
Lift yang membawa Kenzo terus merangkak naik. Hingga sampai di lantai tertinggi gedung itu. Dimana ruangan khusus miliknya berada. Melewatkan sapaan beberapa karyawan yang berada di ruangannya, termasuk Venom sang asisten.
Kenzo menghempaskan pintu ruangannya begitu saja. Ia langsung duduk di kursi kerja miliknya. Kursi yang menunjukkan bahwa ia memiliki kedudukan tertinggi di perusahaan itu.
"Kenapa aku jadi seperti pencuri begini..." gerutunya memijit pelipisnya.
"Aku merasa.... cepat atau lambat Zio pasti mengetahui semuanya!" gumamnya resah.
Seperti apa jadinya jika sampai semua terungkap. Kemudian seluruh penghuni gedung Adhitama mengetahui, jika istri CEO nya adalah mantan istri manager nya.
"Calina memang sudah jadi milikku! Aku tidak peduli penilaian orang. Tapi Clarice?"
"Haaahhh!" ia sisir rambutnya secara kasar bahkan berulang kali. Hingga rambut yang semula rapi dan tampan, kini berantakan. Namun sama sekali tak mengurangi ketampanannya.
"Bagaimana kalau Zio menuntut hak asuh Clarice? Bagaimana pula jika Zio tidak terima akan apa yang sudah di rahasiakan selama ini?"
Pikiran Kenzo terus berputar. Setiap tahun, setiap ulang tahun Clarice tiba adalah hari yang memilukan bagi seorang Kenzo Adhitama.
Bagaimana tidak, semakin bertambah usia Clarice, maka gadis itu akan semakin tumbuh besar dan mengerti setiap masalah yang rumit untuk di jelaskan.
Lama - lama ia pasti tau tentang... Tanggal pernikahan Mommy dan Daddy nya. Yang mana pernikahan itu di gelar saat Clarice berusia 1 tahun. Belum tau dan belum mengenal apapun. Gadis itu pasti bertanya, siapa Ayah kandungnya?
Lama - lama gadis kecil itu pun akan tau jika di dunia ini ada anak kandung dan anak tiri. Lama - lama ia pun mungkin akan mengerti berbagai cerita tentang kehidupan anak tiri.
Ia belum sanggup menjelaskan semua itu pada gadis kecil yang setiap hari, sejak dilahirkan selalu ia sempatkan untuk menggendong, walau hanya sesaat.
Hanya saja lelaki itu memilih untuk memendam semua keresahan itu sendiri. Karena ia yakin, selama Clarice masih bersamanya, maka ia masih punya banyak kesempatan untuk memberikan gadis kecil itu kenangan bahagia. Masih memiliki kesempatan untuk menanamkan pada hati kecil gadis itu, jika dia mencintai Clarice sepenuh hati.
Tapi sejak kemunculan Zio kembali, rasanya semua menjadi melayang. Tidak tenggelam, tidak pula terapung. Karena waktu seolah semakin memendek begitu saja.
Ia memiliki hak penuh untuk memiliki Calina, karena ia menikahi Calina saat perempuan itu menjadi janda. Tapi Clarice?
Bagaimana pun juga, apapun juga alasannya, di dalam tubuh Clarice ada darah Zio yang mengalir. Ada bagian dari tubuh Zio yang tidak bisa dia ganggu gugat.
"Tenang, Ken! Semua akan baik - baik saja!" gumamnya kemudian. Menyemangati diri sendiri yang seolah minder dengan posisinya di hati Clarice kelak.
Tok tok tok!
Pintu di ketuk dari luar, dan Kenzo segera mempersilahkan orang yang tak lain adalah Venom itu untuk masuk.
"Pak Kenzo? Ada apa dengan rambut Bapak?" tanya Venom kaget melihat rambut Kenzo yang acak adul.
"Tidak kenapa - kenapa!" jawab Kenzo salah tingkah. Ia segera berdiri dan masuk ke kamar mandi untuk merapikan rambutnya.
"Ada apa?" tanya Kenzo setelah keluar dari kamar mandi di ruangannya.
__ADS_1
"Sesuai dengan perintah Pak Kenzo, jika meeting di majukan. Saya hanya mengingatkan beberapa staf sudah berada di ruang meeting." ucap Venom.
"Baiklah!" jawab Kenzo datar, "bawa berkas itu!"
"Baik, Pak!" Venom segera meraih berkas di atas meja Kenzo. "Saya permisi, Pak!" pamit Venom setelah mengambil apa yang di perintahkan.
