Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 103 ( Sekedar Seikat Bunga! )


__ADS_3

Gaun pengantin berwarna broken white yang merekah hingga melewati batas tumit, membuat Zahra kesulitan untuk sekedar berjalan.


Gaun pengantin yang di desain khusus oleh desainer yang namanya mulai melambung itu, melekat di tubuh Zahra dengan sangat sempurna dan pas.


Bagian dada yang sedikit terbuka, di hiasi oleh manik - manik yang di tata sedemikian rupa, hingga membentuk kesatuan yang sempurna. Di tambah sebuah kalung berlian yang membentuk garis lurus berjajar dua di bagian liontin, seolah menunjuk belahan dada yang tak terlihat.


Kalung seharga hampir 40 juta rupiah itu merupakan pemberian Calina sebagai hadiah untuk pernikahan Zahra. Dan kalung itu terlihat begitu cantik melingkar di leher jenjang Zahra yang putih dan mulus.


Gaun pengantin dengan lengan bagian atas tertutup sebagian, lalu bagian bawah membentuk gelembung - gelembung yang turun ke bawah, semakin terlihat begitu mewah. Apalagi kini sebuah cincin pernikahan melingkar di jari manisnya. Mempertegas pada dunia, jika dia sudah memiliki pasangan mulai hari itu, dan bukan lagi menjabat sebagai janda beranak satu.


Sedangkan Zio menggunakan setelan jas berwarna hitam, dan kemeja putih di bagian dalam. Lalu sebuah dasi kupu - kupu berwarna hitam melingkar di lehernya. Dan sekuntum bunga merah, menancap di saku kirinya.


Berdiri berdua di atas pelaminan, Zahra di buat kelelahan dengan sepatunya yang setinggi kurang lebih 10 cm. Hingga Zio memaksa Zahra untuk melepas sepatu itu dan ia masukkan ke dalam bawah kursi pelaminan yang mereka duduki.


Toh tak akan terlihat jika Zahra tidak memakai alas kaki sama sekali. Karena gaun yang ia kenakan sudah melampaui panjang kakinya. Mungkin yang terlihat hanya perbedaan tingginya saja, yang terlampau jauh.


Tamu seolah tidak ada hentinya untuk datang dan bergantian bersalaman. Karena memang seluruh penghuni kantor di undang oleh Zio. Hingga untuk bisa bertahan duduk selama 5 menit saja susahnya minta ampun.


Dan momen itulah yang membuat semua tukang gosip bungkam dan menutup mulut mereka rapat - rapat.


Apalagi saat mereka mendengar jika Kenzo turut memfasilitasi pernikahan Zio dan Zahra. Yang artinya Zio berada di bawah perlindungan keluarga Adhitama.


Menggunjing mereka, sama artinya memutus rejeki mereka di Adhitama Group. Alias Drop Out!


Tak kalah menarik, selain semua teman kantor yang akhirnya tau jika Zahra memiliki saudara kembar, juga menjadi momen paling langka dalam sejarah rentetan acara pesta pernikahan modern.


Momen pernikahan Zio dan Zahra juga menjadi momen penting bagi Kayla dan Gilang mengukir sejarah baru yang belum pernah tercetak, meski mereka sudah tiga bulan lebih tinggal dalam satu atap, tanpa ikatan cinta, apalagi ikatan pernikahan.


Ya, meski Gilang tak selalu ada di apartemen. Karena pekerjaan Gilang tidak di Ibukota. Melainkan di Sydney, Australia. Sehingga Gilang seperti orang kurang kerjaan, yang pulang pergi ke Australia bagai pulang pergi antara Bandung dan Jakarta.


Dua minggu di Australia, tiba - tiba muncul lagi di Ibukota, dan tinggal kembali bersama Kayla selama beberapa hari. Untuk kemudian kembali ke Australia.


Semua rela ia lakukan, karena Kayla menolak untuk ikut ke Australia. Dengan dalih masih merindukan Ibukota yang sudah lama ia tinggal untuk mengurung diri di Rumah Sakit Jiwa yang tiada guna.


Padahal, jika menelisik ke dalam lubuk hati Kayla yang terdalam, alasannya adalah karena Kayla tidak mau ikut sebelum mereka ada ikatan yang pasti. Entah itu sebagai kekasih, ataupun sebagai suami istri.


Kembali pada suasana pesta pernikahan Zio dan Zahra yang mana akan di lakukan prosesi lempar bunga. Yang mana konon katanya bagi siapapun yang belum menikah dan mendapatkan bunga pengantin, akan segera menyusul naik ke pelaminan suatu secepatnya.


