
Setelah merasa diri lebih baik, kini Clarice yang ganti duduk bersama dengan 3 teman perempuannya. Hanya saja keempatnya sudah berpindah di gazebo yang letaknya lebih jauh dari lokasi arena bermain bom bom car. Sedangkan Arsen, Naufal dan Vino beradu di sana.
Jika biasanya beradu di arena Bom Bom Car di lakukan dengan canda tawa dan suka cita oleh semua pengemudinya, bahkan bertabrakan dengan orang yang tak di kenal pun akan tetap terlihat happy dan tidak ada dendam setelah keluar dari wahana itu.
Maka lain hal dengan dua pemuda yang sedang sama-sama menekan pedal gas di kaki kanan masing-masing.
Seolah sama-sama dan saling mengincar bahkan sebelum duduk di bangku kemudinya, keduanya terus berusaha untuk menemukan celah agar bisa menabrak satu sama lain dengan keras.
Berulang kali bagian bawah mobil yang berlapis bahan karet hitam itu bertabrakan dengan sangat kencang dan keras. Hingga tubuh tinggi mereka menghentak ke atas dan kembali jatuh di kursinya dengan menyisakan sedikit rasa sakit pada bagain-bagian tubuh tertentu.
Beruntung sabuk pengaman bekerja dengan sangat baik. Jika tidak, pasti keduanya sudah terpental ke atas dan keluar dari bumper car yang berada di bawah kendali mereka.
Emosi yang terpendam di dalam dada benar-benar menguras kenyataan jika keduanya pernah bersahabat erat di masa lalu. Benar-benar mengubur dalam canda tawa yang pernah mereka lontarkan di awal-awal persahabatan.
Bahan karet hitam dari masing-masing mobil menghantam tanpa henti di setiap ada kesempatan. Berulang kali pula senyum culas terbit dari masing-masing bibir.
Seolah saling mengejek dengan menunjukkan kehebatan dan keunggulan masing-masing, tapi bukan keahlian mereka dalam menguasai setir bom bom car yang di adukan saat ini, melainkan dalam hal yang lain. Di mana hanya keduanya yang tau.
Apa itu?
Perang dingin benar-binar terasa dan terlihat di antara keduanya. Hanya saja tidak ada orang lain yang menyadari hal ini. Bahkan Naufal sendiri yang ikut tergabung ke dalam satu waktu permainan tak menyadari jika ada yang tidak beres dengan kedua sahabatnya itu. Ia menganggap tabrakan hanya aksi seru-seruan semata.
Karena keduanya begitu pandai untuk bersandiwara dengan langsung mengubah ekspresi wajah mereka ketika bertemu dengan Naufal, atau bertabrakan dengan pemuda slow yang tidak terlalu banyak tingkah seperti Naufal.
Hingga akhirnya 5 menit telah berlalu dengan aksi saling kejar dan serang satu sama lain. Dan ketika keduanya berputar dari arah yang berlawanan, keduanya menekan pedal gas dengan sangat dalam. Karena tidak ada lagi mobil yang menghalangi, maka keduanya merasa ini adalah waktu yang tepat untuk saling menabrak satu sama lain.
' Mampus kau di tanganku, Vino! '
Desis Arsen di dalam hatinya. Sebagai pembalap yang terbiasa memperkirakan jarak dan waktu, ia sungguh tepat dan presisi untuk menentukan posisi yang tepat untuk menabrak lawan. Dan ia juga cukup pintar menghitung waktunya.
' Cla masuk angin saja kau hanya bisa duduk tanpa tau harus berbuat apa! Pulang saja sana! Cla tidak membutuhkan manusia tidak berguna seperti mu! '
Emosi yang terbawa sampai ke aliran darah terus terasa semakin mendidih bagai air yang di panaskan hingga melampaui 100 derajat celcius. Terus mengeluarkan buih yang semakin besar di sertai dengan asap panas yang mengepul di udara sekitarnya.
Membuat yang panas semakin panas, hingga tanpa sadar, panasnya pasti akan terasa oleh apa yang ada di sekitar keduanya. Tidak kini, mungkin saja nanti.
Arsen dan Vino sama-sama menekan pedal gas dengan sangat kuat untuk bersiap bertabrakan di tengah arena.
