Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 39 ( Malam Itu ... )


__ADS_3

šŸ„ Flashback On . . .


Si gadis desa menangis sesenggukan di balik pintu kamarnya. Lebih tepat kamar tamu di rumah suaminya yang di jadikan kamarnya, yang berstatus sebagai istri kedua yang yang tak di anggap.


Hati semakin terluka, saat lelaki yang tak pernah memperlakukan dirinya selayaknya istri, tiba - tiba menciumnya tanpa izin.


Rasa sakit semakin dalam, karena pria itu melakukan setelah perdebatan yang belum usai. Seolah dirinya tak berharga, sehingga bisa dengan mudah mencium tanpa rasa bersalah.


Jika sebelumnya keduanya adalah suami istri yang saling mencintai, mungkin itu akan menjadi akhir perdebatan yang baik.


Tapi keduanya tidak dalam keadaan itu. Sehingga apa yang di lakukan Zio semakin menggores luka di hatinya. Meremukkan hati yang hampir runtuh.


Puas menangis, Calina menatap almari yang satu bulan lalu sempat ia kemasi. Menatap dengan gamang, namun hati kemudian mantap untuk melakukan apa yang ingin ia lakukan.


Yaitu menjauh dari kehidupan Zio dan Naura!


Jam dinding menunjukkan pukul dua pagi, cepat - cepat Calina mengemasi semua barang - barang penting miliknya. Menyisakan barang - barang yang tidak terlalu penting di kamar itu. Atau barang yang bisa ia beli lagi.


Berdiri di depan kaca almari dengan koper dan tas jinjing di tangan kirinya, Calina meyakinkan diri untuk melanjutkan rencananya.


"Kamu harus bahagia, Calina! Jangan biarkan dirimu di injak - injak oleh pria tak berhati seperti Zio Alfaro!"


Gumamnya sembari menatap tajam dirinya sendiri. Mengeratkan gigi - gigi putihnya yang berbaris rapi.


Puas memandangi diri, dengan baju yang belum ganti sejak pagi kemarin, Calina mengangkat koper dan membawanya keluar dari kamar. Ia memilih untuk tidak menarik koper itu, agar tidak menimbulkan suara.


Sebelum keluar, ia menoleh ke arah tangga. Sudah gelap. Kamar Zio pun sudah tertutup rapat. Ia yakin, suaminya itu sudah terlelap. Ia berjalan pelan ke arah dapur untuk mengambil seutas tali dan membawanya kembali bersama koper dan tas jinjingnya.


Pelan - pelan Calina membuka pintu garasi, ia ikat rapat koper di bagian jok penumpang motornya. Dan tas jinjing ia letakkan di bagian depan. Sebisa mungkin ia mengeluarkan motor tanpa suara. Hingga akhirnya berhasil melewati pagar besi rumah Zio.


Kabur di jam dua pagi bukanlah hal mudah. Selain menyiapkan nyali, juga harus menyiapkan mental jika ada yang mengganggu atau sekedar menatapnya dengan tatapan aneh.


Karena barang - barang yang ia bawa tentu tidak umum untuk di bawa seseorang di jam dua pagi.


Motor mulai melaju pelan setelah mengunci kembali pagar besi. Sebisa mungkin ia menghindari komplek yang masih ada orang di luar rumah. Hingga ia berhasil melewati pos security.


"Kemana aku harus pergi?" gumamnya dari balik kaca helm yang ia kenakan.


"Mana mungkin mencari kontrakan jam segini?"


Calina di ombang ambing kekhawatiran, mengingat jam bukan lagi waktu siang. Melainkan waktu dimana banyak orang memilih untuk tidur dan menyelam di alam mimpi.


Akhirnya ia memutuskan untuk mengambil uang terlebih dahulu. Ia hanya bisa mengambil maksimal 10 juta saja dari kartu ATM miliknya.


"Setidaknya cukup untuk bayar kontrakan!" gumamnya keluar dari bilik mesin ATM.


Kembali ia melajukan motor hingga memasuki jalan raya tengah kota. Ia berhenti di tepi taman kota. Menatap gamang sebrang jalan.


