
Hari sudah berganti, aktivitas di hari yang berbeda pun kerap kali adalah aktivitas yang sama dengan kemarin. Tidak ada perubahan, karena sudah menjadi rutinitas bagi mereka semua.
Hari itu hari Jum'at. Hari terakhir di pekan itu untuk para karyawan kantoran bekerja. Karena mereka semua libur di hari weekend, yaitu hari Sabtu dan Minggu.
Karena hari terakhir untuk bekerja, dengan susah payah Zahra mencari tau nomor telepon Gilang, anak bungsu sang pendiri perusahaan. Bukan untuk sesuatu yang tidak penting, melainkan sesuatu yang ia rasa perlu ia ketahui. Dan itu sangat rahasia di perusahaan.
Ia mencoba untuk bertanya pada sekretaris Kenzo, tapi ternyata perempuan itu juga tidak mengetahui nomor telepon Gilang. Justru di minta untuk bertanya pada Venom atau langsung pada sang CEO. Tentu saja Zahra tidak berani.
' Andai aku mengenal Bu Calina... pasti dengan mudah mendapatkan nomor Pak Gilang, karena sesama wanita. Kalau untuk meminta Pak Kenzo... rasanya butuh nyawa cadangan... '
Gumam Zahra dalam hati.
Pucuk di cinta ulam pun tiba, saat Zahra kembali dari kantin berbondong - bondong para petinggi berjalan dari pintu belakang untuk kembali ke ruang kerja mereka, ataupun untuk ke kantin di ruang sisi kiri perusahaan, dimana ada kantin di sana.
Kenzo, Venom, Zio, Beni dan beberapa petinggi lainnya baru saja kembali setelah menyelesaikan sholat Jum'at di masjid belakang gedung.
' Haduh! banyak target, tapi semua membuatku tidak berani bertanya... '
' Kalau tanya Pak Zio... apa dia mau memberikan nomor ponsel Pak Gilang padaku? '
Batin Zahra berkecamuk hanya karena usaha untuk menemukan satu nomor ponsel seseorang. Tapi bukan sembarang orang pula.
Zahra pun menghadap lift khusus karyawan, bersamaan itu juga ada Kenzo dan yang lain sedang menunggu lift khusus petinggi terbuka. Zio berdiri paling belakang bersama Beni. Tentulah Zio dapat melihat Zahra yang sedang menunggu lift karyawan terbuka.
Ia ikut tersenyum tipis, saat Zahra menyapa Kenzo dan yang lain.
Pintu lift khusus terbuka lebih dulu. Sampai akhirnya semua rombongan petinggi masuk ke dalam lift. Dan saat itulah, betapa Dewi Fortuna berpihak pada Zio.
Yang mana lift khusus petinggi terlihat penuh. Sehingga ia tidak bisa ikut masuk ke dalam lift. Dan itu membuatnya memiliki kesempatan untuk bersama Zahra menunggu lift karyawan terbuka.
Tanpa di sadari Zio, sebenarnya Beni tau jika lift tidak akan muat jika semua rombongan masuk dalam waktu yang bersamaan. Dari pada dirinya yang harus tertinggal bersama Zahra, biarlah Zio saja yang di kabarkan tengah dekat dengan perempuan itu yang tertinggal.
Akhirnya Zio berdiri di lift khusus petinggi seorang diri, begitu juga dengan Zahra yang berdiri sendiri di depan lift karyawan. Keduanya tampak canggung untuk sesaat. Zio menoleh Zahra, Zahra yang sadar jika ia tengah dilihati oleh Zio pun akhirnya menoleh ke arah Zio.
Namun saat dua pandang hampir bertemu, Zio segera kembali menghadap pintu lift. Lalu keduanya sama - sama mengulum senyuman. Zahra pun kembali membuang muka dengan menyembunyikan senyuman yang pasti akan terlihat jika dia tidak menoleh ke arah yang berlawanan dengan keberadaan Zio.
Ting!
Tiba - tiba lift khusus karyawan terbuka. Semua orang yang ada di dalam langsung keluar satu persatu dengan bergantian. Dan saat lift sudah kosong, Zahra segera melangkah untuk masuk ke dalam lift. Namun sebelum itu, ia sempatkan diri untuk menyapa sang General Manager.
"Permisi, Pak Zio..." sapa Zahra sembari mengangguk hormat pada Zio. Berpamitan jika ia akan naik ke ruang kerjanya terlebih dahulu.
"Hemm.." jawab Zio dengan senyum dan anggukan yang sangat pelan.