Arsen tersenyum miring dan culas. Dalam ekspresi ini, sang pembalap sungguh terlihat sangat tampan dan membuat gadis-gadis yang sedang mengantri saling melempar pujian untuk sang pemuda dengan temannya sendiri.
Vino pun tak kalah gigih kali ini. Sang Atlit sangat yakin jika tabrakan yang akan terjadi pasti sangat kuat, dan ia sudah bersiap dengan tubuhnya yang pasti akan terhentak ke udara. Dan ia sudah yakin jika sabuk pengaman pasti akan melindungi dirinya dengan sangat baik. Seulas senyum percaya diri terpancar dari bibir sang pemuda.
Ciittt!!!
Melaju dengan kecepatan maksimal, dua bom bom car siap untuk bertabrakan beberapa detik yang akan datang. Tangan para pemuda 17 tahun itu sudah menggenggam erat kemudi masing-masing dan semakin erat di detik-detik terakhir untuk mobil menubruk satu sama lain.
Dan siapakah yang akan terpental paling sakit ketika tubrukan itu terjadi?
Mungkinkah sang atlit yang tidak terbiasa mengendalikan kemudi di arena balap?
Atau justru sang pembalap yang terbiasa dengan pertempuran di arena balap yang akan terhentak lebih tinggi dan lebih sakit ketika menghantam bodi bom bom car bagian dalam?
Mobil sama-sama melaju dan detik terakhir sudah bisa di rasakan oleh Arsen yang terbiasa memperkirakan waktu di arena balap, tapi sungguhlah takdir tidak merestui semua ini. Waktu yang sudah di perkirakan Arsen akan sampai untuk menabrak sang Atlit, nyatanya mobil justru tiba-tiba berhenti di detik terakhir, di mana jarak dua karet hitam mobil hanya menyisakan jarak 5 cm saja.
__ADS_1
Dan itu membuat kedua pemuda memukul kemudi masing-masing dengan sangat keras, karena ketika mobil itu berhenti mereka tidak bisa lagi melanjutkan apa yang menjadi niat keduanya. Di tambah tatapan yang tajam menghunus satu sama lain. Menusuk jantung masing-masing. Bibir keduanya tertutup rapat dengan gigi yang mengerat kuat di dalam sana.
Tatapan setengah membunuh satu sama lain itu bertahan sampai beberapa detik berikutnya. Hingga mau tak mau keduanya harus turun dari mobil dan berjalan menuju pintu keluar. Karena mobil akan di gunakan oleh pemain yang lain.
"Came on!" ajak Naufal yang sudah berjalan keluar lebih dulu. Pemuda satu ini sama sekali tidak melihat gurat aneh di wajah kedua sahabatnya.
"Ingat! kesempatan mu hanya satu kali!" desis Arsen ketika keduanya berjalan beriringan menuju pintu keluar.
Arsen melangkah dengan langkah dingin dan sorot tajam bagai singa yang mengincar mangsanya. Sedangkan Vino juga melakukan hal yang sama. Berjajar dengan jarak tak lebih dari 1 meter, keduanya justru tidak saling tatap. Tapi bibir saling melempar kalimat yang mengintimidasi satu sama lain.
Tersenyum miring. "Bersiaplah untuk kalah, Arsenio Wilson..." jawab Vino dengan suara lirih yang hanya bisa di dengar oleh Arsen seorang.
"Cla masuk angin saja kau seperti orang bodoh yang hanya mengandalkan pertolongan orang lain..." balas Arsen saat keluar dari pintu pagar pembatas.
Vino menarik nafas panjang, menyadari kesalahannya kali ini.
"Jika orang lain yang bermasalah dengan Clarice seperti Zuria, mungkin ia hanya akan jatuh di tangan seorang Kenzo Adhitama. Tapi jika kau yang bermasalah dengan Clarice, bukan hanya seorang Kenzo Adhitama yang akan menghancurkan kamu dan keluarga mu... Tapi tanganku akan ikut mencekik mu..." tandas Arsen tanpa berfikir panjang sebab akibat dari ancamannya dengan hukum yang berlaku di negeri ini.
"Jangan coba bermain-main dengan hatinya!" desis Arsen memicing tajam pada rivalnya itu. "Karena itu artinya kau bermain-main denganku!"