Sebuah hotel bintang 5 ada di sana. Menjulang dengan tinggi dan megahnya. Lampu berwarna biru menerangi tulisan nama hotel tersebut.


"Aku tak tau hotel termurah di kota ini! Tapi aku tidak punya pilihan lain. Rasanya kalau aku menginap semalam di sana tidak akan masalah. Meskipun uangnya bisa buat makan dan jajan satu minggu!" menghela nafas berat. Sangat berat. Mengingat mahalnya hotel yang akan ia sewa untuk satu malam.


Calina hendak berputar arah, ia kembali melajukan motor untuk mencari celah putar balik. Namun sial, akibat mata yang mungkin mulai mengantuk, saat berbelok motornya justru menabrak bumper belakang sebuah mobil mewah.


Melongo sudah si bunga desa. Membaca jenis mobil yang ia tabrak sudah membuat kepalanya pusing.

__ADS_1


Berapa juta rupiah yang harus keluar dari dompetnya untuk ganti rugi? Pikirnya.


Mobil di depannya berhenti seketika, saat sang supir merasa ada yang menabrak mobil yang ia kemudikan.


"Ada apa?" tanya seseorang di bangku penumpang bagian belakang saat merasakan tubuhnya bergerak ke depan dan kembali menghantam sandaran.


"Saya juga tidak tau, Den! Coba saya lihat dulu!" ucap si supir.


Supir keluar dari balik kemudinya. Berjalan ke belakang mobil. Dan mendapati seorang perempuan yang segera memohon maaf padanya dengan menunduk dalam.


"Maafkan saya, pak! Maaf! Saya tidak sengaja!" mohon Calina terus menunduk tanpa melihat lelaki di depannya. "Tolong jangan hukum saya! Tolong jangan laporkan saya ke polisi! Saya akan ganti rugi asal tidak terlalu mahal.." ucapnya melas.


"Kamu..." ucap supir itu merasa tak asing dengan suara Calina.


Calina pun sama. Ia seperti tak asing dengan suara lelaki di depannya. Cepat - cepat ia mendongak ke atas.


"Pak Heru!" pekik Calina.


"Neng... Siapa ya? Istrinya anak buahnya bos kan kalau tidak salah?"


"Iya, Pak! Nama saya Calina!" jawab Calina. "Pak, saya minta maaf! Saya tidak sengaja menabrak mobil Pak Kenzo!" rengek Calina penuh harap. "Apa yang harus saya lakukan supaya Pak Kenzo tidak marah?"


"Emm..." Mang Heru tampak berfikir. Ia pun bingung. Karena Kenzo sendiri menurutnya orang yang susah - susah gampang. Saat berfikir, mata Mang Heru melihat koper di atas motor Calina.


"Neng mau kemana jam segini?" tanya Mang Heru menunjuk koper Calina.


"Panjang pak ceritanya, tidak akan selesai kalau cerita di sini. Yang jelas, tolong bantu saya supaya bisa terlepas dari hukuman Pak Kenzo..." mohon Calina penuh harap.


"Ada apa ini?" suara barinton membuat semua menoleh ke sumber suara. Suara itu muncul tepat di belakang Calina yang semakin panik.


Tersenyum kikuk, Calina melirik bumper mobil Alp*rd Kenzo yang sedikit penyok dan wajah Kenzo secara bergantian.


Sementara Kenzo menoleh motor Calina yang terdapat koper di belakangnya. Serta tas jinjing di bagian depan.


"Untuk apa jam segini kamu bawa barang sebanyak ini?" tanya Kenzo tanpa menjawab permohonan Calina.


"Em... Saya... Kabur dari rumah Mas Zio, Pak!" jawab Calina ragu namun tak dapat di pungkiri jika memang itu benar adanya.


Jangan kan Kenzo, anak kecil pun tak akan percaya jika dengan barang sebanyak itu di jam 2 pagi kemudian beralasan jualan baju!


"Kabur dari rumah?"


