
"Memangnya sejak kapan Zio dekat dengan gadis itu?" tanya Mama Shinta pada anak dan menantunya setelah makan siang selesai. Sedangkan anak - anak masuk ke dalam area play ground.
"Kenzo juga tidak tau, Ma... hanya saja Kenzo sering melihat mereka bersama."
"Bagaimana menurut Mama? apa Mas Zio akan menjadi lebih baik setelah menikah lagi?" tanya Calina.
"Mama sudah berpesan padanya, supaya tidak menyakiti wanita lagi. Cukup kamu saja yang pernah tersakiti di dalam rumah tangganya." jawab Mama Shinta. "Ketika dia mengucap janji, Mama rasa apa yang di ucapkan adalah ungkapan kesungguhan dari dalam hatinya."
"Semoga cinta mereka seperti cinta Mas Zio dan Naura. Hanya maut yang memisahkan."
"Aamiin..." sahut Mama Shinta.
"Semoga cinta kita juga sama. Hanya maut yang bisa memisahkan." sahut Kenzo ikut berdo'a, sembari melirik penuh arti pada sang istri yang duduk di sampingnya.
"Aamiin Ya Tuhan..." sahut Mama Shinta dan Calina bersamaan dengan senyuman manis, karena tak menyangka Kenzo juga mengajukan sebuah do'a untuk keluarga kecilnya, di saat sang istri mendo'akan pasangan lain.
"Tapi kira - kira, Zio di terima atau di tolak?" gumam Mama Shinta berangan.
"Kalau menurut Calina sepertinya sih akan di terima, Ma! Toh Zahra juga hanya hidup sendiri di rumahnya. Tidak mungkin jika dia tidak menginginkan seorang pendamping di dalam hidupnya.
"Ya, Kenzo juga berpikir yang sama. " Sahut Kenzo sembari meraih tangan Calina dan meremasnya lembut.
"Semoga saja harapan kita benar terjadi, ya?" ucap Mama Shinta. "Sebenarnya Mama kasian sama Zio, dia hanya sebatang kara. Sang adik di Rumah Sakit Jiwa dan tak kunjung sembuh..."
"Iya, Ma... terakhir Calina menjenguknya, dan kondisinya masih sama seperti dulu."
Semua tampak menghela nafas berat membayangkan posisi Zio yang tak memiliki keluarga yang bisa di jadikan alasan untuk pulang.
"Hai!"
Suara yang sangat di kenali oleh Kenzo dan Calina tiba - tiba muncul dari arah belakang mereka. Sontak keduanya menoleh ke belakang, di mana sumber suara berasal.
"Gilang!" pekik Kenzo dan Calina bersamaan.
"Yap!" jawab Gilang menepuk pundak sang Kakak dan langsung duduk di sampingnya. "Hai, Tante!" sapa Gilang pada Mama Shinta yang sudah sangat akrab dengannya.
"Iya, Gilang.."
Jika tadi rombongan Kenzo mengagetkan Zio dan Zahra, kini mereka di kagetkan dengan kedatangan Gilang, dengan...
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Calina.
"Jalan - jalan lah!"
Belum sempet keheranan Kenzo dan Calina, semua di alih fokuskan dengan seorang gadis yang berada di belakang Gilang. Yang mana membuat Calina dan Mama Shinta melotot dengan mulut yang terbuka lebar. Belum lagi seketika otak mereka nge-lag akibat melihat wajah yang sangat tidak asing.
"Selamat siang.." sapa perempuan yang tak lain adalah Kayla itu dengan suara yang sangat lembut dan sopan.
"Si...siang..." jawab Calina. "Zahra?" gumam Calina kemudian. "Tapi..."
Calina melihat ada yang tidak sama dengan Zahra. Tadi Zahra juga tidak memakai baju seperti ini.
Kenzo sendiri sempat tertegun saat melihat Kayla yang memang sangat mirip dengan Zahra. Sejak dulu Kenzo memang tidak pernah melihat wujud Kayla secara langsung. Ia hanya mendengar cerita jika Gilang menyukai gadis yang mengalami depresi berat.