Meski hanya mitos, nyatanya banyak orang - orang Indonesia yang mempercayai. Padahal jika di telusuri, prosesi itu adalah budaya yang berasal dari barat. Dan orang Indonesia yang latah ini hanya sekedar ikut - ikutan saja.


Karena banyak cerita yang mengatakan, jika mereka mendapatkan bunga pengantin sekitar 4 sampai empat tahun lalu. Dan sampai saat ini justru mereka masih jomblo, ataupun tak kunjung di lamar oleh sang kekasih.


Ya, lagi - lagi soal Mitos adalah urusan masing - masing mau percaya atau tidak. Yang jelas, kita sebagai manusia harus percaya akan ketetapan Tuhan.


Beberapa tamu undangan yang hadir, yang merasa dirinya belum menikah kini mulai berdiri di belakang pengantin. Baik pria maupun wanita. Tak kalah dari mereka semua, Kayla dan Gilang juga turut andil untuk menjadi peserta perebutan bunga pengantin.


Bedanya, jika Kayla berada di barisan depan bersama beberapa tamu lainnya. Maka Gilang berdiri di barisan paling belakang dengan santainya. Justru satu tangannya berada di dalam saku celananya.


Beberapa tamu yang melihat aksi Gilang yang nyeleneh, mencoba untuk berulang kali memberikan arahan agar maju dan bergabung bersama yang lain.


Tapi siapa merkea berani memperingati Gilang Adhitama lebih dari satu kali?


Zio dan Zahra sudah berdiri dengan membelakangi mereka semua, para jomblowan maupun jomblowati. Tangan sudah memegang seikat bunga yang sedari tadi di pedang oleh Zahra. Seikat bunga mawar asli yang memang di sediakan khusus untuk di lempar.

__ADS_1


"Tiga!" seru MC mulai menghitung mundur. Dan tangan Zio dan Zahra kompak mulai berayun pelan.


"Dua!" seru MC lagi untuk memberikan aba - aba yang lebih dekat dengan waktu melempar bunga.


Semua sudah tampak tak sabar. Mereka semua sudah mempersiapkan kedua tangan mereka di depan tubuh mereka. Berharap merekalah yang akan mendapatkan bunga itu.


"SATU!" kata itu di ucap dengan lantang oleh MC sebagai tanda waktunya untuk melempar bunganya.


Zio dan Zahra melempar dengan kekuatan yang sama besar. Sehingga bunga terlempar tinggi di udara, hingga semua mengikuti arah gerak bunga itu. Dan kemudian memprediksi kemana jatuhnya bunga itu nanti.


Siapa sangka bunga itu justru jatuh tepat di tangan barisan paling belakang. Siapa dia gerangan yang menerima?


Ya, dialah Gilang Adhitama.


Peserta yang berdiri sekitar dua meter dari gerombolan itu justru menerima bunga pengantin tanpa harus berebut dengan siapapun juga. Karena bunga itu jatuh tepat depan matanya. Hanya satu gerakan tangan saja, maka bunga itu berhasil ia dapatkan. Bahkan tanpa perlu merubah posisi.


Seberuntung itukah seorang Gilang?


Sampai orang - orang yang menyalahkan posisi Gilang sebelum itu merasa malu sendiri. Karena justru posisi Gilang yang tak memiliki saingan lah yang menjadi titik akhir dari mendaratnya bunga pengantin itu.


Gilang membeku datar menatap bunga di genggaman. Sementara orang - orang menatap kagum dan heran pada Gilang yang semudah itu mendapatkan bunga yang banyak di incar oleh orang - orang di depannya.


Gilang menoleh sekitar dan mengamati wajah - wajah yang ada satu persatu, saat ia mendengar orang - orang mulai bertepuk tangan dan menyerukan namanya. Mengucapkan selamat, karena berhasil mendapatkan bunga itu.


Gilang membawa bunga itu untuk maju ke depan. Ia melangkah dengan aura yang datar bahkan nyaris dingin.


Zio, Zahra, Calina, Kenzo dan Mama Shinta bahkan Kayla sendiri, mengira jika Gilang akan memberikan bunga itu pada Kayla yang memang berada di barisan depan.


Dan itu tentu menimbulkan kekecewaan bagi semua yang sudah menduga. Termasuk Kayla sendiri. Ia juga merasa kecewa, karena ternyata Gilang hanya melewati dirinya bahkan tanpa satu lirikan kecil sekalipun.


Tanpa di sangka lagi, Gilang meminta mic yang ada di dalam genggaman MC laki - laki. Kemudian berdiri dengan tegak menghadap semua tamu undangan yang seketika itu menjadi hening.


