Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 147 ( Kolam Renang 2 )


__ADS_3

Di bawah terik matahari pagi di Ibukota, ada dua remaja yang sedang berdebat di area kolam renang pribadi rumah seorang Kenzo Adhitama. Yang satu jago berenang, dan yang satu lagi memiliki trauma yang cukup parah dengan kedalaman air.


Clarice berulang kali memaksa Arsen untuk segera turun dan masuk kedalam kolam seperti dirinya. Namun sang pemuda masih sungguh sangat ragu.


Kedua ujung kaki sudah masuk ke dalam air kolam, namun lagi-lagi pandangan matanya teralihkan oleh betapa luasnya kolam sedalam 1 meter yang menyatu dengan kolam dewasa hingga sedalam 2 meter.


' Ya Tuhan... bagaimana jika aku terseret arus sampai ke sana? '


Gumam Arsen dalam hati, berburuk sangka dengan apa yang belum pernah ia coba sebelumnya. Hanya dengan gumaman itu, keringat di wajahnya mengucur begitu saja. Hingga membuat Cla benar-benar tidak sanggup menahan tawanya lagi.


"Satu..." ucap Cla mengingatkan ancamannya.


"Diam, Cla!" hentak Arsen menatap tajam pada Clarice dengan mata yang membulat sempurna. Tapi tidak juga memperlihatkan wajah jengkel.


Namun yang di tatap demikian bukannya takut, justru terkekeh geli dengan sikap Arsen. "Haha! Kolam ini tidak dalam! hanya segini!" Cla menunjuk batas tinggi air yang hanya sampai di atas pusarnya sedikit.


Arsen tak peduli dengan penjelasan Clarice. Baginya, tetap saja kedalaman itu bisa membuat tubuhnya termakan air. Arsen sudah menurunkan kakinya, namun pantatnya masih duduk di tepi kolam. Hanya kaki sampai bawah lutut saja yang sudah masuk ke dalam air kolam.


Clarice sengaja merambat pelan, dan kini susah berada di dekat Arsen. "Dua..." lirih Clarice sambil di buat seolah-olah dia tengah bernyanyi.


"Clarice! Diam!" hentak Arsen lagi. Dan Clarice semakin terbahak mendengar hentakan Arsen.


"Ti..."


Sebelum Clarice selesai menyebutkan angka tiga, Arsen sudah memaksakan dirinya untuk masuk ke dalam kolam. Hingga tenggelam sampai di pusarnya. Separuh tubuhnya sudah terendam air, namun tangan terus berpegangan pada tepian kolam. Ia bahakan merambat untuk menemukan besi pegangan yang biasa di gunakan anak-anak untuk latihan berenang.


Sampai di sini saja sang Tuan Muda Wilson sudah menahan nafas gugup dan takut. Dia seperti orang yang terancam akan tenggelam di tengah lautan lepas, berkelana bersama hiu dan juga biota laut lainnya. Tanpa ada manusia lain yang bergerak untuk menyelamatkan dirinya.


Ingatannya langsung kembali pada masa itu. Masa yang membuat dirinya sampai detik ini selalu merasa seperti kehabisan nafas setiap berada di air yang dalam.


Seperti itulah sikap dan tingkah yang di tunjukkan oleh mereka yang memang benar-benar memiliki trauma. Hal sekecil itu sudah seperti berada dalam masalah besar dan sukar untuk di selesaikan.


Melihat Arsen yang begitu gugup, Clarice berjalan mendekat. Mengikis jarak sekitar 1,5 meter di antara keduanya, menjadi setengah meter saja.


"Kenapa wajah mu terlihat sangat gugup?" tanya Clarice. "Kamu tidak bisa berenang?" tanya Clarice menyandarkan punggungnya pada dinding kolam, tepat di sisi kanan Arsen.


Tak kunjung menjawab, Arsen melihat Clarice dengan tatapan bingung. Kemudian kembali membuang pandangan mata sembari menghela nafas berat. Lalu menggelengkan kepalanya pelan dan lirih.


"Kenapa tidak bilang dari tadi?" tanya Clarice dengan nada suara yang serius.


"Aku..." lagi-lagi Arsen menggantung kalimatnya. "Aku hanya..."


