
Clarice melihat sekelilingnya yang di penuhi dengan orang - orang yang sedang mencari sesuatu atau hanya sekedar berjalan - jalan saja. Sampai akhirnya sorot matanya bertemu dengan pemuda yang baru ia kenal tadi pagi di sekolah.
Pemuda yang memang cukup humble dan mudah bergaul. Di hari pertama sekolah saja, lelaki itu sudah berani mengeluarkan celetukan pada guru kelas yang sedang mengajar. Meski ia baru mengenal beberapa teman saja.
Kelebihan dari lelaki itu adalah tampan dan yang pasti anak orang kaya.
Terlihat dari apa yang di kenakan pemuda itu memang cukup membuktikan jika dia anak orang mampu. Dan yang membuat Clarice memendam tanya adalah, siapa gadis yang sedang bersama Arsen?
Setelah yakin jika Arsen sudah tidak berada lagi di lantai yang sama dengan dirinya, Clarice kembali melanjutkan makannya dengan seluruh anggota keluarganya.
Puas menghabiskan santap malamnya, kini mereka berencana untuk acara selanjutnya. Dan kini para anak lelaki yang mengambil posisi utama.
"Daddy! Galen mau sepatu sport yang baru!" pinta Galen.
"Dygta juga!" sahut bocah 10 tahun itu."
"Ya, baiklah. Kita beli sepatu." sahut sang Mommy. "Dengan syarat harus semakin rajin belajar."
Karena sepertinya tugas Daddy Kenzo hanyalah menuruti apapun yang di inginkan oleh Nyonya Kenzo. Dan mommy Calina yang memutuskan segalanya.
"Yes, Mommy!" sahut keduanya dengan semangat.
Tidak mendapat ponsel baru tak apa, yang terpenting masih bisa mendapatkan yang lain, yang harganya di jamin tak jauh berbeda dengan ponsel Clarice.
Maka masuklah satu keluarga itu ke dalam toko sepatu kenamaan Adid*s. Galen dan Dygta langsung mencari sepatu sesuai selera masing - masing. Sedangan Mommy memilih untuk menemani Dygta yang di rasa paling kecil dan harus di temani dalam memilih ukuran.
Lalu Daddy Kenzo yang merasa sedang tidak membutuhkan sepatu, memilih untuk duduk di kursi tunggu sembari mengecek email yang mendatangi ponselnya. Memanfaatkan waktu kosongnya untuk mengurusi pekerjaan yang memang seperti tidak ada habisnya bagi sang CEO.
Sementara Clarice rupanya tak ingin berdiam diri di samping sang Daddy. Ia ikut berkelana di dalam galery kenamaan Adid*s. Dimana semua yang ada di dalam sana adalah barang ori yang harganya bukan lagi harga bercanda. Hanya mereka dengan kantong benar - benar tebal yang percaya diri untuk masuk dan mencoba sandal maupun sepatu yang ada di dalam sana.
Clarice mendekati rak sepatu. Awalnya ia hanya melihat, namun akhirnya ia melihat satu sepatu yang menarik perhatiannya. Ia ambillah sepatu itu, memutarnya di depan mata, Di rasa sepatu itu sesuai selera juga ukurannya, Clarice langsung duduk dan melepas sandalnya untuk mencoba sepasang sepatu yang di banderol dengan harga 4 jutaan itu.
Berdiri mendekati cermin, sepatu dengan perpaduan beberapa warna itu terlihat sangat kontras dengan kaki putih Clarice yang malam itu terlihat sempurna jenjangnya. Karena Clarice memakai dress jeans dengan panjang roknya hanya sampai di atas lutut saja.
Wajah Clarice tampak sumringah, ia merasa sepatu itu cocok dengan karakter dirinya. Baiklah, ia akan mengambil sepatu itu saja. Sang Daddy tidak akan melarangnya untuk membeli sepatu satu lagi. Meski di rumah sudah ada lima pasang sepatu casual dengan berbagai model dan merk. Karena beda model baju juga membutuhkan model sepatu yang berbeda.
"Nama kamu siapa?"
Di tengah - tengah senyum melihat kakinya di balut sepatu yang sangat cocok dengan karakter dirinya, tiba - tiba suara yang tak asing terdengar dari arah belakangnya.
Sontak Clarice melihat siapa yang berdiri di belakangnya melalui pantulan cermin di depannya. Dan ia tau siapa yang ia yakini memang tengah bertanya padanya.
Clarice membalikkan badannya, menghadap lelaki dengan tinggi badan sekitar 10 cm lebih tinggi dari tinggi badannya itu.