"Dan itu tidak akan pernah terjadi..." jawab Vino santai. "Tunggu saja kabar resminya aku dan Clarice berpacaran!"
"Cih! Jangan terlalu percaya diri, boy!" ucap Arsen mengingatkan dengan sedikit acuh. "Satu tetes air mata Clarice, akan aku buat menjadi penyesalanmu yang tidak akan pernah kau lupakan. Dan aku akan membawa Clarice jauh dari pandangan matamu... Dan tidak ada kata maaf setelah itu!"
Tersenyum culas, Vino sangat yakin jika Clarice masih mengagumi dirinya seperti keyakinannya selama ini, juga dari cerita Arsen pada beberapa waktu yang lalu.
"Dia sudah menyukai aku sejak kelas X!" jawab Vino. "Aku yakin perasaan nya tidak akan semudah itu berubah.
"Dan aku tidak peduli!" tegas Arsen. "Apapun bisa berubah seiring berjalannya waktu, wahai Tuan Muda Lubis..." ucap Arsen dengan senyum kecil setengah mencibir.
Saling mengancam satu sama lain. Saling menyakinkan diri, jika keduanya sama-sama pantas untuk Clarice. Hanya tinggal menunggu kesepakatan yang di bangun keduanya saat liburan sekolah beberapa bulan yang lalu itu terjawab.
Seperti apa kesepakatan sang pembalap vs sang Atlit?
Semua masih menjadi misteri.
"Urus saja Shandy! Dia juga cantik! Bisa membantumu untuk melupakan Clarice!" celetuk Vino mengalihkan pandangannya dari tatapan Arsen. "Clarice juga menduga kalian berpacaran..."
"Shandy bukan urusanmu..." desis Arsen sudah sangat kesal karena Vino menyerempet nama yang menurut Arsen tidak ada urusannya dengan Clarice.
"Tch!" Vino berdecih, mencibir Arsen yang seolah tidak tegas dengan keberadaan para gadis yang dekat dengannya. "Kasihan dia kalau hanya kau jadikan pelarian..."
"Aku bilang Shandy bukan urusanmu... Berhenti mengurusi urusanku dengan Shandy!" tegas Arsen dengan dada yang bergemuruh.
"Hahah!" gelak Vino seolah mencemooh Arsen yang terlihat semakin muak dengan apa yang ada. "Dasar buaya!"
"Bukankah sesama buaya sebaiknya diam?"
***
"Cla sudah baik-baik saja berkat teh hangat dari Arsen! Sekarang kita ke rumah hantu, yuk?" ajak Gwen antusias.
"Setuju!" sahut Hanna dan Shandy bersamaan. "Tapi aku belum pernah!"
__ADS_1
"Sama!" sahut Cla.
"Tak apa... itu hanya hantu buatan manusia, Kak!" sahut Shandy.
"Tetap saja seram..."
"Ya sudah, ayo kita coba!" ujar Hanna meyakinkan dirinya tidak akan takut, asal masuk bersama.... Ya, begitulah.
Sedang para lelaki sudah menjadi kebiasaan mereka untuk mengikuti keinginan para gadisnya.
Maka kini semua sudah memasuki pintu The Conjuring House, setelah mengantri sekitar setengah jam lamanya.
The Conjuring 2 yang merupakan sebuah judul film hantu Hollywood yang rilis pada tahun 2016 dengan hantu andalan mereka yang di sebut dengan Hantu Valak itu di adaptasi menjadi salah satu wahana favorit bagi banyak anak muda yang ingin menguji nyali mereka dengan nunsa jeritan akibat bertemu hantu yang sesungguhnya hanyalah tipuan.
Meski begitu nuansa yang di hadirkan oleh rumah hantu satu ini benar-benar cukup mencekam. Sampai selalu berhasil membuat pengunjungnya berteriak histeris saking takutnya dengan cara mereka membuat pengunjung kaget.
Masuk secara acak alias random, dan hanya di perbolehkan maksimal 5 orang saja membuat ketujuh anak muda itu harus masuk dengan di bagi menjadi dua kelompok. Tanpa bisa memilih, akhirnya mereka masuk sesuai urutan antrian.
