan sebelum hari itu datang.
"Selamat pagi, Pak Kenzo.." sapa security yang ada di depan pintu lobby.
"Hm.." balas Kenzo datar, tanpa melihat kanan kiri ataupun memperhatikan wajah security yang sedang bertugas.
"Selamat pagi, Pak Kenzo!" sapa Zio sedikit datar, namun tak terlihat menantang ataupun tidak sopan.
Kenzo tau kenapa sang GM bersikap seperti itu. Bahkan wajahnya di pagi hari terlihat lelah.
"Hemm.." jawab Kenzo mengangguk pelan, dan hanya satu kali anggukan.
Keduanya pun masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan secara bergantian seperti biasa. Zio akan masuk, setelah Kenzo memposisikan diri di dalam lift, dan ia akan berdiri sedikit di belakang sang Bos. Dan mereka hanya berdua di dalam lift itu.
"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Kenzo menahan rasa ingin tertawanya di dalam perutnya. "Lelah?" lanjutnya dengan sedikit senyum mengejek di ujung bibir. "Tumben juga kamu terlambat?"
"Saya tidak menyangka, merawat anak seorang diri saat pagi benar - benar melelahkan dan rumit." keluh Zio.
Kenzo pun tak lagi sanggup menahan bibirnya yang ingin tertawa. Namun i berhasil menahan di tenggorokan, dan hanya terjadi senyum miring di bibirnya.
"Sekarang kamu tau, kan? rasanya merawat anak seorang diri?" tanya Zio. "Padahal Clarice sudah sebesar itu, bayangkan saat ia baru lahir dulu, sampai ia berusia 3,5 tahun. Usia yang sangat rumit untuk di rawat seorang diri. Bayangkan jika sampai saat itu Calina juga harus bekerja."
Zio terdiam. Ya, itu pasti menjadi hal terberat untuk di lalui seorang wanita sendirian.
"Jadi maksud Bapak, saya harus berterima kasih pada anda, karena sudah menjadi dewa penyelamat untuk Calina dan anak saya, begitu?"
Kenzo melirik Zio dengan menahan kesal. Bukan itu yang ia masukkan ke dalam otak duda dari istrinya itu. Melainkan memintanya untuk membayangkan perjuangan Calina semasa tidak ada suami di sampingnya.
"Terserah kau sajalah.." pungkas Kenzo malas melanjutkan penjelasannya.
Suasana hening untuk beberapa detik.
"Kamu sudah siap, jika nanti semua orang akan menanyakan kenapa Clarice memanggil mu Papa dan aku Daddy?" tanya Kenzo.
"Siap atau tidak siap, semakin cepat semua orang tau, akan semakin baik. Tidak mungkin kita terus menyembunyikan semuanya, bukan?" tanya Zio mengubah nada bicara menjadi formal. "Apalagi Clarice sering datang ke kantor ini."
"Ya, kamu benar! Pada akhirnya semua memang harus tau.." jawab Kenzo yang sepemikiran dengan Zio. " Apa ada yang sudah tau tentang semua ini?"
"Ada.." jawab Zio.
"Siapa?" tanya Kenzo menatap Zio dari pantulan dinding lift.
"Zahra...." jawab Zio.
"Bagaimana dia bisa tau?" tanya Kenzo penasaran. "Apa jangan - jangan kau kembali menjalin hubungan dengan karyawan ku diam - diam?" tanya Kenzo sedikit menghentak.
__ADS_1
"Oh my God! sama sekali tidak, Bapak!" jawab Zio serius. "Kemarin kami tidak sengaja bertemu saat saya membawa Clarice jalan - jalan di mall"
Kenzo merasa lega jika memang apa yang di ucapkan Zio adalah benar.
"Ingat! sekali lagi kau menikah diam - diam dengan salah satu karyawan ku, aku akan mendeportasi mu dari Adhitama Group! tidak ada kesempatan kedua bagi pengkhianat aturan perusahaan!"
"Yes, Daddy! I knooww...." jawab Zio menirukan gaya bicara Clarice yang sering menjawab dengan kata 'Yes, Papa! Yes, Daddy! Yes, Mommy!'.
Kenzo mengulum senyum di bibirnya. Tanpa sadar tentu ia merindukan sang anak tiri yang untuk pertama kali sejak ia menikahi Calina gadis kecil itu tak tidur di apartemen mewahnya.
"Aku tidak melarang mu menikah dengan karyawan di sini. Asal kamu memenuhi syarat perusahaan. Kalian harus keluar salah satu." ujar Kenzo. "Dan saran ku kalau kamu ingin mendekati Zahra, kalian harus sepakat. Misalnya pinta Zahra mengajukan resign sebelum hari pernikahan kalian tiba."
"Ya, Bapak Kenzo... saya tau...." jawab Zio setengah bercanda.
Kenzo pun hanya menyebikkan bibirnya. Tidak tersinggung pula dengan perubahan sikap Zio yang dulu sangat tunduk dan hormat padanya.
