Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 61 ( Tidak Mungkin! Siapa Dia? )


__ADS_3

Gilang memarkirkan mobilnya di tempat parkir pengunjung atau wali murid. Ini bukan kali pertama ia menjemput Clarice. Tentu ia tau, jika itu tempat parkir wali murid.


Lagi pula sekolah ini juga menjadi sekolah TK nya dahulu. Ya, salah satu sekolah termahal di Ibukota itu sudah berdiri sejak 30 tahun yang lalu. Artinya, saat Gilang baru berusia sekitar satu tahun.


Gilang melangkah memasuki area lobby gedung, ruang bagi para penjemput untuk menunggu anak - anak mereka. Gilang tanpa malu dan ragu berbaur dengan para Macan yang sedang menunggu buah hati mereka.


Sama seperti sang Kakak, Gilang pun sama menariknya dengan Kenzo. Ia menjadi pusat perhatian tersendiri di dalam sana. Dimana banyak Ibu - Ibu yang menunggu, ataupun bapak - bapak yang sudah berumur.


Ketampanan dan karismatik lelaki Adhitama memang tidak perlu di ragukan lagi. Semua mata seolah tertarik magnet yang entah ada di bagian mana dari tubuh seorang Gilang.


International School di huni oleh orang - orang kaya dengan kantong tebal. Yang artinya Macan ternak di sekolah itu adalah Nyonya - Nyonya dari para lelaki tanpa nomor seri.


Yang artinya mereka akan selalu terlihat cantik meski usia sudah berkepala empat atau lima sekalipun. Bukankah seperti itu istri orang kaya? bisa dengan mudah membeli kecantikan paripurna.


Namun Gilang tak terlalu besar kepala. Karena semua itu sudah sering ia alami. Hanya saja Gilang memang lebih ramah di banding Kenzo. Yang artinya ia pun akan tersenyum, jika ada yang menyapanya. Berbeda dengan Kenzo yang memilih untuk diam saja.


"Kok aku baru lihat, sih?" bisik seorang Macan pada Macan lainnya.


"Dia adiknya Pak Kenzo. Daddy nya Clarice!" jawab salah satu dari mereka.


"Ooh ... Pantas saja sangat mirip!"


"Sama - sama tampan!" sahut yang lain disertai cekikikan.


Sedikit banyak itulah obrolan para Ibu - Ibu yang menunggu anaknya keluar dari dalam lorong kelas.


Gilang duduk di bangku kosong yang ada. Setia menunggu keponakan yang sebentar lagi akan keluar. Dan benar saja tidak sampai 5 menit Gilang duduk, bel pulang sekolah berbunyi di beberapa titik.


Satu persatu pintu terbuka. Para anak keluar bergantian untuk keluar dari dalam kelas. Dan kembali di seleksi di pagar pembatas. Bagi yang belum di jemput, tentu di larang untuk keluar sekat yang membatasi lorong dengan lobby.


Gilang berdiri untuk menemukan sang keponakan. Tubuhnya yang tinggi menjulang, akan sangat mudah di kenali.


Hingga langkah mungil yang sangat ia hafal, mulai berlari mendekati sekat pembatas. Gilang pun tersenyum manis. Menyambut keponakan tiri yang ia sayangi seperti keponakannya sendiri.


"Uncle!" seru Clarice masih dari dalam pagar pembatas.


Gilang pun langsung tersenyum lebar menyambut keponakan yang kini berlari mendekati dirinya.


"Hap!" Gilang menangkap tubuh mungil Clarice dan menggendongnya di lengan kiri. Ia daratkan kecupan gemas di pipi gembul nan lembut.


"Kenapa Uncle yang menjemput Clarice?"


"Uncle yang minta," jawab Gilang, "lagi pula Daddy masih meeting!" lanjutnya.


"Oh..."


"Mau jalan - jalan dulu, tidak?"

__ADS_1


"Kemana?" tanya Clarice antusias.


"Ke mall!" jawab Gilang, "sekalian kita makan siang!"


"Okay, Uncle! Aku mau!" seru Clarice.


Akhirnya, masih dengan seragam sekolahnya, Clarice berjalan - jalan di salah satu mall mewah di Ibukota. Yang konon katanya hanya mereka dengan dompet tebal yang punya rasa percaya diri untuk memasuki mall mewah itu.


***


Waktu terus berlalu, jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga sore. Tiga jam sudah Gilang membawa Clarice jalan - jalan di mall untuk makan siang, membeli ice cream, dan bermain di play ground.


Kini mobil Gilang sudah melaju menuju perusahaan Adhitama. Mengantarkan Clarice pada sang Daddy.


15 menit kemudian, Clarice sudah berlari di depan Gilang untuk memasuki gedung perusahaan Adhitama. Langkah mungilnya selalu menarik perhatian orang - orang yang bertugas di bagian depan dan lobby kantor.


Gilang terus mengikuti langkah Clarice, hingga mereka memasuki lift khusus petinggi perusahaan.


"Sebentar lagi akan Daddy pulang?" tanya Clarice pada Gilang saat lift mulai merangkak naik.


"Betul!" jawab Gilang.


Lift berhenti saat sampai di lantai empat. Entah, siapa petinggi perusahaan yang hendak memasuki lift.


Dua pintu lift masing - masing bergeser ke sisi kiri dan ke kanan. Memperlihatkan sosok yang hendak memasukinya.


Gilang tampak sedikit shock saat melihat Zio yang berada di depan pintu lift. Meskipun ia sudah mendengar berita tentang kembalinya mantan suami kakak iparnya itu ke perusahaan.


Namun rasa shock yang ia alami itu, ia tutupi dengan senyum dingin ketika Zio menyapanya dengan senyuman ramah.


