
Clarice pulang bersama Daddy dan Mommy nya setelah acara perdamaian dan pemberian hukuman selesai. Satu hal yang belum di dapatkan Cla. Yaitu pencerahan hati ala Mommy Calina yang tidak selalu menggunakan cara yang lembut, karena kadang-kadang Mommy Calina juga ingin berteriak jika anak-anaknya kelewat nakal.
Memasuki kamarnya dan dengan cepat ia melesat ke kamar mandi dengan membawa satu set baju ganti. Membersihkan diri dari sisa-sisa spaghetti yang lengket. Hingga ia akan membutuhkan baju baru untuk sekolah di hari senin depan.
Tak masalah, orang tuanya memiliki saldo rekening yang tak terhingga dan tanpa batas. Bahkan ia sendiri bisa untuk membeli seragam baru tanpa harus pikir panjang karena sayang atau pun bagaimana.
"Zuria benar-benar menyebalkan!" gerutunya di bawah guyuran air shower yang jatuh di punggungnya. Memberikan pijatan-pijatan kecil di atas kulit remajanya yang putih nan mulus, kemudian meluncur sampai ujung kaki dan terbawa arus menuju pembuangan air kotor.
Selesai dengan serangkaian kegiatan bebersih di kamar mandi, Cla langsung keluar dengan sudah berpakaian lengkap. Namun masih ada satu handuk putih berukuran 50x100 cm yang membungkus kepalanya akibat rambut yang basah.
Cla membuka pintu kamar mandi, dan ...
"Sudah selesai, Cla?"
Suara lembut dan mendayu terdengar begitu memenuhi kamar Clarice yang berukuran cukup besar. Membuat sang gadis melompat kaget, hingga reflek mundur satu langkah ke belakang.
"Mommy!" reflek Clarice. "Mommy mengagetkan Cla saja!" tandas Clarice memegangi dadanya.
Sungguh sama sekali ia tak menyangka, jika sang Mommy akan muncul di dalam kamarnya, dan duduk dengan manis di tempat tidurnya yang super empuk dan mewah...
Ya! Kamar tidur satu-satunya anak perempuan di rumah itu memang lebih besar dan mewah bak kamar princess dari negeri dongeng.
Semua tak lepas dari keinginan Clarice yang selalu di turuti oleh sang Daddy. Sampai harus mendatangkan desainer interior khusus hanya untuk mendekor kamar anak-anak.
"Sudah selesai mandinya?" tanya sang Ibu dengan suara yang lembut khas keibuan.
"Sudah, Mom..." jawab Clarice sudah bisa menebak untuk apa sang Mommy memasuki kamarnya sore itu.
"Duduklah..."
Clarice melirik kanan kiri, mencari tempat terbaik untuk dia bisa duduk di posisi yang aman. Tanpa mendengar teriakan sang Mommy, jika seandainya Mommy marah dengan mengeluarkan jurusnya.
Akhirnya Clarice memilih untuk duduk di kursi meja rias. Duduk dengan tubuh yang sedikit kaku, sembari mengusap rambutnya yang basah menggunakan handuk. Menunggu sang Ibu mengeluarkan kalimat pertamanya.
"Ada apa, Mommy? Tumben Mommy ke kamar Cla di jam seperti ini?" tanya Clarice dengan ragu. Tapi harus ia lakukan.
Mommy Calina yang menatapnya lekat padanya, akhirnya berdiri, dan berjalan pelan ke arah sang putri yang duduk membelakangi meja rias.
Meski wajah Mommy Calina terlihat biasa saja, namun dada Clarice sudah bergemuruh kencang. Jika ada pilihan lain, tentu Clarice akan memilih pilihan yang lain. Misalnya... keluar dari kamar.
Mengambil posisi di hadapan sang putri, Mommy Calina meminta sang gadis untuk berputar dan menghadap cermin.
Setelah Clarice menghadap cermin dengan benar, Mommy Calina menatap sang putri dengan tatapan lekat dan penuh kasih sayang.
Tapi siapa sangka, tatapan itulah yang membuat Clarice saat ini lebih baik pingsan dari pada harus melanjutkan cerita selanjutnya.
Karena yang terjadi adalah... Pencerahan dari sang Ibu dan itu selalu membuat Calina merasa di penuhi rasa bersalah dan menyesal. Tapi apalah daya, sebagai anak wajib mendengarkan ketika orang tuanya berbicara.
