
Zahra keluar dari kamar mandi wanita setelah menyisir rambutnya dengan rapi serta memoles make up tipis di wajah cantiknya, dan segera keluar untuk mencari Zio. Pakaian basah yang ia beli tadi sudah ada di tangan kirinya, bersama baju renang Felia dan Clarice yang tidak jadi di pakai.
Kepala Zahra celingak - celinguk, mengamati sekitar, untuk mencari sosok yang katanya sudah menunggu di luar melalui pesan singkat. Namun sampai Zahra berputar dua kali di area kursi tunggu, tidak ada juga pria yang menobatkan diri sebagai calon suaminya itu.
"Di mana dia?" gerutunya mulai merasa lelah. "Padahal aku sudah lapar ini!"
Beberapa menit kemudian matanya menangkap sosok yang sedari tadi ia cari tengah menggandeng tangan seorang wanita. Dan itu membuat Zahra mendelik.
Wajah yang tadi sempat merah merona karena malu. Kini menjadi merah padam karena kesal. Bisa - bisanya Zio menggandeng tangan seorang wanita di depan matanya, apalagi disertai lirikan dan senyuman nakal.
Darah yang semula baik - baik saja, seketika mendidih karena terbakar api.,. cemburu tentunya.
Cepat - cepat Zahra berjalan cepat mendekati Zio yang sudah cukup jauh dari area ruang ganti.
Melihat gestur tubuh perempuan yang di gandeng Zio dari belakang saja, sudah bisa di perkirakan jika perempuan itu pasti cantik dan menarik. Rambut hitam yang di ikat ala ekor kuda, baju casual yang terlihat baru dan modis. Apalagi kulitnya yang terlihat putih dan mulus. Meski tak terlihat jauh berbeda dengan kulitnya.
' Dasar buaya darat! memang sengaja atau bagaimana! '
Kesal Zahra meluap di dalam dada.
' Awas saja kalau kamu bilang tidak sengaja! aku garuk pakai sekrop pasir kamu, Mas! '
Zahra sudah bersungut - sungut saking kesalnya. Karena Zio terlihat berulang kali melihat ke arah wajah perempuan itu. Jadi tidak mungkin jika Zio salah orang, atau salah menggandeng seseorang.
' Baru juga beberapa jam yang lalu bilang mau menikahi ku! sekarang sok sok an menggoda perempuan lain! '
Zahra semakin geram melihat tangan Zio yang menggandeng manja gadis itu.
"Mas!!" teriak Zahra sedikit menghentak, ketika Zahra merasa jika suaranya pasti sudah bisa di dengar oleh Zio.
Namun Zio tampak masih asyik mengobrol dengan gadis yang ia gandeng. Dan Zahra jadi makin kesal sendiri, karena saat jarak hanya kurang beberapa meter saja, ternyata gadis yang di gandeng Zio tampak memperhatikan Zio yang berucap.
Sampai akhirnya dua orang yang membuat Zahra ingin menelannya hidup - hidup itu berhenti. Dan posisi Zahra berada di belakang gadis itu. Beberapa langkah lagi mungkin Zahra akan menjambak rambut panjang yang dia anggap menyebalkan itu.
"Mas!!" seru Zahra dengan lebih kencang.
Dan saat itulah, Zio menoleh ke arah dirinya. Namun detik berikutnya Zio seperti orang kaget dan bingung. Hingga mulutnya terbuka lebar.
' kenapa? merasa tertangkap basah kamu, ya! '
Dengkus Zahra sembari berjalan mendekat dengan senyum sinis. Siap menggaruk sang calon suami. Dan mungkin mencakar wanita yang mau saja di goda calon suami orang.
Namun Zahra di buat mengerutkan keningnya, ketika melihat tangan dan mata Zio yang menunjuk dirinya dan gadis di depannya secara bergantian.
HAP!
