
Namaku Zio Alfaro, dengan segala kesalahanku pada Calina sejak hari pertama kami menikah sampai aku kehilangan kedua orang tua ku, rasanya tidak akan termaafkan walau aku berikan gunung emas sekalipun untuknya. Apalagi Calina bukanlah gadis materialistis yang mengejar harta laki - laki.
Kesalahan yang paling sulit aku lupakan adalah kesalahan di malam itu. Saat aku tanpa niat berlebih berusaha merenggut kesuciannya.
Secara agama dan hukum, aku memang berhak atas dirinya bukan?
Hanya saja saat itu aku seolah memaksa dengan tujuan agar tak ada laki - laki lain yang bisa mendapatkan kesuciannya selain aku, suaminya.
Menjijikkan? Mungkin sebagian orang akan berfikir seperti itu. Tapi yang ada dalam benakku adalah Calina saat itu berstatus sebagai istriku. Aku berhak atas dirinya sepenuhnya. Toh selama ini aku selalu memberikan nafkah lahir untuknya.
Entahlah, pikiran apa yang merasuki kepalaku itu. Sampai aku pun hanyut dalam penyatuan yang sesungguhnya tak di inginkan Calina, istri keduaku.
Sejak hari itu, perasaan bersalah ku padanya mulai tumbuh. Aku sering memikirkannya dalam diam. Sampai kejadian naas menimpa kedua orang tua ku di sore harinya.
Hatiku semakin kalut, saat ia dengan rela dan ikhlas menjaga Ibuku yang koma di ruang ICU. Melawan lelahnya berjaga di Rumah Sakit, hingga Mama meninggal.
Beberapa hari setelah Mama meninggal, aku mencoba untuk berdamai dengannya. Rasanya sudah tidak ada tempat yang terbaik lagi bagiku selain Calina dan Naura. Dua istriku yang kedudukannya belum bisa aku sejajarkan. Meski aku tidak bisa memungkiri, jika Calina mulai mencuri perhatianku.
Suatu sore, saat mendekati jam pulang kerja, aku dan Naura diminta Pak Kenzo untuk meeting dengan klien di salah satu restauran di Mall. Setelah selesai dan klien pulang, aku lanjut untuk makan malam dengan Naura di sana pula.
Setelah makan malam kami usai, aku langsung pulang dengan membawakan makanan untuk Calina dari restauran itu. Setelah mengantar Naura pulang tentu saja.
Sesampainya aku di rumah, keningku mengkerut. Rumah masih dalam keadaan gelap gulita. Yang artinya tidak ada kehidupan di dalam sana.
' Dimana Calina? '
Tanyaku dalam hati, sembari membuka pintu gerbang untuk memasukkan mobil ku. Ku lirik jam tangan pemberian istri keduaku yang sudah mulai sering kupakai selama satu bulan ini. Waktu menunjukkan pukul setengah 10 malam.
Aku masuk ke dalam rumah, dan menyalakan satu persatu saklar lampu. Dan benar, rumah benar - benar sepi. Calina pun tak ada di dalam kamarnya.
Aku naik ke kamar untuk mandi dan berganti baju. Dalam hati aku yakin, kalau Calina belum pulang sama sekali. Ku putuskan untuk kembali ke bawah setelah mandi. Sengaja aku mematikan semua lampu di ruang bawah. Dan aku duduk di sofa. Menunggu istri keduaku yang saat itu entah ada di mana.
Hatiku kesal saat itu. Berharap saat aku akan pulang akan di sambut seperti dahulu, saat awal - awal kami menikah. Tapi nyatanya ia justru tak ada di rumah. Sampai pukul 12 malam, Calina belum juga terlihat.
Hingga akhirnya aku mendengar suara motor Calina, dan ia seolah masuk dengan cara mengendap. Dan akhirnya aku meneriaki kedatangannya.
Dari kejadian itu, berakhir dengan aku mencium bibirnya dengan paksa. Bukan tanpa alasan, karena sesungguhnya naluri ku mulai tertarik untuk mencium bibir istri keduaku.
Dan dari ciuman yang berontak oleh Calina itu, sesungguhnya hasrat ku justru tumbuh. Aku ingin menggaulinya dengan kelembutan yang sama saat aku menggauli Naura.
Tapi situasi mengatakan jangan. Calina tengah marah karena aku menciumnya secara paksa. Dan memarahinya malam - malam.
Keesokan harinya, aku menuruni tangga pagi - pagi sekali. Dengan harapan bisa mengobrol santai dengan Calina untuk membahas masalah semalam. Dan aku akan meminta maaf atas segala kesalahanku selama ini. Selama satu tahun lebih usia pernikahan kami.
Mempersiapkan diriku, bahkan aku melupakan hobiku yang bangun siang saat libur bekerja.
Tap tap tap!
Suara langkah cepat kakiku menuruni tangga mengaung di dalam rumah ku yang sepi. Dan aku langsung melesat ke dapur. Aku tau Calina selalu bangun pagi dan memasak di dapur. Terkadang aromanya sampai ke dalam kamar ku di lantai dua.
Namun apa yang ku lihat di dapur membuatku tertegun untuk beberapa saat. Dapur tampak rapi dan bersih. Tidak ada masakan, bekas masakan, atau pun bahan masakan apapun di sana. Bahkan yang biasa menggunakan dapur itu pun tak ada di sana. Semua tetap sama seperti semalam.
"Calina?"
Panggilku dalam lirih. Aku berjalan ke arah kamarnya, kamar yang merupakan kamar tamu di rumah ku.
