
Satu detik, adalah jangka waktu yang sangat singkat. Bahkan mungkin tidak akan terasa jika di gunakan untuk menunggu. Namun detik - detik yang berkumpul menjadi satuan waktu yang berubah menjadi menit, mungkin cukup untuk di jadikan acuan menunggu waktu. Hanya saja masih bisa di tolerir jika seandainya menunggu sesuatu ataupun seseorang dalam hitungan menit.
Dan hitungan menit itu akan semakin terasa lama jika sudah berkumpul dan melewati angka 60. Karena menit itu akan di hitung sebagai satuan Jam. Yang artinya waktu berjalan lebih lama.
Jam - jam itu nantinya akan membentuk hari, dan hari akan mengukir kenangan juga sejarah. Di mana kenangan akan terbentuk oleh orang - orang yang berbeda. Ataupun persatuan dari beberapa orang yang menjalin satu hubungan. Entah itu teman, kekasih, suami istri, keluarga dan sebagainya.
Jika di belahan dunia bagian lain ada yang sedang berduka, mungkin di belahan Bumi yang lain ada yang sedang bersuka cita. Begitu seterusnya yang terjadi di sepanjang waktu yang terus berputar.
Di antara Bumi yang berotasi, dan di antara Bulan yang mengelilingi Bumi untuk memberi tanda waktu telah malam, dan saatnya kamu untuk tidur dan mengistirahatkan tubuhmu yang kelelahan karena mengukir hari itu. Justru ada lelaki dewasa yang berdiri di balkon salah satu kamar hotel. Saat Matahari bahkan sudah terlewat jauh, dan Bulan bahkan mungkin sudah separuh perjalanan di atas kepalanya.
Lelaki 34 tahun itu menatap lurus ke depan, seolah menerawang jauh di pekat malam Ibukota. Melihat tentang apa saja yang sudah ia lalui selama 34 tahun usianya. Mulai dari masa kanak - kanak, remaja, dan meniti karir sampai di puncak tertinggi. Kemudian menikah diam - diam dengan seorang gadis yang merupakan bawahannya di perusahaan.
Lalu berawal dari sanalah, ia menyakiti hati seorang wanita, lalu semua berubah, saat rasa cemburu mulai muncul. Dan semakin berubah saat kepahitan hidup datang silih berganti seolah tanpa jeda.
Namun semua berhasil ia lalui, hingga ia kehilangan sosok lembut yang selalu menenangkan jiwa. Kemudian saat kepedihan itu reda secara perlahan, ternyata Tuhan memberinya malaikat kecil yang cantik tanpa pernah ia ketahui sebelumnya.
Dan setelah Malaikat kecil itu mengubah dirinya menjadi jauh lebih baik, ia mendapatkan bonus dari Tuhan berupa sosok cantik nan anggun yang bersedia menjadi istrinya. Wanita luar biasa yang bersedia mengarungi samudra bersama dengan dirinya.
Dan sosok itu kemarin baru saja ia bawa untuk mendatangi makam istri pertamanya. Wanita yang sangat ia cintai semasa hidupnya. Wanita yang mengabdi padanya dengan sabar di akhir hayatnya.
Ya, inilah kisah Zio dan Zahra.
Meninggalkan hari di mana keduanya sepakat untuk menikah beberapa bulan yang lalu, maka kemarin baru saja mereka secara bersama - sama dan bergantian mendatangi makam istri dan suami masing - masing.
Selain untuk menabur bunga, mengirim doa, juga meminta restu untuk kelanjutan hidup yang mereka harapkan akan lebih baik. Bukan berarti melupakan mereka yang sudah tiada, melainkan untuk memenuhi kebutuhan yang memang di butuhkan oleh manusia. Karena hidup sebatang kara juga bukan cara yang bagus untuk menjalani hari yang panjang di tengah - tengah umur yang tersisa.
Tidak mungkin juga menjalani hari seorang diri, di saat usia yang masih mampu untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga. Meski tidak ada yang tau, sampai kapan usia manusia akan bertahan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Setelan putih dengan di sertai sebuah peci sudah menggantung di almari kamar hotelnya. Namun rasa kantuk belum juga mendatangi sepasang mata Zio. Padahal esok akan menjadi acara yang sakral untuk dirinya dan Zahra.