Selain itu, Gilang tak pernah sekalipun terlihat membawa gadis manapun ke hadapannya, apalagi keluarganya. Termasuk wajah Kayla sendiri yang belum pernah di munculkan di hadapan kedua orang tua mereka.
"Duduk sini.." Gilang menarik satu kursi kosong di sampingnya.
"Terima kasih..." jawab Kayla duduk di kursi itu.
"Gilang, ini bukannya Zahra?" tanya Calina berbisik di depan dada sang suami untuk bisa di dengar Gilang. Karena ia tak melihat reaksi yang saling mengenal dari perempuan itu.
"Perkenalkan... ini Kayla!" Gilang menunjuk Kayla yang seketika tersenyum dan mengangguk sopan pada mereka semua.
"Kayla?" tanya Calina yang masih sangat bingung. Bagaimana bisa Zahra ada dua.
Gilang menarik nafas panjang sebelum menjelaskan pada mereka semua.
__ADS_1
"Ini Kayla.. dia adalah saudara kembarnya Zahra."
Sontak tiga orang itu melihat ke arah Kayla. Jika Calina dan Mama Shinta sedikit tercekat dan shock. Maka reaksi Kenzo hanya datar - datar saja, meski ia ikut memperhatikan Kayla dan memeta wajah Kayla.
"Iya, Kak! nama saya Kayla. Saya saudara kembar Zahra..." jawab Kayla.
Calina mengangguk, "Namaku Calina..." Calina ikut memperkenalkan diri dan di sambut dengan sebuah senyuman oleh Kayla. "Dan ini Mama ku, namanya Mama Shinta."
"Salam kenal Tante Shinta.." sapa Kayla.
"Iya, Nak Kayla.." jawab Mama Shinta ramah.
Baik, sampai sini Calina sudah mulai percaya jika mereka saudara kembar. Karena meski wajah sangat mirip, masih ada yang berbeda dari keduanya. Yaitu, suara. Sedikit banyak suara Kayla dan Zahra berbeda.
"Dari mana kamu mengenalnya?" tanya Kenzo.
"Dia yang dulu aku ceritakan, Kak!" jawab Gilang.
"Maksud kamu, dia yang..." Kenzo tidak melanjutkan kalimatnya, tapi ia menatap lekat wajah Kayla. "Dia terlihat biasa saja." lanjutnya.
"Ya, kamu benar, Kak! dia yang dulu aku ceritakan. Dan dia ternyata hanya pura - pura gila." jawabnya melirik Kayla dengan seulas senyuman yang membuat Kayla seketika menunduk karena malu.
Kenzo menoleh sang adik dan kembali menatap Kayla. "Kamu kan psikiater, bagaimana kamu tidak tau tentang semua itu?"
"Dia memang pernah benar - benar gila, Kak! dan setelah itu dia sangat pandai berakting." jawab Gilang terkekeh.
Kenzo menoyor sanga adik, "Berarti ilmu mu memang belum tinggi!" ujar Kenzo mengejek.
"Hahahah!" Gilang justru terkekeh.
"Skripsi mu dulu pasti beli!"
"Enak saja! tidaklah!" sahut Gilang tidak terima di anggap curang perihal kelulusannya sebagai seorang psikiater.
"Jadi kamu tau kami ada di sini dari Zahra?" tanya Calina ikut berbincang.
"Ooh..." Calina mengangguk paham. "Kita tadi juga datang tanpa memberi tahu mereka."
"Lalu di mana mereka sekarang?" tanya Gilang.
"Kami ingin memberikan waktu pada Zahra dan Zio untuk memperjelas hubungan mereka." jawab Calina. "Jadi kami bawa anak - anak untuk bersama kami."
"Oh..." Gilang mengangguk paham. "Jadi Zahra sedang dekat dengan salah satu bawahan Kakak ku!" ucap Gilang pada Kayla.
"Oh..." jawab Kayla mengangguk paham. "Aku tidak masalah, yang penting dia lelaki yang baik dan tidak suka menyakiti wanita." lanjut Kayla yang selalu berharap sang saudara kembar mendapatkan jodoh yang terbaik.
Dan apa yang di utarakan Kayla membuat Calina dan Mama Shinta terlibat saling tatap. Tentu dalam hati mereka berdo'a supaya Zio benar - benar bisa berubah dan menjadi suami yang baik untuk Zahra.