Tamu undangan yang mayoritas adalah karyawan Adhitama Group itu tentu tau siapa Gilang. Dan sebagai karyawan yang selalu ingin selamat dalam bekerja, tentu mereka memilih untuk diam dan mendengarkan apa yang akan di sampaikan oleh adik kandung CEO mereka.


"Eghm!" Gilang berdehem sebelum memulai kalimatnya yang mungkin akan sepanjang jalan kenangan.


"Selamat siang, semua..." sapa gilang membuka pidatonya dengan sebuah salam pembuka.


"SIAANG, Pak Gilang..." balas semua yang ada di dalam Ballroom itu secara serempak.


"Sebelumnya, saya mewakili dari Adhitama Group mengucapkan selamat menempuh hidup baru kepada salah satu tim dari Adhitama Group yang cukup berdedikasi dalam bekerja," ucap Gilang. "Zio Alvaro!" lanjutnya menoleh Zio yang seketika menunduk sebagai ucapan terima kasih.


"Dan Titania Azzahra." lanjut Gilang lagi. Dan itu membuat Zahra berucap terima kasih, meski tidak dapat di dengar dari posisi Gilang berdiri. Namun gerakan bibir gadis itu dapat di ketahui oleh Gilang.


"Selamat atas lancarnya setiap prosesi yang di jalani hari ini. Mulai dari prosesi akad nikah sampai prosesi yang baru saja kita semua lihat, dan saya ikuti secara tidak niat, sesungguhnya..." ucap Gilang dengan sebuah tawa renyah, membuat semua tamu undangan ikut tertawa.


Sebelum kembali berucap, Gilang menatap beberapa detik seikat bunga yang ada di genggaman, memutarnya ke kanan dan ke kiri. Kemudian ia tersenyum simpul. Dan barulah ia kembali mengangkat mic untuk mulai berucap.


"Saya di lahir kan di Indonesia, dan saya tumbuh di dua negara Indonesia dan Australia. Di 32 tahun usia saya, saya sangat sering mendapati Momen seperti ini," ucap Gilang santai. "Apalagi saat berada di luar negeri."


"Momen yang menurut sebagian orang adalah momen yang sangat penting dan sangat mereka percayai. Namun menurut sebagian orang... momen seperti ini hanyalah untuk seru - seruan semata. Lalu sebagian orang lagi menganggap momen seperti ini adalah momen yang tidak penting, dan tidak percaya sama sekali."


"Dan saya termasuk golongan terakhir. Golongan orang yang tidak mempercayai salah satu rangkaian upacara pernikahan semacam ini," ucap Gilang terus menerus, dan seisi ruangan di buat diam tanpa ia meminta.

__ADS_1


"Menurut saya, bagi mereka yang mendapatkan bunga semacam ini, hanya karena faktor beruntung bisa mendapatkan bunga gratis untuk di jadikan hiasan di rumah. Siapa tau ada yang rumahnya bau, kemudian dapat bunga mawar asli seperti ini bisa jadi harum." ucapnya dengan sedikit gelak tawa.


"Hahahaha!" ucapan Gilang sontak menarik tawa lepas beberapa orang yang menganggap teori Gilang masuk akal dan contoh yang di sampaikan ada benarnya juga. Ballroom yang sempat hening menjadi riuh dengan gelak tawa yang masih tersisa.


Melihat beberapa orang tertawa, Gilang pun ikut tersenyum, se-ramah itu Gilang di banding Kenzo yang selalu memasang wajah dinginnya.


"Bagi saya... benda ini hanyalah sekedar seikat bunga! karena memang hanya seikat! kalau ada dua ikat, berarti dua ikat bunga!" ucap Gilang dengan santainya.


"Hahaha!" lagi - lagi kalimat Gilang membuat semua tamu undangan tertawa lepas.


Tak terkecuali Kayla yang sudah kembali duduk di kursinya, yang tergabung bersama meja Calina dan Kenzo.


"Kalian pasti tau, saya sengaja berdiri sendiri di barisan paling belakang. Saya mau berdiri juga karena di paksa oleh Kakak Ipar saya yang sangat cantik," ucap Gilang melirik Calina yang duduk di samping Kenzo dengan di sertai senyuman jail.


"Kenapa saya berdiri di barisan belakang sendirian?" tanya Gilang kembali menatap ke arah tamu undangan. "Ya... itu karena saya memberi kesempatan buat kalian yang memang menginginkan benda ini. Tapi siapa sangka, justru saya yang mendapatkan benda ini. Sepertinya kalian sengaja, ya!" tuduh Gilang menoleh Zio dan Zahra yang juga sudah duduk kursi pelaminan.