Sampailah Zahra tepat di belakang gadis itu. Sadar jika ada yang berhenti di belakangnya, tentu saja gadis di depan Zio yang tak lain adalah Kayla itu menoleh ke belakang.
Dan saat itulah Zahra di buat memekik lirih, "HAH!"
Adegan saling tatap berlangsung sekitar 3 detik. Dan detik berikutnya baik Zahra maupun Kayla tertawa terbahak - bahak saking tidak percayanya jika mereka akan bertemu di sini, dan dengan cara seperti ini.
Emosi yang tadi sempat hampir jebol pun kembali mereda dengan sendirinya. Sangat wajar jika Zio akan beralasan salah orang dan tidak sengaja. Karena memang yang di gandeng sangat mirip dengannya.
"Kayla!" sapa Zahra merangkul pinggang Kayla dari samping. "Hampir saja aku mau menjambak rambutmu!" ucap Zahra terkekeh.
"Jadi dia kekasih kamu?" tanya Kayla pada Zahra, dengan jari telunjuk yang menunjuk Zio.
Zahra menjawab dengan seulas senyuman manis. Dan Kayla tentu tau apa artinya.
"Yaa Tuhan... aku sampai shock! Aku kira tadi sengaja ingin menggoda ku dengan tiba - tiba menggandeng tangan ku! Hampir saja aku berteriak untuk meminta pertolongan."
Zahra tertawa mendengar cerita Kayla yang pasti sangat shock ketika tiba - tiba di gandeng oleh lelaki yang tak di kenal. Apalagi Kayla memiliki trauma dengan laki - laki asing.
Sedangkan Zio, laki - laki itu sedari tadi seperti patung dengan mata yang menatap bingung dengan dua perempuan yang sangat mirip berada langsung di depan matanya.
"Jadi siapa yang calon istriku?" tanya Zio dengan raut wajah yang masih seperti orang linglung.
"Dia ini calon istri kamu!" ujar Kayla menyenggol Zahra yang masih merangkul pinggangnya.
Terkekeh, Zahra melepas rangkulan lengannya di pinggang sang saudara kembar.
"Aku hampir saja mau menggaruk mu pakai sekrop pasir, Mas!" ujar Zahra membuat Zio membuang nafas resah.
"Sayang, jelaskan! Kenapa kalian bisa sangat mirip?" tanya Zio menatap Zahra.
"Tentu saja karena kami kembar, Mas!" jawab Zahra masih dengan terkekeh. "Namanya Titania Azkayla! panggil saja Kayla!" lanjutnya.
"Kembar?" tanya Zio. " Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu punya kembaran?"
"Kita bahkan baru berkenalan! bagaimana aku menceritakan semua tentang hidupku di waktu yang singkat itu?" jawab Zahra. "Kayla, kenalkan! ini Mas Zio, dia atasan ku di kantor."
Kayla mengangguk dan tersenyum, dalam hati ia berkata, berati Gilang mengenal lelaki bernama Zio ini. Pantas saja Kakak Gilang alias Kenzo melancarkan aksi mereka berdua untuk mendapatkan kepastian tentang hubungannya.
Zio menarik nafas panjang dan menghelanya berat.
__ADS_1
"Maafkan aku, Kayla. Aku benar - benar tidak tau kalau kamu tadi bukan Zahra." ucap Zio penuh penyesalan. "Karena aku juga tidak tau kalau Zahra memiliki saudara kembar."
"Iya, tidak masalah," jawab Kayla. "Awalnya aku mengira kamu lelaki nakal. Dan aku mulai sadar saat kamu bilang suara kekasihmu berubah. Dari situ aku sudah menduga kalau bisa jadi kekasih kamu adalah Zahra, saudara kembarku."
"Yaa... kamu benar! Aku tadi sempat bingung kenapa tiba - tiba suara Zahra berubah? Aku pikir dia tidak sengaja menelan air kolam." canda Zio membuat Zahra memukul lengan Zio dengan kesal.
Hal itu membuat Zio dan Kayla tertawa.