"Sepatunya bagus! cocok dengan mu!" ucap lelaki itu pada Clarice.
"Thanks!" jawab Clarice datar. "Kamu mengenali aku?" tanya Clarice balik pada pemuda yang tak lain adalah Arsenio Wilson. Anak baru di sekolahnya dan terutama anak baru di kelasnya.
"Kita satu kelas, bukan?" tanya Arsen yang berdiri dengan satu tangan yang masuk ke dalam celana pendek yang ia kenakan.
Clarice tersenyum tipis, "Ya, kamu benar." jawab Cla mengangguk satu kali.
"Kamu belum menjawab pertanyaan ku..."
"Yang mana?" tanya Cla pura - pura tidak tau.
"Siapa nama kamu?" ulang Arsen.
Sebagai lelaki normal, Arsen juga pasti menyadari jika Clarice termasuk dalam golongan gadis yang cantik. Apalagi kulitnya asli putih, meski kedua orang tuanya sama - sama berasal dari kota yang cukup jauh dari Ibukota.
Hanya saja mungkin Clarice terlalu dingin untuk sebuah kata cinta. Sehingga gadis itu seperti tidak ada lelaki yang mendekati dirinya.
"Nama ku Clarice!" jawab Cla menatap wajah Arsen sekilas, lalu kembali mendekati kursi tempat tadi ia melepas sandalnya.
Arsen diam untuk sesaat. Ia menyebut dan menghafal nama Clarice untuk sesaat. Kemudian mendekati Clarice yang duduk di kursi besi panjang tanpa sandaran.
"Kamu tentu masih ingat namaku, kan?" tanya Arsen yang kini ikut duduk di kursi yang sama dengan Clarice, dengan memberi jarak sekitar setengah meter.
"Ya, tentu saja masih ingat. Arsenio Wilson, kan?" tanya Clarice.
__ADS_1
"Ya! kamu benar! jangan sampai kamu melupakan nama lelaki tampan sepeti ku, okay!" ucap Arsen dengan percaya diri bahkan dengan kerling mata yang baru kali ini Clarice dapatkan dari sekian banyak anak laki - laki yang ia temui.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Cla tanpa menggubris pesan dari lelaki yang menurutnya terlalu percaya diri itu. Meskipun dalam hati ia mengakui jika pemuda di sampingnya itu memang tampan dan menarik mata para gadis seusianya.
"Jalan - jalan... sekalian cuci mata!" jawabnya santai. "Ibukota banyak sekali gadis cantik seperti mu... apalagi di Mall ini!" celetuknya begitu saja. "Mereka tampak berkelas dan menawan!"
Clarice memiringkan bibirnya sembari mengambil sepasang sepatu yang baru saja ia lepas dari kakinya. ia sama sekali tidak berbesar hati di bilang cantik oleh Arsen. Ia justru risih, karena Arsen benar - benar seperti playboy yang sedang berusaha menaklukkan seorang gadis.
Apalagi jika mengingat banyak Kakak kelas yang berusaha mendekati Arsen. Clarice tidak semudah itu menerima rayuan gombal dari lawn jenisnya.
"Di mana kekasih mu tadi?" tanya Cla melihat sekitar dan tak menemukan gadis yang tadi bersama Arsen.
Sebenarnya tujuan Clarice menanyakan keberadaan gadis itu adalah untuk mengingatkan Arsen, jika dia sendiri datang bersama seorang gadis cantik. Bukan sebagai jomblo yang bebas menggoda gadis di sana sini.
"Kekasih?" pekik Arsen bertanya pada Clarice dengan mata yang memicing.
"Ya, gadis yang bersamamu tadi..."
"Oh... dia bukan kekasihku..." jawab Arsen santai dan datar seolah tidka ada beban kebohongan saat mengucapkannya.
"Lalu?"
"Dia sepupu ku yang memang sudah sejak kecil tinggal di sini..." jawab Arsen. "Aku selalu pergi bersamanya jika sedang berada di sini."
"Yakin?" tanya Clarice seolah tak percaya dengan jawaban Arsen.
"Ya iyalah!" jawab Arsen yakin. "Namanya Melody, dia sekolah di Santa Maria High School."
"Kelas?"
"Sama dengan kita! kelas 10!"
"Yakin sepupu doang?" tanya Clarice masih tak percaya.
"Kamu kan tau aku baru menetap di Ibukota, masa iya sudah punya pacar!" jawab Arsen terkekeh geli dengan interogasi Clarice.
