
Daddy Kenzo dan Mommy Calina memilih untuk menunggu sang putri di lobby. Sedikit banyak keberadaan mereka tentu menyedot perhatian beberapa siswa yang sedang melintas di area itu untuk menuju kelas masing-masing karena jam pelajaran selanjutnya sudah kembali di mulai. Dan semua tau, kejadian heboh apa yang terjadi hari ini di kantin sekolah.
Beberapa menit mereka duduk, datanglah Jonathan dan Rania yang muncul dari lorong yang menghubungkan gedung sekolah dengan gedung kantor. Mereka berjalan beriringan dengan sangat serasi. Jonathan masih terlihat sangat tampan di usia yang sudah tidak lagi muda. Rania sendiri yang merupakan mantan model, tentulah memiliki badan dan wajah yang sangat cantik dan terawat.
"Hai, Ken! Hai, Calina!" sapa Rania Wilson mendekat.
"Hai, Rania..." balas Calina tersenyum ramah.
"Anak-anak di atas?" tanya Nathan yang mengakrabkan diri pada Kenzo. Pengusaha batu bara itu duduk di samping Kenzo. Sedangkan Rania duduk di samping Calina.
Dengan usia yang tidak jauh berbeda, tentu membuat merkea semua jauh lebih cepat akrab. Apalagi berkenalan di luar bisnis. Tentulah mereka bisa mengenal tanpa harus menjadi penjilat.
"Iya.." jawab Kenzo.
Sebagai sesama laki-laki, dan sesama pebisnis handal, jika bertemu, maka yang di bahas pertama kali tidak akan jauh dari yang namanya perbincangan dunia bisnis.
Manusia memang di ciptakan untuk tidak pernah puas dengan apa yang mereka miliki. Bagi mereka, mereka tidak akan pernah melewatkan kesempatan jika memang ada jalan untuk melebarkan sayap. Menjadikan perusahaan semakin menggurita dengan berbagai cabang dan bentuk bisnis yang beraneka ragam.
Apalagi mereka yang sudah memiliki banyak uang dan saham yang sudah bertebaran di mana-mana, serta pemikiran yang cerdas. Mereka akan sangat mudah untuk menanam saham di manapun yang mereka anggap akan menghasilkan cuan, untuk menambah pundi-pundi kekayaan. Dan membuat nama masing-masing menjadi lebih di kenal di dalam dunia bisnis.
"Aku dengar Adhitama Group akan melebarkan sayapnya untuk merambah dunia perbankan." ucap Jonathan mengawali perbincangan.
"Ya, kamu benar!" jawab Kenzo datar "Gambaran tentang bisnis perbankan sudah lama ada di benakku. Sejak Clarice masih ku gendong dan ku bawa kemana-mana," ingatnya mengenang sang gadis kecil yang ia minta untuk memanggilnya Daddy. "Tapi Tuhan baru memberi jalan akhir-akhir ini." lanjutnya.
"Ada berapa Investor?"
"Aku hanya berdua dengan adikku!" jawab Kenzo. "Tapi aku meminta bantuan sahabat ku dari Aussie untuk membantu kami memperdalam bisnis ini. Jadi dia datang sebagai pembimbing untuk kami. Kemarin aku baru pulang dari sana. Dan sepertinya tahun depan akan mulai membuka kantor pusatnya."
"Di jalan Kapten Tendean?"
"Ya, di sana akan aku jadikan sebagai kantor pusat. Dan kantor cabang akan menyusul setelahnya."
"Tidak tertarik mengajakku untuk berbisnis bersama?" tanya Nathan dengan sedikit gurauan. "Aku belum pernah merambah dunia bisnis selain batu bara dan minyak."
"Haha!" Kenzo tergelak tak percaya. "Bukankah kamu sudah sangat tekun di dunia batu bara?" tanya Kenzo. "Untuk apa merambah dunia perbankan? nanti yang ada kamu akan semakin kaya!" ujar Kenzo dengan gurauan yang sama.
"Haha!" giliran Nathan yang tergelak.
__ADS_1
Untuk beberapa detik keduanya hanya diam, dengan sebuah tarikan nafas yang panjang. Di lobby itu kini hanya terdengar suara dua wanita yang tampak sedang mengobrol santai ala nyonya-nyonya jika sedang berkumpul.
