
Meninggalkan kediaman Kenzo Adhitama selepas sesi makan siang dan berbincang santai, Arsen dan Mama Rania kembali duduk berdampingan di dalam mobil Alphard yang di kemudikan oleh seorang sopir pribadi.
Matahari mulai tergelincir ke arah barat. Semakin mendekati tempat peraduannya untuk memberi kesempatan pada para penduduk Bumi bagian Indonesia ini beristirahat. Melepas lelah dan penat bersama keluarga tercinta setelah seharian lelah bekerja.
Dengan siapnya hari ini berakhir, maka 1 hari masa skors sang pemuda telah berakhir. Dan esok ia bisa kembali untuk aktif di sekolah. Bergabung dengan teman satu kelasnya dan kembali menimba ilmu, meski tanpa pelatih renang terbarunya di kelas.
Karena sang gadis masih harus menjalani 1 hari skors yang tersisa.
Menatap jendela kaca, sang pemuda memandang kosong pada apa saja yang mereka lintasi selama perjalanan kembali pulang ke rumah mereka. Karena yang ada di dalam benak sang pemuda tidak hanya tentang kemana mereka akan pergi, juga tidak sekedar dari mana mereka hari ini.
Melainkan setiap detail kejadian yang ia lalui hari ini. Sejak ia memasuki kediaman Kenzo Adhitama, sampai kembali meninggalkan pagar besi yang kokoh itu.
Di mana baginya, selama pindah sekolah ke Ibukota, baru kali inilah Arsen menjalani hari yang sangat berarti.
Bukan hanya tentang berhasil medatangi rumah Clarice, melainkan berhasil mengurangi rasa traumanya terhadap kedalaman air yang sudah menekan hidupnya lebih dari sepuluh tahun terakhir. Meskipun harus berakhir dengan sebuah insiden yang membuat Mommy Calina hampir pingsan.
Ia kembali teringat saat pertama kali mencoba untuk menenggelamkan kepalanya ke dalam air. Di mana ia merasa ada gelombang air yang sangat besar menerjang tubuhnya yang terlihat sangat kecil. Hingga membuat tubuhnya yang kecil itu terbawa arus dan tak tertolong. Karena tidak ada apapun yang bisa ia jadikan penahan ataupun pegangan.
Namun siapa sangka, dari sekian usaha yang di usakan oleh gadis cantik itu membuatnya semangat untuk terus menepis semua perasaan dan bayangan masa lalu dengan cukup mudah, meski butuh wakktu untuk mengontrol pikirannya sendiri.
Hingga kejadian akhir di kolam renang benar-benar membekas di hati sang pemuda. Meski mereka berpelukan tanpa sadar, tanpa niatan juga tanpa mencuri kesempatan, tetap saja ia bisa mengingat jika ia tadi memang benar-benar tengah memeluk sang gadis dengar erat dan penuh suka cita.
Di antara gelombang air kolam, berlapis kain renang yang sudah basah kuyup, tubuh mereka bersentuhan dengan sangat dekat. Apalagi di sertai dengan dekapan erat keduanya.
Kedua tangan Clarice merangkul leher sang pemuda dengan erat disertai tawa ceria. Sedang Arsen memeluk perut hingga punggung Clarice tak kalah erat dengan tawa suka cita yang sama. Tangannya yang panjang mememluk tubh kecil Clarice, membuat sang gadis seperti tenggelam di dalam tubuh Arsen.
Arsen tersenyum samar menatap jalan raya yang mulai di padati oleh kendaraan pribadi dan juga bus umum. Karena jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul dua siang. Bagi pekerja shift, ini mungkin jam pulang kerja bagi mereka.
' Kamu memang cantik dan menarik, Cla... meskipun kamu sangat cerewet dan ketus! '
Gumam Arsen dalam hati. Mengingat tingkah dan sikap sang gadis yang sering berubah-ubah. Beruntung, ia selalu bisa mengimbangi tanpa emosi sedikitpun. Ia yang suka bercanda, selalu membuat kelakuan Clarice juga candaan ala sang gadis.
Lambat laun senyum di bibirnya mulai berkurang dan menghilang. Ketika mengingat rasa bersalahnya pada Mommy Calina. Ia mengakui dengan sejujurnya jika ia tadi benar-benar tidak sadar. Bahkan Clarice pun merasakan hal yang sama.
Namun tetap saja insiden yang sesungguhnya sangat menguntungkan Arsen karena akan menjadi kenangan indah baginya. Namun akan menjadi pengalaman buruk untuk Cla di mata sang Ibu.
