
Hari Senin telah tiba. Sempat tercengang dnegan penjelasan Kenzo yang akan bertanggung jawab atas anak yang ia kandung, maka hari yang di janjikan Kenzo pada Calina untuk mendatangi Ibunya di kampung.
Dengan menutup matanya dalam, Calina sudah siap untuk menceritakan apa yang ia alami dan apa yang ia lakukan selama menghilang atau menjauh dari Mama Shinta dan mantan suaminya.
Berdua, mereka di dalam mobil yang dilajukan Kenzo sendiri. Memang untuk urusan Calina, Kenzo tak ingin membawa - bawa supir di setiap perjalanannya. Itu ia lakukan demi menghindari campur tangan orang lain tentang urusan pribadinya.
Kampung Calina yang cukup jauh dari Ibukota, tak membuat Kenzo kelelahan mengemudi sendiri. Ia tampak biasa saja dan justru sesekali menawari Calina untuk istirahat di rest area.
Namun Calina memilih untuk menolak. Toh selama setahun lebih bersama Zio, mereka tak perlu berhenti di rest area. Hanya jika ia membawa motor sendiri saja, barulah ia memilih untuk beristirahat.
CRV hitam berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana, namun untuk di kampung tentu rumah Calina masih terlihat sangat bagus dan terawat. Pintu rumah berwarna coklat terbuka, namun entah di mana sang pemilik rumah. Sama sekali tak terlihat.
"Siap?" tanya Kenzo meyakinkan. Menoleh Calina yang terlihat belum juga melepas seat belt yang yang menyilang di depan dada.
Calina menoleh Kenzo dengan menatap sendu lelaki itu. Ingin menjawab, tapi bibirnya terasa kilu. Akhirnya ia hanya mengangguk sekali saja.
Segera keduanya turun dari mobil. Dan berjalan mendekati pintu yang terbuka lebar. Celingak celinguk Calina melihat seisi ruang tamu. Semua tetap sama, tidak ada yang berubah.
"Assalamualaikum?" ucap Calina memasuki rumahnya.
Sementara Kenzo tampak masih berdiri di depan pintu. Membiarkan Calina untuk mencari Ibunya terlebih dahulu, sebelum ia ikut masuk ke dalam rumah yang baru pertama kali ia datangi itu.
"Maaa?" Calina mencari Mamanya hingga masuk ke dalam ruang tengah. Namun sang Mama tak kunjung terlihat.
Ia terus berjalan ke belakang, hingga menemukan sang Mama yang tampak memetik beberapa cabai dari pohonnya secara langsung.
Ya... Itulah enaknya punya kebun di belakang rumah. Bisa bercocok tanam sayur mayur di halaman belakang. Di rawat sendiri, dengan hasil yang di nikmati sendiri. Tidak untuk diperjual belikan.
Calina menatap lembut wanita yang telah melahirkan dirinya itu dengan tatapan sendu. Antara rindu, bangga dan merasa bersalah, bercampur menjadi satu.
Ia yakin sudah mengecewakan Ibunya dengan bercerai tanpa meminta persetujuan Ibunya terlebih dahulu. Dan setelah bercerai, ia justru baru tau jika ia hamil.
Dalam hati ia berkata, semoga Mama Shinta bisa memahami keputusannya kala itu.
Melangkah pelan, berusaha sebisa mungkin untuk tidak menimbulkan suara apapun. Calina sampai di belakang Ibunya. Perlahan ia peluk sang Ibu dari belakang dan langsung ia rebahkan kepala di pundak belakang sang Mama.
Deg! jantung Mama Shinta hampir saja melompat. Bagaimana tidak kaget, saat fokus memetik cabai, ia justru mendapat dekapan erat dari belakang yang entah dari siapa.
"Maa..." lirih Calina.
Sontak Mama Shinta memejamkan matanya dalam. Antara rindu dan lega mendengar suara Calina. Rindu pada putri semata wayangnya yang lama tak ada kabar. Lega karena sang putri kembali dalam keadaan yang sepertinya baik - baik saja.
"Kamu pulang, Nak..." lirih Mama Shinta segera membalikkan badan. Menatap syahdu pada sang putri.
"Maafkan Calina, Ma.." lirih Calina kembali memeluk Mama Shinta. "Calina mengambil keputusan tanpa meminta pendapat Mama..."
__ADS_1
Menghela nafas, Mama Shinta mengusap lembut punggung putrinya.
"Ayo kita masuk, jangan bicarakan hal itu di sini." ucap Mama Shinta yang di angguki Calina.
Keduanya memasuki pintu dapur. Mama Shinta meminta Calina untuk duduk di kursi yang berada di meja makan. Duduk berhadapan dengan saling melempar tatapan sendu.
"Mama pasti sudah mendengar tentang perceraian Calina...."
"Yaa, tentu saja, Cal..."
"Mama marah pada Calina?"
"Mama tidak marah kalian bercerai. Mama mengerti apa yang kamu rasakan. Lagi pula Mama pernah bilang, apapun keputusan kamu, Mama akan selalu bersama kamu."
Calina tersenyum kecil, untuk permasalahan pertama ia merasa lega. Karena sang Mama tidak marah akan perceraiannya. Lalu entah untuk masalah selanjutnya.
"Tapi, Ma... Calina punya masalah yang lebih berat dari perceraian Calina dan Mas Zio..."
"Masalah apa, Nak?"
Calina ragu untuk bercerita. Ia hanya menatap dalam sepasang mata Mama Shinta.
"Katakan, Cal... Jangan memendam masalah sendirian..."
"Setelah resmi bercerai..." Calina kembali menunduk. Menggantung kalimat yang akan ia ucapkan.
