
Kenzo dan Zio bersamaan menoleh ke arah dalam, dimana perempuan yang menjadi bahan perdebatan siang itu berada.
Jika Kenzo menatap dengan tatapan pilu yang sulit di artikan. Maka Zio menatap dengan menahan kecewa dan amarah yang mulai menyala di dalam dada.
Melihat siapa yang datang, seketika jantung Calina berdetak kencang dan hebat. Mata menatap tajam pada tamu yang tak di undang pada hari itu. Apa yang bisa ia lakukan lagi, selain mengungkap semuanya.
' Baiklah... Mari kita mulai semuanya! Apapun hasilnya, semua ini memang pasti akan terjadi. '
Batin Calina dengan menguatkan diri.
Menata hati dan pikiran, membuat diri akan berdiri tegak di kaki sendiri. Menjadi perisai bagi suaminya yang berkecil hati akan suatu kemenangan untuk mendapatkan hati anak kandungnya sendiri.
Langkah Calina terlihat tenang dan tidak terbebani, mendekati suaminya yang masih mematung di ambang pintu. Ia pasang wajah datar dan apa adanya.
Memang apartemen Kenzo tak terlalu memiliki tetangga. Hanya ada empat pintu. Tapi rasanya bertengkar di luar bukanlah ide bagus untuk siapapun juga.
Dengan besar hati, Calina meraih lengan Kenzo. Kemudian ia dekap di depan dada. Seolah menunjukkan 'dia adalah lelaki ku!' atau pun kebalikannya, 'aku adalah wanitanya, bukan lagi milik mu!'
Tanpa di sadari, apa yang di lakukan Calina memang mempengaruhi situasi bagi dua lelaki di sana.
Zio menatap benci dengan apa yang di lakukan Calina. Kalau saja Kenzo bukan bosnya, mungkin begitu muncul di balik pintu, maka akan ia tendang sekuat mungkin. Karena dalam pikiran Zio hanyalah...
Mereka berselingkuh bahkan sebelum perceraiannya dengan Calina.
Nafas menggebu di dalam dada, menyeruak ingin segera mengeluarkan api amarah.
Sedang bagu Kenzo, apa yang di lakukan istrinya, membuat kuatnya gempuran yang menerpa hatinya terasa lebih lemah, di banding tadi.
"Masuklah, Mas..." ucap Calina sopan.
Sebisa mungkin ia harus bisa menjadi air di antara api di dalam diri Zio yang di penuhi amarah. Dan angin yang membuat hati Kenzo seperti di hempaskan ke berbagai arah.
"Untuk apa?" tanya Zio terkesan menahan kesal. "Untuk melihat betapa bahagianya hidup mu sekarang?" sindir Zio langsung pada intinya. "Dan betapa menyedihkannya hidupku sekarang?" cibir Zio pada dirinya sendiri. Yang mungkin saja memang sedang di tertawakan Calina.
Menghela nafas berat, "masuklah dulu, Mas!" pinta Calina dengan tatapan memohon pada Zio yang jelas terlihat jika lelaki itu sedang di landa emosi.
__ADS_1
Menarik nafas panjang, guna meredam emosi yang membeludak di dalam dada, Zio melangkah masuk ke dalam apartemen Kenzo. Melewati suami istri itu bahkan dengan tanpa permisi.
Zio melangkah masuk dengan dada yang masih bergemuruh. Sementara Calina dan Kenzo terlibat aksi saling tatap di ambang pintu.
Calina mengangguk, sebagai tanda memberi penyemangat pada suaminya yang hatinya tengah mengecil.
"Percaya padaku, Mas!" ucap Calina lirih, "semua akan baik - baik saja. Ada Mama bersama kita. Clarice tidak akan semudah itu melupakan kamu!"
"Hm.." jawab Kenzo lirih dan ragu.
Kenzo dan Calina mengikuti langkah Zio untuk memasuki ruang tamu setelah kembali menutup pintu utama. Calina langsung mempersilahkan Zio untuk duduk. Dan Zio pun duduk di sofa single. Sedang Calina dan Kenzo duduk berdampingan di sofa yang lebih panjang.
"Apa yang ingin kamu ketahui, Mas Zio?" tanya Calina membuka obrolan serius.
"Semuanya!" jawab Zio datar dengan menatap dingin sepasang suami istri di depannya.
Kenzo dan Calina kembali saling tatap. Calina meraih tangan Kenzo untuk ia genggam. Mengangguk pelan untuk meminta agar membiarkan dirinya saja yang berbicara pada Zio.
"Katakan, dari mana aku harus bercerita, Mas?" tanya Calina pada Zio dengan nada yang sangat sopan.
Menarik nafas panjang, kemudian menghelanya dari mulut secara perlahan.
"Saat kita masih bersama, aku pernah mengalami ban bocor saat perjalanan pulang. Dan itu sudah sangat larut. Tiba - tiba ada yang membantuku, dan itu ternyata Mas Kenzo. Aku baru tahu setelah satu tahun kita bercerai."