***
Mengunci tubuh sintal seorang wanita di dalam kolam renang, jantung Zio serasa seperti di pompa oleh mesin khusus. Sangat cepat dan berefek dahsyat. Sampai detaknya dapat di rasakan dengan jelas oleh punggung Zahra yang menempel dengan dadanya secara sempurna.
Memanfaatkan waktu yang di berikan oleh Kenzo padanya, membuat Zio memilih untuk bergerak cepat sebelum anak - anak kembali menemukan mereka, dalam status yang masih sama. Alias belum ada kepastian.
"Tidak akan ada yang tau kalau kita bukanlah sepasang kekasih..." Zio kembali berdesis saat Zahra hampir kembali memberontak. Berharap sang wanita segera memberi jawaban yang pasti lebih cepat.
"Jawab pertanyaanku, Zahra..." bisik Zio dengan suara yang bergetar. Ia sangat serius ingin menikahi Zahra, dan menjadikan wanita itu sebagai istri dan ibu bagi anak - anaknya.
"Bersediakah kamu menikah dengan ku?" tanya Zio untuk yang kesekian kalinya. "Please... beri aku jawaban sekarang, Zahra..." bisik Zio dengan mendekap erat tubuh wanita itu.
Dapat di dengar oleh Zahra, jika Zio berucap dengan sepenuh hati. Seolah apa yang di ungkapkan adalah nyata dan suatu kesungguhan yang hakiki.
"Please..." mohon Zio untuk kesekian kalinya.
Zahra yang sudah di cerca sedemikian banyak kalimat permohonan oleh Zio hanya bisa manarik nafas panjang guna menetralkan debaran di dalam dada. Belum lagi nafasnya sejak tadi seolah hampir habis akibat dekapan Zio yang menggetarkan jiwa, dan merobohkan imannya.
"Zahra..." bisik Zio kembali tepat di telinga Zahra yang basah oleh air kolam. "Jika dalam satu menit kamu masih diam, itu artinya jawaban kamu adalah tidak."
__ADS_1
Zio memilih untuk mengambil cara cepat. Sebelum waktu untuk bisa berdua habis. Meskipun ia tak tau kapan Kenzo akan membawa anak - anak kembali padanya.
"60...59...58..."
Zio menghitung mundur detik demi detik yang berjalan. Membuat dada Zahra semakin kembang kempis.
"47...46...45..."
Satu menit bukanlah waktu yang lama. Tapi kali ini bagi Zio terasa sangat lama dan menyesakkan. Bahkan seolah menggerus 34 tahun usianya.
"38...37...36..."
Zio masih terus menghitung mundur, hingga isi kepala Zahra semakin terasa berat. Di terima takut tidak bisa memberikan kehidupan sesuai yang di inginkan sang lelaki. Mengingat ia pernah mendengar jika Zio merasa Naura adalah wanita yang sangat sempurna di mata Zio, dan sangat di cintai meski wanita itu tidak bisa memiliki anak.
Ia sungguh takut jika tidak bisa menjadi seperti seorang Naura Azalea.
Jika di tolak, takut ia yang akan menyesal. Karena sesungguhnya ia merasa sangat nyaman saat berdekatan seperti ini. Ia pun mengagumi betapa sempurna seorang Zio Alvaro di matanya.
"20...19...18..."
Bisik Zio dengan dada yang bergemuruh. Hitungannya hampir berakhir, tapi sang wanita masih diam seribu bahasa. Seolah apa yang ia ucapkan sejak tadi hanyalah angin lalu semata.
"11...10...Zahra..." lirih Zio merasa hampir menyerah, karena Zahra masih diam dan membeku.
"7...6..." Semangat Zio mulai turun seiring dengan semakin mengecilnya angka yang ia hitungkan. Zio mulai mengendurkan tangan kokohnya yang mendekap wanita itu.
"5...4..." tangan Zio perlahan melepas tangan Zahra yang ia kunci. Bahkan kini satu tangan Zio mulai berpindah bersandar pada tepian kola. Sedang tangan satunya sudah berada di samping tubuhnya.
