
Pesta berlangsung cukup meriah. Beberapa tamu undangan dan penyanyi anak - anak di undang untuk mengisi acara. Memberikan hiburan di ruangan yang cukup luas itu.
Sementara potongan kue tart di bagikan pada anak - anak, Calina mendatangi Mertuanya. Menyapa sekaligus bertegur hangat. Meski mereka sering bertemu, namun menyapa di tengah pesta akan menimbulkan kehangatan tersendiri.
Apalagi Papa Adhitama pasti sudah meluangkan waktunya untuk bisa datang di acara pesta ini.
"Ma... Terima kasih sudah datang di ulang tahun Clarice." sapa Calina bercipika cipiki dengan Ibu mertuanya.
"Ya, Nak... Sama - sama."balas Mama Nuritha.
"Pa... Terima kasih juga, ya?" ganti, Calina menyapa Papa Adhitama yang duduk di samping Mama Nuritha. Mencium punggung tangan Papa mertuanya. Di samping Papa Adhitama, ada Gilang yang segera berdiri untuk mendekati Galen.
Di belakang Calina, kini ada Kenzo yang juga menghampiri orang tuanya. Dan Mama Shinta yang ikut berbaur dengan besannya.
Hari minggu yang penuh keceriaan. Semuanya berkumpul di pesta Clarice yang ke lima. Meninggalkan pekerjaan yang seolah tidak ada habisnya itu. Karena selalu ada planning perusahaan dan berbagai perencanaan lainnya.
"Gilang, usiamu sudah 31 tahun. Kini saatnya kamu menikah, Boy!" ucap Mama Nuritha.
"Memangnya siapa yang mau menikah dengan ku, Ma?" tanya Gilang dengan nada bercanda.
"Ya! Siapa yang mau menikah dengan Badboy seperti mu!" sahut Kenzo menyebikkan bibirnya. Tentu saja itu hanya candaan.
"Hey! Jika aku mau, tinggal tunjuk satu wanita saja, juga dia pasti mau" ujar Gilang menyombongkan diri.
"Lalu kenapa tidak juga menikah?" tanya Calina ikut menimpali. "Mas Kenzo menikah di usia 31 tahun!" lanjut Calina.
"Huh!" Gilang membuang nafas. "Sebenarnya kalaupun Gilang tidak menikah, apa itu akan menjadi masalah buat kalian?" tanya Gilang. "Toh, Mama dan Papa sudah punya dua cucu!" lanjutnya dengan enteng.
"Ya, tetap saja Mama ingin punya cucu dari kamu!" sahut Mama Nuritha. "Siapa yang akan melanjutkan bisnis di Australia kalau bukan anak kamu kelak!" omel Mama Nuritha.
Gilang kembali menghela nafas. Setiap kali sang Mama membahas pernikahan, ia akan kembali teringat tentang seorang gadis yang sempat ingin ia perjuangkan untuk bisa sembuh dari sakit jiwanya.
Namun semua terlanjur di tentang oleh sang Mama pada masa itu. Namun melihat Mama Nuritha yang kini bisa menerima Calina, rasanya akan cukup mudah untuk meminta restu.
Ia hanya perlu melakukan beberapa langkah. Termasuk menyembuhkan gadis itu secara diam - diam, mungkin. Gilang yakin, gadis itu pasti bisa sembuh.
Gilang meraih ponsel di saku celananya. Ia buka galery ponselnya. Mencari beberapa foto mereka di masa lalu.
' I miss you... '
Lirihnya dalam hati.
Jika di lihat dari foto yang di ambil Gilang, sama sekali tidak nampak jika gadis itu mengalami gangguan jiwa. Semua terlihat normal dan sehat. Apalagi dia bukan gila dari kecil, melainkan akibat depresi luar biasa.
Sesungguhnya, diam - diam Gilang sering mendatangi Rumah Sakit Jiwa Ibukota. Tujuannya hanya satu, menjenguk gadis itu. Tentu saja dengan bekerja sama pada pihak Rumah Sakit supaya tidak memberi tahu keluarga pasien jika dia datang.
***
__ADS_1
Acara pesta telah usai. Semua tamu undangan telah pulang. Menyisakan keluarga inti yang tengah bersuka cita dengan cara berkaraoke ria. Di iringi oleh grup orkestra, mereka semua bergantian memegang mic untuk menyumbangkan lagu hiburan.
Sedang anak - anak tampak asyik bermain di play ground yang sebelumnya di tempati oleh teman - teman Clarice.
Sementara itu Mbak Irah dan Mang Heru juga satu supir Papa Adhitama membawa semua kado ke dalam mobil, untuk di bawa pulang ke apartemen.
***
Pesta benar - benar usai saat jam dinding menunjukkan pukul 1 siang. Papa Adhitama, Mama Nuritha kembali ke rumah. Sedang Kenzo, Calina, Gilang dan Mama Shinta pulang ke apartemen.
Di apartemen, dua bocah di temani seisi rumah, antusias untuk membuka kado satu persatu. Kado yang berjumlah 100 buah lebih itu tentu akan melelahkan jika Clarice membukanya sendiri.
Suka cita Clarice di usia yang genap ke 5 tahun di tutup dengan istirahat malam di apartemen. Tak ada lagi kegiatan malam hari seperti jalan - jalan dan sebagainya.
***
Meninggalkan suasana hangat di apartemen Kenzo, ada seorang lelaki 34 tahun yang tak menyadari jika dirinya adalah seorang Ayah.
Lelaki yang tak menyadari jika ia memiliki seorang putri yang hari ini tengah berulang ke 5 kalinya.
