Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 36 ( Selembar Kertas Pernyataan )


__ADS_3

Zio berdiri termangu di balkon rumahnya, tepat di depan kamar tidur miliknya. Berpegang pada pagar stainless setinggi pusarnya.


Sepasang mata berkaca - kaca menatap langit malam yang di penuhi kerlap kerlip bintang. Dan bulan yang bersinar terang ada di antara pasukan sinar kecil itu.


Sangat indah untuk di lihat dari balkon. Juga sangat mempesona dan menenangkan jiwa siapa saja yang melihatnya. Dan keagungan yang luar biasa bagi yang menyadari akan sempurnanya ciptaan Tuhan.


Tapi tidak untuk seorang Zio Alfaro. Hatinya telah patah di beberapa bagian. Langit yang indah berubah menjadi suram dan sunyi. Gemerlap cahaya indah itu berubah menjadi remang dan mencengkeram hati yang hancur, hingga semakin remuk.


Bukan hanya menjadi pecahan kecil, melainkan menjadi seperti serpihan kaca halus yang tak mungkin bisa di rekatkan ulang.


Dunia berputar begitu cepat. Dunianya jatuh dalam waktu singkat. Bukan karir nya yang berantakan, tapi jiwa yang selama ini ia anggap baik - baik saja, ternyata bisa nyaris gila dalam waktu satu bulan saja.


Di atas meja, tepat di belakang ia berdiri. Ada selembar undangan dari pengadilan agama kota ia dan Calina berasal. Selembar kertas yang membuat Zio ingin melompat dan terjun bebas ke bawah sana.


Biarlah kepalanya menghantam paving pelataran rumahnya sampai ia amnesia. Yang penting surat itu bisa di tarik kembali. Dan tidak ada yang di gugat maupun yang menjadi penggugat.


Namun ia kembali ingat, ada Naura yang juga harus ia jaga. Baik fisik maupun hatinya. Dunia yang membingungkan itu membuatnya kini terpuruk. Membeku dalam luka yang tak berdarah.


Pulang kerja lewat jam enam sore, Zio di buat mengerutkan kening, saat menemukan sebuah amplop yang tergeletak di atas meja teras rumah. Ia lupa mengunci pagar utama rumahnya. Sehingga kurir bisa sampai masuk ke area teras.


Dan di sanalah kekacauan hati seorang Zio semakin terasa. Nama Calina tertera di sana sebagai penggugat. Dan namanya tertera sebagai pihak yang di gugat.


' Tidak kah ada kesempatan untuk aku memperbaiki semuanya? '


Lirihnya dalam hati. Setiap detik, setiap menit nyaris selalu ia ucapkan kalimat yang sama. Namun selalu tak pernah ada pengharapan.


Namun sampai detik ini tak ada sedikitpun petunjuk dimana gadis itu berada. Sehingga ia tak tau bagaimana harus membujuk Calina agar membatalkan semuanya. Dan memulai dari awal.


Begitu juga dengan Mama Shinta yang belum mendapatkan kabar dari Calina, sang putri satu - satunya. Bunga desa itu tak menginjakkan kakinya sedikit di kampung halamannya sendiri. Sehingga Zio pun semakin bingung. Karena Mama Shinta terus memohon agar menemukan keberadaan Calina.


Genangan air mata sudah jatuh di pipinya. Membasahi garis tegas wajah tampannya. Meski tanpa isakan, namun rasanya sudah cukup untuk menunjukkan bahwa itu adalah titik terendah hidupnya.


Segera ia usap air mata itu, kemudian menghempaskan tubuhnya di kursi berlapis spons kotak di atasnya. Ia ambil batang rokok dari dalam bungkusnya. Ia nyalakan menggunakan pematik yang ada di sampingnya.


Setelah menghisap satu kali, segera ia tenggak alkohol yang ada, langsung dari botolnya.


Ah, hidup Zio benar - benar berantakan!


Di balik kaca jendela, istri pertamanya, Naura Azalea menatap dengan air mata yang menganak sungai. Ia tak bisa melihat suaminya seperti itu. Tapi dimana ia bisa menemukan Calina?


Gadis desa itu bak hilang di telan Bumi...


# # # # # #


Matahari pagi mulai menyapa Ibukota dengan malu - malu. Cahaya mulai terlihat dari timur, meski sang surya belum benar - benar terlihat.

__ADS_1


Sepasang mata yang terlelap mendadak terbuka. Akibat kembali ia merasakan mual seperti kemarin pagi. Cepat ia melesat ke dalam kamar mandi, memuntahkan semua isi perutnya.


Sakit, rasanya sungguh sakit saat muntah seperti itu. Apalagi tak ada siapapun di rumah itu. Hanya ada dirinya seorang. Tak ada seseorang yang sigap memijat lehernya bagian belakang. Atau sekedar mengusap punggungnya dengan lembut.


"Kenapa dengan ku ini?" gumamnya setelah membersihkan sisa muntahan di mulutnya.


Ia bercermin menghadap kaca besar di dalam kamar mandi. Menatap wajahnya yang terlihat sedikit pucat.


"Aku malas untuk keluar! Tapi bagaimana aku bisa sembuh kalau tidak pergi ke dokter!" gerutunya kesal.


Ia putuskan untuk sekalian mandi, membersihkan diri, berharap kembali segar setelahnya. Namun saat ia selesai mandi, ia justru merasakan lapar luar biasa.


"Perut ini benar - benar mengajak ku bertengkar!" gerutunya gemas.


Ia ambil gagang telepon di meja nakas dekat sofa ruang tamu. Ia hendak menekan nomor telepon salah satu restauran di mall gedung sebelah, namun bel pintu lebih dulu berbunyi.