"Apa kamu masih punya kembaran lagi, Sayang?" tanya Zio pada Zahra.
"Tentu saja tidak, Mas!" jawab Zahra. "Kami hanya punya satu Kakak laki - laki yang tinggal di luar pulau!"
Zio tersentak, Kakak laki - laki? apa kira - kira dia akan menyetujui jika ia dan Zahra akan menikah?
"Berapa usianya?" tanya Zio.
"Usianya 37 tahun, namanya Kak Titan Azkara!" jawab Zahra. "Panggil saja Kak Titan!"
"Oh, My God!" lirih Zio. "Apakah masih ada Titan - Titan yang lain?" tanya Zio dengan heran, karena nama mereka semua hampir mirip.
"Hahaha! Sudah tidak ada!" jawab Zahra.
Menghela nafas, "Baguslah, bisa - bisa aku harus menghafal kalau terlalu banyak Titan!" keluhnya membuat Zahra dan Kayla tertawa lirih dan singkat.
"Kenapa kamu bisa ada di sini, Kay?" tanya Zahra.
"Gilang mengajak aku kemari, tak di sangka kami bertemu dengan Kakaknya Gilang juga. Yang katanya memang sengaja untuk mengikuti kalian." jawab Kayla tersenyum.
"Tunggu, tunggu, tunggu! ini maksudnya Gilang siapa, ya? Pak Gilang Adhitama?" tanya Zio dengan isi kepala yang masih cukup bingung.
"Iya, Mas! Kayla ini tinggal bersama Pak Gilang di apartemennya," jawab Zahra. "Kamu ingat ketika aku meminta nomor telepon Pak Gilang? itu karena aku ingin menanyakan kabar Kayla."
"Yaa Tuhan... ternyata semua hanya berputar di situ - situ saja! kenapa aku tidak menyadari sama sekali!" gerutunya menggelengkan kepalanya lemah.
"Hihihi!" Zahra cekikikan melihat calon suaminya bingung.
"Jadi kamu kekasihnya Pak Gilang?" tanya Zio.
"Emmm..." Kayla tampak masih bingung untuk menjelaskan.
"Jadi begini, Mas! Pak Gilang pernah menyukai Kayla pada suatu masa, saat Kayla masih pura - pura gila. Kamu ingat kan? kita pernah bertemu di Rumah Sakit Jiwa Ibukota?" tanya Zahra yang di angguki oleh Zio. "Itu aku menjenguk Kayla, yang ternyata hanya pura - pura gila." jelas Zahra membuat Kayla kembali tersenyum kikuk karena malu sekaligus merasa bersalah.
"Lalu sekarang?" tanya Zio.
"Oh..." Gilang mengangguk paham. "Cinta memang rumit. Yang jelas jika Pak Gilang masih mempertahankan kamu di apartemennya, itu berati dia masih mencintai kamu. Hanya saja mungkin dia menunggu momen yang pas untuk menyatakan cintanya pada kamu.."
"Yaa.... mungkin seperti itu.." jawab Kayla sekenanya.
"Lalu di mana mereka sekarang?" tanya Zio. "Kenapa kamu ada di sini sendirian?"
"Mereka berenang di sana!" Kayla menunjuk satu arah, di mana ia dapat melihat Mama Shinta yang duduk di salah satu kursi tunggu di bawah payung bundar dan besar.
"Kamu benar! itu Mama Shinta!" jawab Zio.
"Mama Shinta?" pekik Kayla yang kini jadi bingung. "Kamu mengenal Tante Shinta?" tanya Kayla yang setau nya Mama Shinta adalah Ibunya Calina, bukan Ibunya Gilang dan Kenzo.
"Hemm.." Zio menoleh dengan mengangkat kedua alisnya pertanda menjawab Iya...
"Bagaimana bisa kamu memanggil beliau Mama?" Kayla di buat bingung oleh jawaban Zio.
