Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 58 ( Seperti ... )


__ADS_3

"Bye, Daddy!" pamit Clarice mencium pipi Kenzo yang mengantarnya pergi ke sekolah di hari Senin ceria.


Ya, mungkin hanya anak TK yang terbiasa tinggal di apartemen, yang menganggap hari Senin adalah hari ceria. Karena kembali bertemu teman - teman mereka setelah hanya bisa bermain di apartemen, yang hanya memiliki 2 - 3 tetangga saja. Itu pun belum tentu ada anak kecil di dalamnya.


"Bye, girl!" jawab Kenzo balas mencium pipi gembul Clarice.


"Nanti Daddy yang jemput atau Mommy?" tanya Clarice sebelum memasuki gedung International School.


"Kamu maunya di jemput siapa?" tanya Kenzo dengan lembut sekaligus penasaran, siapa yang akan di minta putri kecilnya.


"Aku mau di jemput Daddy saja!" jawab Clarice antusias.


Kenzo tersenyum senang, ketika anak tirinya itu lebih menginginkan dirinya. Dimana ia sering merasa takut jika sang anak tiri akan membencinya suatu saat nanti.


Bayang - bayang kekhawatiran jika seandainya Clarice tau, dirinya bukanlah ayah kandung gadis itu, selalu menghantui pikirannya. Takut jika gadis kecil yang ia cintai seperti anak sendiri, yang ia didik seperti anak sendiri itu kelak tiba - tiba membencinya karena satu kenyataan yang sampai saat ini masih menjadi rahasia.


"Coba beri Daddy alasan, kenapa ingin di jemput Daddy?" tanya Kenzo menatap lekat pitri tiri yang sudah ia timang sejak hari pertama dilahirkan itu.


"Karena Clarice sayang Daddy!" seru Clarice tertawa sembari memeluk leher Kenzo.


Tawa bocah 5 tahun itu selalu membuat hati siapa pun terenyuh. Apalagi hati Kenzo yang sengaja menautkan hatinya pada Clarice.


"Daddy juga sangat menyayangi Clarice..." ucap Kenzo lirih dan dalam, tepat di telinga gadis kecil itu. Sembari lengan memeluk erat tubuh kecil Clarice.


Kenzo selalu mencoba memberikan momen terbaik untuk Clarice. Ia ingin menanamkan di hati Clarice, jika dirinya adalah Ayah yang baik. Ayah yang selalu menyayanginya setiap saat.


Mengingat Zio yang sudah kembali ke Ibukota, tentu tak menutup kemungkinan jika seandainya Zio mengetahui keberadaan Clarice suatu hari nanti.


Clarice tersenyum senang, karena merasa diri sangat beruntung memiliki Ayah sebaik dan sehebat Kenzo Adhitama.


"Daddy mau tau, apa lagi yang membuat Clarice suka di antar jemput Daddy?" tanya Clarice.


"Apa?"


"Lihat!" Clarice melirik sekitar mereka melalui ekor matanya.


Kenzo pun reflek melihat sekitar mereka. Ada banyak teman - teman Clarice yang di antar orang tua mereka. Namun ia tak paham dengan apa yang di maksud putrinya.


"Kenapa?" tanya Kenzo mengerutkan keningnya.


Clarice mendekatkan bibir kecilnya tepat di telinga kiri Kenzo. Menutup dengan kedua tangan mungilnya yang menggemaskan.


"Mereka semua melihat Daddy sepeti melihat Pangeran dari negeri dongeng yang di ceritakan Mommy! Hihihi!" bisik Clarice sangat lirih. Kemudian tertawa dengan menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Dan itu membuat Clarice bangga!" lanjutnya.


Sontak Kenzo pun terkekeh geli. Oh my God! Sebelumnya tidaklah mudah membuat seorang Kenzo yang dingin terkekeh di tempat umum. Tapi gadis kecil di dekapannya itu seperti Malaikat yang mampu mengubah dirinya dengan ulah jail dan lucu nya.

__ADS_1


Mendengar alasan Clarice, tak lantas membuat Kenzo besar kepala. Ia sudah biasa menjadi pusat perhatian. Sejak pertama kali mengantar Clarice ke sekolah pun, ia sudah paham jika banyak pasang mata wali murid yang melirik ke arahnya. Tapi ia sama sekali tak peduli.


Termasuk saat ia mengamati sekitarnya tadi. Ia tau banyak pasang mata mencuri pandang ke arahnya. Tapi ia sama sekali tak menyangka, jika hal itulah yang di maksudkan Clarice. Sama sekali tak mengira, jika gadis kecil itu bisa memiliki pemikiran semacam itu.


"Memangnya apa yang di ceritakan Mommy tentang seorang Pangeran?" tanya Kenzo.


"Mommy bilang, Pangeran itu sangat tampan dan gagah! Seperti Daddy kemarin. Saat ulang tahun Clarice!" jawab Clarice. "Daddy sangat tampan dan gagah!"


"Wow!" seru Kenzo lirih, "berarti kemarin banyak yang melirik Daddy saat kamu ulang tahun?"


"Of course!" seru Clarice berbangga hati.


Kenzo tersenyum. Melihat cerianya Clarice benar - benar meneduhkan hatinya.


"Ya sudah, biarkan saja mereka melihat Daddy! Daddy harus segera berangkat kerja!" pamit Kenzo kembali mencium pipi Clarice. "Nanti Daddy akan jemput Clarice!"


"Okay, Daddy! I love you!" ujar Clarice.


"I love you too..." balas Kenzo.