Reflek, Gilang meraih tubuh Clarice untuk di gendongnya. Seolah memberi ruang bagi Zio memasuki bilik bergerak itu. Padahal dalam hati, ia tak ingin Clarice berinteraksi dengan lelaki itu. Meski lelaki itu adalah ayah kandungnya. Karena ia merasa, ini bukan waktu yang tepat.


Zio menyempatkan diri untuk melihat Clarice yang kini membelakanginya. Rasa penasaran yang tadi pagi membuatnya berfikir, kini kembali menyelinap di dalam pikirannya. Menggabung - gabungkan kembali usia anak di gendongan Gilang dengan masa lalu Kenzo. Namun sebisa mungkin ia tepis, karena situasi yang di rasa tidak tepat.


Setelah Zio tersenyum hormat pada putra pemilik perusahaan, Zio memberi kode pada seseorang di sisi kirinya untuk ikut masuk ke dalam lift.


"Ayo!" ajak Zio setelah orang itu seolah menolak untuk ikut masuk.


"Tapi, Pak..." suara perempuan terdengar di telinga Gilang.


"Tidak apa - apa!" jawab Zio.


Akhirnya Zio berjalan memasuki lift setelah perempuan di sisi kirinya berjalan ke arah pintu lift mengikutinya.


Zio kembali menunduk hormat pada Gilang yang berdiri tegak dengan Clarice di lengannya. Dan langsung berjalan ke arah belakang Gilang, melewati sisi kiri Gilang.


Sementara seorang perempuan, berjalan ke arah pintu lift yang masih terbuka. Ia terlebih dahulu melihat siapa yang ada di dalam lift.

__ADS_1


Perempuan yang tak lain adalah Zahra itu tentu tau siapa yang sedang menggendong Clarice. Meski tak pernah mengobrol secara langsung sebelumnya, tapi fotonya sering beredar di perusahaan. Dan sering pula melihatnya saat di acara - acara besar perusahaan.


Lima tahun lebih mengabdi di perusahaan Adhitama, sudah pasti ia mengetahui siapa pemilik perusahaan, dan siapa para putra mahkota.


Meski mereka semua mungkin tak akan mengenali dirinya yang hanya berada karyawan divisi pemasaran. Jauh di bawah posisi orang - orang seperti Kenzo dan Gilang.


"Selamat sore, Pak!" sapa Zahra tersenyum dan menunduk hormat. Seolah sekaligus meminta izin untuk ikut memasuki lift.


Gilang yang sebelumnya tidak memperhatikan siapa yang akan masuk, segera menoleh saat merasa dirinyalah yang sedang di sapa. Sepasang mata perlahan bergerak, hingga dua sorot mata bertemu dalam satu garis lurus.


Namun detik berikutnya, Zahra segera menunduk hormat. Tapi, tidak dengan Gilang. Ia terpaku menatap wajah Zahra. Rambut itu, garis wajah itu, sangat mirip dengan sosok yang sangat ia kenal.


Zahra berjalan ke arah belakang Gilang, melewati sisi kiri Gilang. Sementara Gilang masih terus melirik menggunakan ekor matanya meski terhalang tubuh Clarice.


Saat itu juga, nafasnya terasa tak beraturan. Ada sesuatu yang merasuki pikirannya, bahkan hatinya. Seperti ada sesuatu yang sedang di obrak abrik.


Pintu lift tertutup kembali, segera ia menatap dinding di depannya yang memantulkan siapa saja yang ada di belakangnya. Diri seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat. Tapi semua adalah nyata, alias benar terjadi.


' Tidak mungkin! Siapa dia? '


Tanyanya dalam hati.


Tubuh serasa membeku. Ingin ia menoleh ke belakang guna menamatkan wajah jelita yang tak asing baginya. Tapi rasa ragu dan bingung menyeruak sepanjang lift bergerak naik ke atas.


"Uncle? Nanti jangan bilang Daddy, ya? Kalau Clarice makan banyak ice cream!" ucap Clarice dengan lucunya.


Sontak lamunan Gilang serasa ambyar. Namun meski suara Clarice yang mengganggunya, nyatanya kesadarannya tak kembali secara utuh. Ia hanya mengangguk dengan senyum kaku untuk menjawab permintaan Clarice yang biasanya akan ia balas dengan beberapa candaan.


Berbeda dengan Gilang, ucapan Clarice menjadi magnet tersendiri untuk Zahra dan Zio di belakang Gilang.


Jika Zahra menoleh Clarice kemudian tersenyum gemas karena memiliki anak perempuan pula yang seusia Clarice.


Maka Zio menoleh Clarice dengan getaran rasa tersendiri. Ada sesuatu yang sulit di artikan. Namun berdesir tipis di dalam relung hatinya.


Melihat Clarice yang terkekeh ceria, reflek ia pun ikut tersenyum melihat wajah cantik Clarice yang menggemaskan.


Kembali pada Gilang yang kini kembali menatap Zahra melalui pantulan dinding. Semua sungguh sulit untuk di artikan olehnya. Tapi semua benar dan nyata.


' Ini bukan halusinasi... '


Gumam Gilang lagi.


Merasa ada yang menatapnya, Zahra pun ikut melihat dinding yang sama. Hingga dua sorot mata kembali bertemu. Seketika itu Zahra merasa salah tingkah.


Bukan karena malu di lihat seorang Gilang Adhitama. Melainkan merasa bersalah karena ikut memasuki lift khusus petinggi perusahaan. Meskipun itu boleh selama ada petinggi yang mengajaknya.


Akhirnya Zahra memilih untuk terus menunduk. Sementara Gilang masih menatapnya penasaran.

__ADS_1


' Siapa kamu sebenarnya? Sejak kapan kamu ada di sini? '


...🪴 Happy Reading 🪴...


__ADS_2