"Hemm.." jawab Kenzo datar.
Setelah kepergian Venom, Kenzo menghela nafas berat. Ia gelengkan kepala pelan. Kemudian menatap foto Clarice dan Galen yang ada di meja kerjanya. Dua malaikat kecil yang menjadi penyemangatnya untuk bekerja.
"Daddy sangat menyayangi kalian!" ucapnya kemudian. Ia cium foto berbingkai 5R itu.
***
Jika di perusahaan Adhitama ada dua laki - laki tampan yang sedang bekerja, maka di apartemen Kenzo ada seorang Ibu yang sedang menyuapi anak keduanya sarapan.
"Galen sayaang, ayo! Satu lagi..." ucap Calina menyodorkan sendok kecil di depan mulut mungil bocah 2 tahun itu.
"No no no!" ucap Galen dengan suara yang mungil pula.
"Ayo, Sayaang.. makannya belum habis.." bujuk Calina.
"Sudahlah, Cal! Jangan di paksa." sahut Mama Shinta mendekati Calina dan Galen yang berada di balkon.
"Nanti saja lagi, sedikit - sedikit!"
"Hem... Baiklah!" jawab Calina sembari meletakkan mangkok kecil di atas meja bundar.
"Cal, bisa Mama tanya?" tanya Mama Shinta.
"Tanya saja, Ma!" jawab Calina sembari memberikan air minum untuk Galen.
"Apa kamu tau, kabar Zhika?" tanya Mama Shinta.
"Tentu saja Calina tau, Ma!" jawab Calina.
"Dari mana kamu tau?"
"Calina memantau dari suster yang bertugas di sana!" jawab Calina. "Sebenarnya setiap Mas Zio menjenguknya juga Calina tau."
"Oh, ya?" tanya Mama Shinta tak percaya, "kenapa kamu tidak pernah cerita?"
"Calina hanya ingin mengurangi pembahasan tentang Mas Zio dan keluarganya di dalam rumah ini. Calina tidak ingin Mas Kenzo tersinggung." jawab Calina. "Apalagi Mas Kenzo sangat minder dengan posisinya di dalam hidup Clarice." lanjutnya lirih.
"Minder?"
__ADS_1
"Mas Kenzo takut, jika kelak Clarice tau dia bukan ayah kandungnya, kemudian Clarice akan membencinya."
Menghela nafas, "kamu harus menanamkan sejak dini, Cal. Beri pemahaman pada Clarice secara perlahan. Nalurinya tidak akan pernah salah menilai!"
"Calina tau, Ma..."
"Hanya saja Mas Kenzo belum siap untuk memberi tau semua pada Clarice!"
"Biarkan sampai Kenzo siap. Mama yakin, Kenzo bukan lelaki selemah itu untuk menerima kenyataan."
"Iya, Ma..." jawab Calina. "Masalahnya sekarang adalah..."
"Apa?"
"Mas Zio sudah kembali ke kantor, Ma. Setiap hari Mas Kenzo dan Mas Zio bertemu. Dan itu yang membuat Mas Kenzo semakin takut!"
Mama Shinta menarik nafas panjang, dan menghelanya pelan.
"Kita selesaikan masalah ini bersama, Cal! Mama akan selalu berada di sampingmu! Mendukung yang terbaik untuk kalian semua! Jika bisa, kita harus bisa membuat Kenzo dan Zio berdamai jika sewaktu - waktu semua terungkap!"
"Iya, Ma!" jawab Calina.
***
š Rumah Sakit Jiwa Ibukota
"Zhikaa.. Ayo mandi..." ujar seorang suster pada Zhika yang duduk termenung di kursi panjang taman.
"Ayo, Zhika!" ajaknya lagi.
Namun Zhika tak bergeming.
"Lihat di sana! teman - teman kamu sudah selesai mandi," ucap Suster itu, "Ada Kayla, Moza, Rianti dan yang lainnya!"
"Heeehh!" acuh Zhika tak peduli.
"Ayo, Zhika... Sabtu nanti Kakak kamu pasti datang lagi."
"Papa.. Mama.." ucap Zhika tak beraturan.
Suster itu pun menghela nafas gamang. Zhika memang cukup sulit untuk di bujuk. Berbeda dengan beberapa ODGJ yang lainnya seperti yang ia sebutkan namanya tadi.
"Baiklah, Zhika.. Suster ke teman - teman kamu dulu, ya?" pamit suster itu, meski tak akan pernah mendapatkan jawaban dari seorang Zhika.
...šŖ“ Happy Reading šŖ“...
__ADS_1