
Calina jatuh di atas lantai kamar, setelah lengannya berhasil di tangkap Zio. Zio hendak menangkap tubuh Calina. Namun Calina menolak dengan kasar, hingga akhirnya Calina terhuyung dan ambruk di lantai.
Lengannya masih dalam genggaman Zio. Membuat Calina semakin memberontak.
"Calina... please!" ucap Zio memohon.
"Lepas, Mas! aku benci kamu!" seru Calina tegas. "Aku benci!" ucapnya mengulangi.
"Aku tau, Calina..." jawab Zio sendu. "Aku minta maaf!"
"Tidak ada kata maaf untuk laki - laki sepertimu!" sembur Calina tepat di depan wajah suaminya.
"Aku minta maaf, Cal... Aku hanya lupa diri saat melihatmu semalam. Aku hanya..." Zio menunduk, dengan deru nafas gugupnya.
"Hanya apa?" tanya Calina sinis. "Hanya ingin mempermalukan aku?" lanjut Calina. "Hanya ingin mengolok - olok diriku dengan cara yang kotor?" tanyanya lagi. "Kamu berhasil, Mas!"
"Bukan begitu, Cal!" Zio menatap Calina dengan perasaan tak percaya akan dugaan Calina. "Aku memang selalu bilang tidak mencintaimu.. tapi..."
"Hahaha!" Calina tergelak, namun terdengar sangat miris dan menyedihkan. "Tapi kamu ingin menjadi orang pertama yang menyakiti ku dan membuat gila?" tanya Calina. "Iya kan, Mas?"
"Tidak, Cal! sama sekali tidak!" seru Zio tertahan.
Ekspresi Calina berubah dingin. Ia hempaskan tangan Zio yang masih mengunci lengannya. Kemudian berdiri dengan gerakan yang cukup kasar.
"Aku tidak peduli lagi apapun yang kamu katakan, Mas!" ucap Calina menatap benci suaminya. "Mulai sekarang, aku bukan Calina yang mengemis cinta padamu!"
Setelah berucap Calina segera berlalu dari hadapan Zio. Meninggalkan Zio tanpa ingin mendengar suara laki - laki itu lagi.
"Cal!" panggil Zio sontak berdiri, berharap istri keduanya itu berhenti.
Namun Calina telah kecewa, hatinya sudah tersayat pisau - pisau tajam yang di asah oleh Zio sendiri.
"HAAAHH!" Teriak Zio mengacak - acak rambutnya dengan kasar.
' Kenapa juga aku peduli dengan perasaannya? bukankah selama ini aku membencinya? '
Gumam Zio dalam hati yang gundah.
***
Sarapan pagi itu, di lalui dengan aksi diam Calina. Ia mengambilkan makanan untuk Zio yang duduk di sampingnya. Sebagai formalitas di depan mertuanya. Tapi tak satu kalimat pun keluar dari bibirnya untuk Zio.
"Kalian marahan?" tanya Papa Raihan.
__ADS_1
"Tidak, Pa!" jawab keduanya bersamaan. Kemudian keduanya saling beradu lirikan tajam.
"Kenapa kalian tidak saling bicara?"
"Memang apa yang harus di bicarakan, Pa?" tanya Calina.
"Yaa.. kan.. kalian ini suami istri! mana mungkin tidak ada topik untuk di bicarakan?" jawab Papa Raihan. "Apalagi di meja makan begini. Paling tidak bilang mau makan apa atau bicara apa itu?"
Calina menghela nafas singkat, memalingkan wajah dari lirikan aneh Zio yang menurutnya sangat menjengkelkan.
"Zio, siang ini Papa dan Mama akan kembali ke kampung!" ucap Mama Reni. "Mama dan Papa selalu berharap kalian bisa hidup rukun dan tentram. Dan ingat Zio, jaga istri mu dengan baik..." ucap Mama Reni menatap lekat wajah putranya.
Zio hanya mengangguk lemah. Menatap sepasang mata ibunya yang penuh dengan harap. Namun kenyataan biduk rumah tangganya tak seindah yang terlihat oleh ibunya. Apalagi kesalahannya semalam yang belum termaafkan.
***
Siang yang di maksud telah tiba. Papa Raihan dan Mama Reni sudah siap untuk kembali pulang ke kampung. Zio sudah di balik kemudi mobil Papa Raihan. Rencananya ia akan menumpang sampai kantor, untuk mengambil mobilnya yang tertinggal di kantor.
