Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 91 ( Harus Cepat! )


__ADS_3

Hari masih cukup pagi. Bahkan jam masuk kerja untuk karyawan Adhitama Group pun belum berdenting. Ketika beberapa mobil petinggi perusahaan sudah mulai memasuki area parkir perusahaan satu persatu.


Turun dari kuda besi, Zio langsung melangkahkan kakinya ke arah sisi kanan gedung. Meski bisa memasuki perusahaan dengan cepat melalui pintu belakang, nyatanya Zio tidak melakukan hal itu.


Tentu saja karena ada alasan tersendiri kenapa memilih jalur yang bahkan 2 kali lipat lebih jauh dari masuk lewat pintu belakang.


Di sebrang sana, berjarak dua blok parkiran untuk mobil juga ada Zahra yang mulai berjalan ke arah keluar barisan parkiran roda dua. Dan wanita itulah yang menjadi alasan Zio tidak masuk melalui pintu belakang.


Bak remaja sedang jatuh jatuh cinta, keduanya saling berusaha untuk menemukan satu sama lain secara diam - diam.


Meski tidak melihat secara langsung, ekor mata Zio dapat melihat jika sang wanita sesekali juga melirik padanya. Tak ubahnya dengan Zahra yang juga menyadari jika Zio tengah mencuri - curi pandang padanya.


Rasanya sangat canggung untuk bertemu, setelah apa yang terjadi kemarin.


Dua orang dewasa, bahkan sama - sama menyandang status duda dan janda, tapi kini seperti anak SMA yang sedang kasmaran, atau sedang backstreet. Menjalin hubungan di belakang karyawan yang memang sudah mencurigai keduanya memiliki hubungan selain dari rekan kerja.


Atau bahkan HTS, hubungan tanpa status!


Langkah semakin dekat dengan bagian depan perusahaan. Meski sama - sama salah tingkah, namun tidak ada pilihan lain selain Zahra mengangguk duluan.


Menyapa lebih dulu lelaki yang tak lain adalah atasannya, sekaligus laki - laki yang kemarin memintanya untuk menjadi istri.


Mengingat dirinya adalah bawahan pria itu. Maka sebagai bentuk hormat...


"Selamat pagi, Pak Zio..." sapa Zahra tersenyum manis seperti biasanya.


"Pagi!"


Zio pun ikut mengangguk dengan seulas senyuman bingung. Ingin tersenyum lebar, tapi mereka sedang berada di tempat umum. Ingin senyum dingin, takut jika Zahra akan tersinggung kemudian menjauhinya. Karena menganggap dirinya yang tidak serius dengan apa yang ia ucapkan kemarin.


Zahra sengaja memperpendek jarak langkah antara kedua kakinya, supaya Zio bisa berjalan lebih dulu di banding dirinya. Bila perlu berikan jarak yang cukup jauh, agar tidak ada gosip yang lebih buruk dari kemarin.


Zio sadar jika Zahra sengaja memberi jarak, sehingga ia memilih untuk mempercepat langkah, sampai mensejajari Beni yang sudah hampir sampai di tangga depan lobby.


"Buru - buru, Zi?" tanya Beni yang merasa tiba - tiba Zio ada di sampingnya.


"Tidak juga," jawabnya. "Aku hanya ingin masuk kantor bersamamu." kilahnya.


"Hah?" pekik Beni karena merasa Zio tidak bersikap seperti biasanya. Ia melirik Zio menggunakan ekor matanya.


"Sudah lama bukan? kita tidak mengobrol saat memasuki kantor?" tanya Zio. "Apa kau memang sengaja menjauhiku karena kasus - kasus yang ku buat?" goda Zio pada Beni.


"Gila loe!" sahut Beni menyenggol lengan Zio dengan sedikit keras. "Buat apa aku menjauhi mu, hah!"


"Hahaha!" Zio terkekeh kemudian di ikuti Beni pula. "Siapa tau saja begitu!"


"Belum punya pengganti?" tanya Beni saat mulai melewati kaca bergerak otomatis, alias pintu masuk utama lobby.


Mendapat pertanyaan itu, Zio segera menoleh meja resepsionis. Dimana kemarin ia sedang di omongkan oleh para karyawan wanita di sana. Di mana ocehan mereka berhasil membuat Zio merasa minder, meski hanya sesaat.


