Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 163 ( Hambar! )


__ADS_3

Cla cukup kaget, ketika ada seseorang yang menyodorkan uang untuk membayar makan siang yang ia pesan. Padahal ia sudah membuka dompet kecilnya.


Cla menoleh ke sisi kiri, sang gadis cukup terhenyak karena sangat mengenali suara itu. Suara seorang pemuda yang sudah 1,5 tahun lebih terlihat sengaja menjaga jarak dengan dirinya. Karena suatu hal.


"Kenapa kamu membayar makan siang ku?" tanyanya menatap pemuda yang kini berjalan di sisi kirinya menuju meja tempat Cla biasa menyantap makan siangnya dengan membawa makan siang masing-masing.


"Sepertinya sudah lama kita tidak saling bicara..." jawab sang pemuda tanpa menoleh pada Clarice yang masih tertegun menatap wajahnya.


Mengambil posisi dengan duduk berhadapan, kedua remaja itu sama-sama menghadap menu makan siang yang mereka pesan. Dan segera bersiap untuk memindah isi mangkok ke perutnya.


"Thanks, ya!" ucap Clarice terdengar biasa saja. Bahkan nyaris datar. Entahlah, sepertinya rasa antusias terhadap sosok di depannya telah berangsur memudar.


"Tidak perlu berterima kasih..." jawab sang pemuda.


"Kamu tidak rugi banyak kan, dengan mentraktir ku makan siang?" ujar Clarice dengan nada bercanda.


"Tidak! Uang jajan ku bertambah sejak Papa naik jabatan menggantikan posisi Papa mu..." jawabnya.


"Oh..." Clarice mengangguk paham. "Baguslah! Daddy juga bilang kinerja Om Beni tidak jauh berbeda dengan Papa."


"Ya... Dan ketika kenaikan jabatan Papa aku tidak mentraktir mu, demi menjaga perasaan Neha. Jadi anggap saja ini sebagai traktiran karena rasa syukur ku..." ucap pemuda yang tak lain adalah Vino itu.


Atlit Basket yang kini sudah tidak lagi satu kelas dengan Clarice. Bahkan dengan teman laki-laki yang lain. Seperti Arsen dan Naufal.


Clarice mengangguk, dengan seulas senyum hambar. Entah apa yang di rasakan sang gadis saat ini. Sekitar dua tahun lalu, ia sangat menginginkan suasana seperti ini. Duduk dan makan hanya berdua bersama Vino. Atau bahkan hanya mengobrol saja di toilet saat pertama kali Vino menemui dirinya di toilet.


Tapi saat ini... semua terasa berbeda. Seolah ia tak pernah menginginkan hal ini terjadi untuk saat ini, dan entah sampai kapan. Karena yang ada di benak sang gadis sudah ada... sosok lainnya.


"Kemana Hanna?" tanya Vino. "Tumben sendirian?"


"Hanna di ruang guru..."


"Kenapa?"


"Mengurusi bea siswanya!" jawab Cla. "Kamu tidak?"


"Oh, aku sudah!" jawab Vino.


Clarice kembali mengangguk. "Neha kuliah di mana?" tanya Clarice berbasa basi.


"Di Jerman!" jawab Vino dengan raut wajah yang mulai berubah.


"Hah? Jadi kalian sekarang LDR?" tanya Clarice menggali lebih dalam.


"Ya... Begitulah.." jawab Vino dengan raut wajah yang lesu. Seolah tidak yakin dengan jawabannya sendiri.


Clarice menyipitkan matanya tidak percaya dengan kisah cinta Vino yang rumit dan... aneh.


"Jadi kamu sekarang berani mengobrol dengan ku karena Neha sudah pergi ke Jerman?" tanya Clarice sedikit menyindir.


"Sebenarnya Neha belum saatnya masuk kuliah. Sekarang dia ke Jerman hanya untuk menyelesaikan masalah administrasi saja."


Clarice mengamati raut wajah Vino yang tidak biasa. "Kamu terlihat sedih sejak kita membahas kekasihmu..."


Tak ingin menjawab, Vino hanya mengangkat kedua pundaknya sebagai jawaban yang ambigu untuk di artikan Cla.


Akhirnya Clarice memilih untuk mengangguk saja. Pura-pura memahami posisi sang pemuda. Namun ada sesuatu dalam dirinya yang tidak bisa di bohongi.