"3..." Zio mulai menarik mundur tubuhnya agar tidak menempel pada punggung wanita yang ternyata tidak menginginkan dirinya.
Menghela nafas berat, sangat berat saat ia menyebutkan angka, "2..."
Remuk sudah hati Zio yang ternyata cintanya tidak terbalas. Tidak apa. Mungkin Zahra memang bukan wanita yang dikirim Tuhan untuk menggantikan posisi Naura di dalam hidupnya. Meski Tuhan mengirim Zahra untuk menggantikan posisi Naura di dalam perusahaan Adhitama Group.
"Baiklah, Zahra... Maafkan aku yang terlalu terobsesi padamu.. Anggap saja apa yang aku ucapkan tidak pernah terjadi. Anggap hari ini kita memang sedang berlibur bersama, karena anak - anak kita yang saling mengenal. Bukan untuk sesuatu yang... spesial..." lirih Zio yang sudah berdiri satu langkah di belakang Zahra.
Ia tak mau menyebutkan angka satu, karena ia masih berharap hitungannya belum selesai. Biarkan semua terkubur bersama harapan yang hanya tinggal harapan. Sementara Tuhan dan Zahra yang memutuskan segalanya. Jodoh hanya Tuhan yang tau. Mungkin memang ia belum di berikan pengganti Naura untuk saat ini.
Baiklah, Zio sudah dua kali menangisi wanita yang pergi dari hidupnya. Ia tak ingin lagi menangisi seorang wanita lain yang ternyata tidak menaruh perasaan padanya. Cukuplah ia menangisi dua wanita yang pernah mencintainya di masa lalu.
"Mungkin ini karma bagiku karena menyakiti Calina selama satu tahun lebih." lirihnya terdengar sangat pilu.
Sementara Zahra, wanita itu masih membeku di posisi yang sedikitpun tidak bergeser.
"Kamu mau kita naik seluncuran lagi?" tawar Zio bernada datar yang di paksakan. Mengubur semua rasa kecewa dengan wajah yang pura - pura biasa saja. Tidak ingin membuat suasana yang semula penuh tawa menjadi canggung kembali. Dan kembali asing.
Toh mau tak mau, suka tak suka. Mereka adalah rekan kerja saat di kantor. Tidak ada alasan untuk saling menghindar satu sama lain.
"Saya...saya memang mau main seluncuran lagi... Tapi..." Zahra tidak bernai menoleh ke belakang, tidak berani menatap mata Zio yang entah sedang marah, atau masih sama seperti tadi. Atau bahkan mungkin tatapan Zio kini hanya datar - datar saja.
Zio menatap lekat wajah Zahra yang terlihat dari samping. Meski hitungannya habis yang berarti gadis itu menolak. Dalam hati ia tetap bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan hatinya dari seorang Zahra.
"Tapi kenapa?" tanya Zio penasaran.
"Saya..."
Dengan gamang dan sangat pelan, Zahra mulai bergerak, membalikkan badannya menghadap Zio yang berdiri tegak di belakang.
Kepala Zahra masih menunduk, namun jantung semakin berdebar. Keputusan apa yang akan ia ambil adalah satu keputusan besar. Keputusan yang menentukan masa depan dirinya dan anak nya kelak.
Sebagai seorang Ibu, tentu Zahra ingin yang terbaik untuk anaknya. Ia pun ingin sang anak memiliki Ayah yang bisa melindunginya kelak. Tapi yang menjadi masalah, lelaki yang tengah mendekatinya ini bukan sembarang lelaki.
Selain atasannya, juga karena sang bos memiliki selera yang tinggi. Sekelas Naura Azalea, di anggap Zahra sebagi patokan yang terlalu tinggi. Meski ia ta pernah melihat secara langsung, tapi foto - foto yang pernah ia lihat media sosial dan cerita dari orang sekitar, sudah cukup untuk menggambarkan seperti apa sosok Naura.
"Maafkan saya, Pak... saya..."
Zahra semakin menunduk dalam. Sedangkan Zio semakin menatap lekat wajah Zahra. Kata maaf yang di ucapkan Zahra seolah pembuka dari sebuah penolakan oleh Zahra, atas cinta yang ia ajukan.
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...