"Kenapa?" selidik Clarice dengan nada suara yang sudah tidak lagi ingin mengejek, namun justru terdengar memaksa.


"Aku... Aku trauma..." jawab Arsen tanpa melihat pada Clarice yang menatapnya dengan tatapan serius. Sang pemuda justru lebih memilih menatap air yang bergerak-gerak di depan perutnya.


"Kenapa bisa trauma?" tanya Clarice serius. Kali ini benar-benar memasang raut wajah yang peduli dengan apa yang menjadi masalah Arsen.


Arsen mendongak, menatap langit biru yang luas dengan awan putih yang bertebaran. Matahari belum terlalu naik. Karena jam dinding belum genap menunjukkan jam setengah 10 pagi.


"Karena aku pernah tenggelam..." jawabnya masih menatap langit. Karena jika ia menatap kolam renang yang bagian dalam, nafasnya selalu terasa tiba-tiba hilang.


"Separah itu?" tanya Cla lirih.


"Iya... Karena memang saat itu sangat parah... Kejadian itu berlangsung begitu cepat tanpa persiapan." jawab Arsen. "Terlambat sedikit saja mungkin aku sudah tidak lagi bernyawa. Dan itu akan membuatku tidak pernah mengenal mu..." lanjut Arsen menoleh pada wajah jelita dengan tetesan air kolam yang jatuh dari ujung rambut poninya, untuk kemudian meluncur di atas hidung dan berakhir di usap menggunakan tangan oleh Clarice.


"Aku takut dengan kedalaman..." gumamnya lagi.


"kenapa tidak bilang sejak awal?" selidik Clarice.

__ADS_1


Menghela nafas resah, berfikir ulang untuk menjawab. "Aku akan sangat malu jika kamu menertawai aku..." jawab Arsen memalingkan wajah dari Clarice.


"Hahaha!" gelak Clarice tanpa lupa jika dirinya merasa kurang ajar karena benar-benar tertawa. Dan sejak tadi ia sesungguhnya sudah menyimpan tawa itu di perutnya.


Namun tawanya kali ini bukan untuk menertawai kekurangan Arsen, melainkan ia menertawai isi pikiran Arsen yang di anggap Clarice terlalu berlebihan. Ia memang sejak tadi menahan tawa. Tapi bukan untuk menertawai kekurangan Arsen. Melainkan rasa gengsi yang terlalu lama menguasai diri Arsen.


"Aku memang sejak tadi ingin menertawai kamu. tapi bukan untuk menertawai kekurangan ataupun trauma yang kamu alami. Tapi kenapa kamu terlalu gengsi untuk mengaku jika kamu tidak bisa berenang." jawab Clarice.


"Kamu tau aku tidak bisa berenang?" tanya Arsen memicingkan mata menatap lekat wajah Clarice yang cantik oleh air kolam.


"Di lihat saja sudah bisa di tebak, kalau kamu tidak bisa berenang!" sahut Clarice membuang tatap ke arah lain. Menghindari tatapan Arsen yang begitu lekat padanya. Meski ia tidak dapat 100% mengartikan tatapan itu.


Tapi tatapan sang pemuda memang sangat memabukkan bagi para gadis seperti apapun yang ada di sekitarnya.


"Di lihat dari apanya?" tanya Arsen.


"Gestur mu sudah bisa di lihat. Dan lagi... sebenarnya aku pernah mendengar dari seseorang yang memberi tahuku, jika kamu tidak bisa berenang..."


"Siapa?" selidik Arsen semakin memicingkan mata.


"Naufal!" jawab Cla.


"Naufal? Kapan?" Arsen mengerutkan keningnya.


"Waktu kita ke Cafe!" jawab Cla menatap lurus ke depan. "Waktu kamu bernyanyi di panggung mini, lalu Naufal menceritakan sedikit banyak tentang kamu..."


Arsen tersenyum miring dan samar. "Jadi sebenarnya kamu sudah tau aku tidak bisa berenang, tapi tetap memaksa ku untuk berenang?" tanya Arsen.