Posisi, situasi dan keadaan ini rasanya sudah tidak seperti dulu. Berhadapan dengan Vino, makan berdua seperti saat ini bagaikan sayur tanpa garam.


Hambar!


# # # # # #


Hari-hari berikutnya kembali terulang seperti hari kemarin, bahan bulan pun sudah terlewati. Vino terlihat lebih sering menemui Clarice di kelas maupun di kantin, dan bahkan menemani Clarice belajar di perpustakaan bersama Hanna.


Canda tawa sering di lontarkan oleh ketiganya. Saling berbincang dan bercerita banyak hal. Dan juga apa yang terjadi selama ketiganya tidak lagi dekat sejak Vino menjalin hubungan dengan Neha.


"Neha tidak pulang sama sekali, Vin?" tanya Hanna yang penasaran dengan hubungan Vino dan Neha. Mengingat selama ada Neha di sekolah, Vino tak sekalipun dekat dengan Clarice maupun dirinya. Juga gadis yang lain.


"Tidak..." jawab Vino menatap mangkok bakso yang baru saja isinya ia habiskan.


"Kenapa?" tanya Clarice menatap lekat dan penasaran pada sang Atlit.


Tersenyum miris, Vino menatap Hanna dan Clarice dengan tatapan yang pilu nan lirih. "Sebenarnya kami sudah putus setelah acara prom night di sekolah!" jawab Vino dengan dada yang bergemuruh, mengingat satu momen yang sama sekali tidak pernah terbayang oleh nya akan terjadi.


"WHAT!!!" pekik Clarice dan Hanna bersamaan menatap tak percaya pada Vino yang menatap kosong ke arah taman sekolah.


"Ya..." Vino mengangguk serius. Meyakinkan kedua gadis yang duduk di depannya itu.


Hingga Clarice dan Hanna saling beradu tatap. Seolah tidak percaya, hubungan yang di anggap terlalu bucin pada masanya itu ternyata kandas seiring dengan berakhirnya masa sekolah sang gadis.


"Kenapa putus?" tanya Clarice.


"Sebelum acara prom night malam itu, kami sudah sering bertengkar. Karena aku tidak suka dia kuliah di luar negeri. Tapi ternyata dia memaksa untuk tetap kuliah di sana. Selain itu juga ada saja kesalahan yang di limpahkan padaku." jawab Vino.


"Akhirnya aku mengalah untuk menghindari pertengkaran lebih jauh. Tapi saat malam prom night waktu itu, aku mendapati sesuatu yang membuat aku muak dan tak akan pernah aku lupakan." lanjutnya dengan raut wajah menahan emosi. Terlihat dengan giginya yang mengerat dan tangan yang menggenggam udara dengan kuat di atas meja.


Kembali Clarice dan Hanna saling melirik singkat. "Apa?" tanya keduanya bersamaan.


"Waktu itu dia menyumbangkan lagu untuk bernyanyi di atas panggung prom, ponselnya tertinggal di meja tempat kami duduk. Ada satu nomor yang mengirim pesan dengan nama yang sangat aneh." lanjutnya.


"Siapa?" tanya Hanna.


"Cloud!" jawab Vino.


"Cloud?" sahut Hanna memicingkan matanya.

__ADS_1


"Ya! Karena penasaran aku buka ponselnya. Dan melihat pesan apa yang di kirim oleh si Cloud itu!"


"Apa pesannya?"


"Babe, sudah selesai?" jawab Vino menirukan pesan yang di terima oleh Neha waktu itu.


"Jadi maksud kamu Neha selingkuh?"


"Saat itu aku masih berfikir... Maybe yes." jawab Vino. "Lalu aku kejarlah pemilik nomor ponsel ini. Aku bajak aplikasi chat milik Neha, karena aku tidak punya banyak waktu untuk bisa membaca semuanya melalui ponsel Neha. Dan akhirnya semua terungkap saat aku sengaja meninggalkan prom dan membacanya di luar..." jawab Vino semakin terengah.


Hanna dan Clarice saling menarik nafas panjang saat keduanya saling melirik satu sama lain untuk sekilas.