Ya, kini... setelah konflik yang ada nyatanya, mau tak mau harus membuat keduanya tetap kompak. Dan tidak perlu lagi terasa kaku. Selama tidak ada karyawan bersama mereka, bagi Kenzo it's fine!
"Saya duluan, Pak Kenzo!" pamit Zio saat pintu lift terbuka di lantai ruangannya.
"Kau atau aku yang menjemput?" tanya kenzo lirih.
"Saya.." jawab Zio lirih pula.
"Setengah sebelas! jangan sampai terlambat" sahut Kenzo.
***
Jam sebelas siang yang di minta Kenzo untuk menjemput Clarice telah tiba. Zio pun sudah berangkat sejak sepuluh menit yang lalu. Ia tak ingin melewatkan momen menjemput sekolah tepat waktu untuk pertama kali.
Sementara Kenzo melirik jam di tangannya. Biasanya dia yang saat ini sedang dalam perjalanan memasuki gedung sekolah. Pria itu kini hanya memandangi dinding kaca yang memperlihatkan gedung sekolah Clarice yang dapat di lihat dari ruang kerja nya.
Dan saat angannya terbawa oleh sang anak tiri yang ia anggap seperti anak kandung, tiba - tiba ponsel di atas meja berdering. Nama sang adik muncul di layar beserta sebuah foto maskulin sang adik.
"Ya, Gil?" jawab Kenzo..
"Apa Kakak sudah menjemput Clarice?" tanya Gilang. "Kalau belum, biar aku yang jemput. Kebetulan ini sudah dekat dengan sekolah Clarice."
"Ehm... tidak perlu jemput Clarice..." jawab Kenzo dengan nada suara yang tak biasa.
"Lah? kenapa? dia tidak sekolah?"
"Sekolah... lebih baik kamu menemui ku di kantor! banyak hal yang harus aku jelaskan padamu!"
"Tentang?"
"Clarice!"
"Clarice?" pekik Gilang terbelalak. "Ada apa dengan Clarice, Kak?" tanyanya panik.
__ADS_1
"Lebih cepat kau sampai di kantor, maka semakin cepat kau mengetahui semuanya!"
"Baik, Kak! Aku akan cepat sampai!" jawab Gilang, segera mengakhiri panggilan dan segera menekan pedal gas lebih dalam.
Dear, Lord! ada dengan Clarice? kenapa ini sangat penting?" gumam Gilang sembari memfokuskan diri untuk melihat e arah depan, juga tiga spion untuknya.
***
Begitu sampai di parkiran perusahaan, Gilang segera berlari memasuki gedung. Dann melesat masuk ke dalam lift khusus, untuk bisa segera sampai di lantai tertinggi.
"Kak!" panggil Gilang membuka pintu dengan sedikit terengah. Selain karena berlari, juga karena panik, khawatir sesuatu yang buruk tengah menimpa sang keponakan.
"Duduklah dulu!" pinta Kenzo tanpa menoleh sang adik.
"Ayo, Kak! cepat ceritakan! ada apa dengan Clarice?" kejar Gilang setelah ia duduk di kursi tamu sang Kakak.
Kenzo membalikkan badan, menatap lekat wajah tampan yang nyaris sama dengan dirinya.
"Cepat, Kak!" hentak Gilang. Kesal karena sang kakak membuatnya sangat penasaran.
Kenzo pun duduk di singgasananya. Ia menoleh beberapa mainan Clarice yang tadi ia keluarkan dari laci. Karena sudah rindu dengan si peri kecil.
"Zio dan Clarice sudah bertemu..."
Jawaban Kenzo membuat matanya Gilang terbelalak, lidah tercekat dan nafas nyaris tertahan. Belum bisa bertanya, namun dalam pikiran lelaki itu di penuhi tanda tanya.
Apakah suatu keributan besar baru saja terjadi?
"Cepat jelaskan, Kak!"
Kenzo pun menceritakan segala sesuatu yang terjadi beberapa hari terakhir. Dari datangnya Zio di apartemen, sampai Clarice yang di bawa Zio semalam. Hingga obrolan di lift tadi.
"Benar kalian baik - baik saja?" tanya Gilang yang masih khawatir jika semua belum benar - benar damai.
"Hemm..." jawab Kenzo mengangguk. "Bagaimana pun memang sudah seharusnya kami berbesar hati menerima jika kasih sayang Clarice akan terbagi untuk kami.
"Aku harap tidak akan ada masalah saat nanti Zio datang bersama Clarice di kantor!" gumam Gilang penuh harap.
"Ya! kamu benar!" sahut Kenzo. "Aku juga mengharapkan hal yang sama."
***
Sementara mobil Zio sudah memasuki area parkir perusahaan bersama Clarice di sampingnya, tepat jam 12 siang. Karena keduanya mampir di salah satu resto junk food.
"Ayo, Papa!" seru Clarice membuka sabuk pengaman.
"Yes, Baby.." jawab Zio.
...🪴 Bersambung ...🪴...
__ADS_1