"Mommy tau, kamu sangat marah pada Zuria karena ia mengatai Mommy wanita murahan..." ucap Mommy Calina sembari meraih handuk yang di gunakan oleh sang putri untuk mengusap rambutnya yang basah.
Dan dengan lembut Mommy Calina mengusap rambut basah Clarice dengan sangat sayang dan pelan menggunakan handuk itu. Seperti yang beliau lakukan belasan tahun lalu, saat sang putri belum bisa melakukan hal itu sendiri.
"Tentu saja! Cla tidak akan membiarkan siapapun menjatuhkan Mommy walau hanya dengan satu kalimat atau bahkan satu kata sekalipun!" jawab Clarice masih berapi-api jika mengingat kalimat yang di ucapkan Zuria. Namun tersenyum samar saat mengingat gadis itu di skors dua kali lipat dari skors yang ia dapatkan.
Tersenyum tipis, Mommy Calina sangat memaklumi emosi anak remaja jaman sekarang. Di mana tidak ada hal yang mereka takutkan, jika harus saling serang dengan teman lainnya sekalipun. Meskipun tradisi saling serang menyerang sudah ada sejak dirinya masih sekolah dulu, tapi anak sekarang jauh lebih menggila. Dan ia tak ingin sang putri melakukan hal yang sama.
"Mommy tidak menyalahkan kamu, Cla... kamu memang berhak dan punya hak untuk membela jika kamu memang merasa di pihak yang benar." ucap Mommy Calina. "Tapi yang ingin Mommy ingatkan adalah... janganlah kamu membuat Daddy Kenzo sampai harus bermasalah dengan orang lain. Meskipun Daddy tidak akan pernah keberatan untuk membela kamu... Mommy tau Daddy Kenzo menyayangi kamu lebih dari hartanya."
"Maksud Mommy berurusan dengan orang tuanya Zuria?"' tanya Clarice tidak paham.
"Ya..." jawab Sang Ibu yang kini meraih sisir di meja rias dan mulai membelai rambut hitam Clarice menggunakan sisir itu.
__ADS_1
Mengurai rambut-rambut yang melilit untuk di pisahkan menjadi helaian yang rapi dan indah. Meski tidak mudah, namun sang Ibu tetap sangat telaten melakukan hal itu. Sama seperti 10 tahun yang lalu. Saat sang Mommy menyisir rambut basahnya untuk kemudian di kepang jadi dua. Atau untuk di ikat kecil-kecil dan membentuk satuan ikat rambut yang lucu dan menggemaskan.
"Kamu tau... Daddy Kenzo menarik semua saham yang di tanam oleh Kakek Adhitama di perusahaan orang tuanya Zuria."
"Apa?" pekik Clarice menatap tak percaya pada wajah sang Ibu melalui pantulan cermin.
"Iya... Dan Daddy bilang... Daddy akan melakukan apapun supaya kamu tidak di rendahkan orang lain."
Clarice menggelengkan kepala tak percaya jika sang Daddy akan bertindak sampai sejauh itu.
"Jadi sebenarnya Daddy sudah mengenal orang tuanya Zuria?"
"Tidak... Tapi Aunty Rania dan suaminya yang mengenal orang tua Zuria. Dan mereka yang menceritakan tentang hubungan orang tua Zuria dengan Adhitama Group pada Daddy dan Mommy sebelum kami masuk ke ruang BK."
"Siapa Aunty Rania?"
"Orang tuanya Arsen..."
"Daddy kenal?" Clarice memicingkan matanya.
Seingatnya, Arsen pernah bilang jika orang tuanya adalah pengusaha batu bara. Dan tidak punya hubungan dengan bisnis yang di jalani oleh Daddy Kenzo.
"Aunty Rania adalah teman sekolah Daddy Kenzo. Dan mereka baru tau jika anak-anaknya satu sekolah, bahkan satu kelas."
"Oh..." Clarice mengangguk paham.
' Pasti kalau Arsen tau jika Mama nya dan Daddy ternyata sahabat dia akan bersorak gembira! Karena sesuai dengan harapannya waktu itu... '
Gumam Clarice di dalam hati. Bibirnya tersenyum miring, membayangkan ekspresi Arsen.
