Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 126 ( Cemburunya Daddy Kenzo )


__ADS_3

Daddy Kenzo baru tiba kembali di Indonesia pada Minggu sore. Dan senin pagi, ia sudah harus kembali ke kantor untuk meeting hasil perjalanannya ke Australia bersama para jajaran petinggi perusahaan.


Sementara Senin pagi Mommy Calina berencana untuk berbelanja kebutuhan rumah yang sebagian sudah habis atau hampir habis.


Maka Mommy Calina pun berangkat ke supermarket yang ada di dalam Mall Metropolitan menggunakan taksi online. Untuk kemudian akan di jemput oleh sang suami setelah selesai meeting.


Suami istri itu memutuskan untuk bertemu di Mall saja. Karena jika Daddy Kenzo harus pulang untuk menjemput Mommy Calina, maka waktu yang di butuhkan akan semakin panjang. Dan waktu akan habis di perjalanan Daddy Kenzo.


Karena waktu semakin mendekat jam makan siang. Biasanya mereka berdua akan makan siang bersama, dan juga shopping berdua.


Maka siang itu, sekitar pukul 12 siang, Calina sudah berkeliling dengan mendorong troli belanja nya yang kedua. Troli pertama tadi sudah ia isi dengan snack untuk anak-anak, beserta sayur mayur juga beras dan minyak goreng yang tidak boleh di campur dengan barang-barang rumah tangga seperti sabun dan sejenisnya.


Dan di keranjang kedua ini, sudah banyak sekali barang-barang yang ia butuhkan selain bahan makanan di dalam keranjang itu. Sudah ada pembersih lantai, pasta gigi, sabun cuci, shampo dan juga kebutuhan non pangan lainnya.


Dan kini Nyonya Kenzo sudah berada di deretan sabun mandi. Ia memilih berbagai jenis sabun mandi. Dari yang di sukai anak-anak, hingga yang sesuai selera suaminya. Tak lupa untuk para pekerja di rumahnya.


Dan saat mengambil sabun yang bernuansa dingin, tangannya hampir saja bertabrakan dengan tangan orang yang tak ia kenal, hingga ia reflek mengucap kata maaf.


Namun siapa sangka, ternyata orang itu mengenali dirinnya dan kini berlanjut pada obrolan simpel khas kawan lama ketika lama tak jumpa.


Reynaldi, nama simpel yang ternyata masih ia ingat, meski sempat lupa dengan wajahnya. Karena sudah 17 tahun lebih tidak pernah bertemu dan berjumpa kembali. Sementara wajah seseorang semakin bertambahnya usia juga akan ikut berubah.


"Suami mu sebagai apa di Adhitama Group?" tanya Aldi yang penasaran dengan jabatan yang di emban oleh suami Calina.


Karena jika di teliti barang-barang yang di kenakan Calina semua memiliki brand yang tidak akan bisa di beli oleh sembarang orang. Belum lagi cincin yang melingkar di jari manis sang teman. Bisa di pastikan itu adalah berlian asli.


Dan satu yang membuat Aldi merasa harus mengenal Calina lebih jauh...


' Kenapa Calina sekarang jauh lebih cantik dari 17 tahun yang lalu? Padahal usianya semakin bertambah! '


Pikiran normal seorang lelaki ketika melihat seorang wanita yang cantik. Apalagi ia sudah cukup lama menduda.


"Em..."


Mommy Calina tampak ragu untuk menjawab pertanyaan Aldi. Tentu saja bukan karena malu, tapi karena takut di bilang sombong dan sebagainya jika sampai jati diri suaminya di ungkap sendiri oleh Mommy Calina.


Dan lebih takut lagi jika sampai membuat orang lain merasa iri dengan dirinya. Lantas membuat gosip yang tidak-tidak. Mengingat suaminya adalah bos dari mantan suaminya.


"Dia..."


"Sayang!" suara yang sangat di kenali oleh Mommy Calina terdengar dari arah belakangnya


"Hai, Mas! kamu sudah datang!" tanya Mommy Calina menoleh ke belakang. Dan seketika Claina meras lega, karena setidaknya suaminya akan membantunya untuk menjawab pertanyaan Aldi.


"Iya," jawab Daddy Kenzo sembari melangkah mendekati sang istri.


Kenzo yang sudah hafal letak etalase sabun karena setiap bulan selalu setia mengantar sang istri berbelanja, segera ia menghampiri lorong tersebut.


Dan ia terkejut, ketika mendapati sang istri tengah mengobrol dengan seorang laki-laki yang berusia tak jauh berbeda dengan dirinya.