Dan saat Zio menoleh meja resepsionis, dua resepsionis yang sudah standby pun mau tak mau akhirnya harus tersenyum ramah untuk menyapa Zio. Karena mereka masih merasa bersalah perihal kemarin.


Jika biasanya Zio tersenyum singkat, maka pagi itu Zio seolah acuh pada dua perempuan itu. Ia justru melengos ketika dua perempuan itu mengangguk dan menebar senyum ramah.


Tentu saja apa yang di lakukan Zio membuat dua perempuan itu saling tatap dengan detak jantung yang tidak karuan. Karena takut jika sampai apa yang mereka lakukan kemarin berakhir dengan datangnya surat panggilan dari atasan mereka.


"Bagaimana ini?" tanya satu resepsionis pada temannya.


Namun temannya hanya mengangkat kedua bahu bersamaan, dengan wajah tak kalah panik.


***


"Sudah ada gambaran, tapi aku tidak tau, apa dia mau menikah denganku yang banyak kekurangan ini?" jawab Zio dengan nada yang hampa saat keduanya melewati meja resepsionis, untuk masuk ke dalam lorong lift.


"Siapa?" tanya Beni.


"Kalau aku menyebut namanya, yang ada kamu akan mengolok - olok ku!" ketus Zio sembari masuk ke dalam lift khusus bersama Beni.


Dan saat keduanya sudah berada di dalam lift, dan pintu kembali hendak menyatu, Zahra melintas untuk mendekati pintu lift khusus karyawan biasa.


Saat Zahra berada di tengah - tengah pintu lift khusus, Zahra menoleh ke sisi kiri, dimana Zio tepat berdiri di tengah - tengah lift. Dan saat itulah pandangan keduanya bertemu dalam satu garis lurus.

__ADS_1


Semua akan menjadi lebih terasa damage nya, jika di peragakan oleh aktor dan aktris dan di berikan efek slow motion.


Pintu lift khusus tertutup sempurna, bersamaan dengan menghilangnya Zahra dari pandangan sang Duda.


"Aku tidak menyangka Nona Clarice adalah anakmu.." ucap Beni pada Zio saat lift mulai merangkak naik.


"Kau sudah mendengarnya?" tanya Zio melirik Beni.


"Ya... Brenda yang bercerita padaku," jawab Beni. "Dan dia mendengar dai Sekretarisnya Pak Kenzo.


Menghela nafas berat, "Aku saja sampai saat ini masih merasa jika Clarice adalah satu keajaiban yang dikirim Tuhan, saat aku tak memiliki lagi semangat untuk hidup!" jawab Zio dengan menatap kosong lantai lift. Nada bicaranya terdengar sangat memilukan siapa saja yang mendengar.


"Kedua orang tua ku meninggal hanya beda beberapa hari saja, kemudian Calina pergi, lalu Naura meninggal. Sementara adik ku satu - satunya masih di Rumah Sakit Jiwa. Hidupku serasa sangat sepi dan hancur," lirih Zio membuat Beni ikut prihatin. "Kadang aku berfikir, untuk aku di biarkan hidup kalau hanya sebatang kara!"


"Sampai akhirnya aku mendapati jika Clarice adalah anak kandungku dari Calina. Di saat itulah aku memiliki semangat hidup kembali. Dan aku juga berfikir untuk menemukan cinta yang baru. Wanita yang bisa mencintaiku seperti Naura mencintaiku. Terutama mencintai anakku, seperti anaknya sendiri."


Beni menepuk beberapa kali pundak rekan kerjanya itu dengan pelan, "Aku do'akan kamu segera mendapatkan pengganti Naura, Zi!" ucapnya kemudian.


Zio hanya mengangguk dan berharap jika sampai do'a Beni di kabulkan Tuhan, seomga Zahra lah wanita yang di pilih Tuhan untuk menjadi pendamping hidupnya. Sebagai pengganti Naura yang mencintainya sampai tutup usia.


Begitu pula dirinya, ia berharap untuk bisa menjadi lelaki yang baik untuk pasangan selanjutnya. Dan tidak lagi mengecewakan sang wanita.


Lift terbuka di lantai tempat Zio bekerja. Zio kkeluar dan langsung melangkahkan kakinya menuju pintu ruang kerja miliknya. Baru tiga langkah kakinya berayun, pintu lift untuk karyawan umum terbuka. Zio yang sudah melangkah maju, dapat menduga siapa yang akan keluar dari sana.