' Sebaiknya pemuda itu tidak perlu tau! Karena bisa jadi dia akan menggunakan cara seperti Naufal untuk bisa mengajak aku keluar! Kalau Naufal si Ok! kalau Arsen? No! aku tidak mau lagi bermasalah karena dia! Bocah tengil itu terlalu banyak fans! Aku tidak mau lagi tersesat! '
"Mommy tau... tujuan Daddy adalah membuat mereka jera..." ucap Mommy Calina sembari menyematkan satu jepit kecil di rambut atas dahi kanan sang putri. "Tapi masalahnya, yang berinvestasi di perusahaan orang tua Zuria adalah Kakek Adhitama ketika beliau masih sepenuhnya memegang kendali perusahaan. Dan sekarang Daddy Kenzo menariknya hanya karena ingin memberi pelajaran pada mereka yang mengusik kamu. Kamu tau, perusahaan harus kehilangan keuntungan berapa banyak?"
Clarice terdiam, mencerna apa yang di katakan oleh sang Ibu dengan menatapnya lirih melalui pantulan cermin. Wajah cantik wanita 42 tahun itu terlihat begitu meneduhkan hatinya saat ini. Berbeda dengan saat awal-awal ia melihat sang Ibu yang tiba-tiba berada di dalam kamarnya.
"Dan lagi... jika seandainya Kakek Adhitama kecewa dengan tindakan Daddy, bagaimana?" tanya Mommy Calina lagi. "Ya... meskipun sekarang Daddy Kenzo yang berhak memutuskan segala sesuatu di perusahaannya. Tapi kita tetap harus menjaga perasaan orang tua, selagi mereka masih ada." ucap sang Mommy sembari membelai rambut hitam yang lembut dan setengah basah.
Clarice membuang muka ke arah lain. Kembali mencerna apa yang sedang coba untuk di jelaskan oleh sang Mommy. Usia 16 tahun, di saat darah nya masih berapi-api, tapi ia harus menautkan satu persatu penjelasan orang tuanya.
"Maafkan Clarice, Mom..." lirih Clarice setelah itu.
"Tidak apa... Mommy mengerti posisi kamu, Sayang..." jawab Mommy Calina. "Lain kali tolong jangan ulangi membuat kesalahan yang sampai mendatangkan Daddy Kenzo, ya?" lanjut sang Mommy. "Terutama urusan di sekolah. Karena semua masalah seperti ini akan masuk dalam laporan raport akhir semester. Mommy tidak ingin kamu punya catatan yang buruk di sekolah."
"Iya, Mom..." jawab Clarice tersenyum lirih. Merasa menyesal dengan kejadian hari ini. Tapi dada yang bergemuruh, tidak akan bisa sesabar itu untuk tidak menyerang balik mereke yang mengusik berlebihan. Meski dunia mengenalnya sebagai gadis pendiam dan baik hati.
"Clarice minta maaf..."
Gadis itu membalikkan badan, kemudian dengan hati yang sudah lega, Clarice memeluk pinggang sang Ibu. Dan merebahkan pipinya pada perut Mommy Calina. Perut yang sudah menjadi tempat ia tinggal selama 9 bulan, sebelum akhirnya terlahir di dunia. Untuk kemudian memiliki 2 Ibu dan 2 Ayah yang sangat menyayangi dirinya.
"Iya, putri Mommy satu-satunya..." jawab Mommy Calina sembari mengusap lembut helaian rambut sang anak gadis.
"Jadi apa yang harus Cla lakukan selain meminta maaf pada Daddy, Mommy?" tanya Clarice mendongak sang Ibu, dengan tangan yang masih melingkar di tubuh sang Ibu.
"Merayu Daddy supaya membatalkan pencabutan sahamnya?" tanya Clarice.
"Daddy tidak akan mau melakukan hal itu, sebelum apa yang ia inginkan tercapai." jawab Mommy Calina. "Lagi pula Daddy akan sangat malu jika menarik kembali keputusan yang sudah ia ambil... Jadi Mommy yakin, siapapun tidak akan bisa mengubah keputusan yang sudah di ambil oleh Daddy Kenzo."
"Lalu apa yang harus Cla lakukan, Mommy?"
"Cukup minta maaf dengan benar pada Daddy... Dan jika bisa minta Daddy untuk mengizinkan Zuria mengikuti ujian tengah semester." jawab sang Ibu.
__ADS_1
"Kalau itu... Mommy yakin atau tidak, jika Daddy akan mau melakukannya?" tanya Cla yang ragu jika usahanya akan berhasil.
