
Rangkaian prosesi pesta pernikahan Zio dan Zahra telah di laksanakan satu persatu. HIngga yang menjadi puncak perhatian adalah ketika Gilang yang tidak berniat untuk bisa mendapatkan bunga pengantin, justru mendapatkannya dengan mudah.
Dengan keadaan yang sudah terlanjur, akhirnya Gilang pun berpidato di atas podium khusus untu tempat MC berdiri dan membawa acara agar lebih meriah.
Gilang menjelaskan tentang semua yang menurutnya sangat logis. Hingga ia memilih untuk menyerahkan bunga itu pada gadis yang menginginkan bunga itu. Mengingat ia sendiri tidak menyukai prosesi yang tadi terpaksa ia ikuti.
Langkah tegasnya mulai berkeliling untuk menemukan target yang tepat untuk bisa mendapatkan bunga darinya. Belasan gadis yang belum menikah terus bersorak, berharap mereka yang akan di berikan bunga itu oleh Gilang.
Tidak untuk mengharapkan cinta sang CEO, tapi cuup mendapatkan bunganya saja. Sebagian dari mereka sadar siapa diri mereka. Akan sangat sulit mendapatkan cinta orang - orang seperti Kenzo dan Gilang.
Kayla, gadis yang bagi orang - orang terdekat di anggap sebagai gadis yang paling dekat dengan Gilang di rasa akan menjadi target. Namun saat merasa Gilang tidak mengarah ke kursi Kayla, harapan mereka semua seolah memudar dan menguap di udara.
Hingga Kayla sendiri memilih untuk berpura - pura sibuk dengan ponsel di tangannya. Seolah tidak peduli kepada siapa Gilang akan menyerahkan bunga itu. Ia tak mau di anggap terlalu percaya diri dengan menunjukkan keberadaan dirinya di dalam ruangan itu.
Apalagi untuk bisa di anggap sebagai gadis yang mengharapkan cinta Gilang, atau bahasa kasarnya di anggap terlalu terobsesi dengan seorang Gilang Adhitama.
Meski pernah gila, Kayla masih ingat cara mempertahankan harga dirinya.
Namun tanpa di sadari Kayla, Gilang justru berjalan ke arah dirinya. Dengan memberi kode pada Calina dan Kenzo, Gilang sudah siap dengan bunga yang berada di tangan kanannya.
"Bunga yang indah, memang hanya pantas untuk di berikan pada mereka yang terlihat indah..." ucap Gilang di sepanjang langkahnya. "Dan bagiku, malam ini yang paling indah di antara yang terindah adalah ..."
Gilang menghentikan kalimatnya, dan langsung berada di belakang Kayla yang masih fokus dengan layar ponsel yang menunjukkan gambar sebuah akun berbagi cerita dan aktivitas yang mendunia.
"Yang paling indah di mataku malam ini adalah... kamu! Titania Azkayla!" ujar Gilang yang berdiri di belakang Kayla, lalu tangannya ia arahkan tepat di depan wajah Kayla. Ya, ia serahkan bunga pengantin itu untuk Kayla, dan ia serahkan dari belakang Kayla.
Dan seperti apa ekspresi Kayla?
Untuk ekspresi Kayla, ia benar - benar seperti orang bingung, yang hanya menatap tanpa berkedip pada bunga beberapa warna di depan matanya. Lebih tepatnya shock hingga membuat isi kepalanya mendadak kosong.
Namun saat ia mendengar suara Gilang yang berucap. Barulah ia terkejut setengah mati. Hingga matanya membulat menatap seikat bunga pengantin itu. Dan satu tangannya reflek menutup mulutnya yang terbuka lebar akibat pemberian itu.
Seikat bunga yang menggugurkan rasa kecewa yang sempat menyeruak ketika melihat Gilang justru melangkah menjauh dari dirinya. Ke arah yang berlawan dengan posisi di mana ia duduk.
"Terimalah bunga ini, Lady..." ucap Gilang menggunakan mic yang ada di tangan kirinya.
Sehingga semua yang ada di dalam Ballroom dapat mendengar apa yang sedang di ucapkan Gilang. Terutama keluarga Kayla yang berada di atas pelaminan.