Satu langkah, dua langkah, tiga langkah.... Zahra sudah berada di dalam lift. Ia menekan lantai tempat di mana ruang kerjanya berada. Dua sisi pintu lift mulai bergerak untuk menutup rapat ruang lift.
Namun saat menyisakan jarak satu jengkal saja, tiba - tiba sebuah tangan menghalangi dua badan pintu untuk lift dapat tertutup rapat. Sontak lift pun kembali terbuka lebar.
Zahra yang sempat bingung tangan siapa gerangan pun akhirnya tau siapa pemilik tangan kekar itu. Ya! tubuh tegap Zio berdiri tepat di ambang pintu lift. Membuat sorot mata mereka kembali bertemu, dan membuat suasana membeku untuk sesaat.
"Bolehkan saya ikut masuk?" tanya Zio.
Zahra pun mengangguk dengan lembut. Sedikit menunduk untuk menutupi rasa gugup yang luar biasa. Setelah kemarin menghindar supaya tidak berada di dalam satu lift, nyatanya takdir masih saja membuka jalan untuk keduanya berada di dalam lift yang sama.
Kini keduanya berdiri dengan sejajar. Sama seperti biasanya jika keduanya berada di dalam lift bersamaan. Namun kali ini, Zahra memundurkan langkah. Dan itu membuat Zio menoleh ke belakang.
"Kenapa?" tanya Zio heran.
"Tidak apa - apa, Pak." jawab Zahra tersenyum manis.
Zio kembali menatap pintu yang ada di depannya.
Zahra mulai berpikir, apakan Zio yang di kirim Tuhan untuk ia bisa mendapatkan nomor Gilang?
Dengan mengumpulkan keberanian, Zahra menarik nafas panjang, dan menghembuskannya pelan.
"Pak?" panggil Zahra pelan, setelah semua keberaniannya terkumpul.
"Ya?" sontak Zio menoleh ke belakang.
"Boleh saya minta tolong?" tanya Zahra.
"Katakan, apa yang bisa saya bantu?" Tentu Zio sangat senang dengan apa yang di ajukan Zahra. Ia ingin bermanfaat untuk Zahra.
"Em... saya membutuhkan nomor ponsel Pak Gilang. Apakah Pak Zio bisa memberikan saya nomor ponsel Pak Gilang?" tanya Zahra dengan di penuhi rasa takut. Takut jika di tanya untuk apa, pastilah ia akan bingung mau menjawab apa. Tentu ia masih ragu jika harus menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupannya dan saudara kembarnya yang kini bersama Gilang.
__ADS_1
"Untuk apa?" tanya Zio.
DEG!
Benar dugaan Zahra, pasti Zio akan bertanya untuk apa. Lalu apa yang harus ia jawab sekarang?
Untuk mengirim laporan? Oh, No! Bahkan Gilang tidak ada urusan dengan seluk beluk perusahaan ini yang berhubungan dengan pekerjaannya.
"Emm.... ada hal yang sangat penting yang tidak bisa saya ceritakan sekarang..." jawab Zahra kemudian.
Padahal maksud pertanyaan Zio adalah kenapa harus meminta nomor laki - laki lain? Kenapa tidak dia saja?
Tapi baiklah, dengan begitu ia jadi bisa punya nomor telepon Zahra.
"Catat nomor ponsel mu, nanti akan aku kirim ke nomormu..."
Ujar Zio menyodorkan sebuah pena yang selalu berada di saku jasnya kepada Zahra. Kemudian menyodorkan tangan kirinya supaya Zahra menuliskan nomornya di telapak tangan.
Zahra menerima pena dengan senang hati, namun saat di minta untuk menuliskan nomor ponselnya di tangan Zio, ia merasa seperti ada yang salah.
Sopankah jika mencoret - coret tangan atasannya?
Belum lagi jika ia menuliskan nomornya dia atas telapak tangan Zio, itu artinya sedikit banyak ia juga harus menahan tangan kiri Zio supaya tidak bergerak. Yang artinya tangan kiri Zahra akan menahan tangan kiri Zio.Sementara tangan kanannya akan menari di atas telapak tangan Zio.
"Boleh menulis di sini, Pak?" tanya Zahra ragu menunjuk telapak tangan Zio.
"Ya!" jawab Zio dengan mengangguk dan santai.
Tersenyum kaku, "Maaf kalau saya di bilang lancang ya, Pak?" ucap Zahra sembari membuka tutup pena.
"Hemm..." jawab Zio santai.