Suara cekikikan kembali menggema di Ballroom hotel yang luasnya tak terhitung menggunakan jari itu. Termasuk Zio yang tertawa lepas, dan Zahra yang tersenyum lebar melihat Gilang dan Kayla bergantian.


"Sepertinya lebih baik bunga ini saya berikan pada mereka yang tadi berebut ingin mendapatkan benda ini saja," ucap Gilang. "Bagaimana?" tanya Gilang. "Setuju kah?"


"SETUJUU!"


Setuju tidak setuju, jika petinggi perusahaan berkata setuju maka semua pasti ikut setuju. Toh ketidak setujuan mereka hanya 5% kemungkinan akan di terima oleh para pejabat tinggi. Yang artinya 95% saran mereka akan di tolak.


"Siapa yang mau?" tanya Gilang pada semua yang ada di dalam ruangan itu.


Beberapa karyawan yang belum menikah ataupun yang belum kekasih tentu bersorak sorai berharap merekalah yang diberi bunga oleh Gilang. Petinggi perusahaan yang mereka ketahui belum memiliki pasangan.


Satu keberuntungan jika sampai mereka mendapatkan bunga dari sang adik CEO. Yang mana mereka semua tau jika Gilang Adhitama juga seorang CEO di Australia. Sungguh membanggakan walau hanya di beri bunga meski tanpa di berikan masa depan sekalipun.


Selain beberapa perempuan yang berteriak mengucap kata, saya, juga ada yang melambaikan tangan berharap di berikan bunga. Namun bagi mereka yang jomblo dan sadar diri jika tidak akan mungkin di lirik oleh Gilang memilih hanya tersenyum dengan tetap duduk di kursi mereka.


"Karena bunga ini hanya satu, jadi sepertinya hanya satu gadis saja yang akan mendapatkannya." ucap Gilang menatap bunga dengan beberapa warna di genggaman.


Masih dengan membawa mic di tangan kiri, dan bunga di tangan kanan, gilang menuruni podium. Melangkah dengan dingin, kemudian matanya menyisir seluruh isi ruangan. Seolah tengah mencari target, siapa kira - kira yang akan menjadi targetnya untuk mendapatkan bunga darinya.


Jika banyak gadis yang sedang mendamba kedatangan Gilang pada mereka, berbeda dengan Kayla. Apalagi saat melihat lelaki itu justru bejalan menjauhi dirinya. Bahkan melangkah memasuki barisan meja, padahal dia ada di meja paling depan.


Kayla bersikap seolah biasa - biasa saja, dan tidak cemburu ataupun kesal dengan apa yang di lakukan Gilang. Hanya saja ia membuang muka ke arah lain. Tidak ingin melihat Gilang menyerahkan bunga itu kepada gadis lain. Di saat dirinya tadi juga ikut berdiri untuk bisa mendapatkan bunga itu.


Namun seperti apapun Kayla menutupi rasa tidak nyamannya, atau rasa cemburu yang tak ingin ia sebut cemburu, tetap saja Calina yang duduk di depan Kayla dapat melihatnya.


Namun Calina tidak berani ikut campur untuk urusan semacam ini. Baginya ini adalah urusan pribadi antara Gilang dan Kayla. Matanya hanya fokus mengikuti pergerakan Gilang yang masih berkeliling. Dalam hati ia berharap jika lelaki itu peka dengan keberadaan Kayla.


Dan jika Gilang tidak peka, maka bisa di pastikan jika Gilang adalah lelaki bodoh kedua yang pernah ditemui Calina setelah Zio Alvaro, sang mantan suami yang kini tengah bersanding dengan wanita lain di atas pelaminan di depan matanya pula.


Wajah kusut Calina sedikit memudar, ketika ia mendapat kode dari Gilang yang kini berhadapan dengannya tengah memberi kode agar tidak bereaksi. Posisi Gilang yang beberapa meter di belakang Kayla membuat Kayla tidak paham jika Gilang tengah berjalan mendekati dirinya.


Langkah Gilang semakin dekat dengan Kayla, semua mata tertuju padanya. Hanya Kayla yang memilih untuk berpura - pura sibuk dengan layar ponselnya. Karena ia benar - benar tidak berkutik ketika harus menahan malu. Dia yang tinggal bersama Gilang, justru Gilang mencari target lain untuk mendapatkan bunga di tangannya.


Semua anggota keluarga sudah tidak bisa menahan senyum mereka, namun Kayla belum juga menyadari jia Gilang hanya kurang tiga langkah lagi untuk bisa sampai dengan posisi duduknya.


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2