Ya! esok adalah hari pernikahan Zio dan Zahra. Hari yang sudah di tunggu oleh semua anggota keluarga selama tiga bulan terakhir. Sedangkan Zahra sudah tidak bekerja sejak dua bulan yang lalu. Dan sejak itu, kebutuhan Zahra dan Felia sudah di ambil alih oleh Zio yang memang untuk finansial bisa di katakan cukup dan mampu.
Untuk uang jajan anak, Zio tidak pernah membedakan antara uang jajan Clarice dan Felia. Namun jika Clarice terlihat lebih memiliki segalanya, ya tentu saja karena selain anak kandung seorang General Manager, juga anak tiri seorang CEO yang memiliki perusahaan besar di Ibukota. Jadi wajar jika kehidupan Clarice jauh lebih dari segalanya di banding Felia yang hanya mengandalkan dari calon Ayah tirinya.
Meski begitu Clarice bukanlah anak yang sombong dan angkuh. Dia tetap rendah diri dengan segala nasehat yang di sampaikan oleh sang Ibu.
' Masih ada kamu disini, Naura ... '
Lirihnya dalam hati, dengan jari menunjuk dada, dan mata menatap bintang malam yang bertabur di langit yang luas.
' Tapi juga ada Zahra di bagian ini.. '
Lirihnya lagi di dalam hati dengan menunjuk tempat Zahra di dalam hatinya.
Selain membawa Zahra ke makam Naura, Zio juga membawa Zahra untuk mendatangi adik tercinta yang belum juga keluar dari Rumah Sakit Jiwa. Meski begitu, Zahra tampak sangat peduli dengan Zhika. Meski sesekali Zahra mendengar Zhika memanggilnya dengan nama Calina,
"Dia mengenal Calina sudah lama. Karena Mama selalu mengenalkan Calina padanya, dan berharap jika kelak Zhika sembuh, maka Calina bersedia menggantikan posisi Mama untuk Zhika. Seperti menjadi Kakak Ipar yang baik untuk Zhika. Namun jodoh tidak ada yang tau, bukan?"
Setidaknya itulah penjelasan Zio, ketika Zhika menyebut Zahra sebagai Calina.
Dan Zahra yang berhati besar, tidak pernah mempermasalahkan hal semacam itu. Karena semua memang sudah bergulir sedemikian rupa.
***
__ADS_1
Sedangkan di kamar yang berbeda lantai, ada gaun untuk prosesi akad nikah berwarna putih yang terpasang dengan sangat anggun di manekin yang berada di pojok ruangan.
Itulah kamar Zahra, di mana perempuan itu tengah menatap sebuah foto di layar ponselnya. Itu adalah foto suaminya dulu, saat masih hidup dengan menggendong Felia yang masih bayi.
Lelaki pertama yang mencintainya dengan tulus, namun harus berpisah karena maut yang memisahkan mereka secara paksa.
"Restui pernikahan ku besok ya, Mas... Meski begitu kamu akan selalu memiliki tempat tersendiri di dalam hati ku... Juga di dalam hati anak kita."
Lirih Zahra menutup hari itu dengan sebuah do'a pengantar tidur.
Sedangkan Felia tidur bersama Kayla di apartemen Gilang. Supaya tidak mengganggu istirahat calon pengantin baru. Meski nyatanya kedua calon pengantin sama - sama belum tidur.
Ya, meskipun mereka berstatus sebagai duda dan janda, tak menghalangi niat mereka untuk menikah di hotel bintang 5 dan mengundang orang - orang kantor yang selalu nyinyir dengan hubungan mereka. Semua di persiakan oleh Zio dengan bantuan Mama Shinta, Kayla dan Calina untuk di persembahkan kepada Zahra, calon istri tercinta.
Bahkan Ballroom hotel beserta dekorasi yang di gunakan esok hari adalah persembahan dari Kenzo yang mendukung penuh hubungan Zio dan Zahra. Ya, setidaknya sebagai lambang berdamainya Kenzo dan Zio yang pernah berseteru tentang kehadiran Clarice yang tidak di beritahukan kepada Zio.