"Tidak juga!"
"Masa? aku jadi ragu dia sepupumu..."
"Lihat! itu dia lagi milih sepatu sendirian!" ucap Arsen menunjuk gadis yang tadi bersamanya tengah mencoba sepatu di galery sebelah.
Clarice mengikuti arah yang di tunjuk Arsen. Dan benar, gadis itu tengah menjajal beberapa sepatu dari brand yang tak kalah hits dari galery yang sedang ia masuki.
"Kalau dia kekasihku, pasti aku saat ini duduk di sampingnya, dan membantu memilihkan sepatu yang cocok untuk dia." lanjut Arsen.
Clarice mengangguk, sebagai tanda percaya. Benar percaya atau tidak, yang penting adalah bicara tentang gadis yang bersama Arsen selesai.
"Berarti kalau kamu duduk disini dan melihat ku mencoba sepatu, orang mengira kamu aku kekasihmu?" gurau Clarice.
"Tidak masalah! aku justru senang dengan pemikiran mereka yang menganggap kamu kekasihku!" jawab Arsen meladeni gurauan Clarice. "Dan aku lebih senang lagi kalau memang kamu mau jadi kekasihku!" lanjut Arsen dengan menebar senyum menawan miliknya.
Lagi - lagi Clarice tak berbesar kepala dengan ucapan Arsen.
"Jadi... pacarmu ada di Bandung?" tanya Clarice mengalihkan pembicaraan.
"Aku tidak punya pacar..." jawab Arsen dengan sangat enteng.
Tergelak tak percaya, Clarice seolah mencemooh jawaban Arsen yang tidak masuk akal.
"Kenapa tertawa?" tanya Arsen melirik Clarice.
"Yang aku tau sejak Junior High School, lelaki tampan dan kaya raya seperti mu tidak mungkin tidak punya pacar! minimal punya gebetan!" jawab Clarice sesuai dengan pantauannya sendiri. "Kadang malah dua sampai tiga, kemudian di pilih salah satunya, dan bisa berakhir dengan punya pacar lebih dari satu!" ujar Clarice membuat Arsen tergelak.
"Jadi... aku benar tampan?" tanya Arsen melenceng dari apa yang di maksudkan Clarice. Ia cukup fokus dengan kata tampan dan kaya raya yang di sematkan Clarice untuk menggambarkan dirinya. Tidak perlu mendengarkan kalimat lanjutan Clarice yang menurutnya memang ada benarnya.
Clarice yang sadar jika baru saja melontarkan kalimat pujian secara tidak langsung, seketika seperti sinyal yang ngelag akibat kehilangan sinyal. ia diam sekitar dua detik, baru kemudian ia berucap...
"Ya... dari segi fisik kamu memang tampan.." jawab Clarice salah tingkah. "Tapi yang di katakan tampan dari seorang lelaki bukan hanya dari segi fisik saja, bukan?" lanjutnya menutupi kalimatnya yang ambigu. Karena memang tidak ada perencanaan untuk mengucapkan kalimat itu sebelumnya.
__ADS_1
' Pasti laki - laki seperti ini sudah besar kepala kalau ada yang mengatakan dirinya tampan! Haduuh Claa... kenapa kamu bisa salah ucap sih! '
Gerutu Cla dalam hati. Menyesal sudah mengucapkan kalimat yang secara tidak langsung mengakui sesuatu yang sebenarnya sama sekali tidak ingin ia ucapkan. Terutama pada playboy semacam Arsen.
Ya, setidaknya itulah penilaian Clarice pada teman barunya, Arsenio Wison. Playboy dan tidak punya jiwa setia. Padahal mereka baru pertama kali mengobrol sejak perkenalannya tadi pagi.
"Sudahlah.... aku sudah terima kok, ketika kamu bilang aku tampan!" ucap Arsen dengan sebuah gela tawa percaya diri yang tinggi.
"Apa sih!" pungkas Clarice. "Mbak saya mau yang ini, tapi ambilkan yang baru, ya!" ucap Clarice pada SPG yang berjaga di lorong tempat Clarice memilih sepatu.
Sementara Cla berbincang pada SPG, Arsen terus saja tersenyum. Menahan rasa ingin tertawanya karena di bilang tampan oleh Clarice. Teman sekelas yang bahkan tadi sore membuang muka saat bertemu di pintu kelas, saat hendak keluar kelas untuk pulang.
Bukan hanya tadi sore, tapi juga barusan. Saat gadis itu makan malam bersama keluarganya.
