
Suasana haru menyelimuti pertemuan antara Clarice dengan Ayah kandungnya. Setelah 5 tahun di pisahkan, kini untuk pertama kalinya mereka berkenalan dan berpelukan.
Zio memeluk erat tubuh mungil Clarice dengan sangat erat disertai perasaan sayang yang dalam. Meski perasaan sayang itu muncul begitu saja saat mengetahui segalanya .
Zio menggendong Clarice dan membawanya untuk duduk di sofa. Di sofa Zio tak sedikitpun ingin melepas pelukan itu. Ia bahkan memejamkan matanya dalam di pundak kecil sang putri. Dan menghirup segala keharuman khas Clarice yang begitu menenangkan jiwa yang beberapa bulan terakhir begitu sunyi dan sepi.
"Clarice harus panggil Papa?" tanya Clarice di telinga Zio.
"Iya, Sayang! ini Papa!" jawab Zio penuh haru mendengar suara mungil khas anak - anak tepat di telinganya.
"Siapa nama Papa?" tanya Clarice melepas pelukan sang Ayah kandung. Kemudian menatap wajah tampan yang matanya masih berkaca - kaca.
"Papa Zio!" jawab Zio sembari mencium pipi gembul Clarice.
Oh, My God.... Betapa bahagianya hati Zio mencium buah hatinya untuk pertama kali.
Tak sampai di pipi sebelah saja yang di cium Zio. Ia juga mencium kedua pipi Clarice, kemudian kening gadis kecil itu dengan sangat lembut.
"Siapa nama panjang Clarice?" tanya Zio dengan dada bergemuruh.
Sungguh, ia bersumpah dalam hati. Jika sampai di dalam nama Clarice ada nama Kenzo, maka ia akan menuntut di pengadilan, apapun caranya.
"Brighta Clarice Agasta." jawab Clarice yang memang sudah hafal namanya di luar kepala.
Zio menarik nafas dengan lega. Biarlah tak ada namanya. Asal tidak ada nama Kenzo di dalamnya. Dan nama Agasta sudah cukup untuk menjadi tanda siapa orang tuanya.
Sedangkan Calina dan Kenzo saling menautkan jemari mereka. Guna menguatkan diri yang mulai saat ini harus siap jika cinta Clarice akan terbagi untuk mereka.
"Biarkan aku membawanya hari ini?" pinta Zio pada Calina dan Kenzo begitu saja.
Sontak Kenzo dan Calina saling menatap satu sama lain. Bukan tidak percaya pada Zio, tapi mereka tidak biasa berada di rumah tanpa Clarice, selain jam sekolah.
"Memangnya Clarice mau ikut sama Papa?" tanya Mama Shinta pada Clarice untuk mengambil jalan tengah.
Clarice menatap mata Zio yang menatapnya penuh harap. Kemudian menatap Mommy dan Daddy nya. Namun sepertinya Calina dan Kenzo hanya diam membisu keduanya belum bisa memberi jawaban akan hal itu.
__ADS_1
Dan reflek Clarice tiba - tiba menggelengkan kepalanya begitu saja. Dan itu membuat air mata Zio yang sudah ia tahan, meleleh begitu saja meski tanpa isakan.
Bagaimana tidak, ia ingin sekali merasakan apa yang di rasakan oleh para Ayah di muka Bumi ini. Mengajak anak mereka jalan - jalan, berlibur, berbelanja dan sebagainya. Tapi putri yang baru ia temukan itu menolaknya.
Hati Ayah yang mana yang tidak terluka?
Sedangkan Calina dan Kenzo kembali terlihat saling tatap dalam tatapan yang nanar. Antara kasihan dan bingung.
"Maaf Zio... mungkin Clarice belum terlalu mengenalmu, jadi dia menolak ikut bersamamu. Dia memang di ajarkan untuk tidak dengan mudah mengikuti orang yang tak ia kenal." jelas Mama Shinta.
"Ya, Ma... Zio tau.." jawab Zio dengan suara yang memilukan.
"Mungkin dia juga belum paham dengan apa yang terjadi. Biarkan kami memberi Clarice pengertian terlebih dahulu, Zi..." sahut Kenzo berharap Zio mengerti. Semua bukan hal yang mudah untuk di pahami anak usia 5 tahun yang kapasitas otaknya masih kecil dan itupun di dominasi oleh main dan main.
"Berikan kami waktu untuk memberi pemahaman pada Clarice, Mas.." sahut Calina ikut berbicara.
Dan Zio pun hanya mengangguk. Meski menahan kecewa dan luka.
***
Hari itupun berlalu dengan Zio yang belum bisa memperkenalkan Clarice dengan kehidupannya, juga rumahnya.
Sedangkan di sebuah apartemen lainnya, gedung lainnya. Ada Gilang yang berhasil membawa Kayla keluar dari Rumah Sakit Jiwa.
Dengan menggunakan berbagai cara, Gilang berhasil membujuk Kayla untuk mau ikut bersamanya dan tinggal di apartemennya sampai semua berjalan sesuai dengan rencana.
"Kamu mau makan apa?" tanya Gilang pada Kayla yang duduk di sofa ruang tamu.
Bagi Kayla, meskipun orang melihat dia adalah gila, tetap saja ia dapat mengingat betul tentang apartemen itu. Ia pernah tinggal di sana untuk waktu yang cukup lama.