Zio menatap dalam sepasang mata Calina dan Kenzo mencari kebenaran dari cerita Calina. Sebagai seorang GM, ia tau mana yang jujur dan bohong. Dan ia menemukan sebuah kejujuran dari dua orang itu.
Dan ia ingat, kapan momen itu terjadi. Bukannya membantu Calina yang mendorong motor, ia justru mencibir dalam hati, dan memilih untuk mengantar istri pertamanya.
Satu lagi yang membuatnya mengingat masa lalu. Pantas saja jika Kenzo sempat menoleh Calina saat malam pesta perusahaan. Dan kembali menolong Calina saat ia berpura - pura mabuk.
"Sejak kapan kalian menikah?" lanjut Zio dengan nada yang mengintimidasi.
"Empat tahun yang lalu..." jawab Calina cepat. "Lebih tepatnya dua tahun setelah kita bercerai."
"Apa Pak Kenzo pula yang membantu Calina membayar pengacara mahal untuk sidang perceraian kami?" pertanyaan Zio semakin terdengar tegas. Dengan menatap sepasang mata Kenzo yang rupanya tak terlihat gentar sedikitpun untuk menatapnya.
__ADS_1
"Ya!" jawab Kenzo dengan tegas pula. Sebagai seorang pemimpin, tentu ia tak ingin terlihat lemah seperti apapun kondisi hatinya saat ini.
Tersenyum miring, "jadi secara tidak langsung, Pak Kenzo adalah orang yang mendukung suatu perceraian?" tanya Zio, "Atau Pak Kenzo sengaja membantu Calina untuk menceraikan saya, supaya bisa anda nikahi?" Pertanyaan Zio berhasil membuat Kenzo merasa geram.
"Jaga bicaramu!" sentak Kenzo dengan suara sedikit keras.
Tanpa rasa takut, Zio justru tersenyum tipis, "waktu itu aku sudah menduga, jika ada orang kaya yang sedang membantu Calina. Tak di sangka itu adalah bos saya sendiri! Luar biasa!" cibir Zio, "menikung memang lebih seru dari pada harus berjalan lurus, bukan?"
"Apa maksudmu!" sentak Kenzo.
"Bukankah sudah jelas, wahai Bapak Kenzo yang saya hormati?" tanya Zio, "Bapak mendukung penuh bahkan memfasilitasi perceraian kami, lalu anda nikahi orang yang anda bantu!" jawab Zio. "Sungguh luar biasa, bukan?"
Tersenyum tipis, "kalau bukan karena kasus mu yang menikah diam - diam dengan karyawan ku yang lain, mungkin aku tidak akan pernah mengenal Calina," jawab Kenzo dengan sengaja membuka kesalahan masa lalu rivalnya. "Dan jika saja aku tidak mengenal Calina, mungkin aku tidak akan pernah tau, jika ada karyawan ku yang mencoba untuk meremehkan aturan perusahaan ku sampai sejauh itu!" balas Kenzo tak ingin di kambing hitamkan oleh anak buahnya sendiri. Ia bahkan menatap bengis pada Zio yang seketika terdiam.
Ya, Zio terdiam, ia tau semua itu memang kesalahannya. Tapi bukan ini akhir yang ia harapkan. Ia bahkan bersiap untuk merubah diri, jika saja waktu itu Calina tak buru - buru meminta cerai.
Merasa memiliki kesempatan, Kenzo kembali berucap. Sesuatu yang membuat Zio kembali harus merasa bersalah.
"Apa kamu pikir, aku akan membiarkan seorang wanita hidup dalam tekanan, setelah aku mengetahui semuanya?" tanya Kenzo. "Tidak, Zio!" lanjutnya tegas.
"Apa kamu pikir aku tidak tau apa yang kamu lakukan pada Calina saat ia dengan suka rela merawat ibumu di rumah sakit?" tanya Kenzo lagi. "Aku tau semuanya, Zio! dan aku benci anak buah ku menikung aturan ku dari belakang! Melanggar aturan yang sudah di bangun, bahkan sebelum kau masuk sebagai karyawan!" tegas Kenzo, bahkan dengan barisan gigi yang mengerat.
"Dengan kecuranganmu yang seperti itu, aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang - tenang saja! Apalagi aku semakin tidak menyukai caramu, ketika kau lebih memilih Naura di banding istri sah mu sendiri!"
Kenzo terus menghajar Zio dengan segala sesuatu yang membuat Zio menyadari kesalahannya.
"Kamu tau... Jika sampai ada seorang istri kabur dari rumah suaminya dengan membawa air matanya di jalanan,, itu sudah menjadi bukti kuat, jika hidupnya di dalam rumah suaminya tak pernah di hargai!"
Geram Kenzo mengingat saat pertama ki ia menemukan Calina di jalanan, saat malam semakin larut. Bahkan nyaris menjelang pagi.
...𪴠Happy Reading đŞ´...
âď¸ Hai guys, Author mau menyapa sekaligus izin untuk besok tidak up! Karena besok ada banyak kegiatan, daei subuh sampai tengah malam.
Buat kalian semua, jaga kesehatan ya.. Apalagi buat kalian yang maraton tengah malam.. đ
__ADS_1
Salam Lovallena â¤ď¸