' Maafkan Arsen, Aunty! '
Lirih Arsen di dalam hati.
' Meski begitu... aku berharap kelak kamu akan ingat... jika aku pernah memelukmu di kolam renang itu, Cla... '
Gumam Arsen dalam hati sembari meremas jemari nya sendiri. Berharap kelak ingatan itu benar akan muncul di dalam hidup Clarice.
"Kamu kenapa, Boy?" tanya Mama Rania pada Arsen yang terlihat resah dan tidak sesuai dengan biasanya.
Di mana seharusnya dia bahagia karena berhasil terlepas sedikit demi sedikit dari trauma yang di deritanya. Dan juga keinginannya untuk mendatangi rumah Clarice terwujud.
"Tidak apa, Ma..." jawab Arsen menoleh sang Ibu untuk sekilas. Menjawab dengan datar, dan berpura biasa-biasa saja.
"Kamu sepertinya tidak bahagia..." ucap Mama Rania. "Bukankah semalam kamu sangat antusias untuk datang ke rumah Clarice?"
"Ya,Ma! Dan Arsen sangat bahagia karena hari ini berhasil mengukir hari yang indah dan sangat berarti bersama Clarice." jawab Arsen tersenyum senang.
__ADS_1
"Yang mana ini yang sangat berarti?' tanya Mama Rania sedikit menyindir insiden kolam renang.
"Yaa... semua yang terjadi hari ini di rumah Clarice sangat berarti buat Arsen..." jawab Arsen tersenyum kikuk. Ia tau apa yang di maksud oleh sang Mama.
"Salah satunya?" tanya sang Mama yang tidak puas dengan jawaban sang bungsu.
"Salah satunya.... Trauma Arsen mulai berkurang, Ma! Dan Arsen sangat senang dengan pencapaian ini." jawab Arsen masih berusaha untuk mengelak. "Nanti malam aku akan ikut Kak Axel berenang!"
Mama Rania memiringkan bibirnya, tanda percaya. "Selain itu?" kejar sang Ibu. "Apalagi yang berkesan?"
"Apalagi?" tanya Arsen pura-pura tidak paham.
"Hemm..." Mama Rania tersenyum menggoda. "Jangan kamu pikir Mama tidak tau apa yang paling berkesan buat kamu hari ini, yaa..." ucap Mama Rania dengan menahan gelak tawanya.
Arsen pun akhirnya terkekeh dengan membuang muka ke arah jendela. Sampai kapanpun ia tidak akan bisa menyembunyikan rahasia, ataupun ekspresi dari wanita di sampingnya ini. Meski jarang bertemu, naluri sang Ibu selalu kuat untuk anak-anaknya.
"Kamu senang, kan?" tanya Mama Rania langsung mengarah pada insiden di kolam renang yang berakhir dengan ceramah singkat ala Mommy Calina.
"Menurut Mama?" tanya Arsen balik dengan gelak tawa yang tertahan. Melirik salah tingkah pada sang Ibu.
Menarik nafas panjang, menghelanya dengan perlahan, Mama Rania menata kalimat untuk di sampaikan pada sang putra yang bukan lagi anak-anak. Di mana ia harus menempatkan diri seperti sahabat sang anak laki-laki.
"Eghm!! Menurut Mama, kamu sangat bahagia..." jawab Mama Rania yakin. "Jangan kamu pikir Mama tidak tau kamu sejak tadi senyum-senyum tidak jelas. Apa coba yang kamu pikirkan jika tidak tentang... kalian yang berpelukan." goda sang Ibu dengan gelak tawa yang mengarah pada luar jendela.
"Hahaha!" Arsen tergelak tak tertahan, sembari menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi mewah di dalam mobil mewahnya. Matanya menatap luar jendela, dan kembali terbayang saat dirinya memeluk erat sang gadis, dan juga yang di balas oleh sang gadis. Meski harus berakhir dengan saling menyiratkan air. "Itu terlalu indah untuk di bayangkan, Ma..." jawab Arsen kemudian.
"Mama tau..."
"Entahlah... Mungkin karena Mama sudah terbiasa melihat hal seperti ini di luar negeri sana." jawab Mama Rania. "Tapi Mama ingin mengingat kan kamu, Arsen. Kali ini Mama tidak marah karena gadis itu adalah Clarice, anak sahabat Mama. Sebagai sahabat, Mama dan Uncle Kenzo sudah biasa berpelukan singkat sejak sekolah dulu. Tapi Mama minta jangan ulangi lagi, yaa..." ucap Mama Rania dengan serius.