Ada dada yang berdebar mendengar cerita Vino. Seolah memiliki kesempatan untuk bisa menjadi pengganti Neha untuk sang pemuda.


Tapi juga ada dada yang bergemuruh dan kecewa ketika mendengar seorang perempuan menjadi pengkhianat dalam sebuah kisah cinta yang di jalin.


Oh, ternyata tidak hanya laki-laki yang bisa menjadi pengkhianat di muka Bumi ini, batinnya.


"Sabtu besok bagaimana kalau kita pergi ke Dufan!" ajak Vino tiba-tiba dengan raut wajah yang sudah berubah lebih ceria dan berbinar.


"Aku mana bisa hanya pergi dengan kalian..." jawab Clarice.


"Kenapa?" tanya Hanna.


"Minimal harus ada Naufal!" jawab Clarice. "Hanya dia yang di percaya oleh Daddy dan Papa untuk membawa aku meninggalkan rumah!" jawab Clarice.


"Kenapa hanya dia?" tanya Vino.


"Karena orang tuanya sangat dekat dengan Daddy dan Papa!" jawab Clarice.


"Ya udah, ajak dia aja, sekalian ajak Arsen!" sahut Hanna.


Sontak wajah Clarice dan Vino berubah menjadi pias. Seolah ada sesuatu yang tak bisa mereka ungkap satu sama lain.


Jika Clarice, tentu karena akan merasa canggung. Mengingat ia dan Arsen sudah lama tidak saling bertegur sapa.


Tapi Vino?


Kenapa ia harus sungkan dengan Arsen? Meskipun dulu ia tau jika Arsen menyukai Clarice. Tapi ia juga tau, jika Arsen dan Clarice sekarang tak sedekat satu setengah tahun yang lalu.


"Pucuk di cinta, ulam pun tiba!" ujar Hanna melihat ke arah jalan setapak yang mengarah pada kantin tempat mereka kini berada. Semua reflek menoleh ke arah yang menjadi titik akhir Hanna melihat.


Di sana, pemuda yang di kenal sebagai pembalap terbaik sepanjang tahun itu tengah berjalan dengan seorang gadis yang di ketahui oleh semuanya, jika gadis itu adalah siswa kelas X. Yang baru dua bulan lebih berada di sekolah ini.


terbukti dengan bet merah yang menempel di lengan kirinya.


Keduanya terlihat sangat akrab. Seolah saling melempar canda. Dan sang gadis belia terlihat sesekali tersenyum malu dengan wajah yang bersemu merah.


Di lihat dari jarak sekian meter saja bisa di lihat, jika gadis yang bersama Arsen saat ini sangat cantik dan manis natural.


Dan itu membuat hati seorang gadis menciut nyalinya. Menatap nanar dan pilu pada apa yang saat ini menjadi pusat perhatian.


"Arsen berpacaran dengan gadis itu?" tanya Hanna pada Vino dan Cla.


"Aku tidak tau..." jawab Clarice memendam sesuatu yang tak bisa sembarangan ia ungkapkan. Walau pada Hanna sekalipun.


"Aku juga tidak tau..." sahut Vino tak ingin ikut campur lebih jauh.


Tak jauh di belakang Arsen, ada Naufal Mahardhika, pemuda yang tak pernah memiliki keinginan untuk menjalin hubungan dengan gadis yang satu sekolah dengannya.


Naufal tengah bersama dua teman lainnya yang sepertinya berasal dar kelas XIII-IPS 2. Dan keempat murid itu kini memasuki area kantin.


"Cla!" sapa Naufal melihat Clarice yang duduk dengan menatap kosong ke arah ia dan rombongannya masuk.


Clarice membalas sapaan Naufal dengan senyum manis dan cerah, yang di sertai dengan lambaian tangan kanannya. Menutupi semua perasaan suram yang menggerogoti batinnya yang hampir runtuh.


Untuk sekilas pandangan mata Clarice tertuju pada Arsen yang tampak masih asyik mengobrol, hingga sama sekali tak melihat ke arahnya. Dan Cla sudah terbiasa dengan sikap ini sejak satu setengah tahun lalu.


"Fal!" seru Hanna memanggil sang sahabat. "Sini!" panggil Hanna meminta Naufal untuk datang ke meja mereka.


