Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 80 ( Zio Masih Ngantuk, Ma... )


__ADS_3

Pagi yang di nantikan Zio telah tiba. Untuk pertama kalinya ia akan mengantarkan Clarice berangkat ke sekolah. Yang ada di bayangan lelaki itu adalah momen mengantarkan Clarice sekolah. Bukan yang lain.


Dan siapa sangka, sebelum berangkat sekolah adalah momen teribet yang terjadi di rumahnya.


Hidup sendiri tanpa seorang istri. Dan kini ada anak usia 5 tahun yang juga harus berangkat ke sekolah di jam yang nyaris sama dengan jam masuk kerjanya membuatnya pontang panting seorang diri.


Jam 5 pagi di rancang Zio sebagai momen untuk membuatkan sarapan untuk sang anak gadis. Sekotak roti tawar dan selai ia siapkan di meja makan.


Setelah itu membangunkan Clarice yang ternyata cukup susah untuk di bangunkan juga menjadi PR besar untuk Zio. Sementara dia sendiri juga harus segera mempersiapkan diri untuk bekerja.


"Clarice sayaang...ayo bangun nak.."


Namun yang di bangunkan sama sekali tidak bergerak. Gadis kecil itu seolah terbawa mimpinya terlalu jauh. Hingga tak mendengar panggilan sang Papa. Bahkan seolah tak merasakan kecupan demi kecupan di wajah mungilnya.


"Clarice... ayo, Sayang... please! nanti kita terlambat..." rengek Zio seperti anak kecil yang merengek meminta di belikan mainan yang sedang viral.


"Haduuhh... ternyata tidak semudah itu merawat anak - anak," gerutu Zio. "Sebaiknya aku mandi duluan saja!"


Cepat - cepat Zio masuk ke dalam kamar mandi yang juga ada di dalam kamarnya. Ia mandi secara kilat, karena berfikir pasti Clarice masih membutuhkan waktu yang panjang untuk sampai di sekolah.


Beberapa menit kemudian ia sudah keluar dengan menggunakan celana kerja dan kemeja kerja.


"Clarice.. bangun, Sayang!" teriak Zio dari depan cermin yang mana ia tengah merapikan rambutnya.


Lagi - lagi Clarice hanya menggeliat pelan, sambil berucap, "Cla masih ngantuk, Mommy..." dan kemudian kembali terlelap.


Gadis kecil itu mengalami momen ngelantur akibat kebiasaan di bangunkan oleh sang Mommy.


"My God! ternyata anak gadis ku seperti aku...?"


Zio mengulum senyum di bibirnya. Merasa gemas sendiri dengan sang anak. Ia ingat, dua puluh tahun lalu, bahkan belasan tahun lalu ia masih seperti Clarice. Sangat susah di bangunkan. Sampai Mama Reni sering mencipratkan air ke mukanya. Dan yang ia lakukan hanya berucap...


Zio masih ngantuk, Ma....


Sungguh tak jauh berbeda dari yang Clarice lakukan baru saja.


Tiba - tiba rasa rindu pada sang Mama menyeruak di dalam dada. Sudah cukup lama ia tak pulang ke kampung halaman. Dimana makam sang Ayah dan Ibunya berada.


"Maafkan Zio yang dulu, Ma..." lirih Zio dengan raut wajah yang sendu. "Zio dulu sangat bebal. Meskipun begitu kalian adalah dua orang yang tak pernah aku bantah." Zio menunduk mengenang masa lalu.


Setelah itu, Zio pun segera melangkah mendekati sang putri, dengan gemas ia usapkan rambutnya yang masih basah ke wajah Clarice, dan saat itulah Clarice segera bangun.


"Papa! basah!" seru Clarice mendorong dan berusaha menyingkirkan kepala Zio yang terus meringsek di pipi dan lehernya.


"Ayo, bangun, Sayang... nanti terlambat sekolah, bagaimana?" tanya Zio. "Ini sudah hampir jam enam. Nanti Mommy memarahi Papa."


"Hemmmhhh" Clarice menggeliat, meregangkan otot - otot yang kaku akibat tidur panjang yang ia lakukan. "Tapi Cla masih sangat ngantuk, Papa.." ucap Clarice menatap lirih pada langit - langit kamar Zio yang di dominasi warna putih dan abu - abu.


"Nanti pulang sekolah tidur lagi..." jawab Zio. "Ok?"


"Tidur di ruang kerja Daddy atau ruang kerja Papa?" tanya Clarice menatap Zio dengan penuh tanda tanya. Ia tahu hari ini ia kan berada di kantor seperti biasa.


"Terserah Clarice, kalau di ruangan Papa tidak ada kamarnya, hanya ada sofa panjang. Kalau di ruangan Daddy sepertinya ada kamar. Terserah Clarice mau tidur di mana..."


"Cla mau ikut Papa sajalah! Cla belum pernah masuk ke ruang kerja Papa!" jawab Clarice.