"Budaya di luar sana dan di negara kita berbeda, Arsen." jelas Mama Rania serius. "Dan dari yang Mama lihat, Aunty Calina itu sangat memegang teguh budaya negeri ini. Dan Mama yakin kalau Clarice adalah anak yang baik dan patuh. Jadi jangan buat Aunty Calina kecewa sama kamu..."
"Iya, Ma... Arsen paham.." jawab Arsen penuh penyesalan. "Arsen hanya akan mengulangi nya kelak! Kalau Clarice diam-diam mau jadi kekasih ku!"
"ARSEN!"
***
Matahari semakin tergelincir ke peraduan. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 3 sore. Sangat mendekati jam untuk pulang kerja bagi pekerja kantoran. Sedangkan menjadi jam pulang sekolah untuk para siswa Alexander International School. Maka waktu 1 hari skors telah usai.
Di gedung yang menjulang tinggi, yang mana menjadi kantor pusat perusahaan swasta dengan nama kebesaran Adhitama Group, seorang CEO duduk di sofa ruang temu tamu dan CEO, untuk tamu yang di anggap tidak ada hubungan dengan perusahaan. Meski di lantai yang sama dengan ruang kerja sang CEO.
"Kenapa kemarin tidak langsung mengejar kalau memang menginginkan anak mu bisa ikut ujian?" tanya Kenzo. "Negosiasi dengan guru dulu?" tebak Daddy Kenzo bertanya pada Afrizal yang datang bersama istrinya.
Sementara Kenzo di dampingi oleh Asistennya, Venom. Sehingga kini empat orang berbicara di ruangan tanpa pintu. Karena hanya ada satu sekat dinding kaca saja.
Di ruangan dengan dinding kaca yang sebagian kacanya buram itu tengah terjadi obrolan serius sejak 15 menit yang lalu. Jika ada Afrizal dan kenzo, sudah pasti obrolan mereka seputar permasalahan saham dan hukuman Zuria.
"Saya hanya butuh waktu untuk merangkai kata ketika harus bertemu dengan Tuan Kenzo secara pribadi." jawab Afrizal beralasan. "Semua orang tau, seberapa penting dan hebatnya sosok Tuan Kenzo Adhitama.
"Oh, ya?" tanya Kenzo tak percaya, tentu saja. Kenzo tentu sudah biasa berhadapan dengan penjilat seperti ini. "Padahal... seandainya jika sore itu kau mengejar ku, mungkin aku akan berubah pikiran." kilah Kenzo.
' Kau berkilah, aku juga bisa bersandiwara supaya kau menyesal! '
__ADS_1
Batin Kenzo menyeringai.
Afrizal membuka matanya lebar mendengar perkataan Kenzo yang sama sekali tidak pernah terpikir hari itu.
"Saya mohon, Tuan... Bantu saya, maafkan putri saya.. Tolong izinkan putri saya untuk mengikuti ujian tengah semester." ucap Afrizal memelas. Saya berjanji, stelah ujian tengah semester usai, saya akan memindahkan anak saya untuk melanjutkan sekolah di sekolah yang lain..." Afrizal menunduk dalam, berharap kenzo segera mengizinkan putrinya untuk ikut ujian.
"Aku tidak bisa memberi keputusan, Afrizal." jawab Kenzo dingin dan datar. "Aku sangat benci ketika anak mu mengatai istri ku wanita murahan dan mengatai putri ku anak sambung dan sebagainya. Apapun yang kalian ketahui, Clarice adalah anakku! Aku akan berdiri di barisan paling depan untuk anak dan istriku!"
"Ada apa membawa-bawa nama Clarice?" suara seseorang berdiri di dekat pembatas kaca membuat semua menoleh ke arah sumber suara. "Ada masalah dengan Clarice, Pak Kenzo?"
"Ya, Zi. Duduklah!" titah Kenzo pada Zio yang tiba-tiba muncul.
Zio memasuki ruangan yang menyatu dengan ruang kerja CEO. Dari pintu itu, ia bisa mendengar suara Kenzo yang sedang berbicara keras entah pada siapa. Zio bertanya pada sekretaris Kenzo, namun sekretaris itu tidak tau. Akhirnya Zio yang datang membawa laporan, menghampiri bilik tanpa pintu itu.