Di sinilah, jantung Cla dan Vino bagai tengah di pompa. Tanpa berunding terlebih dahulu, pasti Hanna akan meminta Naufal untuk mengajak Arsen ikut ke Dufan.


"Apa?" tanya Naufal yang langsung mengambil posisi untuk duduk di samping Vino.


"Sabtu besok ke Dufan, yuk!" ajak Hanna.


"Siapa saja?" tanya Naufal yang pasti akan langsung setuju dengan ide ini.


"Ya kita-kita. Ajak Arsen juga!"


"Aku ajak pacar ku, boleh kan?" tanya sang pemuda.


"Bolehlah!" jawab Hanna yang sudah mengenal pacar Naufal sejak beberapa bulan yang lalu.


"Semakin ramai semakin seru!" ujar Clarice.


"Kalau Arsen pasti ngajak dia!" ucap Naufal menoleh pada Arsen yang duduk berdampingan dengan anak kelas X.


"Mereka berpacaran?" tanya Clarice.


"Aku tidak tau... tanya saja sendiri!"


"Tidak mungkin kalau kamu tidak tau!" sahut Hanna.


"Arsen tidak cerita apapun tentang hubungannya dengan gadis itu. Dia hanya bilang kalau ada adik kelas yang dekat dengannya."


"Dekat sebagai apa?" tanya Clarice.

__ADS_1


"Aku tidak tau, Cla... kenapa kamu tidak tanya sendiri?" tanya Naufal.


Clarice hanya bisa menarik nafas panjang. "Arsen sekarang sedingin es!" jawab Clarice sembari menyeruput jus alpukat favoritnya.


Naufal dan Hanna saling lirik satu sama lain. Seolah ada sesuatu yang memang tengah mereka sayangkan dalam hubungan persahabatan ini.


# # # # # #


Pagi hari sekali setelah sarapan bersama, Clarice sudah di depan cermin meja riasnya untuk melihat sudah sempurna kah penampilannya pagi ini untuk hang out bersama teman-teman?


Dia menggunakan Hoodie putih yang terlihat sangat kebesaran di tubuh mungilnya, bahkan sampai menutupi bokongnya.


Dipadu dengan rok mini hitam atau yang biasa di sebut dengan pleated skirt di rangkap dengan shorts hitam ketat menutupi pahanya sampai 10 cm di atas lutut.


Sepatu kanvas putih juga sudah membalut kakinya yang jenjang dan putih mulus. Sedang rambut hitamnya yang bergelombang di biarkan tergerai, kemudian di tutup menggunakan sebuah topi putih bertuliskan NY.


"Cla... Naufal sudah datang!" ucap sang Ibu sembari mengetuk pintu kamar Clarice.


"Ya, Mom!" jawab Clarice.


***


"Hai!" sapa Clarice pada Naufal, Vino dan Hanna yang berdiri di dekat sebuah mobil Mercedes Benz C-Class berwarna putih milik Naufal.. Konon ini adalah hadiah ulang tahun ke-17 sang pemuda.


"Hai!" balas Naufal, Vino dan Hanna bersamaan, menyambut Clarice.


Clarice melirik ke dalam mobil Naufal, ada seorang gadis yang duduk di jok depan dengan kaca terbuka. Saat Cla melihat, gadis itu bergerak dan melambaikan tangannya menyapa Clarice dengan hangat.


"Hai, Cla!" sapanya.


"Hai, Gwen!" sapa Clarice pada kekasih Naufal yang sudah di pacari hampir setahun lamanya itu.


Di belakang mobil Naufal ada mobil BMW 4 Series Coupe dengan warna yang sama. Dan ini adalah kado ulang tahun ke-17 untuk seorang Arsenio Wilson dari sang Ayah yang merupakan seorang pengusaha batu bara.


Hanya saja yang ada di dalam mobil itu entah mengapa tidak keluar. Dari kaca yang terlihat buram, hanya ada seseorang di balik kemudi, dan seseorang dengan rambut panjang di sampingnya.


Siapa?


Hanya melihat samar saja sudah membuat hati Clarice linu dan ngilu untuk menebak siapa yang di ajak oleh sang  pembalap


Kemudian saat Cla menatap lebih lama ke arah mobil itu, kaca pintu sebelah kiri turun, dan seorang gadis mengeluarkan kepalanya. Dan dengan senyum manis menawan, sang gadis jelita melambai pada Clarice. Dan Cla hanya membalas dengan senyuman kaku yang di sertai lambaian kecil dari tangan kirinya.