Dan jawaban Clarice benar - benar membuat Zio semakin semangat untuk bekerja. Setelah berbulan - bulan tidak ada yang menyemangatinya untuk bekerja, sekarang ada Clarice yang membuatnya harus giat untuk bekerja. Selain untuk dirinya sendiri, kini ia juga harus terus punya uang lebih, agar bisa memenuhi kebutuhan putrinya di masa sekarang, maupun di masa depan.


"Baiklah, sekarang Clarice mandi dulu.."


"Okay... siap - siap ya.. ruang kerja Papa akan Cla buat berantakan seperti ruang kerja Daddy! hihihi" jawab Clarice sembari turun dari spring bed terbaik yang ada di rumah itu.


"Yaa.... terserah anak Papa, mau di apakan ruang kerja Papa." sahut Zio tersenyum gemas.


"Yeay!" seru Clarice dari depan pintu kamar mandi. "Papa? bantu Cla mandi!" ucap Cla.

__ADS_1


"Hah?" pekik Zio tertegun dengan permintaan anaknya. Senyum gemas seketika lenyap entah kemana.


"Bantu Cla mandi, Papaaa... Cla tidak bisa mandi sendiri!"


"Bantu mandi?" gumam Zio bingung.


' Bagaimana cara memandikan bocah 5 tahun begini? '


Tanya Zio dalam hati.


"Memangnya siapa yang biasa mandiin Cla?"


"Mommy! tapi kalau Galen sedang rewel biasanya Eyang atau Bibi Irah."


"Tapi Papa tidak tau cara memandikan anak - anak, Sayang.." jawab Zio.


"Papa bisa mandi sendiri, masa iya tidak bisa mandiin Cla?"


Zio terperangah, namun mau tak mau ia hanya bisa menjawab... "Baiklah..." dengan hampa dan nanar. Karena ia harus berfikir dengan singkat bagaimana caranya memandikan bocah 5 tahun ini.


Akhirnya Zio pun ikut masuk ke dalam kamar mandi yang tidak ada bak mandi nya itu. Hanya ada bilik shower, closed dan meja untuk menggosok gigi, serta sebuah cermin seukuran meja.


Zio mulai melipat lengan kemejanya, juga celana kerjanya. Dengan sangat bingung ia membantu Clarice mandi. Tanpa ilmu dan tanpa pendampingan ia mandikan Clarice menggunakan caranya ia mandi.


"Papa cepat! mata Cla perih!" jerit Clarice.


"Iya! iya! iya!" jawab Zio menyiramkan air shower ke muka Clarice dengan tergopoh.


Dan Clarice menggosok cepat mukanya dengan menggunakan kedua telapak tangan. Hal itu membuat air muncrat ke mana - mana. Dan berakhir dengan basahnya baju dan celana Zio.


"Oh my God!" pekik Zio lirih melihat dirinya yang basah kuyup.


"Sudah, Papa! aku mau gosok gigi sendiri!" ucap Clarice keluar dari bilik shower yang terbuat dari kaca. Kemudian mengusap tubuh mungilnya dengan menggunakan handuk sekenanya, dan barulah ia mendekati box kecil yang ada di meja cermin. Dimana box itu berisi perlengkapan mandi miliknya. Seperti sabun, shampoo, pasta gigi dan sikat gigi.


"Baiklah..." jawab Zio dengan lemas, namun sama sekali tidak marah dengan apa yang terjadi. "Papa ganti baju dulu,ya.."


Zio keluar dari kamar mandi dengan menghela nafas panjang. Baju kerja yang baru saja ia ambil dari almari kini sudah basah kuyup. Ia berdiri di depan cermin almari yang sangat besar. Menatap diri dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kemudian terkekeh gemas dengan diri sendiri.


Siapa tidak bingung, tiba - tiba saja ia sudah menjadi seorang Ayah?


Bertahun - tahun ia hanya hidup bersama seorang istri yang bisa melakukan apapun sendiri. Lalu sekarang... setelah istrinya meninggal, kenyataan menghadirkan seorang gadis kecil untuk menjadi teman hidupnya.


Sesuatu yang ia anggap gampang dan menyenangkan karena akan ada seorang peri kecil di rumah, ternyata bukan sesuatu yang mudah untuk di lakukan oleh seorang laki - laki. Apalagi ia tak pernah menyentuh anaknya sejak gadis kecil itu di lahir kan. Tentu saja apa yang harus ia lakukan saat ini adalah sesuatu yang sangat baru dan rikuh.


Zio kembali mengambil baju yang bersih di dalam almari. Kemudian cepat - cepat menggantinya sebelum anaknya keluar dari kamar mandi. Setelah itu kembali menyisir rapi rambutnya. Bersamaan dengan itu, keluarlah sang putri cantik dari kamar mandi.


"Papa! Cla sudah selesai. Dimana baju Cla?"


"Baju? oh! sebentar!"


Zio membuka koper kecil milik sang putri, dan mencari seragam yang ternyata sudah di pak dengan rapi di dalam sebuah plastik oleh sang Mommy.