Lelaki yang tak menyadari jika dirinya memiliki keturunan, yang lahir tepat 5 tahun lalu. Dari seorang wanita yang bercerai dengannya hampir enam tahun lalu.
Zio menyendiri di rumahnya. Menyibukkan pikiran dan jarinya dengan laptop yang isinya selalu tentang pekerjaannya di kantor.
Tanpa ia tau, jika harusnya hari ini dia menyiapkan kado untuk putri pertamanya. Dimana justru anak itu kini memiliki garis wajah yang mirip dengan ayah sambungnya. Lelaki yang memposisikan diri sebagai seorang Ayah untuk anaknya sendiri.
"Huuuh!" ia buang nafas lelahnya.
Dari keisengannya itu, ia menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah nama yang di sertai foto profil seorang gadis kecil berusia sekitar lima tahun lebih, yang baru kemarin ia kenal, melintas di saran pertemanan. Meski hanya sekilas, cukup baginya untuk mengenali foto itu.
Ia tekan kotak kecil, dan muncullah profil Titania Azzahra dengan nama akun @t.azzahra.
Ia tekan foto paling akhir di upload, kemudian jari men scroll layar ke bawah. Melihat satu persatu foto bawahannya itu. Dan ia menemukan satu foto yang menarik perhatiannya.
Foto yang di upload di hari pertama bekerja, sekitar 5 tahun yang lalu.
"Kenapa yang menempati posisi itu selalu mencuri perhatianku?" gumamnya resah. "Dulu Naura terlihat sangat cantik di mataku! Hanya Naura! Sekarang, aku melihat Zahra seperti melihat reinkarnasi Naura!"
Berfikir ulang, mengenang kembali masa lalu nya bersama Naura. Awal pertemuan mereka, hingga lika liku setelah pernikahan diam - diam. Dan harus berakhir dengan perpisahan.
Kemudian kembali melihat foto Zahra di layar ponselnya. Sangat cantik alami, dan itu membuatnya teringat kembali akan sosok Calina. Gadis desa yang ia nikahi secara paksa.
Sebenarnya Zio tak memungkiri jika Calina memiliki kecantikan natural. Tapi hatinya yang sudah terpaut pada Naura, menolak semua itu.
Ia gelengkan kepalanya cepat. Pikirannya benar - benar gila. Ia usap wajahnya dengan kasar.
"Apa yang aku pikirkan, Tuhan..."ucapnya resah.
__ADS_1
Jangan sampai dia kembali bertindak bodoh. Dengan menghancurkan karir yang ia bangun untuk kedua kalinya. Perusahaan sebesar itu tidak akan memaafkan dirinya untuk kedua kali.
Ia segera menekan menu kembali berulang kali. Segera menjauhkan wajah Zahra dari layar ponselnya.
"Jangan gila, Zio! Jangan gila!" serunya kembali mengusap kasar wajahnya.
Ia mendongak, melihat salah satu sisi dinding ruang tengah. Melihat kembali foto pernikahannya bersama Naura. Pernikahan yang ia lakukan secara tulus karena cinta. Meski tak memiliki keturunan.
"Aku merindukan mu, Sayang..."
Merasa diri sudah tak terkendali, Zio memilih untuk mengakhiri aktivitasnya malam itu. Menyudahi semua pikiran gilanya tentang Zahra. Menyamakan perempuan yang baru kenal itu dengan dua masa lalunya.
# # # # # #
Hari telah berlalu, pagi pun tiba. Menyapa kembali manusia - manusia yang mempersiapkan diri untuk beraktivitas.
Meski jam dinding belum menunjukkan pukul tujuh, Adhitama group sudah di penuhi beberapa karyawan. Mereka berkasak kusuk di lobby.
Zio melangkahkan kakinya memasuki lobby. Setelah beberapa karyawan menyapanya, tanpa sengaja ia mendengar apa di bicarakan oleh mereka.
"Aku yakin ini istrinya Pak Kenzo!" ucap salah satu dari mereka.
Tiga perempuan beda profesi itu masih asyik bergosip di meja resepsionis. Memandangi sebuah layar ponsel yang menunjukkan foto ulang tahun Clarice.
"Tapi kenapa wajahnya tidak terlihat jelas sih!" gerutu satunya lagi.
"Haduuh.. Jangan terlalu kepo lah kalian, tuh!" sahut lainnya. "Pak Kenzo pasti punya alasan, kenapa istrinya tidak pernah di bawa ke kantor!"
"Kamu benar!" sahut perempuan pertama.
"Tapi aku jadi penasaran!" ucap perempuan ke dua. "Kalau Nona Clarice saja seperti itu cantiknya, pasti Ibunya juga cantik!"
"Tapi menurutku, Nona Clarice lebih mirip Pak Kenzo!"
"Heh! Saatnya kembali bekerja!" ucap gadis ketiga. "Sebentar lagi Pak Kenzo pasti datang!"
"Eh, iya! Iya! Yaudah, bye!" pamit dua orang karyawan.
Zio yang sengaja mengurangi kecepatan langkah pun akhirnya dapat mencerna apa yang sedang mereka gosipkan. Akhirnya Zio mendekati resepsionis yang tersisa.
"Kenapa membicarakan Pak Kenzo dan istrinya?" tanya Zio.
Resepsionis itu tersenyum kikuk, "maaf Pak Zio, itu karena kami penasaran seperti apa istri Pak Kenzo." jawabnya ragu.
"Boleh lihat fotonya?"
...🪴 Happy Reading 🪴...
__ADS_1
✍️ Senin ceria 🥳
Jangan lupa tinggalkan like, komen, dan Vote nya ya kakak 🤩🤩