
Arsen melangkah maju mendekati panggung untuk meminta sebuah lagu. Ia masukkan uang sebesar 200 ribu ke dalam kotak sebagai uang tip pada pemain musik yang ingin ia ajak berunding untuk mewujudkan keinginannya.
Setelah sedikit obrolan, kini Arsen meraih sebuah gitar yang di berikan oleh salah satu anggota group dengan senang hati. Sang penyanyi asli mulai minggir dan memilih untuk duduk di kursi tunggu. Begitu juga dengan anggota yang lainnya.
Pastilah mereka lebih senang, karena bisa istirahat sejenak, dan justru mendapatkan tip sebesar 200 ribu yang jarang mereka dapatkan dari satu orang.
Mereka semua menyingkir, karena Arsen sang pembalap itu ingin bernyanyi hanya dengan di iringi oleh sebuah gitar yang ia petik sendiri. Tanpa bantuan alat musik maupun bantuan dari orang lain.
Dan kini Arsen siap beraksi dengan duduk di balik microphone, dengan sebuah gitar di pangkuannya. Untuk sesaat matanya mengamati sekitar. Memeta satu persatu wajah pengunjung Cafe yang mayoritas adalah anak muda. Ada yang melihat ke arahnya, dan ada pula yang masih asyik mengobrol dengan temannya.
"Selamat malam, semua..." sapa Arsen membuka salam.
"Malam..." jawab sebagian orang yang memperhatikan keberadaannya di atas panggung mini.
"Perkenalkan, nama saya Arsenio, panggil saja Arsen," ucap Arsen memperkenalkan dirinya.
Dan saat itulah semakin banyak mata yang menoleh ke arah Arsen. Untuk melihat seperti apa wajah yang sedang mengeluarkan suara nya menggunakan mic.
"Saya duduk di sini beserta gitar ini untuk menyanyikan sebuah lagu... yang di minta oleh dua sahabat saya!" Arsen beralasan dengan menatap Clarice yang ada di meja bersama Naufal.
Jika Clarice hanya diam dengan kening yang berkerut karena merasa tidak meminta, maka Naufal justru tersenyum karena paham maksud dari sahabatnya yang sedang tersenyum di atas sana.
"Sebelum itu... saya ucapkan selamat bermalam minggu untuk semua pengunjung K-Ndo Cafe malam ini..." ucap Arsen. "Semoga malam ini, yang sedang PDKT, tidak lagi PDKT!" ucap nya disambut seruan mereka yang mengharapkan hal itu benar terjadi.
"Semoga yang malam ini masih jomblo, pulang-pulang sudah punya pacar!" lanjutnya. "Ajaib dong, ya!" lanjutnya terkekeh sendiri
"Wiiihhh..." seru mereka yang merasa jomblo, dengan di sertai suara riuh tepuk tangan karena di anggap do'a yang unik dan lucu.
"Semoga yang yang datang bersama pasangan, hubungannya tetap awet dan tahan lama meski tanpa formalin. Yang penting harus di landasi dengan kejujuran dan tanpa ada kata... pengkhianatan..." ucap Arsen dengan menekan kata pengkhianatan, seolah ada dendam tersendiri dengan kata - kata itu.
Suara riuh tepuk tangan dari mereka yang datang dengan pasangan, seolah mengaminkan ucapan Arsen dengan cara mereka sendiri. Meski tak sedikit pula yang berteriak Aamiin.
"Ok, guys! yang bisa lagunya, kita bisa nyanyi bersama ya... sebuah lagu lama, untuk kalian yang memendam rasa cinta untuk sahabat kalian..." ucap Arsen tersenyum manis dan menawan, mengawali petikan pada gitar di atas pangkuannya.
Dan senyum manis Arsen ternyata di sambut meriah oleh seluruh pengunjung Cafe dengan berkasak - kusuk, juga dengan sebuah seruan akibat terlalu kagum dengan ketampanan sang pemuda. Terutama para gadis remaja, bahkan mereka yang usianya sudah di atas Arsen.
Ketampanan seorang Arsenio Wilson, remaja 16 tahun itu pastilah di anggap sebagai bibit unggul bagi para perempuan yang sudah berusia di atas 20 tahun, dan di bawah 27 tahun.
Mereka tak akan segan memuji, atau bahkan menggoda, jika memang di anggap tampannya kelewat batas. Meskipun pada akhirnya mereka akan memanggil untuk pertama kali dengan sebutan adek...
Petikan gitar dari jemari Arsen mulai terdengar pelan dan mendayu. Sampai menarik satu persatu pasang mata pengunjung yang ada di Cafe itu.