"Zio... apa Calina semalam menangis?" tanya Mama Reni saat mobil sudah melaju di jalanan yang lengang. Karena hari minggu, banyak pekerja libur, atau mungkin memilih untuk berlibur keluar kota.
Deg!
Jantung Zio mendadak berdetak lebih kencang. Calina menangis? ia memang tak tau kapan Calina menangis. Tapi jika benar Calina menangis, maka ia tau apa yang menjadi penyebabnya.
"Kamu yakin?" tanya Mama Reni tidak sepenuhnya percaya. "Mata Calina sangat sembab, bahkan sempat menghindari tatap muka dengan Mama."
"Mama kan tau, semalam Zio mabuk!" jawab Zio asal. Menggali alasan yang menurutnya sesuai dengan keadaan.
"Rasanya tidak mungkin kalau Calina menangis tanpa sebab." ucap Mama Reni. "Mama tau Calina bukan gadis cengeng yang bisa di buat menangis dengan mudah.
' Maafkan Zio, Ma... ' lirih Zio dalam hati.
"Zio... kami menjodohkan kamu dengan Calina karena Papa tau, dia gadis baik - baik." sahut Papa Raihan, "Jadi jangan biarkan dia menangis sendirian. Tanya, kenapa dia menangis. Karena Papa juga melihat matanya sembab."
"Iya, Pa!" jawab Zio lirih.
***
Zio berjalan lesu memasuki gerbang perusahaan dimana ia bekerja, setelah turun dari mobil orang tuanya. Sementara Papa dan Mama nya melanjutkan perjalanan pulang ke kampung halaman mereka.
"Pak!" sapa beberapa security yang berjaga di jari libur.
"Ya..." jawab Zio datar.
__ADS_1
Zio masuk ke dalam mobilnya, duduk berdiam sembari memanasi mesinnya. Zio diam seribu bahasa. Bahkan mengabaikan beberapa pesan yang masuk ke ponsel yang baru saja ia lempar pada jok di sampingnya.
Tatapan matanya kosong ke arah depan. Memikirkan ulang apa yang semalam ia lakukan. Kenapa dia begitu berambisi untuk mengambil kesucian Calina.
"Haah!" teriak Zio sedikit tertahan. Ia hantam kan tangannya pada kemudi bundar di depannya. Hingga fokusnya beralih pada ponsel yang terus berbunyi.
Ia ambil kasar ponsel itu, lalu melihat nama yang tertera. Satu nama yang di sertai emoticon love merah muncul beserta sebuah foto perempuan cantik nan anggun, My Wife ā¤ļø.
š "Halo?"
š "Hai, Sayang! kamu dimana? tumben tidak menghubungi aku sama sekali?"
Zio mengusap kasar wajah kusutnya.
š "Maafkan aku, Sayang! aku tadi bangun kesiangan, Mama dan Papa juga tadi masih di rumah. Dan sekarang sedang ambil mobil di kantor!"
š "Mobil kamu tertinggal di kantor?"
š "Iya, semalam aku mabuk dan di antar supir Pak Kenzo pulang."
š "Oh... iya! kamu sudah makan siang?"
š "Belum..."
š "Aku tadi masak, mau makan siang di sini?"
š "Boleh, aku meluncur!"
š "Ok, Sayang! see you!"
š "Too, Baby!"
Panggilan berakhir setelah kalimat terakhir terucap. Sesuai ucapannya, maka kini Zio melajukan mobilnya menuju perumahan dimana Naura tinggal. Mencoba melupakan sejenak permasalahannya dengan istri keduanya.
***
Sementara Calina, perempuan itu kembali mengemas barang - barangnya di kamar Zio. Membawanya kembali ke kamarnya di lantai bawah. Menata ulang semua, seperti semula.
Hatinya telah kecewa, melebur bersama asa yang tertinggal. Akankah dia memaafkan Zio yang sudah mengambil kesuciannya? Akankah hal itu dapat ia lupakan begitu saja?
Tentu tidak semudah itu. Yang ada kini hanyalah melanjutkan sisa - sisa hidup dengan atau tanpa Zio. Menyadarkan diri, bahwa selamanya ia hanya akan menjadi mainan seorang Zio Alfaro.
...šŖ“ Happy Reading šŖ“...
__ADS_1