"Pagi, Pak Zio!" sapa karyawan yang berada di satu ruangan dengannya.


"Hemm.." Zio menjawab dengan seulas senyum datar.


"Ra, kemarin ada paket datang, kamu sudah pulang! jadi aku bawa... ini!" karyawati yang tadi menyapa Zio ganti menyapa Zahra yang beberapa langkah di belakang Zio. Sambil menyerahkan paket berupa box berwarna coklat.


"Thanks ya, May!" jawab Zahra menerima sebuah paket yang di sodorkan oleh rekan kerjanya.


"Okay, Ra!" jawabnya.


Tanpa di sadari oleh yang lain, tentu Zio dapat mendengar apa yang sedang di bicarakan oleh anak buahnya. Terutama karena berhubungan dengan Zahra. Jadi Zio tertarik untuk mendengarnya.


Sementara Zahra sendiri hanya berani melihat punggung tegap yang semakin dekat dengan pintu ruang kerja sang General Manager. Ia duduk sdi kursinya, dengan ekor mata yang terus mengikuti pergerakan Zio.


Dan yang lebih penting dari itu adalah, siapa pengirimnya?


Orang yang menyukai Zahra kah?


Atau pengagum rahasia Zahra kah?


Yang jelas do'a Zio adalah...


' Semoga paket itu hanya berisi barang belanjaan Zahra sendiri. Yang di beli dengan cara online! '


Namun mau tak mau, Zio hanya bisa masuk dengan rasa ingin tau yang tak terbalaskan. Segera ia menyalakan laptop kerjanya, untuk mengecek semua email yang ia terima pagi itu. Yang mana mayoritas email dari rekan bisnis dan pusat yang di kirimkan oleh Venom.


Setengah jam sudah berlalu, tiba - tiba sebuah email dari posisi yang di duduki Zahra masuk ke dalam emailnya. Itu memang sudah menjadi rutinitas. Tapi tak menyangka Zahra akan mengirim secepat itu. Segera ia buka data yang di sertakan di dalam email, dan ide briliant muncul di kepalanya.


Seketika Zio berfikir ini adalah kesempatan dirinya untuk kembali bisa bertemu dengan Zahra. Maka ia balas email dari Zahra dengan sebuah kalimat perintah. Supaya tidak terdeteksi oleh tim audit jika sampai ada audit yang menyasak semua email  yang di pegang karyawan masing - masing.


' Print, dan bawa ke rurangan saya secepatnya! '


Batin Zio sembari mengetiknya di atas keyboard.


"And.. Send!" gumamnya sembari tersenyum penuh arti.


Ya, Zio sudah pandai untuk mencuri waktu. Itu sudah sering ia lakukan saa bersama Naura dulu. Dengan Naura yang saat itu seusia Zahra, dengan posisi yang sama pula dengan posisi Zahra. Dunia percintaan sang duda seolah hanya berputar - putar di situ saja.


Satu menit kemudian, email dari Zahra kembali masuk ke emailnya.


' Baik, Pak! '


Jawaban singkat yang baru saja di baca Zio membuatnya seketika tersenyum lebar. Tak bisa lagi menahan rasa yang membuncah di dalam dada. Maka sepuluh menit kemudian terdengarlah pintu di ketuk dari luar.


"Masuk!" seru Zio setelah behasil menghilangkan senyum di bibirnya. Kemudian dengan cepat ia kembali fokus pada laptop dan memperhatikan beberapa grafik dan data yang tertata rapi oleh Ms. Excel.


"Selamat pagi, Pak Zio."

__ADS_1


Zio menoleh ke arah pintu dan mengangguk ramah.


Zahra melangkah masuk mendekati meja kerja Zio, dengan sebuah map merah di tangannya.


"Ini laporan yang Bapak minta."


Zahra meletakkan map di atas meja. Kemudian kembali berdiri tegak dan sopan.


Zio membuka map itu, sambil melirik Zahra yang masih berdiri, "Duduklah." perintah Zio terdengar datar.


"Terima kasih, Pak!" jawab Zahra sembari duduk di kursinya.


Zio kembali mengecek laporan, dan segera menandatangani setelah selesai.


"Ini.." ucap Zio menyerahkan laporan itu kembali, dengan mata yang fokus mengamati sang wanita.