"Bye! aku harus kembali pada Daddy!" pamit Clarice pada Arsen tanpa melihat wajah Arsen yang tersenyum menatap dirinya.
Sadar jika sedari tadi gerak geriknya di lihat oleh Arsen, Clarice tak mau melihat Arsen walau hanya satu detik sekalipun. Cla langsung membalikkan badannya, untuk kembali ke kursi tunggu bersama Sang Daddy.
"Eh.. tunggu!" Arsen langsung berdiri menghadap punggung Clarice yang berada kurang lebih empat langkah di depannya.
Dan itu membuat Cla berhenti melangkah. Tapi tidak pula menoleh ke belakang. Terlalu malu untuk kembali bersilang tatap dengan Arsen.
"Siapa tadi nama mu?" tanya Arsen tanpa mengikis jarak. Arsen benar - benar kesulitan mengingat naa Clarice yang menurutnya cukup rumit itu.
Menarik nafas panjang, Clarice sudah menduga, lelaki yang suka berkenalan dengan wanita untuk kemudian berpacaran demi menuruti hawa nafsu semata, tidak akan semudah itu mengingat nama seseorang yang baru di kenalnya. Karena saking banyaknya nama gadis yang harus dia hafalkan.
"Cari saja di absensi kelas!" ujar Clarice tanpa menoleh ke belakang, dan hendak kembali melangkah. Namun rupanya Arsen sudah lebih dulu sampai di belakang dirinya. Hanya menyisakan jarak sau langkah saja.
"Kamu harus percaya apa yang aku kataan tadi?" ucap Arsen dengan suara yang pelan.
"Apa?" tanya Clarice tanpa menoleh ke belakang, ia tau Arsen berada tepat di belakang punggungnya. Ia ragu untuk saling menatap di jarak yang sangat dekat.
"Kamu cantik! dan aku tidak berbohong ataupun menggombal tentang itu!" lanjut Arsen serius menatap rambut hitam yang di gerai dengan sebuah jepit rambut kecil di atas dahi sebelah kanan.
Keduanya diam untuk sesaat, sampai akhirnya terdengar Cla membuang nafas gugup dari hidungnya. Hingga paru - parunya terasa kosong.
"Terima kasih!" jawab Cla cuek dengan kalimat pujian dari sang pemuda. Dan langsung melangkah tanpa menoleh pada Arsen lagi. Ataupun berpamitan pada Arsen untuk kedua kalinya.
Melangkah dengan membuang nafas gugup. Serius atau tidak serius yang di ucapkan Arsen, Clarice berusaha konsisten untuk tidak semudah itu mempercayai apapun yang keluar dari mulut lelaki yang ia anggap playboy.
Apalagi di dalam hatinya ada seseorang yang sedang ia puja diam - diam.
Mendekati sang Daddy, Clarice menekan rasa gugupnya karena pujian yang sesungguhnya tak ingin ia ingat sama sekali.
"Daddy, Cla ambil satu sepatu!" ucap Cla tersenyum sembari menghempaskan tubuhnya di samping sang Daddy dan memeluk lengan sang Daddy dengan manja. "Boleh kan?"
"Sudah bilang SPG nya?" tanya Daddy Kenzo.
"Sudah!" jawab Cla tersenyum.
"Okay!" jawab sang Daddy santai.
Daddy Kenzo kembali fokus pada email di layar ponselnya. Sedangkan sang anak gadis masih bermanja di lengannya.
Namun mata Clarice kini menatap sosok yang tadi sempat menyapanya berjalan keluar galery.
Sorot mata mereka bertemu dalam satu garis lurus, namun tidak ada senyum di antara keduanya. Keduanya kembali menjadi asing karena ada sang Daddy yang mungkin akan menjadi Raja hutan jika ada lelaki yang mendekati sang anak gadis.
Pandangan mereka yang bertemu, terputus seiring langkah Arsen yang semakin dekat dengan pintu keluar. Dan Clarice berpura melihat ke belakang, dan menatap punggung yang langsung duduk di kursi tunggu yang ada di luar galery.
Dan sorot mata mereka kembali terputus untuk sesaat. Karena Clarice memilih untuk kembali menghadap depan, dan menyandarkan kepalanya di lengan sang Daddy.
***
Sementara Arsen langsung membuka ponsel, membuka grup kelas yang baru siang itu ia masuki. Membuka daftar anggota, untuk menemukan nomor ponsel yang fotonya mirip dengan Clarice.
Cantik, anggun dan yang pasti sulit untuk di taklukkan.
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1