Tergelak, "Yaa... karena aku pikir kamu akan spontan mengatakan jika kamu tidak bisa berenang..." jawab Cla melirik sekilas pada Arsen yang masih menatap dirinya. "Tapi ternyata sebesar itu gengsi mu.." lanjut Cla tersenyum mengejek, sembari memukul pelan lengan Arsen.


"Sialan!" pekik Arsen menyadari dirinya tengah di kerjai oleh seorang gadis.


"Ya, kamu memang benar!" jawab Clarice. "Aku teramat ingin mengatai dirimu... Bagaimana bisa, pemuda yang seperti singa lapar di arena balap, ternyata hanya seperti kucing liar yang takut air!" cibir Clarice.


"Haha!" gelak Arsen sama sekali tidak marah dengan cibiran Clarice. Karena apa yang di katakan oleh sang gadis memang benar adanya. "Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan... Dan kekurangan ku adalah kedalaman..." jawab Arsen mengangkat kedua bahunya.


"Dan kamu juga, sangat pandai dan lincah saat di kolam renang, tapi kau sama sekali tidak bisa memainkan bola basket!" balas Arsen mengingatkan kelemahan Clarice di bidang olah raga.


"Haha!" kini ganti Clarice yang tergelak dengan kalimat Arsen, karena apa yang di ucapkan memang benar adanya. "Aku memang tidak ahli dalam memainkan bola..." tanggap Cla.


Keduanya terdiam untuk sesaat. Hanya tangan saja yang memainkan air kolam dengan gerakan-gerakan kecil. Menciptakan gelombang-gelombang kecil yang tak beraturan. Karena tangan Clarice yang bergerak tidak beraturan.


Sesekali siang gadis menenggelamkan diri ke dalam air dan muncul kembali di permukaan Dan semua itu tentu tak lepas dari sorot mata Arsen. Hingga sanga gadis kembali bersandar pada dinding sama seperti Arsen.


Sampai akhirnya mata mereka mengikuti gerakan seorang pelayan yang datang dengan membawa nampan berisi piring dan gelas dan meletakkan di salah satu meja yang di apit oleh tempat untuk berbaring di sana. Di meja yang dekat dengan kolam dewasa agar tidak panas, karena ada pohon besar yang menghalangi.


Dan mata keduanya hanya mengikuti pergerakan pelayan itu, sampai si pelayan kembali ke pintu di mana tadi ia keluar.


Kemudian barulah mereka kembali menunduk, mengamati air yang bergerak di depan perut mereka untuk kesekian kali.


"Kamu tidak membutuhkan bantuan ku?" tanya Cla menoleh pada Arsen.


"Untuk apa?"


"Mengajari mu berenang?" tanya Clarice.


Arsen tergelak dengan tawaran Clarice. "Kalau untuk urusan mengajari ku berenang, itu sudah ada banyak, Cla!" jawab Arsen menoleh sekilas pada Clarice yang kini memasukkan badannya ke dalam air. Menyisakan bagian kepalanya saja yang terlihat di permukaan.


"Lalu?" Cla mendongak, menoleh Arsen yang kini posisinya tentu semakin tinggi di banding dengan dirinya.

__ADS_1


"Sebenarnya aku hanya butuh seseorang yang benar-benar bisa membuat ku menghilangkan rasa trauma ku pada kedalaman." jawab Arsen menoleh pada kolam yang dalam, membaca angka 200 cm. Dan tubuhnya langsung merasakan ngeri yang luar biasa. Ia berkedip cepat dan dalam untuk menekan rasa yang tak semua orang merasakan apa yang ia rasakan.


Cla bisa melihat raut wajah Arsen yang memang selalu berubah setiap membaca angka yang tertera pada dinding kolam. Cla mulai tertarik untuk membahas lebih jauh. Dan membantu jika mungkin bisa.


"Lantas apa yang sudah kamu lakukan untuk menghilangkan rasa trauma itu?" tanya Clarice.


"Aku pernah mendatangi psikolog," jawabnya. "Dan dia menyarankan berbagai hal yang bisa aku lakukan untuk menghilangkan semua itu. Bahkan aku di berikan guru khusus untuk mengajari aku berdamai dengan kedalaman air." lanjutnya mengingat semua usaha yang sudah ia lakukan saat masih di Bandung.


"Kenapa masih gagal?" tanya Clarice.