"Baik, Pak!" Zahra menerima kembali map yang tadi ia bawa. "Ada yang bisa saya bantu lagi, Pak?" tanya Zahra sesuai dengan norma kesopanan pada atasan.


"Ada!" jawab Zio singkat dan tanpa berfikir panjang.


"Apa, Pak?" tanya Zahra serius.


"Pikirkan dengan baik permohonan saya kemarin, Zahra..." pinta Zio menatap lekat pada wajah cantik sang wanita.


Seketika Zahra menunduk dalam. Dia sendiri bingung meau menjawab apa. Setiap bertemu dengan Zio, sudah cukup membuatnya harus belajar mengonntrol detak jantung.


Bahkan tadi ia harus menyiapkan hati dan jantung saat hendak masuk ke dalam ruangan sang GM. Dan kini ia justru di tatap sedemikian lekat. Bagaimana bisa jantungnnya akn baik - baik saja?


"Berikan saya waktu, Pak Zio..." jawab Zahra kemudian.


Zio menarik nafas panjang, kemudian menghelanya perlahan.


"Minggu ini aku akan mengajak Clarice ke Dufan, kamu dan Felia ikutlah. Aku harap di hari itu kamu sudah menyiapkan jawaban untuk saya." ucap Zio dengan tatapan dan nada yang serius.


Zahra mendongakkan kepala dengan sepasang mata yang terbelalak, "Tapi, Pak..."


"Please!" Zio memotong kalimat Zahra. Ia tak ingin mendengar kalimat penolakan akan keikutsertaan dari sang wanita. Yang ia inginkan hanya satu, di terima dengan cepat atau di tolak dengan cepat. Tanpa perlu membuang waktu lagi untuk sesuatu yang tidak berguna, yaitu menunggu jawaban.


Zahra hanya mengangguk sebagai jawaban kepastian, bahwa ia akan ikut pergi ke Dufan bersama Zio dan Clarice. Meski itu bukan berarti Zahra menerima tawaran untuk di nikahi Zio dalam waktu dekat.


Meski begitu, hari Minggu nanti mereka akan seperti sepasang suami istri yang memiliki anak kembar!


***


📩 "Pak, biarkan saya yang menjemput Clarice.."


Pesan singkat yang di kirim Zio pada Kenzo membuat Kenzo memajukan bibirnya kesal. Padahal ia sudah bersiap untuk menjemput Clarice siang itu.


Tapi Zio adalah Ayah kandung Clarice. Dan lagi selama ini ia yang setiap hari mengantar jemput Clarice sekolah, sedang Zio baru sekali kemarin.


Akhirnya mau tak mau, Kenzo pun mengalah. Dan membiarkan Clarice di jemput oleh Zio.


✉️ "Ya!" balasnya singkat dengan nada yang cukup ketus sebenarnya. Hanya saja karena hanya sebuah tulisan, jadi Zio tidak bisa menilai intonasi yang di ucapkan Kenzo. Apalagi melihat ekspresi Kenzo yang saat ini seperti anak lima tahun yang sedang merajuk.


📩 "Thank you, Daddy Kenzo...."


Balasan dari Zio benar - benar membuat Kenzo semakin gemas dan kesal dalam waktu yang bersamaan. Seolah sebuah sindiran jika lelaki itu jauh lebih berhak atas Clarice di banding dirinya yang hanya Ayah sambung.


"Awas kamu, Zio!" geram Kenzo meremas jemarinya sendiri, dengan gigi yang mengerat kuat di dalam mulutnya.


Dengan deru nafas menahan emosi, Kenzo menggerakkan kursi kebesarannya ke kanan dan ke kiri. Kedua siku berada di sandaran tangan kanan dan kiri. Sorot mata menatap kosong ke arah depan.


Resah sudah hati sang CEO karena benar - benar merasa cinta putri tirinya padanya kini berkurang. Bukan hanya cinta, tapi juga waktu.


***


Sementara di apartemen Calina hanya tiduran bersama Galen. Hari yang cerah dan anak yang sedang tidur siang, terasa semakin nyenyak saat sang Ibu juga bisa merasakan tidur lelap.


Melepas penat, melepas lelah dan melepas semua beban di pundak. Tanpa peduli dua lelaki yang seolah tengah berperang dengan perasaan.


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2