"Aku rasa putra ku menyukai anakmu, Clarice!" ujar Nathan tiba-tiba.
"Oh, ya?" tanya Kenzo memicingkan matanya.
"Ya!" jawab Nathan. "Dia pernah bertanya padaku, apa aku ada hubungan bisnis dengan Adhitama Group!" jawabnya. "Lantas aku bertanya, memangnya kenapa? dan dia menjawab, katanya ingin mengenal Clarice lebih jauh. Ya... meskipun pada saat itu aku tidak tau mana yang namanya Clarice."
"Tapi itu bukan kalimat yang konkrit untuk menjadi bukti jika putra mu menyukai anakku!" jawab Kenzo.
Nathan kembali tersenyum tipis, "Kamu sudah tau, bukan? jika aku dan Afrizal saling mengenal?" tanya Nathan. "Dan aku sangat tau jika Zuria sangat menyukai Arsen! Tapi aku selalu tau jika putra ku tidak pernah menyukainya." ucap Jonathan. "Aku sangat mengenal putraku... Aku tau siapa yang dia suka, dan siapa yang tidak ia suka." lanjutnya menepuk pundak Kenzo.
Kenzo memperhatikan dengan seksama apa yang sedang di ceritakan oleh Jonathan. Dan tergelak kecil saat Nathan menepuk pundaknya.
"Dan saat tadi Clarice meninggalkan ruang BK, tentu kamu tau jika ia langsung mengejar Clarice ke kelas mereka."
Menghela nafas panjang, "Tapi aku dan istriku tidak pernah memperbolehkan Clarice dan dua anakku yang lain untuk berpacaran selama mereka masih sekolah. Dan aku sangat yakin, jika Clarice selalu memegang teguh apa yang sudah ia janjikan kepada kami. Dan apa yang sudah kami didikan padanya." jawab Kenzo. "Jadi mungkin untuk saat ini... anakmu akan kecewa."
Tersenyum datar, "Aku tau, anakmu itu terlihat sangat lembut, namun ia memiliki prinsip yang sangat kuat!" jawab Nathan. "Kalau memang Arsen harus kecewa, tidak masalah. Mendapatkan sesuatu dengan cara yang tidak mudah justru akan membuat dia menjadi laki-laki yang bertanggung jawab dengan apa yang menurutnya tidak mudah untuk di raih."
"Tapi bagaimana jika pada akhirnya kita akan menjadi besan?" tanya Nathan.
"baguslah! aku lebih baik berbesan dengan mu dari pada berbesan dengan si Afrizal itu!" jawab Kenzo dengan sedikit gurauan dan senyum smirk untuk mengejek Afrizal.
"Apa rencanamu pada Afrizal?" tanya Nathan.
Tersenyum penuh seringai, Kenzo menatap tajam ke depan sana. Seolah tengah mengejek rival Clarice yang saat ini juga menjadi rivalnya.
"Kamu akan tau sendiri nanti..." jawab Kenzo menepuk pundak pengusaha batu bara yang hari ini menjadi teman barunya. Sebuah senyum misterius terbit dari bibir sang CEO.
***
"Clarice!" panggil Arsen pada Clarice yang hampir memasuki kelas mereka.
Semua siswa memasuki kelas masing-masing. Hanya siswa-siswa dengan kepentingan tertentu saja yang masih berada di luar. Namun lantai dimana ruang kelas Clarice sudah sangat sepi. Sebelum ini, hanya Clarice seorang yang ada di lorong itu, dan barulah kini ada Arsen bersama sang gadis.
Clarice tau siapa yang memanggilnya. Tentu ia hafal di luar kepala siapa pemilik suara itu. Namun sang gadis masih dalam mode malas untuk kembali berurusan dengan pemuda yang secara tidak langsung membuat dirinya masuk ke ruang BK, hingga pemanggilan orang tua.
__ADS_1
Menoleh sekilas, setelah mata mereka beradu selama satu detik, maka Clarice kembali menghadap ke depan. Tanpa rasa ingin untuk menjawab panggilan sang pembalap.