Kayla menggelengkan kepalanya pelan untuk menjawab pertanyaan Gilang. Dari sini Gilang tersenyum, ia paham jika Kayla tak 100 % gila. Ada pintu yang harus ia ketuk untuk menemukan jawabannya.
Istilah lainnya ada harga yang harus ia bayar untuk bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.
Gilang duduk tepat di samping Kayla. Menyungging senyum tipis, untuk menunjukkan apa yang sedang ia rasa di dalam dada. Yakni tak menyangka jika gadis itu kembali ke apartemennya, bersama dirinya. Dan tentu saja bersama kenangan mereka di masa lalu.
__ADS_1
Saat itu Matahari mulai turun ke arah barat. Gilang menyusun serangkaian kalimat untuk bisa membuat Kayla bicara dengan jujur tentang apa yang ia rasakan.
"Kamu tau... waktu kecil aku pernah bermimpi untuk menjadi seorang pembalap Internasional?" ucap Gilang mengajak Kayla untuk masuk ke dalam sebuah cerita guna memancing perhatian alami dari dalam naluri kewarasan seorang Azkayla Azzahra.
Kayla hanya diam dengan apa yang di ucapkan Gilang. Ia hanya tetap fokus pada jendela kaca yang menunjukkan lalu lalang Ibukota.
"Aku sudah sering berlatih, dengan cara pulang pergi sekolah bawa motor sendiri, kemudian aku dan seorang teman ku akan saling beradu waktu. Siapa yang akan sampai di rumah duluan, maka dia akan menjadi pemenang, dan mendapat traktiran dari yang kalah. Kebetulan kami tinggal di komplek yang sama, hanya beda gang saja." tandas Gilang.
"Dan saat itu aku sering jadi pemenangnya. Membuatku merasa kelak cita - cita ku akan terwujud!"
Gilang masih menatap lekat wajah Kayla yang tampak masih acuh pada dirinya. Meski begitu ia tetap bercerita dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Dengan begitu aku pikir... kelak saat usia ku sudah sudah cukup, aku akan jadi seorang pembalap seperti Valentino Rossie. Tapi ternyata aku hanya jadi pembalap liar yang setiap pulang selalu kena amukan Mama. Kemudian malamnya akan kena semprot Papa karena selalu mendapat protes dari warga sekitar..." lanjut Gilang terkekeh geli mengingat masa - masa di mana banyak aksi nakalnya di banding dengan prestasinya.
Namun siapa sangka apa yang di ceritakan Gilang berhasil menarik sedikit sudut bibir Kayla yang sebelumnya sama sekali tak melihat wajahnya.
Tentu Gilang tau jika ada yang lain dari raut wajah Kayla. Ada gerakan tipis di sudut bibir sang gadis, yang mungkin sudah setengah mati di tahan oleh gadis itu. Dan sebagai psikiater ia juga tau makna dari respon Kayla yang nyaris tak terbaca oleh orang awam.
"Dulu aku juga sering meminta bantuan Kakak ku itu untuk menutupi kenakalan ku di masa kecil. Kakak ku yang sangat perfecto itu selalu menjadi pelindung terbaik untukku." ucap Gilang kemudian. "Pernah, saat masih sekolah dulu. Aku sangat bodoh di bidang mata pelajaran Kimia. Kamu tau mata pelajaran kimia, kan?" tanya Gilang pada Kayla, meski ia tau Kayla tidak akan menjawab sedikitpun.
"Saat itu ujian semester akhir kelas XII, karena aku dan Kakak laki - laki itu nyaris mirip, dia aku mintai tolong untuk masuk di kelas ujian Kimia. Menggantikan aku dan dia mau - mau saja asal aku bisa lulus, hahaha!"
"Dan tak ku sangka ujian hari itu kertas ku mendapat nilai 90. Yang mana biasanya hanya 29 atau paling banyak 46! hahaha!" Gilang terus saja terkekeh mengingat masa mudanya yang sangat tidak karuan.
Meski bibir terkekeh dengan sangat, tapi sepasang mata Gilang terus saja melirik ke arah wajah Kayla yang lagi - lagi menyembunyikan senyuman di bibir tipisnya.
"Dan kamu tau, karena Guru ku curiga, akhirnya di panggillah aku ke kantornya dan di minta untuk mengerjakan ulang!" lanjut Gilang terkekeh lucu. "Dalam hati aku berkata, sudah susah payah Kakakku bersedia memakai seragam yang sudah lama ia tinggalkan, ternyata apa yang dia kerjakan tidak membantu ku sama sekali! hahaha!" Gelak Gilang lebih keras.
Dan apa yang di ceritakan Gilang, ternyata berhasil menarik lebih jauh sudut bibir Kayla yang sedari tadi masih betah tertutup rapat.
Tentu Gilang semakin puas dengan apa yang ia lihat. Sebuah senyuman pun terbit dari bibirnya, khusus untuk senyum Kayla.
"eghm!" Gilang berdehem untuk mengakhiri tawanya, setelah tau Kayla memiliki ketertarikan dalam sebuah cerita lucu.
' Baiklah... Tidak lama lagi aku akan tau kamu benar - benar gila, atau hanya berpura - pura... '
__ADS_1
Gumam Gilang dalam hati.
...🪴 Bersambung ... 🪴...