Normalnya seorang laki-laki ketika melihat sang istri ada yang mendekati, pastilah merasa cemburu dan sangat tidak suka. Maka itulah yang di rasakan oleh Daddy Kenzo sekarang.


Sorot mata Kenzo langsung beradu dengan laki-laki yang entah sejak kapan menjadi lawan bicara istrinya. Yang jelas ia sudah tidak suka pada pandangan pertama. Karena lelaki tersebut tampak begitu akrab dengan sang istri. Terlihat dari senyum tipis yang samar-samar terlihat dari bibir lelaki yang menurutnya asing itu.


"Siapa dia, Sayang?" tanya Kenzo dengan nada bicara yang dingin, tanpa melepas pandangan dari lelaki yang juga tampak memperhatikan dengan raut wajah yang dingin pula.


Dan mungkin inilah jiwa seorang Kenzo Adhitama sekitar 18 tahun lalu, ketika memasuki gedung Adhitama Group pertama kali. Dingin, hingga membekukan ruangan yang mana sedang ada dirinya di dalamnya.


"Kenalkan, Sayang! namanya Aldi! dia teman waktu aku masih bekerja dulu!" jawab Calina menunjuk Aldi. "Aldi! ini suami aku!"


Aldi melihat Kenzo dengan tatapan yang masih penasaran, posisi apa yang di emban oleh sang lelaki. Sampai bisa bertingkah sepercaya diri itu. Dan pakaian yang di kenakan pun terlihat... bermerk.


Celana kerja, dan kemeja berwarna biru tua, serta desi yang masih menggantung di lehernya.


"Aldi!" ucap Aldi menyebutkan namanya sembari mengulurkan tangannya pada suami Calina yang ia anggap setara dengan dirinya. Mengingat ia juga masih mampu untuk membeli apa yang sedang di kenakan oleh Kenzo dan Calina.


"Kenzo!" ucap Kenzo mengeluarkan tangan kanannya untuk menerima jabatan tangan Aldi. Kemudian melepasnya lebih cepat dari selayaknya ketika ia berjabat tangan dengan rekan bisnisnya.


Dan ia juga mengeluarkan tangan kirinya yang sejak tadi berada di dalam saku celana, untuk meraih troli yang di pegang oleh sang istri. Dan saat tangan kiri itu muncul, barulah Aldi merasa tidak mampu menyaingi apa yang di kenakan oleh Kenzo.

__ADS_1


Yaitu jam tangan keluaran terbaru dari Rolex, melingkar di pergelangan tangan kiri sang CEO. Daytona 116508 Paul Newman berwarna emas, yang di banderol dengan harga nyaris 850 juta itu baru di beli oleh Daddy Kenzo satu minggu lalu sebelum berangkat ke Australia.


Meski tak mampu untuk membeli, bukan berarti Aldi tidak tau brand dan kisaran harga jam tangan yang di kenakan oleh Kenzo. Sebagi lelaki ia juga melihat majalah fashion pria yang terbaru. Dan hampir setiap bulan selalu ada tipe baru yang keluar.


Hanya saja ia selalu memilah apa yang sanggup ia beli, dan apa yang tak sanggup ia beli.


' Sebenarnya siapa suami Calina? '


Tanya Aldi di dalam hati.


' General Manager? Direktur? '


Lanjutnya bertanya-tanya dalam hati dan tentu ia tidak akan tau jawabannya jika tidak bertanya secara langsung. Namun rasanya sangat tidka masuk akal jika langsung bertanya pada yang bersangkutan di hari pertama berkenalan.


"Kalian... masih ada yang perlu di bicarakan lagi?" tanya Kenzo dengan nada yang sedikit ketus, namun ekspresi wajahnya terlihat biasa saja.


"Oh... tidak ada, Sayang!" jawab Calina cepat dan langsung merangkul lengan sang suami yang sudah mengambil alih troli di tangannya. Tentu ia menyadari perubahan mood sang suami yang mendadak berubah.


Mendengar jawaban Calina, reflek Aldi pun ikut menggelengkan kepalanya. Sebagi jawaban jika ia sudah selesai bicara dengan Calina. Meski dalam hati ia masih sangat penasaran siapa jati diri suami Calina.


Kenapa Calina bisa terlihat lebih berkelas di banding dulu saat ia mengenal Calina sebagai seorang resepsionis. Dan lagi, sang suami terlihat sangat posesif pada Calina.


"Masih ada yang ingin kamu beli?" tanya Kenzo. "Mau lanjut belanja?" lanjutnya terlihat begitu perhatian pada sang istri yang terlhat sangat manja di lengan kanannya.


"Tinggal ini, Mas!"