Ia intip melalui lubang kecil, yang bisa memperlihatkan siapa saja yang ada di lorong depan apartemennya.


Clek!


"Selamat pagi, Nyonya Calina.." sapa seorang pria dengan pakaian resmi lengkap.


"Pagi! masuk, Pak!"


"Jadi bagaimana dengan pengajuan saya, Pak?"


"Surat undangan sudah sampai di tangan Pak Zio. Saya yakin semalam beliau sudah membacanya!"


"Baguslah.. Saya tidak ingin menghadiri proses pengadilan, Pak! Saya tidak mau bertemu mereka lagi."


"Saya akan mengusahakan semua selesai sesuai permintaan Nyonya Calina." ucap seorang lawyer terkenal yang tak di sangka akan menjadi pengacaranya dalam pengajuan perceraiannya kali ini.


"Terima kasih, Pak!" ucap Calina.


"Sama - sama, Nyonya. Tapi Nyonya sudah benar - benar yakin untuk berpisah, kan?"


"Tentu saja, Pak!" jawabnya yakin, "saya tidak ingin lagi terjebak dalam pernikahan mereka. Sudah cukup untuk menderita sampai di sini."


Pengacara itu mengangguk, "tapi Nyonya tidak dalam keadaan hamil, kan?"


"Tidak, saya baik - baik saja!" jawab Calina yakin. "Sepanjang pernikahan kami dia tidak pernah memberikan saya nafkah batin. Bagaimana saya bisa hamil!" gerutunya mengingat hari - hari yang hanya di penuhi emosi semata.


"Baiklah, Nyonya. Saya permisi!" pamit pengacara itu. "Ah, iya! Sebentar lagi akan seseorang yang mengirim sarapan untuk Nyonya. Jadi Nyonya Calina tidak perlu lagi memesan sarapan."


"Oh, begitu!" Calina mengangguk pelan. "Baiklah! Sekali lagi terima kasih, Pak."

__ADS_1


"Sama - sama!"


Pengacara berbadan tambun, berwajah tegas dengan rambut lurus hitam itu berlalu dari apartemen yang di tempati Calina bersamaan dengan seseorang berpakaian pelayan datang untuk membawa sarapan.


Calina duduk sendiri di meja makan, perutnya yang sudah menahan lapar sejak kini ingin segera ia isi sebanyak mungkin. Namun baru empat sendok ia mulai mual lagi. Dan mendorong liring ke tengah meja.


Menghela nafas berat, Calina memilih untuk berbaring di sofa, menatap jendela kaca yang menunjukkan betapa tinggi bangunan yang ia tempati kini.


"Semoga ini yang terbaik, Mas... Aku bisa bebas dengan diriku, kamu bisa bebas mencintai Naura..." lirih ya terdengar pilu.


Setetes buliran bening jatuh di pipinya untuk kesekian kali. Dalam hati setiap perempuan, mengakhiri pernikahan adalah sesuatu yang berat.


Namun apa yang harus mereka lakukan, jika keadaan tidak pernah sesuai dengan apa yang di harapkan mereka?


Tidak ada rumah tangga yang utuh tanpa ada cinta di dalamnya. Kalaupun kini Zio menyesal dan baru menyadari jika ia memiliki cinta untuk Calina, itu tidak akan bisa menjadi jaminan untuk dia bisa bersikap adil pada kedua istrinya kelak.


Menjadi istri kedua yang datangnya tidak pernah di inginkan adalah hal yang berat. Dan siapapun berhak bahagia dengan cara mereka sendiri


"Aku yakin, kita akan bahagia dengan cara kita masing - masing, Mas..."


"BIarlah diri ini kesepian di tempat ini..."


"Ma... Maafkan Calina.. Calina belum berani pulang..." lirihnya kembali dengan derai air mata.


"Papa... Mama Reni dan Papa Raihan, maafkan Calina yang tidak mampu bertahan dengan sikap Mas Zio... Calina menyerah saat kalian semua yang memberi semangat telah pergi..."


Hati kembali tersayat. Mengingat nama - nama orang yang ia sayangi. Orang - orang yang membuatnya patuh dan tunduk apad setiap apa yang mereka ucapkan. Termasuk perjodohannya dengan Zio.


Calina menoleh ke arah meja sofa. Di sana, ada sebuah kartu yang semalam di berikan oleh seseorang.


"Isinya tidak banyak! Tapi aku akan rutin mentransfernya! Dengan kartu itu, dia tidak akan mudah menemukan kamu, karena kartu itu atas namaku!"


Kalimat orang itu semalam membuat hati Calina terenyuh. Bagaimana tidak, kebaikannya melampaui suaminya sendiri. Dia bahkan memikirkan kebutuhan Calina secara detail. Dan mendukung penuh persembunyiannya saat ini.


Orang itu pula yang membayar pengacara mahal untuk Calina bisa menyelesaikan masalah perceraiannya saat ini.


Bukan mendukung Calina untuk bercerai. Namun melihat gadis itu terpuruk rasanya sudah cukup untuk menjadi bukti bahwa lebih baik sendiri dari pada hidup dengan lelaki seperti Zio.


Calina mengambil kartu itu. memutarnya di tangan. Melihat nama yang tertera, seketika bibirnya tersenyum manis. Nama yang indah, seindah pemiliknya.


"Uang ku memang sudah menipis... Tapi apa pantas aku memanfaatkan kebaikan seseorang?" gumamnya berfikir keras.


"Aku harus mencari pekerjaan. Aku tidak bisa bergantung pada nya begini.."


...🪴 Happy Reading 🪴...

__ADS_1


__ADS_2