Meski Zio sendiri mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk melengkapi pesta yang megah itu.
***
Perjalanan waktu belum berakhir, dan malam sudah berlalu dengan Zio yang baru bisa tidur ketika jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari. Itu karena pria itu juga harus kembali menghafal nama wanita ketiga yang akan nikahi dalam prosesi ijab qobul.
Sedangkan Zahra yang bisa tidur lebih awal di banding Zio, jam 4 pagi sudah mendengar bunyi bel dari pintu kamarnya. Karena harus di make up untuk persiapan prosesi akad nikah yang juga akan di selenggarakan di Ballroom hotel yang sama dengan yang akan di gunakan sebagai acara pesta.
Cepat - cepat Zahra membersihkan dirinya untuk bersiap di make up oleh ahlinya.
Dan kini ia sudah duduk di depan meja rias, yang menjadi titik dimana ia akan mengukir sejarah baru. Yakni di dandani sebagai seorang pengantin untuk kedua kalinya.
Namun yang di cari Zahra sebenarnya bukanlah kemewahan, melainkan betapa sakral momen yang akan mereka ukir mulai hari itu dan seterusnya.
Jika orang bilang berumah tangga itu ibarat kita menaiki sebuah kapal yang berlayar di lautan lepas, itu memang benar adanya. Di mana sang suami adalah nahkodanya.
Pernikahan bukanlah akhir dari suatu pencapaian. Melainkan awal babak baru untuk sebuah kapal berlayar di lautan lepas. Di mana di sana ada badai, batu karang, juga predator laut yang buas.
Gaun putih dengan model kebaya yang bagian ekornya menjuntai ke bawah hingga melewati tumit telah melekat di tubuh Zahra yang masih bagus meski sudah pernah melahirkan seorang anak. Rambut hitamnya di sanggul sedemikian rupa hingga terlihat sangat cantik dan cocok dengan gaun yang tengah di pakai pengantin wanita.
Sepatu lancip berwarna putih bertabur butiran manik yang hanya menutupi kaki bagian depan pun sudah di kenakan Zahra.
"Satu kata yang tepat untuk menggambarkan kamu adalah...sempurna! ucap Kayla yang tiba - tiba muncul dari pintu masuk kamarnya, dan membuat senyum Zahra mengembang sempurna.
Kayla mengenakan kebaya berwarna soft pink, dan riasan yang membuat perempuan itu terlihat begitu anggun. Dan di belakang Kayla ada Calina dengan baju yang sama dengan Kayla, hanya beda model saja. Lalu satu lagi wanita yang menggunakan gaun dengan warna yang sama di belakang Calina.
"Terima kasih, Bu Calina sudah membantu saya untuk hari yang besar ini." ucap Zahra pada Calina.
"Sama - sama, Zahra.." jawab Calina.
"Kamu juga ya, Kay... terima kasih untuk segalanya..."
"Sama - sama, Zahra.." jawab Kayla.
"Terima kasih juga ya, Kak Dita sudah mau datang jauhn- jauh ke sini." ucap Zahra pada Dita.
Wanita 35 tahun yang merupakan Kakak Ipar Zahra dan Kayla. Alias istrinya Titan. Mereka sudah datang sejak empat hari lalu dan tinggal di rumah masa kecil mereka, yang masih di tempati oleh Zahra.
__ADS_1
"Ini adalah kota asal kita, Zahra. Justru kami yang harusnya berterima kasih pada kalian, karena calon suami kamu membiayai kepulangan kami." ucap Dita tulus.
Ya, kehidupan di luar pulau tidak selalu lancar dan banyak uang seperti yang kebanyakan orang rasakan. Dan untuk kepulangan satu keluarga juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit, bukan?
Zahra membalas ucapan terima kasih Dita dengan seulas senyuman. Zahra semakin mengagumi calon suaminya yang berjanji untuk menjadi yang terbaik bagi dirinya.
Menit berikutnya keramaian terjadi di luar, di mana suara anak - anak mulai terdengar berjalan mendekati kamar Zahra.