"Cla, kamu naik mobil Arsen, yaa?" ucap Naufal.


"Hah!" pekik Clarice. "Kenapa aku tidak naik mobil kamu?" tanya Clarice dengan ekspresi wajah yang bingung.


"Mana muat, Cla!" sahut Naufal. "Sudah ada Vino dan Hanna di belakang!"


"Ya sudah, Vino saja yang bersama mobil Arsen." usul Clarice.


"Aku..." Vino melirik sekilas ke arah mobil Arsen, lebih tepatnya menatap mata Arsen yang menatap dingin ke arah depan. "Aku tidak bisa menumpang pada Arsen, tidak enak dengan gadis itu. Bagaimana kalau Arsen tidak suka ada laki-laki yang dekat dengan gadis yang mungkin saja sudah menjadi kekasih Arsen..." kilah Vino. "Bagaimana kalau Hanna saja yang ikut Arsen." berharap agar Hanna saja yang naik mobil Arsen, sehingga ia bisa duduk berdua dengan Clarice.


"Eh! tidak bisa!" sahut Hanna. "Sejak masih kelas X dulu, Arsen tidak terlalu akrab dengan ku, jadi aku tidak enak kalau menumpang dia. Belum lagi kalau aku jadi obat nyamuk bagaimana?" jawab Hanna. "Lagi pula kalau menumpang pada Naufal, jalan pulang kami nanti juga akan searah!" lanjutnya tersenyum cerah.


"Aku bawa mobil sendiri saja lah!" ujar Clarice hendak kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobilnya.


"Kamu nyetir sendiri?" tanya Hanna.


"Kan ada Vino!" sahut Clarice.


"Cla! sebaiknya jangan terlalu banyak mobil!" sahut Naufal membuat Clarice sontak berhenti dari langkahnya.


Clarice kembali menghadap ke belakang, dan menatap sahabat terlama yang ia miliki untuk saat ini.


"Tapi aku akan jadi obat nyamuk kalau ikut mobil Arsen." jawab  Clarice dengan dada yang sudah bergemuruh.


Arsen dan gadis yang bersama Arsen tentu mendengar perdebatan lima orang di depan. Jika Arsen hanya diam, tiba-tiba saja gadis yang datang bersama Arsen memanggil Clarice dari posisinya saat ini.


"Kak Clarice! Kak Clarice saja yang ikut mobil Kak Arsen!" ujarnya tersenyum manis.


Clarice berusaha untuk tersenyum manis, meskipun semua sahabatnya bisa melihat jika senyum ini adalah palsu dan tidak tulus.


"Aku bawa mobil sendiri saja, tidak enak kalau mengganggu kalian..." jawab Clarice kembali hendak berbalik ke dalam rumah.


Namun tiba-tiba gadis yang bersama Arsen keluar dari mobil dan berjalan cepat mendekati Clarice. Dan dengan lembut dan pelan sang gadis menarik tangan Clarice, dan membawanya untuk mendekati mobil Arsen.


"Sudah, Kak! Ayoh!"


"Eh, aku..." Clarice tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


"Sudahlah..."


Dan kini kedua gadis itu sudah berada di sisi kiri mobil Arsen.


"Kak Clarice mau duduk di depan atau di belakang? Eh tunggu! sebaiknya kita berdua di belakang saja" ucap gadis yang belum di kenal baik oleh Clarice itu.


"Eh, jangan!" sahut Cla. "Nanti Arsen jadi seperti sopir saja!" jawab Clarice.


"Jadi bagaimana?" tanya gadis kecil itu. "Kakak di depan sajalah!"


"Tidak usah! aku di belakang saja!" sahut Clarice yang langsung mendekati pintu belakang dan membukanya.


"Tapi, Kak!"


"Sudahlah, ayo! keburu siang!" pungkas Clarice.


Semua masuk ke dalam mobil, kecuali Vino yang masih berdiri di samping mobil Naufal. Matanya menatap dingin ke arah kemudi mobil Arsen. Di mana di salam sana sang pembalap juga menatap Vino dengan tak kalah dingin dan bahkan mematikan.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2