Bulan terdampar di pelataran...
Hati yang temaram...
Matamu juga mata-mataku...
Ada hasrat yang mungkin terlarang...
Lagu dengan genre asli rock itu di ubah Arsen menjadi lagu melow yang terdengar begitu dalam dan menyentuh hati siapa saja yang mendengarnya.
Sehingga selesai bait pertama di nyanyikan, langsung mengguncang suara riuh dan tepuk tangan dari para pengunjung. Terutama untuk mereka yang sedang berada di posisi itu. Apalagi suara Arsen terdengar sangat merdu, lembut dan ringan.
Satu kata yang sulit terucap...
Hingga batinku tersiksa...
Tuhan, tolong aku jelaskanlah...
Perasaanku berubah jadi cinta...
Suara riuh penonton di bait pertama tadi kini telah lenyap. Di ganti dengan suasana syahdu yang menghanyutkan, dan penuh perhatian di bait kedua.
Jika tadi banyak yang tidak memperhatikan Arsen di atas panggung mini. Maka sekarang semua mata tertuju pada panggung yang sedang di kuasai oleh Arsen. Arsen mendadak menjadi magnet tersendiri bagi seluruh pengunjung Cafe.
Bahkan beberapa dari pengunjung mulai mengangkat ponsel untuk merekam Arsen dan suaranya. Juga untuk merekam betapa para pengunjung terhipnotis dengan suara Arsen. Ada juga yang hafal lagunya dan memilih untuk menirukan liriknya dengan pelan dan lirih.
__ADS_1
Tak bisa hatiku menafikan cinta...
Karena cinta tersirat bukan tersurat...
Meski bibirku terus berkata tidak...
Mataku terus pancarkan sinarnya...
Di bait ini, banyak sekali yang sudah mulai lupa untuk berbincang dengan temannya. Bahkan lupa dengan tujuan mereka mendatangi Cafe bersama temannya.
Semua hanyut oleh lelaki asing dan tampan yang sedang menghibur seluruh pengunjung K-Ndo Cafe tanpa meminta bayaran dan justru mengeluarkan tip untuk sang pengisi acara.
Apa yang kita kini tengah rasakan...
Mengapa tak kita coba tuk satukan...
Mungkin cobaan untuk persahabatan...
Atau mungkin sebuah takdir Tuhan...
Arsen menyanyikan bait ini dengan mata yang menatap lekat pada Clarice yang duduk dengan membisu. Seolah apa yang sedang ia suarakan adalah asli dari dalam hati. Alias pengungkapan rasa yang sesungguhnya. Hingga tatapan mereka bertemu sampai bait itu selesai di nyanyikan oleh Arsen.
Meski lagu ini booming di saat dirinya yang masih piyik, tapi sedikit banyak Clarice juga tau. Karena sudah banyak di cover oleh penyanyi cover di youtube dengan beberapa genre. Bahkan penyanyi jebolan Idol pun pernah menyanyikan ulang dengan genre melow seperti yang Arsen lakukan kini beberapa tahun yang lalu.
Sehingga ia sering mendengarnya, entah saat berjalan di mall, atau bahkan ia dengar sendiri di kamarnya sesekali, melalui ponselnya.
Arsen kembali mengulang bagian Reff, namun matanya mulai melihat sekitar untuk mengetahui antusiasme penonton yang ada. Ia sama sekali tidak gugup, karena selama di bandung ia sudah terbiasa manggung bersama anggota band yang di bentuk di sekolahnya yang lama.
Dan yang membanggakan, grup band Arsen di Bandung kala itu adalah mereka sering mengikuti kompetisi. Hingga pernah mendapat juara satu dan tampil di salah satu konser grup band Ibukota sebagai grup band opening.
Sedangkan sang target, Brighta Clarice Agasta. Semenjak Arsen duduk di kursi penyanyi, gadis itu terus saja mengamati sekitar. Banyak sekali remaja perempuan yang menatap Arsen dengan tatapan penasaran dan bisik-bisik kekaguman juga sempat melintas di telinganya. Dari pengunjung di kursi sebelah.
Mereka semua seolah bertanya, apa yang akan di lakukan sang pemuda tampan mendekati panggung mini?
Bernyanyi, kah?
Atau sekedar ingin memberikan uang tip ke dalam kotak? Karena Arsen melangkah sembari membuka dompet hitam yang ada di saku celananya bagian belakang. Dan dapat mereka lihat, jika yang keluar adalah lembaran merah.