Ya, Clarice dan Felia, pagi itu di dandani sangat lucu dan menggemaskan, dengan gaun brokat berwarna pink cerah dan rambut di sanggul dengan sebuah hiasan pita berwarna soft pink yang menjuntai ke belakang di bagian tengah. Sepasang kaki mungil di balut oleh flatshoes berwarna soft pink pula, yang mana manik - maniknya memantulkan cahaya lampu dengan sangat indah.
Calina memang tidak salah jika benar - benar berniat untuk turun gunung demi penampilan anak - anak terlihat lucu dan menggemaskan. Dan semua itu adalah barang kembar dengan ukuran yang nyaris sama.
Dua gadis yang seumuran itu terlihat bagai anak kembar yang siap mengantarkan orang tua masing - masing menuju pelaminan.
"Ayo, Mama! kata Nenek Sinta acara segera di mulai!" ucap Felia pada sang Ibu.
"Iya, Nak! Mama sudah siap!" jawab Zahra menatap lembut anak gadisnya, dan calon anak tirinya.
Hmmm.... dunia sedang berada di dalam genggaman sang pengantin. Karena semua mata akan tertuju pada merkea berdua. Dan lagi dua gadis kecil yang menjadi simbol masing - masing.
***
Maka setelah perjalanan menuju Ballroom, Zahra datang melalui pintu belakang untuk bisa sampai di ruangan khusus yang di gunakan untuk menunggu acara ijab kabul yang di lakukan Zio bersama penghulunya selesai.
Suasana tegang dan syahdu tergambar dari wajah - wajah yang terus berdo'a supaya acara sakral itu berjalan dengan lancar. Tanpa ada sepatah katapun yang salah dari pengucapan Zio.
Zio sudah berhadapan dengan penghulu. Disisi kiri ada Kakak Zahra, Titan Azkara yang menjadi wali nikah untuk kedua kali bagi Zahra.
Sampai satu kalimat panjang terucap dari bibir Zio dengan satu kali tarikan nafas saja, membuat semua yang menjadi saksi bersatunya cinta Zio dan Zahra merasa lega.
"Saya terima nikah dan kawinnya Titania Azzahra binti Purwatitan dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!"
Dan suara orang - orang yang mengucap kata Sah menggema di Ballroom hotel bintang lima itu.
Zahra berdiri dengan rasa haru yang membuncah. Dengan lembut dan mata yang berkaca - kaca Zahra keluar dengan di dampingi oleh Kayla dan Dita. Sedangkan Cla dan Felia sudah berjalan di depan Zahra. Mengantarkan sang pengantin menuju kursi yang sudah di siapkan di samping Zio.
Sedangkan Calina yang berada di dalam satu ruangan bersama Zahra seolah tengah melihat dirinya tujuh tahun silam. Dimana ia juga melakukan hal sama. Kemudian Calina melihat Zio yang juga terlihat masih tampan seperti tujuh tahun silam. Bahkan mungkin lebih tampan.
Namun do'a Calina tentu saja semoga Zahra tidak bernasib seperti dirinya. Toh Zio sudah mendapatkan pelajaran hidup yang sangat berharga.
Duduk berdampingan dengan dada yang sama - sama berdebar, membuat Zahra hampir kesulitan menyematkan tanda tangannya. Saking gugupnya ia sampai lupa seperti apa tanda tangannya.
Namun akhirnya semua berjalan dengan lancar. Hingga sesi foto pasca ijab kabul di lakukan dengan sangat khidmat dan lengkap.
Dan resmilah Zio dan Zahra sebagai pasangan suami istri.
Beberapa jam setelah acara ijab kabul Zio dan Zahra, acara di lanjut dengan pesta. Di mana seluruh undangan akan di jadwalkan akan datang siang itu, setelah Zio dan Zahra berganti dengan gaun yang baru.
Duduk berdua di atas pelaminan, Zio dan Zahra tampak sangat serasi. Di samping mereka ada kursi kecil yang masing di duduki oleh Felia dan Clarice. Lalu di bagian kursi orang tua, ada Titan dan istrinya di sisi Zahra. Sedangkan di sisi Zio ada Mama Shinta seorang diri yang mewakili orang tua Zio.
Dalam acara itu sejarah baru kembali tercipta. Di mana awal perjalanan cinta Gilang dan Kayla di mulai ...
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1