Padahal di dalam diri sang lelaki sedang mengalami semacam gempa Bumi. Bagaimana tidak, jantungnya berdetak dengan memburu. Tubuhnya terasa sangat dingin saat merasakan tangan Zahra mulai menyentuh ujung - ujung jarinya.
Bagaimana tangan Zahra terasa sangat lembut jika di rasakan. Dan bagaimana sentuhan dari tangan lembut itu mampu menimbulkan getaran tersendiri di dalam hatinya.
Satu tangan Zahra memegang tangan kiri Zio, sedangkan tangan kanan Zahra mulai menari di atas telapak tangan Zio. Menuliskan nomor teleponnya dengan ujung pena yang berwarna biru itu.
Sebenarnya tangan Zio terasa geli karena terkena ujung pena. Tapi setengah mati ia menahan, agar sentuhan sang wanita tidak semudah itu berakhir, hingga menimbulkan rasa tidak nyaman bagi sang wanita. Karena rasa geli yang di rasakan kalah dengan rasa yang sedang membuncah di dalam dada. Getaran yang mengalir di setiap denyut nadi.
Sementara Zio segera membaca nomor ponsel Zahra dengan seksama, "Yakin ini sudah benar?"
"Iya, Pak!" jawab Zahra. "Ini pena Bapak." Zahra menyerahkan pena biru milik Zio.
"Hm.." jawab Zio menerima pena dari Zahra.
Meski sesi sentuhan ringan sudah usai, namun getaran rupanya masih terasa di dalam tubuh sang lelaki. Setengah mati ia mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.
Sampai lift terbuka, dan keduanya keluar bergantian. Dan menuju meja kerja masing - masing. Zio masuk ke dalam ruangannya dengan mengulum senyum bahagia. Sedangan Zahra masuk ke dalam bilik meja kerjanya dengan rasa malu yang luar biasa, karena baru saja menyentuh tangan sang Bos selain berjabat tangan.
Sentuhan kecil yang berarti sangat besar...
Keduanya benar - benar seperti remaja yang sedang jatuh cinta. Di mabuk oleh cinta dara muda, meski keduanya bahkan pernah menikah di suatu masa di masa lalu.
***
Jika selesai sholat Jum'at tidak ada Clarice di kantor, itu karena Clarice di jemput oleh Mang Heru untuk di antar pulang ke apartemen. Begitu sampai di apartemen ia langsung mencari sang Mommy yang lagi - lagi tengah tidur nyenyak di kamarnya.
"Mommy?" panggil Cla menyentuh wajah sang Ibu yang masih tampak tidur dengan nyenyak.
"Emh?" jawab Calina dengan mata yang masih sangat lengket.
"Mommy sakit?"
"Tidak, Mommy tidak sakit," jawab Calina membuka sedikit matanya. "Kamu baru pulang, Sayang?" tanya Calina saat melihat Clarice masih memakai baju seragam sekolahnya.
"Yes, Mommy!" jawab Cla.
"Mau ganti baju sama Mommy?"
"Tidak, Mommy... Cla ganti baju sama suster saja!" jawabnya. "Mommy tidur lagi saja!"
"Tidak, Sayang... Mommy akan temani Cla makan siang, ya?"
"Mommy yakin tidak sakit?"
__ADS_1
"No, Baby..." jawab Calina bangkit dari tempat tidurnya.
"Okay, Mommy!"
Ibu dan anak itupun keluar dari kamar. Setelah Clarice berganti baju segera keduanya menuju meja makan. Rupanya di sana ada Mama Shinta dan Galen yang sedang di suapi makan siang oleh sang Eyang.
"Kamu sudah bangun, Cal?" tanay Mama Shinta yang tidak yakin jika Calina benar - benar bisa semudah itu bangun.
"Sudah, Ma..." jawab Calina dengan mata yang sebenarnya masih sulit untuk di buka.
"Sebaiknya kamu periksa ke dokter, Cal... Mama heran kenapa kamu terlihat sangat malas beraktivitas? Mama lihat kamu tiduuur saja sepanjang hari." ucap Mama Shinta.
"Mata Calina selalu mengantuk, Ma..." jawab Calina.
"Makanya kamu harus periksa ke dokter, Cal," saran Mama Shinta. "Supaya tau, apa yang sedang terjadi dengan kamu, kenapa bisa jadi semalas ini. Mama sampai heran."
"Ya, Ma... besok kan Mas Kenzo libur, Calina akan minta antar Mas Kenzo ke klinik." jawab Calina membuka piring untuk menata makan siang Clarice.