Terlihat ada Kenzo, Venom dan dua orang yang tak terlalu di kenal oleh Zio. Meski tak tau namanya, namun ia pernah melihat wajah yang laki-laki itu di salah satu majalah bisnis dan di beberapa pertemuan besar. Hanya saja ia sama sekali tidak ingat nama dan asal perusahaannya.
Ia merasa sangat penasaran, karena dengan jelas Kenzo menyebut nama Clarice, anak kandungnya. Untuk itu ia merasa berhak untuk tau.
Kini Zio duduk di kursi single, menatap Kenzo dan Afrizal secara bergantian dengan tatapan yang penasaran teramat sangat.
"Ada apa memangnya? kenapa tidak ada yang bercerita padaku?" tanya Zio yang merasa dirinya berhak tau atas permasalahan yang menyangkut putri kandungnya itu.
"Afrizal? perkenalkan, dia adalah Zio Alvaro, General Manager di perusahaan ku." ucap Kenzo pada Afrizal.
"Selamat sore, pak Zio.. Saya Afrizal." sapa Afrizal mengulurkan tangan. "Dan ini istri saya."
"Hemm..." jawab Zio masih belum bisa untuk tenang.
Jika perusahaan yang di kelola oleh Afrizal masih utuh, pastilah ia akan menganggap remeh seorang GM. Masalahnya beberapa bulan lagi mungkin penghasilannya perbulan akan jauh lebih kecil dari seorang GM Adhitama Group. Dan itu membuat Afrizal memilih hormat terhadap Zio. Apalagi di depan Kenzo Adhitama.
"Dia adalah Ayah kandung Clarice..." ucap Kenzo.
Dan apa yang di ucapkan Kenzo membuat Afrizal dan istrinya semakin mendelik. Tak percaya jika ternyata Ayah kandung dari anak sambung Kenzo adalah anak GM yang bekerja di perusahaan Kenzo. Sepasang suami istri itu saling tatap untuk beberapa saat.
"Sebenarnya ada masalah apa dengan Cla?" tanya Zio pada Kenzo. "Apa hubungannya dengan mereka?"
"Bukan dengan mereka, Zi. Tapi dengan anaknya!" jawab Kenzo singkat. "Aku mau membicarakan padamu tentang hal ini saat kamu mengantar laporan sore ini. Tapi ternyata dua orang ini sudah datang duluan." jawab Kenzo.
"Tolong ceritakan detailnya, Pak Kenzo." pinta Zio.
Maka Kenzo pun mulai bercerita terang-terangan, tanpa satu bagian pun yang di tutupi oleh sang CEO. Dan itu jelas di saksikan oleh Afrizal yang tidak bisa membantah satu katapun yang di ucapkan oleh Kenzo.
Termasuk salah satunya syarat yang di berikan guru untuk Zuria jika ingin mengikuti ujian. Juga... jika Adhitama Group menarik semua saham yang di tanam di ARL Express. Membuat Zio ingat tentang sang pengusaha di depan Kenzo itu.
"Setau ku Pak Mahardhika juga punya saham di perusahaan itu," ucap Zio yang ikut geram mendengar anaknya sampai harus di skors 2 hari. "Aku yakin jika beliau tau tentang kenyataan ini, sudah pasti beliau akan menarik sahamnya pula." lanjutnya menyebut Ayah Naufal.
Dengan menahan amarah yang tidak bisa ia luapkan, Zio menatap tajam pada Afrizal dan istrinya secara bergantian. Zio sangat kesal, mendengar putrinya di skors. Soal Calina di bilang wanita murahan ia pun kini tidak terima. Karena ia tau dan sangat mengenal. Jika sesungguhnya Calina adalah wanita mahal. Meskipun ia pernah mengatai hal yang sama guna menepis segala rasa yang muncul tanpa di inginkan pada masa lalu.
Yang jelas, masa lalu adalah masa lalu. Ia tak ingin mengulang dan mengingatnya kembali. Karena ia tau, kalimat itu sangat menyakitkan untuk di dengar seorang wanita. Apalagi untuk di dengar oleh Calina, si bunga desa yang kecantikannya berhasil memasuki komplek elit di Ibukota.
Sepasang suami istri itu kini semakin panik mendengar Zio mengenal pula Mahardhika. Ruang lingkup Adhitama Group memang sangat besar. Tidak heran jika antara satu orang dengan orang lainnya pada akhirnya bertemu di dalam juntaian benang yang sama.
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1