Sesungguhnya mereka bisa membuat tim dengan cara empat perempuan masuk bersama, dan tiga laki-laki di kloter berikutnya. Atau bisa juga kloter pertama dua pasang anak muda yang menjalin kedekatan, seperti pasangan Naufal - Gwen dan Arsen - Shandy.
Dan Vino bersama dua gadis cantik yang memang sejak awal berjalan bersama.
Hanya saja takdir tidak membuat demikian. Kloter pertama ada Hanna, Arsen, Clarice dan, Vino. Sedang Shandy, Gwen dan Naufal ada di kloter berikutnya. Dan itu membuat laki-laki satunya di dalam tim itu akan menjadi bahan tarikan utama ketika kedua gadis bersamanya merasa takut.
Langkah pelan di tengah kegelapan atau minim penerangan itu membuat keempat anak muda di kloter pertama hanya bisa mengenali teman mereka melalui suara masing-masing yang pasti sudah hafal di luar kepala.
Arsen memilih untuk mengambil posisi paling depan, seorang diri. Tentu saja tujuan utamanya sesungguhnya untuk menghindari interaksi yang selalu menimbulkan bara api di antara keduanya.
Di belakang Arsen ada Clarice dan Hanna yang berdampingan bahkan Clarice memeluk erat lengan Hanna.
Dan yang paling belakang ada Vino. Karena tau jika di dalam minim penerangan bahkan nyaris gelap, memilih sejak awal memasuki wahana itu sudah mengingat posisi Clarice ada di sebelah kiri. Tanpa ia pikir panjang, jika sudah ketakutan posisi bisa saja berubah.
Satu persatu ruangan yang mereka lalui berhasil membuat kedua gadis yang menjadi icon peneriak ulung untuk saat ini. Cla dan Hanna saling menjerit satu sama lain. Berbeda dengan Arsen dan Vino yang hanya mengalami kaget-kaget saja. Dan sedikit teriakan kecil dan singkat.
Ini bukan kali pertama untuk para lelaki masuk, sehingga ketiganya tampak lebih santai di banding para gadis. Hanya hentakan kecil karena kaget saja yang sempat mereka tunjukkan.
Hantu Valak yang menjadi ciri khas rumah hantu satu ini muncul di waktu yang tak pernah di duga sebelumnya Clarice dan Hanna yang baru pertama kali masuk wahana satu ini.
Tak peduli jika sang pemuda sedang bersikap dingin padanya, jemari tangan kiri Cla sejak di rasa semakin mencekam sudah meremas kaos bagian belakang yang di kenakan oleh Arsen.
Tentu saja Arsen tau siapa yang sedang menarik kaosnya meski ia tidak melihatnya sekalipun. Dan tentu saja sang pembalap membiarkan hal ini terjadi. Justru jika bisa, pastilah ia memilih untuk memeluk tubuh ramping di belakangnya itu.
Melintasi ruangan yang paling gelap, sosok Valak muncul tepat di samping Clarice, dan itu membuat Hanna dan Clarice berhamburan tidak karuan. Bahkan pegangan tangan mereka terlepas dan tak bisa menemukan lagi satu sama lain.
Berlari ke sembarang arah, tanpa berpikir untuk mencari perlindungan pada dua lelaki yang hanya tersentak kaget di sekitarnya. Dan sialnya yang di masuki dua gadis itu bagai ruang buntu, karena tidak menemukan jalan selanjutnya. Yang ada hanya bermunculan makhluk seram dengan suara aneh.
"AAAA!" jerit sang mantan ketua Cheerleader menutup mata dan telinganya menggunakan tangan. Hingga tanpa sengaja tubuh dan wajahnya menabrak sesuatu yang dapat di perkirakan itu adalah tubuh manusia.
"AAA!!" jeritnya tertahan karena mengira itu adalah hantu jadi-jadian yang sedang mengusik dirinya dengan sengaja.
Tapi yang di rasakan Cla bukan hanya takut, karena tiba-tiba tangan dari pemilik tubuh itu merambat dan melingkar di punggungnya.
"Ini aku..."
__ADS_1
Suara berbisik sangat lirih seolah menghentikan aliran darah yang mengalir di tubuh sang gadis. Bahkan nafas pun sempat tertahan dan tersengal oleh suara ini.
...🪴 Bersambung ... 🪴...