"Iya..." jawab Calina menunduk dalam.


"Jam setengah tiga pagi?" tanya Kenzo melirik jam tangan.


"Iya, Pak! Saya terpaksa! Saya sudah tidak betah tinggal bersamanya!"


Kenzo tampak berfikir, ia gelengkan kepalanya pelan. Merasa tak percaya, tapi semua terlihat nyata.


"Mang Heru, turunkan kopernya! Masukkan ke mobil!" titah Kenzo.


"Baik, Pak!" jawab Mang Heru.


"Tapi, Pak! Untuk apa?" tanya Calina panik. "Jangan bilang barang - barang saya di sita untuk ganti rugi! Saya bisa bayar pakai uang!" cerocos Calina tanpa henti.

__ADS_1


Memutar bola matanya malas, "aku akan meminjamkan mu tempat tinggal! Dengan syarat ceritakan semua masalah hidupmu bersama Zio!" lugas Kenzo.


Calina terperangah dengan syarat Kenzo. Ia berfikir ulang, bukankah sangat bahaya jika Kenzo tau kalau Zio punya dua istri.


Tapi di jam seperti ini, siapa lagi yang bisa menolongnya? Ia butuh bantuan untuk menghindari menginap di hotel yang mahal hanya untuk satu malam.


Tabungannya tidak banyak, tidak akan cukup untuk ia bertahan sampai memiliki pekerjaan baru.


"Bagaimana?" tanya Kenzo lagi, "jujur! Sudah lama aku ingin tau tentang suamimu itu!"


"Tapi... Bukankah saya harus menjaga aib suami saya?" tanya Calina ragu.


"Ya! Kamu benar! Termasuk menjaga rahasia suamimu yang memiliki dua istri?"


Pertanyaan Kenzo membuat mata Calina terbelalak lebar. Darimana Kenzo tau? Itu yang ia pikirkan.


"Dimana salah satunya adalah karyawanku! Dan itu kesalahan yang sangat fatal! Menikah dengan karyawan lain dalam satu perusahaan di larang keras!" jelas Kenzo.


Pernyataan Kenzo semakin membuat mata Calina terbuka lebar, bahkan kali ini dengan mulutnya yang membentuk huruf O. Reflek ia tutup mulutnya itu menggunakan kedua telapak tangan.


"Pak Kenzo tau semua itu?" tanya Calina tak percaya.


"Aku bukan bos yang bisa di bodohi karyawanku, Calina!" ujar Kenzo menatap tajam Calina. "Anggap saja sekarang aku menangkap mu sebagai tawanan, supaya aku tidak memecat suamimu!"


"Jangan, Pak! Jangan di pecat!"


"Kalau begitu ikut aku! Dan ceritakan semuanya!"


"Ba..baik!" jawab Calina pasrah.


"Mang Heru, bawa motornya ke apartemen Golden Feet! Aku akan menyetir sendiri!"


"Baik, Den!"


"Masuk ke mobil!" perintah Kenzo pada Calina.


Mau tak mau, suka tak suka akhirnya Calina masuk ke dalam mobil mewah itu, untuk kedua kalinya.


Calina hendak masuk ke pintu belakang, namun suara Kenzo membuat jantungnya hampir melompat.


"Duduk di depan! Kamu pikir aku supir mu!" seru Kenzo


"I..iya!" hanya itu yang bisa keluar dari bibir mungil Calina.


Dan di sanalah, di apartemen itulah seluk beluk kisah hidup Calina menguar. Kenzo hingga tak bekerja, hanya karena begadang mendengar curhatan Calina yang di baluri derai air mata perempuan itu.


Hingga keduanya tanpa sadar tertidur di sofa ruang tamu.


šŸ„ Flashback Off . . .


...🪓 Happy Reading 🪓...


Ok! Malam ini Author kasih Malam Itu aja yaa šŸ˜‚šŸ˜‚


Besok baru kisah selanjutnya...

__ADS_1


Salam manis, Lovallena...


Jangan lupa tinggalkan jempol, komen atau ⭐5 nya 🄰


__ADS_2