"Begini, Kay... Bu Calina atau istrinya Pak Kenzo alias Kakak Ipar nya Pak Gilang itu adalah mantan istrinya Mas Zio. Dan Nona Clarice adalah anak Mas Zio dan Bu Calina." jelas Zahra pelan supaya dapat di pahami oleh Kayla.
"APA!" pekik Kayla terbelalak. Seolah tak percaya dengan penuturan yang menurutnya sangat aneh.
"Yaa.. begitulah!" sahut Zio santai dan legowo. Karena memang begitu adanya.
"kenapa dunia hanya berputar di sini - sini saja!" kini Kayla yang di buat bingung.
Zio dan Zahra kini giliran yang terkekeh melihat ekspresi Kayla yang shock.
"Padahal tadi aku kira Clarice adalah anak kandung Kak Kenzo dan Kak Calina. Karena Clarice sangat mirip dengan Kak Kenzo. Dan lagi Kak Kenzo juga tampak sangat menyayangi Clarice." jelas Kayla berdasarkan apa yang ia lihat.
"Ya... memang banyak yang bilang Cla mirip dengan Pak Kenzo. Mungkin karena Pak Kenzo lah yang selalu ada di saat mereka membutuhkan sosok laki - laki..." jelas Zio berucap dengan nada yang memilukan.
"Memangnya kamu kemana waktu Kak Calina dan Clarice membutuhkan kamu?" tanya Kayla.
"Kami bercerai, dan aku tidak tau jika saat itu Calina tengah hamil.." jawab Zio lirih.
Kayla memicingkan matanya, mulai menatap Zio dengan tatapan tajam yang mengintimidasi.
"Kamu lelaki brengsek?" tanya Kayla dengan nada yang mulai tidak ramah.
Sontak Zio dan Zahra saling melirik satu sama lain. Seolah bertanya kenapa dan ada apa dengan Kayla?
"Ingat! kalau sampai suatu saat kamu menyakiti ataupun menceraikan Zahra, aku tidak akan segan membunuhmu!" ancam Kayla dengan nada yang sangat mengerikan untuk di dengar Zio.
__ADS_1
"Brengsek bagaimana?" tanya Zio heran.
"Kenapa kalian bercerai saat istri mu hamil?"
"Aku sudah bilang, bukan? akau tidak tau jika Calina hamil. Dan lagi Calina yang meminta bercerai, bukan aku. Aku sudah setengah mati mencarinya untuk memohon supaya dia mencabut permohonan perceraian, tapi sama sekali tidak pernah ketemu. Begitu ketemu dia sudah menikah dengan Pak Kenzo, dan anak kami sudah berusia 5 tahun."
"Yakin?" hardik Kayla menatap tajam Zio.
"Iyaaa... Kayla!" jawab Zio. "Sayang, please! apa iya, aku juga harus meyakinkan dia seperti aku meyakinkan kamu?" keluh Zio pada Zahra karena merasa tengah di curigai dengan di todong senjata tajam untuk sebuah pengakuan.
Zahra terkekeh, "Aku percaya kamu, Mas! maafkan Kayla, dia hanya tidak ingin saudara kembarnya tersakiti ataupun di buat kecewa oleh laki - laki yang katanya mencintaiku tapi ternyata berkhianat."
"Ya! Zahra benar!" sahut Kayla menatap tajam Zio.
"Ya... aku tau..." jawab Zio.
"Ya, sudah. Sebaiknya sekarang kita datangi anak - anak.." ucap Zahra mengakhiri obrolan dadakan, yang membuat Zio dan Kayla sampai terbelalak karena mendapati kenyataan yang sangat aneh.
"Ya, kamu benar, Sayang!" jawab Zio. "Calon istriku? berikan tanganmu padaku, supaya aku tidak salah tarik lagi"! ujar Zio menengadahkan tangan kirinya.
"Baiklah, calon suamiku!" balas Zahra mengikuti cara bicara suaminya sembari mengangkat tangan kanannya untuk di letakkan pada tangan kekar Zio.