Sedangkan semua tamu undangan yang tadi sempat mengharapkan bunga itu, seketika merasa kecewa. Namun mereka tetap memberikan tepuk tangan untuk meramaikan suasana. Meski ada beberapa yang memendam rasa iri.
Apalagi yang di beri Gilang bunga adalah saudara kembar Zahra, sang mempelai wanita. Bagi yang tidak tau jika Gilang dan Kayla ada hubungan yang masih sulit untuk di jelaskan, sudah pasti mengira jika Gilang hanya sebatas menghargai saudara kembar Zahra yang memang terlihat belum memiliki pasangan.
Namun semua menjadi hening, senyap dan hanya menyisakan ketegangan, ketika setelah Kayla menerima bunga itu. arena yang terjadi adalah...
"Terima kasih...." ucap Kayla mendongak ke sisi kanan atas, dimana ia bisa melihat Gilang yang tersenyum menawan.
Ketika bunga sudah berpindah tangan, Gilang memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celananya, mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah cerah. Dan seluruh penduduk Bumi pasti tau itu kotak apa. Dan itulah yang membuat semua sontak diam dan tegang.
__ADS_1
Tentu mereka penasaran, siapa gadis beruntung yang ingin di berikan benda itu.
Hingga... tatapan yang penuh keceriaan, namun tersimpan dalam senyuman samar terbit dari bibir Gilang yang kemudian berjongkok di samping Kayla yang masih duduk tanpa menyadari jika ada sosok lelaki yang sedang berjongkok untuk dirinya.
Gilang melipat lututnya dengan posisi yang berbeda. Menjadikan satu lututnya sebagai penyangga tubuh, dan lutut lainnya sebagai penyangga siku tangan kiri. Kotak merah di tangan kiri berisi cincin, dan bertahtakan berlian yang di buka dan menghadap ke arah Kayla membaut gempar seisi Ballroom. Tak terkecuali yang enjadi pengantin sendiri.
Suara tepuk tangan keriuhan ruangan yang seolah menghadap pada dirinya membuat Kayla melihat sekitar. Dan saat mendapati Gilang berlutut di sisi kiri, satu langkah kebelakang, Kayla semakin melongo dan membeku. Jantung yang sebelumnya berdetak lebih cepat karena menerima bunga, kini semakin berdetak kencang.
"Hi, girl?" sapa Gilang ketika Kayla menoleh dengan bunga pengantin yang masih ada di genggaman.
Dan saat Gilang menyapanya, Kayla reflek mengubah posisi duduknya dengan mata yang tidak berkedip menatap kotak berisi cincin yang terlihat begitu indah dan menakjubkan.
Apakah semua ini nyata, atau hanya halusinasi semata? Akibat berharap yang terlalu berlebihan akan sesuatu?
Tidak Kayla! ini nyata dan kamu harus menyadarinya!
"Titania Azkayla... Kamu sudah mendengar aku bicara sebelum ini, bukan? Jika aku bukanlah orang yang mempercayai suatu prosesi lempar bunga pengantin. Tapi takdir memberiku momen yang begitu tepat siang hari ini." Gilang berucap sambil menatap cincin dan wajah Kayla secara bergantian.
Dan semua tamu undangan diam membeku. Menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Mereka semua baru sadar jika ternyata Gilang memang memiliki hubungan erat dengan keluarga Zahra, sebelum ini. Terbukti dengan saudara kembar Zahra yang baru mereka ketahui sebagai kekasih Gilang. Padahal kenyataannya mereka tidak ada hubungan semacam itu.
Sedangkan yang berada satu meja dengan Kayla, mereka semua berdiri. Berharap semua akan menjadi indah, sesuai dengan pengharapan. Yakni Gilang dan Kayla bersatu untuk membina rumah tangga seperti yang lainnya.
"Kamu tau... aku sudah menyiapkan cincin ini sejak dua bulan yang lalu. Aku membelinya dengan bantuan Kakak Iparku yang sangat mendukung kita untuk bersama." ucap Gilang menatap sekilas pada Calina yang berdiri dengan seulas senyuman ketika dirinya di sebut oleh sang adik ipar yang seumuran dengan dirinya itu.