Tak heran jika banyak yang menatap Arsen sembari berkasak-kusuk. Karena Arsen memang layak untuk di kagumi diam-diam. Hanya saja Clarice belum tau apa yang ia rasakan terhadap Arsen. Karena jika lelaki itu tidak datang ke sekolah pun, rasanya ada yang kurang. Bahkan lebih kurang dari saat Vino tidak datang.
Maklum, hampir setiap hari Arsen selalu mengganggunya di sekolah. Jadi jika tidak ada Arsen, maka tak akan ada yang mengganggunya. Dan kelas jadi serasa sepi.
"Suara Arsen bagus, ya?" gumam Naufal.
"Iya.." jawab Clarice mengakui dengan singkat.
"Aku tidak menyangka dia sesempurna ini..." sahut Naufal yang sepertinya mendukung kedekatan Arsen dengan Cla. Sehingga ia menonjolkan sahabat barunya itu. "Tampan, kaya raya, pembalap juga punya suara yang bagus."
"Tidak ada manusia yang sempurna, Fal!" jawab Clarice tidak mau menerima mentah-mentah kalimat yang menyatakan sang pemuda adalah makhluk Tuhan yang sempurna. "Kita baru mengenalnya dua bulan, bukan?" tanyanya. "Dia juga pasti punya kekurangan yang mungkin belum kita ketahui..."
"Ya, kamu memang benar!" sahut naufal. "Dia juga punya kekurangan yang aneh!"
"Apa?" tanya Clarice penasaran.
"Dia tidak bisa berenang!" lanjut Naufal membuat Clarice menoleh dengan mata yang membulat sempurna.
"Tidak bisa berenang? kamu yakin?" tanya Clarice seolah tak percaya dengan cerita Naufal.
"Ya... dia bilang, keluarganya pernah mengalami kecelakaan dan masuk ke dalam danau buatan yang cukup dalam. Dan kala itu ia masih berusia enam tahun dan belum bisa berenang. Sehingga ia trauma untuk memasuki kolam sampai sebesar ini!" jelas Naufal.
"Setiap masuk ke dalam kolam, ia akan mengingat momen itu!" lanjutnya. "Di mana katanya dia hampir mati karena kehabisan nafas."
"Enam tahun belum bisa berenang?" tanya Clarice. "Aku lima tahun sudah bisa!"
Naufal berdecih, "Dia dan Kakaknya di asuh Neneknya sejak kecil. Dan mereka belum mengizinkan Arsen untuk belajar berenang kala itu. Eh, keduluan trauma!" gelak Naufal tanpa suara.
"Iya, juga, ya!" sahut Clarice ikut tergelak. "Tapi kasian juga..." lanjutnya mengingat Arsen yang pernah hampir mati karena tenggelam.
__ADS_1
Lepas dari obrolan nya dengan Naufal di bait pertama, Clarice pun akhirnya ikut hanyut di bait reff selanjutnya, ketika lagu yang di nyanyikan Arsen benar-benar di nikmati pengunjung Cafe. Ia tak menyangka efek Arsen begitu jauh. Ia bahkan ikut bernyanyi pelan dan santai, mengikuti lirik yang ia cukup hafal karena memang sangat mudah untuk di ingat. Meski itu ia suarakan hanya di dalam hati saja.
Hingga ia mendengar satu kalimat dari Arsen untuk mengakhiri aksinya di atas panggung mini malam ini.
"Terima kasih untuk semua pengunjung K-Ndo Cafe, dan terima kasih untuk manajemen karena sudah meminjamkan panggungnya unu saya." ucapnya dengan seulas senyum menoleh pada anggota band yang mengisi tadi.
"Sampai jumpa di lain kesempatan..." ucap Arsen membuat kesadaran Clarice kembali. Dan ia segera bersikap normal, selayaknya sebelum Arsen naik ke atas panggung.
Namun siapa sangka, kalimat penutup Arsen di sambut dengan rasa kecewa dari para penonton yang mengharapkan sang pemuda kembali bernyanyi dan menghibur para pengunjung yang masih ingin mendengar suara merdu sang pembalap.
Namun tentu saja Arsen menolak permintaan dari 80% pengunjung yang datang. Karena ia tak ingin membuang waktunya untuk bisa ngafe bareng bersama Clarice. Yang terpenting baginya sudah menyampaikan secara tidak langsung tentang apa yang ia rasakan pada sang gadis.
Meskipun mungkin sang gadis tidak mau menyadarinya. Karena memang tidak mudah mengetuk pintu hati yang terlanjur membentengi dirinya untuk tidak terlalu mudah jatuh cinta dan menjalin hubungan.
"Kamu vokalis?" tanya Clarice ketika Arsen mendudukkan kembali bokongnya pada kursi yang tadi ia duduki.