__ADS_1
Tok tok tok!
Ku ketuk pintu bercat putih itu. Namun tak ada jawaban sama sekali. Tiga kali tak ada jawaban, akhirnya terpaksa aku memutar handle dan mendorong daun pintu ke dalam.
Sepi.. Kamar istriku tampak sunyi. Bahkan lampunya masih mati. Ku tekan saklar utama dan terlihatlah apa yang ada di dalam sana.
Tempat tidur Calina tampak sangat rapi. Tak ada sedikitpun yang berantakan. Ku edarkan pandangan ke arah pintu kamar mandi. Aku mendekat, dan tak ada suara apapun di dalam sana. Ku buka pintunya dan benar kosong.
"Kemana Calina?"
Ku tanya pada diri sendiri. Namun otakku tak bisa berfikir lagi. Hanya satu yang ada dalam benakku saat ini. Calina pergi dari rumah.
Aku menoleh meja rias Calina, dan benar saja, tak ada banyak barang di sana. Terakhir aku masuk ke kamar itu, meja rias penuh dengan beberapa alat make up, meskipun aku tau Calina tak hobi ber make up seperti Naura.
Cepat - cepat aku menyambar pintu almari dan menggesernya. Kosong, hanya ada beberapa baju usang di sana.
Dadaku sesak saat itu, pikiran ku tak karuan. Aku mulai yakin Calina telah pergi. Aku yakin Calina telah menyerah menghadapi diriku yang mungkin menurutnya seperti Zombie yang hanya ingin menjadikan dirinya mangsa.
"Calina.." lirihku dengan rasa penuh penyesalan.
Aku memutar badan melihat sekitar, ku lihat tempat tidur berukuran king size itu. Di sana, atas sana aku mengambil kesuciannya. Di atas sana aku mencumbunya dengan khidmat.
Meskipun dulu aku sering mengatainya ia bukanlah perawan, sebenarnya aku tau, jika dia gadis perawan. Dan malam itu aku yang mengambilnya. Aku yang bertindak seperti laki - laki brengsek di malam itu.
Penyesalan kini tinggallah penyesalan. Calina telah pergi. Dimana aku harus mencarinya? Tak ku lihat meja nakas di bawah lampu tidur. Selembar kertas putih ada di sana beserta sebuah bolpoin.
Aku segera menyambarnya, aku yakin itu adalah surat dari Calina. Aku yakin Calina akan meninggalkan kabar.
Dear Tuan Zio Alfaro...
Anda tau bunga teratai yang biasa berada di kolam air?
Bunga Teratai buruk rupa.
Aku hanyalah bunga teratai di atas air.
Yang mana bergerak berdasarkan arah air membawaku.
Sementara anda adalah awan putih yang selalu berada di langit biru.
Tak akan mungkin bukan, teratai menyentuh awan?
Jika sampai itu terjadi, maka semua itu hanyalah ilusi semata.
Khayalan tanpa kenyataan.
Satu tahun lebih, teratai buruk rupa ini berusaha mengambil hatimu, walau secuil.
Tapi setahun itu pula teratai buruk rupa tak mendapatkan apa - apa.
Selain hujan yang menjadi luka.
Tuan... anda tentu tidak lupa, jika saya pernah menyerahkan diri kepada anda pada suatu malam.
Aku harap anda tidak lupa!
__ADS_1
Dari malam itulah, Tuan! Kadang aku masih sering berfikir untuk tetap bertahan agar tak ada lagi pria yang menyentuh teratai buruk rupa ini.
Tapi dari malam itu pula, aku berfikir, bahwa semua hanyalah paksaan semata.
Teratai tidak tau diri ini, memaksa awan putih yang bertengger di langit biru untuk turun dan menyentuhnya.
Manalah mungkin itu terjadi.
Benarkan, Tuan?
Malam ini saya menimbang - nimbang...
Malam ini saya berfikir keras.
Pergi atau bertahan?
Dan satu hal yang membuat saya memilih untuk pergi.
Saya ingat, jika Tuan Zio pernah bilang.
Jika Papa Raihan dan Mama Reni meninggal, maka Tuan akan membuang saya.
Sekarang mereka telah tiada.
Tidak ada alasan untuk anda mempertahan rumah tangga kita.
Tidak ada alasan, untuk saya terus berjuang.
Toh akhirnya saya akan di buang...
Selamat tinggal, Tuan Zio...
Selamat atas hidupnya yang sempurna.
Semoga kehidupan Tuan Zio bersama Nyonya Zio di penuhi dengan kebahagiaan.
Tidak ada lagi bunga teratai yang menjadi beban.
Tidak ada lagi benalu yang ingin mendapatkan nafkah lahir maupun batin.
Entah, kapan Tuan akan membaca surat ini
Karena saya yakin, Tuan tidak akan pernah mencari saya di kamar tamu ini.
Yang jelas, saya menulis surat ini, bertepatan dengan Tuan yang mencium saya secara paksa.
Saya akan jadikan ciuman itu, sebagai ciuman perpisahan.
Calina....
Kata demi kata yang di tulis Calina membuat hatiku runtuh.
Aku, Zio Alfaro, dengan perasaan yang dalam mengatakan, aku menyesal. Aku menyesal mengatakan itu semua. Aku menyesal berbuat sedemikian gila pada Calina.
Nasi telah menjadi bubur, kini ia telah pergi entah kemana. Aku tak tau harus memulai dari mana untuk mencarinya.
__ADS_1
"Calinaaaa!" teriak ku dengan mata berkaca - kaca.
...🪴 Happy Reading 🪴...