"Cih!" Kayla berdecih melihat tingkah lebay pasangan baru di sampingnya.
"jangan iri! aku yakin tidak lama lagi kamu dan Pak Gilang juga akan begini!" ujar Zio menunjukkan tangannya yang bertaut dengan jemari Zahra.
Kayla mendengkus seolah meragukan apa yang di ucapkan Zio. Namun dalam hati ia justru tersenyum dan berharap apa yang di ucapkan Zio akan menjadi kenyataan, baik cepat maupun lambat.
Dan melangkah lah mereka bertiga mendekati tempat Mama Shinta yang tengah menunggu anak dan cucunya yang sedang bersenang - senang di kolam renang.
"Mama Shinta!" sapa Zio dengan senyuman lebar dan ceria.
Mama Shinta menoleh ke sisi kiri, dimana suara Zio berasal. Melihat ekspresi mantan menantunya, Mama Shinta yakin, jika momen bahagia baru saja tercipta.
"Bagiamana, Nak Zio?" tanya Mama Shinta. "Kabar apa yang ingin kamu sampaikan pada Mama?" tanya Mama Shinta langsung pada poin utama dengan sedikit menggoda.
Zio melirik Zahra yang berdiri di sampingnya dengan seulas senyum penuh arti. Sedangkan Kayla yang sedikit banyak paham dengan apa yang di tanyakan Mama Shinta memilih untuk langsung duduk dan memperhatikan Zio dan Zahra, meski ia sudah tau jawaban yang akan di sampaikan oleh Zio.
"Cepat katakan" seru Mama Shinta yang sudah tidak sabar.
"Yes, Ma!" jawab Zio.
"Diterima?" tanya Mama Shinta menatap Zio dan Zahra bergantian.
"Ya! Mama betul!" sahut Zio merangkul pundak Zahra dengan posesif.
Sontak Mama Shinta tersenyum puas. Karena apa yang beliau harapkan terwujud.
"Jangan sampai lupa apa pesan Mama sama kamu, Zio!" ujar Mama Shinta.
"Ya... Ma... Zio tau!" jawab Zio. "Sekarang lebih baik, Mama dan Kayla bantu Zio dan Zahra untuk mempersiapkan pesta pernikahan. Karena kami tidak ada orang tua lagi.." ucap Zio membuat dada Mama Shinta sedikit terhentak.
Mama Shinta baru tau, jika ternyata Zahra dan Kayla sudah tidak memiliki orang tua. Sama seperti Zio.
"Ya, kalian jangan khawatir. Mama akan menjadi Ibu mu di hari pernikahan kalian."
"Thank you, Ma!" jawab Zio memeluk Mama Shinta dari belakang, dan mencium pipi Mama Shinta seperti mencium pipi Mama Reni dahulu.
"Di mana anak - anak, Ma?" tanya Zio
"Sedang ganti baju di sebelah sana!" jawab Mama Shinta.
"Hem... semua sudah makan atau belum?" tanya Zio.
"Sudah, kenapa?"
"Zio dan Zahra lapar, Ma!" jawab Zio.
"Ya sudah, makanlah!" jawab Mama Shinta. "Nanti Mama akan ajak mereka menemui kalian!"
"Okay, Ma!" sahut Zio.
"Terima kasih, Tante.. kami permisi dulu..." pamit Zahra dengan sopan.
"Ya, Nak Zahra..." jawab Mama Shinta ramah.
Dan pergilah sepasang kekasih itu meninggalkan tempat Mama Shinta dan Kayla duduk.
"Tante Shinta, Kayla lihat Felia dulu, ya?' pamit Kayla. "Takut merepotkan Kak Calina."
"Oh, Iya, Nak Kayla..." jawab Mama Shinta.
Kayla pun ikut meninggalkan titik kumpul yang di tunggu oleh Mama Shinta.
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1