"Tidak, aku hanya vokalis 2!" jawab Arsen kemudian menyeruput Cappucino latte miliknya. "Aku seorang Bassis!" jawabnya. "Tapi juga membantu teman ku! terkadang aku juga bernyanyi sambil memainkan Bass ku!"
"Wow!" seru Clarice menatap kagum dengan keahlian Arsen yang cukup banyak. Di luar ketidak bisa-annya dalam berenang.
"Aku ingin melihat mu tampil di sekolah!" ujar Clarice. "Pasti kamu bagaikan Ariel Noah yang sedang manggung, khususnya menjadi bintang tamu di acara sekolah!" lanjut Clarice di penuhi dengan gurauan. Meski pun dalam hati sebenarnya ia mengakui jika Arsen tak kalah mempesona dari seorang Ariel Noah.
"Akan aku mewujudkannya jangan khawatir!" jawab Arsen enteng.
"Ya, dan Alexander INternational School akan sangat ramai. Fans mu kan banyak di sekolah!" sindir Clarice yang sesungguhnya tidak suka jika ada yang berdekatan dengan Arsen.
"Kamu salah satunya!"
"Terlalu percaya diri!" gumam Clarice mencibir Arsen.
Obrolan demi obrolan terus berlanjut. Senda gurau bergantian mereka lontarkan. Hingga waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Selama waktu yang mereka miliki untuk berkumpul, tidak ada kesempatan untuk menggoda Clarice selain hanya dari kata - kata kode saja. Karena ketiganya lebih fokus pada candaan dan obrolan yang berhubungan dengan sekolah.
Bukan Cla tidak peka dengan sikap Arsen. Tapi untuk saat ini memang dia menepis segala sesuatu yang terlihat di matanya. Ia tak mau lagi kecewa melihat laki - laki seperti Vino. Di kelas sangat dingin dan mengesankan. Tapi ternyata tak lebih dair sekedar buaya darat sialan.
"Balik dulu ya, Sen!" pamit Naufal pada Arsen ketika mereka bertiga sudah di tempat parkir motor.
Cafe masih sangat ramai. Anak muda maupun anak tua tampaknya masih betah di sana. Mungkin sampai Cafe tutup mereka masih akan asyik di sana.
Tapi di antara anak-anak manusia itu, ketiga murid kelas X3 Alexander International School harus bubar, karena ada gadis yang tak boleh pulang lebih dari jam 10 malam. Dan para lelaki yang memiliki waktu masih panjang memahami itu.
"Ya, aku juga mau pulang saja!" jawab Arsen yang kini sudah ada di atas motornya. "Kapan-kapan aku yang antar jemut ya?" tawar Arsen pada Clarice yang menunggu Naufal memakai helm.
"Do'a saja yang banyak!" jawab Clarice dengan bibir yang mengerucut setengah mengejek Arsen.
"Hahaha! baiklah, aku akan berdo'a, dan aku pastikan, aku akan bisa dengan mudah menjemputmu di rumah mu yang mana saja!" ujarnya percaya diri.
"Ya... silahkan Mr. percaya diri...." Cla menyebut Arsen sebagai Tuan yang terlalu percaya diri. "Bye!"
Clarice melambaikan tangannya singkat pada Arsen ketika ia sudah berada di atas motor Naufal yang sudah siap untuk melaju. Membelah kemacetan Ibukota di kala malam minggu. Yang mana sampai jam 12 malam pun jalanan masih akan di penuhi oleh berbagai jenis kendaraan.
' Clarice... sebenarnya siapa yang kamu sukai? '
Gumam Arsen dalam hati, menatap punggung Cla yang mulai menjauh karena motor Naufal sudah melaju meninggalkan halaman parkir Cafe dan memasuki jalanan. Untuk kemudian berbaur dengan kendaraan yang lain.
' Kadang aku merasa kamu tertarik padaku, tapi terkadang aku juga merasa kamu sangat acuh padaku! '
Arsen hanyut dalam pemikiran nya tentang sosok gadis yang akhir - akhir ini memang mencuri perhatiannya.
' Kamu tidak akan seperti itu, jika tidak ada yang sedang kamu sukai! Apa mungkin kamu menyukai Naufal? '
' Ah! sepertinya tidak mungkin kalau kamu menyukai Naufal! selama di kelas kalian tampak biasa saja! '
' Tapi kamu tidak pernah terlihat dekat dengan lelaki manapun selain aku dan Naufal! '
Ah, hati anak seorang pengusaha batubara tengah kacau oleh seorang gadis yang ia sukai sejak malam pertama ia dinyatakan sebagai murid baru di sekolah.
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...