"Mommy tidak bisa menjamin. Tapi jika kamu punya alasan yang tepat untuk membuat Daddy memberi izin pada Zuria.... sepertinya akan berhasil!" jawab sang Ibu. "Mommy hanya kasian jika Zuria tidak bisa mengikuti ujian. Meskipun Daddy akan memberi syarat yang mungkin di luar nalar. Setidaknya raport gadis itu tidak kosong."
Clarice melepas pelukannya di pinggang sang Ibu. Kemudian menarik nafas panjang, sembari memikirkan alasan dan cara yang tepat untuk berbicara dengan sang Ayah sambung. Selain itu, waktu yang tepat juga akan sangat mempengaruhi keberhasilan misi yang di sarankan oleh sang Ibu.
"Mommy memang berhati mulia!" seru Clarice tersenyum setelah merasa menemukan ide yang bagus. Meski tidak ada yang bisa menjamin ide itu akan berhasil. Termasuk dirinya sendiri.
"I love you, Mommy!" seru Clarice kembali memeluk Mommy Calina dengan hangat.
***
Setelah di tinggalkan oleh security yang menjaga kediaman utama Papa Aditama, security itu akhirnya kembali dan langsung di sambut oleh Afrizal yang berusaha menjaga strata yang masih ia miliki untuk saat ini. Lebih tepatnya detik itu. Entah dengan besok, apalagi minggu depan.
Lantas bulan depan?
Coba tunggu sampai episode yang menceritakan bulan depan datang... hehe!
"Bagaimana?" tanya Afrizal.
"Silahkan, Tuan... Anda di izinkan untuk masuk!" jawab sang security dengan ramah.
"Bagus! aku yakin Tuan Adhitama akan menerima kedatangan ku! kami ini rekan bisnis sejak belasan tahun yang lalu... Dan lama kami tidak bertemu, sejak Tuan Adhitama di gantikan oleh putranya..." ucap Afrizal sembari menepuk lengan sang security yang mengerutkan keningnya heran. Senyum jutawan ia tunjukkan pada security yang ia anggap kedudukannya rendah.
' Untuk apa orang ini membicarakan hal itu padaku? Apa dia pikir hal itu penting untukku? lagi pula... Bu Tika tidak seperti itu adanya. '
Bingung sang security. Sama seperti sopir Afrizal yang tadi sempat bingung, karena ia di minta untuk mengemudikan mobil, di saat Nona Muda belum tiba di parkiran.
"Iya, Tuan!" jawab security itu seadanya dan sekenanya. Karena sungguh tidak sesuai dengan kenyataan yang ia ketahui.
Setelah mendapat izin, Afrizal kembali masuk ke dalam mobilnya, dan mobil itu langsung memasuki gerbang yang terbuka otomatis karena tersambung dengan tombol yang di tekan oleh security yang berjaga di dalam ruang jaga pos satpam.
Kini security yang menemui Afrizal menggelengkan kepalanya heran. Menatap body belakang mobil hitam yang masih dalam kategori mobil mewah itu. Bagaimana tidak, karena yang ia ketahui dari panggilan telepon tadi tidak seperti itu.
Melainkan...
Dalam saluran telepon yang aktif...
"Selamat sore, Bu Tika..." sapa sang security pada kepala pelayan.
"Ya?"
"Bu, saya mau menyampaikan, jika ada tamu yang mencari Bapak..."
"Siapa?"
"Sebaiknya Bu Tika cek CCTV. Dan infokan pada Bapak."
"Baiklah... tunggu sebentar..."
Tak berselang lama, saluran teleponnya kembali tersambung dengan telepon Tika sang kepala pelayan.
"Kata Bapak, namanya Afrizal! Dan Bapak bertanya untuk apa dia datang ke rumah...? Padahal sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi. Tapi biarlah. Izinkan dia masuk, mungin untuk terakhir kali." ucap Bu Tika dengan lantang dan jelas.
"Siap, Bu Tika!" jawab sang security tersenyum miring.
Mengejek rasa percaya diri yang di gembar-gemborkan oleh sang tamu tak di undang. Dan setelah ia mengizinkan sang tamu masuk. Ia semakin bingung dengan ucapan sang tamu padanya yang membuatnya semakin ingin mengejek dan tertawa.
Akibat percaya diri seseorang yang berlebihan. Padahal orang lain sudah tau dapur nya seperti apa.
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1