"Karena aku menyerah..." jawab Arsen lagi. "Satu kali pertemuan dalam satu minggu. Tapi sudah 5 kali aku datang ke psikolog dan 5 kali guru olah raga itu datang ke rumah, sama sekali tidak ada perubahan! Dan aku lelah akan hal itu!" lanjutnya. "Bayang-bayang saat aku tenggelam dan kemasukan banyak air ke dalam tubuhku terus saja muncul setiap guru itu meminta aku untuk bertahan di dalam selama 5 detik saja."


"5 detik?" tanya Cla seolah tak percaya dengan cerita Arsen. Ia sampai memicingkan matanya saking terkejutnya.


"Ya, 5 detik saja sudah membuatku ingin sekali memilih untuk mengakhiri pertemuan ku dengan psikolog itu." jelas Arsen. "Tapi aku masih mencoba untuk datang lagi di minggu berikutnya. Dan yang terjadi tetap saja bayangan itu tidak hilang. Bahkan aku jadi sering mimpi buruk seperti sedang tenggelam karena bayangan itu terus saja bermunculan."


"Separah itu?" tanya Clarice.


"Hemmm..." jawab Arsen menatap lurus ke depan.


Clarice menatap Arsen dengan tatapan iba. "Mau aku bantu?" tawar Cla.


"Bantu apa?"


"Menghilangkan trauma kamu."


Tergelak sumbang, Arsen berucap... "Kamu bisa?"


"Atu tidak tau aku bisa atau tidak, aku juga tidak bisa menjanjikan trauma kamu akan hilang." jawabnya. "Tapi menurutku... mungkin kamu akan bisa belajar dan menghilangkan trauma dengan baik jika bersama teman."


"Kenapa begitu?"


"Karena kamu tidak akan sungkan denganku, bukan?" tanya Clarice. "Kalau pada guru mungkin kamu akan sungkan, karena setiap pertemuan bukannya bertambah pintar, tapi tetap flat. Dan berakhir dengan frustasi."


"Memangnya kalau belajar dengan mu, kamu yakin aku tidak akan frustasi?" tanya Arsen.


"Aku juga tidak tau, kan kita belum mencobanya. Tidak ada salahnya untuk mencoba, bukan?" tanya Cla. "Bagaimana kalau kita coba sekarang?" tawar Clarice.


"Caranya?" Arsen memicingkan matanya, menoleh pada Cla yang kembali mengeluarkan sebagian tubuhnya di permukaan.


Clarice menggeser tubuh dan berdiri di hadapan Arsen. "Kita tenggelam bersama... Jika kamu tidak kuat, kamu boleh muncul kapan saja ke permukaan. Walau baru tiga detik sekalipun." ucap Clarice dengan serius.


Arsen menatap Clarice dengan tatapan yang tidak yakin, jika dia akan sabar menjalani sesi ini. Tapi ketika sepasang matanya melihat sepasang mata Clarice, ia meyakinkan diri untuk berjuang bersama Clarice. Sedikit banyak ia yakin, jika Cla serius ingin membantunya menghilangkan trauma di dalam dirinya yang selalu menyiksa.


Hingga sering membuatnya menolak ajakan teman-teman untuk berenang bersama, entah itu di kolam renang maupun di pantai.


"Siap?" tanya Cla memastikan.


Menatap lekat, kemudian berucap... "Baiklah..." jawabnya yakin untuk ingin mencoba. Tangannya mulai memegang pipa besi semakin erat.


"Kita masuk, ya?" tanya Cla yang langsung di angguk i oleh Arsen. "Satu...Dua...Tiga!"


Setelah menghitung, Cla mengimbangi kecepatan yang di gunakan Arsen untuk memasukkan kepalanya ke dalam kolam renang.


Dan kini keduanya masuk ke dalam kolam. Jemari Clarice menghitung detik demi detik yang mampu di lewati oleh Arsen. Dia bukanlah seorang guru renang ataupun guru olah raga. Bukan juga psikolog yang memiliki ilmu untuk mengatasi masalah-masalah di dalam diri seseorang.


Dia hanya remaja 16 tahun yang sedang mencoba untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan trauma di dalam diri Arsen.


' Satu...dua...tida...empat... '

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2