' Calina memang wanita hebat! '


"Benar ini?" tanya Zio menunjukkan baju seragam di dalam plastik.


"Yes, Papa!" seru Clarice segera menghambur sang Papa dan memakai bajunya satu persatu.


Zio menatap kagum pada ciptaan Tuhan yang masih sangat mungil itu. Diri serasa masih tak percaya jika gadis kecil itu adalah miliknya. Darah dagingnya.


"Rambut Cla bagaimana?" tanya Cla.


"What!" pekik Zio tercekat.


' Kegilaan apa lagi ini? '

__ADS_1


Ini benar - benar gila! keruwetan merawat anak kecil ternyata tidak ada habisnya. Zio menggelengkan kepalanya pasrah. Yang ia tahu hanyalah mengikat rambut menjadi satu. Yaitu di jadikan seperti ekor kuda. Hanya itu yang ia tahu, karena dulu sesekali ia membantu Naura. Meskipun hasilnya bisa di katakan... buruk!


Sesi masih berlanjut dengan keruwetan di meja makan. Dimana Clarice pagi itu maunya susu coklat, bukan selai coklat. Untunglah Zio menemukan susu coklat di warung dekat rumahnya.


"Ayo, Sayang.. ini sudah setengah tujuh. Jalanan past sudah macet."


"Yes, Papa!" jawab Clarice sembari memakai sepatu Unicorn kesayangannya.


***


Kini Clarice sudah kembali duduk di kursi penumpang bagian depan mobil sang Papa. Zio pun sudah duduk di balik kemudi. Dan mobil siap melaju, meskipun jam dinding akan sudah memberi kode bahwa ia akan terlambat sampai di kantor.


"Lets go!!" seru Clarice yang mengundang senyum di bibir sang Papa.


Dan untuk pertama kalinya Zio mengantarkan seorang anak yang tak lain adalah anak kandungnya sendiri menuju sekolah TK terbaik di Ibukota.


Kedatangan Zio dan Clarice di sekolah benar - benar mengundang sorot mata siapa saja yang melihat.


"Kenapa Clarice punya banyak sekali Uncle?" tanya seseorang pada orang lainnya.


"Dan semuanya tampan!" sahut lainnya dengan senyum kagum.


Zio pun tak menggubris suara orang - orang yang sampai ke telinganya.


"Bye, Papa!" ujar Clarice setelah mencium pipi sang Papa.


"Ok! sayang!" jawab Zio tersenyum senang.


"Papa?" pekik ibu - ibu yang juga baru saja mengantar anak mereka.


Zio pun kembali tersenyum sinis. Tak peduli dengan apa yang sedang di pertanyakan oleh ibu - ibu itu.


"Miss... saya minta tolong supaya rambut Clarice di rapikan, ya?" pesan Zio pada Miss yang bertugas untuk menerima kedatangan siswa. "Tadi Mama nya tidak sempat.." kilah Zio.


"Baik, Pak!" jawab perempuan berusia sekitar 30 tahun.


***


"Ada yang berbeda rasanya, berangkat kerja tanpa membawa Clarice.." gumam Kenzo saat merapikan bajunya di kamar apartemen. "Apa hal ini akan sering terjadi?"


Calina tersenyum, "Aku justru tidak bisa membayangkan seperti apa ribetnya Mas Zio merawat Clarice di pagi hari. Dia kan tidak pernah merawat anak - anak!" kekeh Calina.


"Aku yakin dia akan datang terlambat!" sahut Kenzo mengulum senyum setengah mencibir sang anak buah.


"Ya! itu kemungkinan besar akan terjadi, Mas!" Calina kembali terkekeh.


"Lalu kira - kira Clarice akan melanjutkan obrolan tentang Mama baru atau tidak, ya?"


"Entahlah, Mas," jawab Calina. "Feeling ku sih, iya!"


Kenzo tertawa mendengar jawaban Calina. Dimana ia juga memiliki keyakinan yang sama.


"Mas?" panggil Calina sembari memasangkan dasi di leher sang suami.


"Ya, Sayang?" Kenzo menunduk, menatap lekat wajah istrinya. Dari cara Calina memanggil namanya, pasti apa yang akan di katakan adalah sesuatu yang serius.


"Apa kamu sudah siap, kalau semua karyawan akan mengetahui semua ini?"


"Siap tidak siap, hari itu pasti akan datang," jawab Kenzo dengan bijak. "Dan hari yang dulu kita pertanyakan itu, ternyata jatuh pada hari ini. Jadi mari kita jalani."


Calina tersenyum, menatap kagum pada wajah tampan sang suami. Ia letakkan kedua tangan di pundak Kenzo, kemudian menurnkandengan pelan.


"Terima kasih atas kebesaran hatimu, Mas..." ucap Calina kemudian mendaratkan satu kecupan singkat di bibir sang suami.


"I love you..." balas Kenzo dengan sebuah ciuman yang manis di pagi yang manis. Dengan sebuah lembaran yang baru.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2