Calina meraih beberapa batang sabun yang tadi memang hendak ia ambil. Sabun batang bernuansa dingin yang menjadi kesukaan para lelaki, terutama Galen Adhitama yang begitu menyukai nuansa dingin.


"Sudah!" ujar Calina meletakkan lima batang sabun berwarna biru muda itu.


"Kita bayar sekarang?" tanya Kenzo pada sang istri.


"Iya," jawab Calina. "Aldi, aku duluan, ya?" pamit Calina tak ingin membuat sang suami curiga atau sejenisnya pada dirinya dan Aldi, teman yang sudah 17 tahun tak pernah bertemu.


"Eh, iya! Cal!" jawab Aldi yang masih diliputi rasa penasaran.


Ia teringat akan satu kalimat yang mengatakan, wanita akan terlihat semakin cantik dan menarik jika berada di tangan yang tepat.


Sebelum mendorong troli belanja Calina, Kenzo mengangguk dingin pada Aldi. Bahkan dalam hati ia sungguh tak ingin dan tak ikhlas melakukan itu. Jika bisa, ia justru ingin menutup mata lelaki itu atau bahkan mencolok nya, supaya tidak lagi mencuri pandang pada istrinya.


Sebagai sesama lelaki, Kenzo tentu tau kemana arah mata Aldi sejak tadi. Dan ia sangat membenci hal itu. Karena yang di tatap adalah istrinya tercinta. Istri yang susah payah ia dapatkan.


Maka pergilah Calina dan sang suami meninggalkan Aldi yang masih menatap kedua punggung itu dengan tatapan penasaran. Sangat penasaran.


' Kita lihat nanti, siapa Kenzo itu? '


Gumam Aldi dalam hati.


***


Mengantrikan dua troli sekaligus menjadi hal biasa untuk Calina dan Kenzo ketika sedang berbelanja di supermarket. Karena memang penghuni rumah tidak sedikit.


Selesai dengan pembayaran, Kenzo kembali mendorong troli sampai di depan mall, dan menunggu Mang Heru yang sedang dalam perjalanan mengeluarkan mobil dari area parkir.


Sepanjang waktu Calina di buat bingung dengan sikap suaminya yang diam saja. Tanpa menawarinya makan siang sama sekali. Padahal, biasanya setelah belanja mereka pasti akan makan siang berdua di salah satu restauran yang ada.


' Pasti dia cemburu! '


Gumam Calina dalam hati. Ia mengulum senyuman dalam bibirnya.


' Baru kali ini dia cemburu! kenapa sangat lucu? '


Batin Calina melirik sekilas, dan langsung kembali menghadap ke depan. Hingga muncullah Alphard putih yang di kemudikan oleh Mang Heru yang tak lama lagi akan pensiun.


Masuk ke dalam mobil, duduk berdua di bagian tengah, Calina langsung menutup pembatas sekat antara penumpang dan pengemudi. Supaya obrolan Calina tak sampai di dengar oleh Mang Heru.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Calina melirik manja pada sang suami.


"Tidak ada..." jawab Kenzo mengeluarkan ponsel dan langsung berpura pura sibuk dengan benda pintar itu.

__ADS_1


"Oh, ya?" tanya Calina. "Tidak lapar?" tanya Calina.


Menarik nafas panjang, tidak di pungkiri jika saat ini perutnya terasa lapar. Tapi tadi melihat sang istri bertemu teman lama yang menatapnya dengan tatapan yang tak biasa membuat Kenzo merasa geram dan kesal. Namun ia hanya bisa menahan di dalam dada karena tak ingin membuat keributan. Hingga perut yang lapar, tak lagi terasa.


"Sedikit..." jawab Kenzo datar.


"Kenapa tadi tidak makan dulu?" tanya Calina dengan nada yang cukup manja untuk di dengar sang suaMI.


"Entahlah..." jawab Kenzo menari nafas dalam, dan membuangnya pelan.


"Tadi itu teman saat aku masih bekerja dulu, Sayang... Sudah 17 tahun tida bertemu. Dan itu membuat aku tidak mengenalinya. Tapi ternyata dia mengenali aku..." jelas Calina memperkenalkan Aldi lebih jauh. Tak ingin sang suami salah paham dan cemburu lagi tentu saja.


Kenzo yang sudah terbiasa berbicara dengan berbagai jenis manusia di muka Bumi, tentu bisa menilai seperti apa sosok Aldi yang mengaku pada Calina sebagai manager pemasaran itu.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Kenzo datar dan nyaris dingin.


"Hanya bertanya kabar, dan apakah dia masih di sana atau tidak..."


"Sudah?" tanya Kenzo seperti tengah menginterogasi musuh.