"Beberapa kali aku selalu membuat momen yang tepat untuk aku bisa melamar mu. Tapi selalu saja gagal dan berakhir dengan aku yang di omeli oleh Kakak Iparku." lagi - lagi Gilang melirik Calina yang seketika tergelak lirih.
"Namun siapa sangka, keisenganku justru membuat aku beruntung dengan mendapatkan bunga itu, padahal aku sudah menjauh.." ucapnya. "Meski aku tidak mempercayai semua ini, nyatanya aku mendapatkan momen saat prosesi semacam ini."
Sesekali Kayla tersenyum mendengar penuturan Gilang yang terdengar sangat menyejukkan pendengarannya..
"Titania Azkayla.... dengan segala kerendahan diriku, dengan segala kekurangan dan kelebihanku, dengan segala baik buruk masa lalu ku, bersediakah kamu memakai cincin ini dan menikah dengan ku?" ucap Gilang dengan suara yang bergetar saking gugup dan seriusnya akan apa yang ia ucapkan. "Menjadi istriku, menjadi Ibu dari anak - anak ku, dan menjadi menantu untuk kedua orang tuaku."
Disaat itulah air mata Kayla jatuh begitu saja. Rasa haru membuncah di dalam dada. Bagiamana tidak terharu, mereka tidak berstatus sebagai kekasih sebelum ini. Hanya tinggal satu apartemen tanpa hubungan yang pasti.
Lalu di tempat seperti ini, di depan keramaian, di hadapan ratusan tamu undangan yang hadir, juga di hadapan sang Kakak laki - laki yang sudah lama tak ia temui, ia di lamar seorang lelaki dengan berlutut, bahkan sang lelaki berucap menggunakan mic. Apalagi yang melamarnya adalah salah satu orang yang di hormati di perusahaan Adhitama Group.
Hatinya bergetar tidak karuan, jangan sampai semua ini hanyalah mimpi ataupun ilusi. Kayla bisa pingsan jika semua ini hanya ilusi tak bertepi, bagai judul lagu dengan ratusan juta pendengar itu.
"Tiga bulan lebih kita bersama... dan tahun - tahunan sudah kita saling mengenal meski tidak pernah ada cerita di dalamnya." ucap Gilang dengan suara yang berat, dan senyuman yang tersirat.
"Dan momen terbaik yang paling indah di antara kita menurutku adalah... saat pertama kali aku menemukanmu..."
Semua ikut terharu mendengar kata demi kata yang di luncurkan oleh Gilang. Bagi Kayla, Gilang tengah membuka lembaran yang dulu memang ia tuliskan. Tapi tak ingin ia teruskan pada masa itu.
"Pertemuan tidak selalu dalam kondisi yang baik, bukan?"
Kayla tersenyum di dalam air mata haru yang masih menetes. Tidak pernah bermimpi sebelum ini akan ada yang bersedia menikahi dirinya yang memiliki masa kelam dan masa yang di anggap orang sebagai orang hina yang tak pantas untuk di cintai.
__ADS_1
"Sekali lagi aku bertanya padamu, Kayla..." ucap Gilang membuat banyak dada bergemuruh saking tidak sabarnya dengan jawaban apa yang akan di berikan oleh Kayla. "Dengan kesungguhan hatiku... will you merry me?"
Degup jantung di dada keduanya sama - sama dalam mode cepat dan tak karuan. Bahkan sama - sama kesulitan untuk sekedar bernafas. Namun semua harus jelas dan terjawab dalam hitungan menit.
Sedangkan semua orang yang ada di dalam sana, tidak menemukan magnet lain yang menarik perhatian mereka, selain Kayla dan Gilang yang menjadi pusat perhatian kedua setelah pasangan Raja dan Ratu hari ini.
Mengusap setetes air mata yang jatuh di pipi nya, Kayla mengangguk. Mewakili kata iya yang tak sanggup ia ucapkan saking terharunya. Dan saking bahagianya.