Calina tersentak mendengar kata mati yang di ucapkan sang Mama.
"Setelah resmi bercerai, Calina baru tau kalau ternyata Calina hamil, Ma!" jawab Calina menunduk.
"Apa!" pekik Mama Shinta tak percaya. Mama Shinta menatap dalam wajah putrinya yang seketika basah oleh air mata. Ingin marah, tapi semua sudah terjadi. Tidak marah, hati Mama Shinta bergemuruh.
"Calina... Kenapa kamu tidak memeriksa hal itu lebih dulu sebelum mengajukan perceraian?" tanya Mama Sinta sedikit menahan kesal.
"Calina tidak tau akan hal itu, Ma! Mas Zio memaksa Calina untuk melakukan itu! Dan itu hanya sekali!" jawab Calina dengan derai air mata. "Calina tidak tau, jika sekali berbuat, bisa membuat Calina hamil...." lirihnya terdengar sangat pilu.
Mama Shinta menghela nafas berat. Sudah tau sejak awal, marah pun tidak akan membuahkan hasil. Karena ia yakin, apa yang di lakukan mereka pasti atas dasar satu konflik yang mungkin membuat Zio terpaksa melakukan hubungan intim dengan pemaksaan.
"Kamu tau, Calina... Wanita hamil itu tidak boleh bercerai..."
"Calina tau, Ma! tapi sebelum bercerai, Calina tidak tau jika Calina hamil."
Keduanya diam untuk sesaat. Berlari dengan pemikiran masing - masing. Memikirkan apa yang harus di lakukan selanjutnya. Melahirkan tanpa memiliki suami adalah sesuatu yang berat.
"Lalu apa rencanamu ke depan, Cal?" tanya Mama Shinta kemudian.
__ADS_1
Calina mengusap air mata yang membasahi wajahnya. Kemudian menatap dalam sepasang mata Mama Shinta.
Pelan - pelan ia berusaha untuk menceritakan semua apa yang ia alami selama hampir dua bulan ini. Termasuk bertemunya dia dengan Kenzo Adhitama.
Kini dua wanita berjalan mendekati pintu utama rumah Mama Shinta. Mama Shinta menatap dengan penuh tanda tanya pada sosok yang membelakangi pintu. Berdiri dengan satu tangan di masukkan ke dalam saku celananya. Satu tangan lagi sepertinya memegang ponsel.
"Dialah Kenzo Adhitama, Ma..." bisik Calina.
"Mas Kenzo!" panggil Calina lirih.
Sontak Kenzo menoleh ke belakang setelah mendengar suara Calina menyebut namanya.
Ya, panggilan Mas sudah di sepakati keduanya untuk mengganti sebutan Pak yang di rasa tidak sesuai tempatnya.
Setelah menoleh Calina, Kenzo segera menoleh wanita paruh bayar yang berdiri di samping Calina. Sadar jika wanita itu pasti Ibu Calina, Kenzo segera memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Dan menghadap penuh pada pemilik rumah.
"Selamat siang, Tante..." sapa Kenzo mengangguk. Setelah itu ia mengulurkan tangan untuk menyalami Mama Shinta.
"Siang..." jawab Mama Shinta menatap taj percaya pada Kenzo yang ternyata sangat tampan, dengan wajah kebulean yang khas.
"Saya Kenzo Adhitama..." ucap Kenzo memperkenalkan diri.
Mama Shinta mengangguk, "Calina sudah menceritakan semuanya..." jawab Mama Shinta. "Masuklah, Nak! Rumah kami sangat sederhana. Maaf, sepertinya kamu harus sedikit menunduk untuk melewati pintu kami." ucap Mama Shinta.
Kenzo menggeleng samar, "tidak masalah, Tante..."
Jawab Kenzo yang terdengar sangat sopan bahkan terdengar sangat ramah, membuat Calina menyungging senyuman kagum. Tak menyangka jika seorang Kenzo Adhitama bisa bersikap sesopan itu.
Dan benar saja, Kenzo memasuki rumah Mama Shinta dengan dengan sedikit menunduk. Hingga saat ia duduk di kursi, ia benar - benar terlihat seperti raksasa. Karena postur tubuh Kenzo lebih seperti postur tubuh bule dengan perawakan tinggi besar.
"Calina sudah menceritakan semua tentang kamu, dan rencana yang kamu susun..." ucap Mama Shinta mengawali pembicaraan.
"Maafkan saya, Tante.. Saya tidak bermaksud untuk ikut campur urusan rumah tangga Calina." jawab Kenzo. "Saya hanya merasa... Calina tidak pantas berada di posisi seperti sebelumnya!"
"Saya tau, Nak! Kamu tidak sepenuhnya salah. Mama hanya menyayangkan kenapa kalian saling mengenal sedemikian jauh tanpa sepengetahuan Mama." ucap Mama Shinta. "Bahkan Calina tinggal di apartemen kamu.."
"Maafkan Calina, Ma! Calina tidak punya pilihan."
"Sudahlah, biarlah... Semua sudah terjadi!" sahut Mama Shinta.
"Jadi... Apa Tante setuju dengan rencana Kenzo?" tanya Kenzo memastikan.
Mama Shinta menatap Calina dan Kenzo secara bergantian. Ragu, namun tak ada pilihan. Anak Calina nantinya butuh sosok ayah yang mendampingin setiap langkahnya. Akhirnya Mama Shinta mengangguk setuju.
Sontak Calina dan Kenzo saling bersilang menatap. Bukan saatnya untuk Calina bersikap egois dengan tidak peduli pada anaknya kelak. Sosok ayah memang harus ada jika tak ingin Zio tau, mereka memiliki anak.
__ADS_1
...🪴 Happy Reading 🪴...