"Kamu marah pada ku?" tanya Arsen ketika berhasil mensejajari langkah Clarice. Sang pemuda berbicara dengan sangat lirih, supaya tidak sampai terdengar ke dalam kelas yang pasti sedang dalam jam pelajaran.
"Menurut kamu?" tanya balik Clarice yang sedikit acuh kali ini.
Menghela nafas panjang, "Ya, kamu memang berhak untuk marah padaku..." jawab Arsen pasrah. "Please maafkan aku, Cla! aku sungguh tidak bermaksud untuk membuat kamu dalam masalah sampai di skors seperti ini." ucap Arsen mengiba. "Aku hanya merasa foto kita pantas dan layak untuk di tunjukkan pada dunia."
Clarice menggelengkan kepalanya pelan, tanpa menjawab sepatah katapun. Sesungguhnya ia sadar, bukan salah Arsen memposting apapun di dunia maya. Hanya nasib sial saja yang pada akhirnya menyeret dirinya ke dalam ruang BK.
Sesungguhnya ia pun merasa ada kebanggan tersendiri ketika mengetahui fotonya di posting leh seorang Arsenio Wilson. Karena semua tema-teman tau, jika dirinyalah teman perempuan pertama yang di posting oleh Arsen. Dan hanya berdua. Bukan foto berjamaah.
Memasuki kelas secara bersamaan, dan menyapa Miss Tiara yang sedang mengajar, Clarice dan Arsen mengangguk hormat.
Jika Arsen langsung duduk di bangkunya setelah mendapat izin, maka Clarice justru mendekati sang guru untuk menyampaikan tujuannya memasuki kelas, yaitu untuk mengambil tas miliknya dan pulang dengan alasan baju yang kotor dan sudah tidak layak pakai.
"Baiklah, Clarice," jawab Miss Tiara. "Miss berharap hal ini tidak akan terulang kembali."
"Terima kasih, Miss..." jawab Clarice tersenyum menanggapi harapan sang guru.
Setelah mendapat izin, Clarice langsung mengambil tasnya, dan berpamitan pada Hanna dan menyapa Lia dengan menepuk pundaknya pelan. Dua gadis yang di sapa Cla, tampak melihat miris pada Cla.
Setelah kembali menyapa sang guru di meja guru, Cla kembali menoleh ke barisan bangku para siswa. Matanya langsung menangkap keberadaan Vino yang menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Seolah bertanya kenapa dia pulang?
Setelah itu ia menoleh pada Naufal. Pemuda itu tampak menatapnya sembari menghela nafas panjang. Ingin sekali bertanya bagaimana hasil akhir dari sidang di ruang BK. Tapi pelajaran sedang berlangsung dan Miss Tiara bersiap untuk kembali memberi pelajaran di saat jam dinding sudah sampai di angka dua. Yang artinya satu jam lai, akan menjadi waktunya mereka pulang.
Setelah menatap Naufal, sang gadis ingin langsung meninggalkan kelas, namun yang terjadi adalah ia menoleh pada Arsen. Hingga sorot mata keduanya kembali beradu untuk kesekian kalinya.
Sesungguhnya Clarice enggan menoleh pemuda yang membuatnya mendapat masalah dengan Zuria hari ini. Tapi ternyata hatinya tidak bisa untuk berpaling terlalu lama dari wajah tampan yang khas. Hingga membuat Clarice bergumam dalam hati.
' Wajar jika dia tampan. Orang tuanya sangat tampan dan cantik! '
Clarice mengakui ketampanan alami seorang Arsenio Wilson. Dan semua penggemar Arsen selama di akui sang gadis jika mereka memiliki mata yang normal dan cenderung bagus. Karena bisa melihat bibit bening yang sedang melintas di depan mata.
Namun segera sang gadis menepis segala kalimat dan ungkapan pujian pada sang pembalap itu. ia tak ingin terjatuh pada masalah yang lebih besar akibat kedekatannya dengan Arsen. Karena Cla yakin jika masih ada banyak Zuria-Zuria lainnya di luar kelas sana, yang mungkin sifatnya tidak akan jauh berbeda dari Zuria yang masih berada di ruang BK.
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1