Meski begitu semua orang yang menatap tegang pada mereka, seketika bersorak sorai di sertai tepuk tangan karena jawaban Kayla sesuai dengan harapan mereka.
Calina sendiri bahkan reflek memeluk suaminya saking senangnya dengan apa yang ia lihat di depan mata.
"Katakan dengan jelas, Kayla... bersediakah kamu menikah dengan ku? membangun kapal kita sendiri, dan berlayar bersamaku?" ucap Gilang dengan rasa lega yang belum seratus persen sebelum Kayla mengatakan dengan bersungguh - sungguh.
Gilang menyerahkan mic pada Kayla, sembari memberi kode gadis itu agar menjawab menggunakan mic juga. Dan Kayla yang seumur tidak pernah memegang benda itu justru menerima mic dengan sangat tegang. Namun mau tak mau ia memang harus menjawab menggunakan mic. Karena Gilang melamar menggunakan bantuan benda itu.
Menarik nafas panjang dan menghelanya pelan, Kayla mulai memberanikan diri untuk menjawab permohonan Gilang.
"Sebelumnya saya ingin menyampaikan terima kasih, kepada kamu, Gilang... kamu satu - satu nya orang yang ikhlas memperkenalkan aku pada dunia yang sudah lama aku tinggalkan." ucap Kayla dengan tulus.
"Aku menyadari akan banyaknya kekurangan di dalam diri ku, Gilang... Dan aku menyadari aku mungkin tidak bisa seperti Kak Calina yang bisa berdiri dengan anggun mendampingi Kak Kenzo. Tapi aku akan selalu berusaha dan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk kamu."
"Dengan segala ketulusanku, aku bersedia untuk menikah dan menjadi istri kamu. Menjadi Ibu dari anak - anak kita. Dan juga mendampingi kamu dalam suka dan duka."
Jawaban Kayla melalui mic, semakin menarik teriakan dan tepuk tangan para tamu undangan. Calina dan Kenzo bahkan semakin erat berpelukan. Begitu juga dengan Zahra yang reflek memeluk lelaki di sampingnya yang mulai hari itu berstatus sebagai suaminya.
Semua merasa sangat bahagia. Tak terkecuali Mama Shinta, yang sudah menganggap mereka semua seperti anak - anaknya sendiri.
Gilang mengambil benda bundar dengan satu mata berlian dari dalam kotaknya. Dan ketika Kayla menyerahkan jemari lentiknya di hadapan Gilang, Gilang langsung menyematkan cincin bertahta berlian di jari manis sebelah kiri dengan sangat hati - hati.
Banyak kamera yang menyorot momen mereka, salah satu kamera yang memang di bayar untuk mengabadikan momen pernikahan Zio dan Zahra.
Maka saat cincin melingkar dengan sempurna, Gilang langsung mengecup punggung tangan Kayla yang harum oleh parfum yang di kenakan sang wanita.
Kemudian Gilang berdiri, begitu juga dengan Kayla. Keduanya berpelukan dengan tawa bahagia yang tidak bisa mereka tahan lagi. Semua tidak bisa mereka tutupi lagi. Hingga semua dapat melihat betapa bahagia kedua anak manusia yang baru saja meresmikan hubungan mereka yang lama terjalin tanpa status yang jelas.
"Terima kasih sudah bersedia menerima ku, Kayla..." lirih Gilang di dekat telinga Kayla.
"Terima kasih sudah bersedia menerima aku apa adanya, Gilang..." balas Kayla.
Dan saat keduanya berpelukan dengan damai, dua orang muncul dari red karpet yang mengantar tamu untuk mendatangi pelaminan. Dua orang yang tak lain sepasang suami istri itu tampak berwajah tegang dan datar saat menghampiri pasangan baru yang menjadi pusat perhatian siang itu.
"Gilang?" suara berat memanggil nama yang menjadi trending siang itu.
Dan saat itulah, semua mata tertuju pada pemilik suara.
Semua tentu tau siapa pemilik suara itu. Karena 90% orang - orang yang ada di dalam Ballroom adalah orang Adhitama Group.
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...