***
Sedangkan di gedung apartemen yang berbeda, namun di lantai yang tak alah tinggi, ada Gilang dan Kayla yang kini jauh lebih akrab dan lebih baik. Hubungan keduanya tampak semakin terjalin jauh, meski belum ada sebutan kekasih yang tersemat. Apalagi mereka tinggal di tempat yang sama, tentu keduanya lebih cepat untuk menjalin hubungan baik.
Hanya saja keduanya belum berani mengungkap keberadaan keduanya di apartemen itu ke publik, termasuk dengan orang tua Gilang sendiri. Orang tua Gilang taunya jika ia masih berada di Indonesia karena masih ada yang harus di selesaikan selain urusan kantor.
"Hai?" sapa Gilang pada Kayla yang siang itu ada di balkon ruang tamu. Menatap ke arah bawah. Melihat keramaian Ibukota yang seolah tidak ada jam lengang sama sekali.
"Hai.." balas Kayla menoleh Gilang yang sudah berdiri di sampingnya. Dengan sama - sama memegang pagar pembatas.
"Kamu ingin jalan - jalan?" tanya Gilang yang tau arah pandangan mata Kayla.
Kayla tampak berfikir sebelum menjawab. Sepertinya bukan ide yang buruk untuk pertama kali pergi keluar gedung apartemen.
"Memang boleh?"
"Why not?" tanya Gilang. "Katakan kamu ke mana?"
"Kamu tidak malu membawa aku jalan - jalan?" tanya Kayla memastikan.
"Kenapa malu?" sahut Gilang. "Kamu mau kemana?"
"Emm.. Gilang?" panggil Kayla dengan nada yang serius.
"Ya?" jawab Gilang penasaran dengan apa yang di katakan Kayla.
"Kalau pergi untuk belikan aku ponsel boleh, tidak?" tanya Kayla. "Yang paling murah juga tidak masalah, aku hanya ingin punya nomor ponsel Zahra. Aku ingin kembali berkenalan dengan saudara kembarku." lanjutnya cepat sebelum Gilang berpikiran ia memanfaatkan Gilang untuk minta ini dan itu.
DEG!
Jantung Gilang bagai di sentil jemari lentik namun sangat kuat hingga terasa sampai ke ulu hati.
Betapa ia tidak peka dengan kebutuhan hidup orang lain di sekitarnya. Padahal Kayla sudah mengakui jika dirinya tidak gila sejak beberapa hari lalu. Itu artinya perempuan itu juga membutuhkan apa yang di butuhkan orang normal pda umumnya.
Tapi kenapa ia tidak punya pikiran utuk membelikan sang wanita ponsel. Selama ini hanya beberapa baju yang ia belikan melalui online, karena Kayla masih enggan untuk keluar rumah.
"Okay. sore ini kita beli ponsel yang baru buat kamu..." ucap Gilang. "Maafkan aku yang tidak menyadari kebutuhan kamu.." sesal Gilang menyentuh jemari lentik yang memegang pagar.
"Maksud kamu?" tanya Kayla yang justru tidak paham dengan maksud Gilang.
"Sebagai orang normal kita semua pasti membutuhkan uang, bukan?" tanya Gilang. " Maafkan aku yang selama satu minggu ini tidak memperhatikan semua itu."
"Untuk apa minta maaf, Gilang... Justru aku yang merasa sudah merepotkan kamu..." Kayla meremas lembut jemari kokoh Gilang.
"Aku yang memaksa kamu untuk meninggalkan tempat itu, sudah kewajiban ku untuk memenuhi kebutuhan kamu sepenuhnya, Kay..."
"Tersenyum tipis, "Dengan kamu yang selalu menyiapkan aku makanan - makanan yang lezat, sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan harianku, Gilang..." ucap Kayla tulus. "Toh, selama ini hidupku di sana juga hanya begitu - begitu saja. Makanan yang sangat sederhana, jauh berbeda dengan makanan yang kamu berikan untukku. Aku tidak membutuhkan hal berlebihan lainnya dari kamu, Gilang."
Gilang menatap lirih wajah cantik Kayla. Wajah cantik yang selama ini selalu terbayang - bayang di matanya.
"Aku juga perlu minta maaf, Gilang.." Kayla menunduk dalam.
"Untuk?"
"Aku mengambil beberapa lembar uang dari saku almari es tanpa sepengetahuan kamu.." Kayla semakin menunduk, bahkan takut untuk melihat wajah Gilang.
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1