Kenzo masih berdiri di lobby. Melihat punggung gadis kecilnya yang berjalan memasuki lorong dengan menyeret tas troli nya yang mungil. Menunggu anaknya itu sampai tak terlihat.


***


Jika di sekolah bertaraf Internasional ada seorang lelaki dan gadis kecilnya yang sedang berpamitan untuk melanjutkan aktivitas masing - masing. Maka di perusahaan Adhitama ada Zio yang sudah memasuki lobby.


"Boleh lihat?" ijin Zio meminta untuk di perlihatkan foto yang sedang menjadi trending topik pagi itu.


"Silahkan, Pak Zio.." seorang dari mereka menyerahkan ponselnya pada Zio.


Zio menerima dan mengamati foto apa yang sedang menjadi pembicaraan mereka.


Sebuah foto yang memperlihatkan Kenzo berada di antara kerumunan anak - anak di acara pesta ulang tahun. Di sampingnya ada gadis kecil yang berulang tahun, seolah berdiri di atas papan kayu. Karena lebih tinggi dari biasanya. Yang mana gadi itu, ia ketahui sebagai anak Kenzo. Semua karyawan pun juga tahu akan hal itu.


Sedang di lengan kirinya ada anak laki - laki berusia sekitar dua tahun. Yang dapat di duga jika itu anak kedua Kenzo.


Sedang di samping kiri gadis kecil yang ia ketahui bernama Clarice itu berdiri seorang wanita yang berkostum ala Cinderella tengah menunduk. Seolah mengarahkan anaknya untuk meniup lilin di atas kue tart bersusun 5.


Membuat foto itu terlihat samar. Karena hanya bagian atas kepala dan dahi yang terlihat. Wajahnya sama sekali tidak nampak.


Namun dari segi kostum yang di kenakan, ia pun sama yakinnya dengan yang lain. Jika itu adalah istri Kenzo yang tidak pernah di tunjukkan di hadapan umum.


Sama seperti yang lain, ia pun penasaran akan istri seorang Kenzo Adhitama. Ia mengamati dengan seksama. Karena seolah tak mendapat petunjuk, ia beralih menatap lekat wajah Clarice, anak pertama Kenzo. Yang tak lain adalah anak kandungnya sendiri.


' Wajah anak ini kenapa seperti ... ' gumamnya dalam hati menggantung kalimat.

__ADS_1


Ia segera melihat kembali perempuan di samping anak itu.


' Rambutnya... '


"Maaf, Pak Zio. Ada Pak Kenzo! Boleh sanya minta hp saya? Saya harus segera naik!" ucap pemilik ponsel, membuyarkan lamunan Zio.


"Oh, iya!" jawab Zio menyerahkan benda pipih itu kembali pada pemiliknya.


Zio menoleh ke belakang, dimana terlihat Kenzo sudah memasuki pintu kaca otomatis. Ia pun menunggu sang pemimpin perusahaan sampai di posisinya berdiri.


"Selamat pagi, Pak Kenzo!" sapa Zio menyalami pimpinan tertinggi di perusahaan.


"Pagi!" jawab Kenzo dingin.


Ya, ekspresi seperti ini sudah wajar terlihat di kantor. Namum di sisi lain hati yang lain, ada perasaan yang sulit di artikan jika ia bertemu dengan Zio.


Selaim kerena laki - laki mantan suami istrinya. Juga karena laki - laki itu Ayah kandung Clarice. Yang mana keduanya sama - sama belum mengetahui.


"Hari ini meeting di percepat!" ucap Kenzo saat keduanya memasuki lift.


"Baik, Pak Kenzo." jawab Zio.


Lift pun bergerak ke atas. Kenzo masih dengan perasaan yang sama. Sedangkan Zio menatap punggung Kenzo dengan penuh tanda tanya.


Seperti apa istri seorang Kenzo. Kenapa ia merasa ada yang lain di hatinya. Apalagi saat melihat anak Kenzo.


Zio memutar waktu. Jika anak Kenzo sekarang berusia 5 tahun. Itu artinya Kenzo menikah sekitar enam tahun lalu. Yang mana ia masih ada di perusahaan itu dengan posisi yang sama.


Namun kala itu, benar - benar tak ada kabar berita tentang pernikahan Kenzo. Sebelum itu pun, Kenzo masuk ke kantor dengan status lajang.


Pemikiran rumit Zio, mengantarkan dirinya sampai di lantai dimana ia bekerja. Ia pun keluar setelah berpamitan pada Kenzo.


Di sepanjang perjalanannya untuk sampai di ruang kerja. Ia masih di landa beberapa pertanyaan yang ia nalar sendiri.


' Apa itu anak dari luar negeri? Maksudnya kehidupan di luar negeri jauh berbeda dengan di sini, bukan? Mereka bebas memiliki anak meski tanpa menikah! '


Zio terus menalar apa yang sudah terlanjur merasuki pikirannya.


' Tapi wajah anaknya sangat menunjukkan jika keturunan negeri ini. Rambut dan postur istrinya pun sama seperti orang Indonesia pada umumnya! '


Sebelum sampai di ruangannya, Zio selalu menyempatkan matanya untuk melirik meja yang menjadi magnet tersendiri.


Ya, meja yang kini di tempati Zahra. Dimana gadis itu segera tersenyum dan menyapa saat dirinya lewat.


Dunia yang rumit untuk seorang Zio Alvaro. Lelaki tampan yang kisah cinta nya tak setampan wajahnya.

__ADS_1


...🪴 Happy Reading 🪴...


__ADS_2