"Iyalah, Mas... memangnya apalagi yang mau kami bicarakan?" tanya Calina. "Orang tadi cuma ngobrol sebentar..."


"Tapi aku tidak suka cara dia melihat kamu!" ucap Kenzo langsung pada intinya.


"Memangnya kenapa? seperti apa dia melihat aku?" tanya Calina yang memang tidak menyadari arti dari tatapan Aldi tadi.


"Aku seorang lelaki, Sayang! aku tau arti dari tatapan laki-laki pada lawan jenisnya!" jawab Kenzo sedikit gusar.


"Begitu, ya?"


"Iya... apa dia belum menikah?" selidik Kenzo.


"Sudah bercerai katanya..."


"Pantas saja!" sahut Kenzo ketus. Dan ia sudah menduga sebelum ini. Jika Aldi pasti seorang jomblo.


Menatap sang suami dengan mengulum senyum, "Kamu cemburu ya, Mas?" tanya Calina dengan senyum yang tak lagi bisa di tahan.


"Sebagai seorang suami, tentu aku tidak suka jika ada yang menatap istriku dengan tatapan yang menginginkan semacam itu!" jawab Kenzo. "Tadi rasanya aku ingin mencongkel saja mata sialannya itu." geram Kenzo membuat Calina tergelak tanpa suara.


"Kalau kamu mencongkel matanya, Mas, yang ada malah jadi masalah dengan polisi!" jawab Calina di tengah tawanya.


"Makanya sekuat hati aku menahannya!" jawab Kenzo yang selalu memiliki nyali kecil jika berhadapan dengan orang-orang yang ia cintai.


Sebelum ini, ia pernah takut kehilangan sang anak sambung yang sudah ia cintai seperti anaknya sendiri. Dna sekarang melihat ada teman yang muncul di hadapan sang istri dengan status dudanya, tentu membuat Kenzo harus waspada.


"Mas...?" Calina meraih tangan Kenzo untuk membelainya lembut, kemudian menggenggamnya erat. "Kamu adalah suami terbaik yang pernah aku miliki. Kamu adalah lelaki terhebatku! Lelaki yang berani memperjuangkan aku dan anak ku yang bahkan tidak ada darahmu di dalam tubuhnya." ucap Calina dengan nada yang sangat lembut.


"Aku sudah tidak memiliki alasan untuk mencari yang lebih sempurna dari kamu, Mas! karena di mataku, kamu adalah satu-satunya lelaki yang paling hebat!" tegas Calina. "Tidak ada yang mampu menandingi hebatnya kamu di mataku! apalagi sekedar Aldi yang aku tau, dulu dia tidak pernah tertarik padaku!"


"Tapi tadi buktinya dia menatap kamu dengan tatapan menginginkan."


"Biarkan dia yang menginginkan aku! Toh aku tidak pernah menginginkan laki-laki manapun lagi selain kamu." jawab Calina membelai rahang tegas sang CEO.


"Kalau pun seandainya dia sekarag menganggap aku cantik, itu pasti karena ia merasa tak menyangka jika suamiku bisa membuat aku semakin cantik, di tengah banyaknya istri yang mengeluh karena suami yang kurang perhatian dan tidak peduli jika cantik itu butuh biaya yang tidak murah."


"Sudahlah, Mas... Suamiku tersayang... walau lelaki sekelas pangeran William datang melamar ku pun, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu... Aku janji!" ucap Calina yakin, dengan disertai sebuah kecupan di pipi putih sang suami.


Kenzo menarik tangan Calina yang masih bertaut dengan tangannya. Mencium di antara jemari lentik yang di hiasi sebuah cincin berlian pemberiannya.


Tangan itu... tangan seorang wanita yang sudah berjuang mengandung hingga melahirkan anak-anaknya. Dengan menjadikan nyawanya sebagai taruhannya.


Tangan itu... tangan yang dengan ikhlas merawat anak-anak bahkan dirinya ketika ia sakit dan berubah menjadi bayi berukuran besar.


Tangan itu... tangan yang tak akan pernah ia lepaskan apapun alasannya. Karena seperti itulah janji yang pernah ia ucapkan di depan penghulu.


"Aku mencintaimu, Sayang... apapun alasannya jangan pernah kita berpisah. Apalagi hanya untuk alasan yang tidak masuk akal!" ucap Kenzo lirih, sendu dan sangat menyentuh.


"Aku juga sangat mencintai mu, Mas... apapun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Aku ingin cinta kita abadi. Seperti cinta Papa dan Mama. Di mana hany maut yang mampu memisahkan, Bahkan Mama tidka lagi mau menikah."

__ADS_1


"Aku juga ingin seperti itu, Sayang..." jawab Kenzo.


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2