Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 65 ( Sosok Titania Azkayla )


__ADS_3

Di apartemen, di lantai sekian Kenzo, Calina dan Mama Shinta sedang bersantai di ruang tengah. Namun akhirnya mereka terlibat dalam obrolan yang cukup serius.


Sementara anak - anak bersama seorang baby sitter berada di ruang bermain.


"Sebenarnya aku merasa bersalah sudah menjauhkan Clarice dengan Zio..." lirih Kenzo setelah memberitahu tentang apa yang ia rasakan di dalam lift tadi. "Tapi Kenzo belum sanggup, Ma..." lanjutnya terdengar pilu saat bercerita kepada Ibu mertuanya.


"Nak Kenzo... Cepat atau lambat, semua rahasia pasti terbongkar. Tidak akan ada rahasia semacam itu yang bisa di tutupi lebih lama seperti yang kita inginkan..." jawab Mama Shinta.


"Kenzo tau, Ma... hanya saja..."


Kenzo kembali terdiam. Hanya helaan nafas lelah yang terdengar. Karena memang sudah lelah rasanya menyampaikan alasan yang pasti selalu sama.


"Jangan takut, Nak... Di hati Clarice pasti sudah tertanam nama kamu. Mama akan membantu untuk memberi penjelasan pada Clarice tentang bagaimana kehidupan di masa lalu. Tanpa harus membuat kamu dan Zio terlihat buruk di mata Clarice. Tidak ada yang menginginkan hal buruk pada suatu pernikahan."


"Benar, Mas... Aku juga yakin, kalau Clarice akan mengerti dengan keadaan yang sudah terjadi."


Kenzo menatap dua wanita di samping dan di depannya. Seolah menaruh percaya pada keduanya. Bahwa semua akan baik - baik saja saat Clarice mengetahui satu kenyataan yang tak pernah di bayangkan gadis kecil itu.


***


Kembali pada suasana di salah satu Mall terbesar di Ibukota. Di tengah lalu lalang pengunjung yang datang untuk mencari hiburan, ada Gilang yang tengah menatap seorang janda di depannya.


Bukan dengan tatapan menggoda, melainkan dengan tatapan serius dan setengah menginterogasi. Meski wajah cantik di depannya sangat mirip dengan ....


Ya, lebih baik tunggu sampai Gilang dan Zahra yang bicara!


"Pak Gilang mengenalnya?" tanya Zahra serasa tak percaya dengan pertanyaan Gilang.


"Hm" jawab Gilang mengangguk datar.


"Apa Pak Gilang tau kondisinya sekarang seperti apa?"


"Ya!" jawabnya, "aku tau!"


Zahra memperbaiki posisi duduknya, sembari menarik nafas dalam untuk menetralkan diri yang sempat shock oleh pertanyaan Gilang. Dan kini kembali rileks setelah tau Gilang mengetahui kondisi orang yang sedang mereka bahas malam itu.


"Titania Azkayla adalah saudara kembar saya," jawab Zahra.


Gilang menatap lekat Zahra yang wajahnya seketika diselimuti kesedihan. Dengan apa yang ia lihat di wajah Zahra, maka ia membangun pertahanan hatinya. Agar tidak sampai runtuh akibat cerita yang mungkin akan ia dengar.


"Ceritakan padaku dengan jelas, tentang kalian," ucap Gilang, "kenapa wajahmu seketika terlihat masam?"


Zahra menatap lekat pada Gilang, sebelum menyampaikan sebuah cerita pilu di masa lalu.


"Kami tumbuh dan besar bersama, di rumah yang saya tempati sekarang. Bersama Ayah, Ibu dan seorang Kakak laki - laki kami." jawab Zahra. "Saat itu kami berdua berusia 14 tahun..."


Flashback On . . .


"Bayar hutangmu sekarang!" suara seorang pria berusia sekitar 45 tahun terdengar tepat di depan rumah kecil bertingkat.


"Beri waktu lagi lah, Bang!" jawab lelaki berusia sekitar 23 tahun.


"Heh, Titan! kau sudah menunggak satu tahun lebih, masih minta waktu tambahan? jangan GIla!" seru lelaki 45 tahun itu.

__ADS_1


"Tapi saya belum ada uang, Bang. Abang lihat sendiri, Ayah saya sakit - sakitan. Saya juga harus mencari uang biaya sekolah adik - adik!"


"Apa peduli ku, hah?" tanya sinis pria itu. "Memangnya aku ini sensus penduduk yang harus tau apa pekerjaan dan penderitaan mu?"


"Bukan begitu, Bang. Setidaknya kasihani lah kami."


"Kalau aku mengasihani mu, siapa yang mengasihani ku? jawab!" seru pria itu dengan wajah bengisnya.


Tak bisa menjawab, lelaki 23 tahun bernama Titan Azkara itu hanya menunduk dalam.


Dan bertepatan dengan itu, datanglah dua anak perempuan yang merupakan saudara kembar dengan menggunakan seragam SMP.


Dua ABG itu tampak berjalan kaki dari jarak sekian kilo meter. Terlihat dari keringat dan peluh mereka yang bercucuran begitu sampai di rumah saat matahari terik.


Pria yang merupakan penagih utang itu pun melihat nakal pada dua anak kembar itu. Terlihat dari sorot matanya yang bringas.


"Begini saja, ku beri kau waktu dua minggu lagi. Kalau sampai dua minggu lagi kau belum juga bayar hutang, berikan aku kedua adikmu itu sebagai jaminan!"


"Apa!!" sontak Titan dan dua anak kembar menatap tak percaya pada pria tua yang pantas menjadi bapaknya itu.


"Jangan gila, Bang!" seru Titan.


"Itu tidak Gila, Titan! Aku hanya akan menjadikan mereka sandera sampai kau bisa melunasi hutangmu!"


"Tapi itu sama sekali tidak sebanding, Bang!"


"Itu urusanmu!" jawab pria itu acuh, "aku bisa melakukan apapun untuk memaksa mereka ikut bersamaku!" seru pria itu kemudian pergi meninggalkan Titan dan kedua adiknya dengan senyuman culas.


Tapi rupanya pria itu sudah tak peduli lagi dengan apa yang coba untuk rundingkan Titan. Karena yang ada dalam benaknya adalah lebih baik mendapatkan dua anak kembar itu.


Dua minggu kemudian . . .


"Kalian jangan keluar rumah ya untuk sementara ini!" ucap Titan pada kedua adiknya. "Dan jangan buka pintu kalau Bang Dirman datang!"


"Ya, Kak!"


"Titan, kemana kamu akan mencari kekurangan uangnya?" tanya Ibu Titan yang juga baru pulang dari berjualan sayur mayur di perempatan jalan.


"Entahlah, Bu. Yang penting Ibu jaga adik - adik!" jawab Titan yang hanya seorang pekerja pabrik dengan posisi terendah.


"Ibu akan menjaga adik - adik mu, tapi kamu juga harus hati - hati, Titan. Bang Dirman itu nekat!" jawab wanita yang sudah berusia setengah abad itu.


"Titan tau, Bu...." jawab Titan dengan lesunya.


Berangkatlah Titan meninggalkan rumah. Untuk mencari kekurangan dari jumlah uang yang ia siapkan untuk membayar hutang pada pria bernama Dirman.


Matahari semakin terik, uang yang ia dapat dari menjual motor rupanya masih kurang. Karena sebelumnya motor itu sudah di gadai di orang yang sama. Alhasil kini ia hanya punya separuh dari yang harus ia bayar.


Ia memilih untuk cepat kembali pulang ke rumah, sebelum Dirman datang. Ia tak mau apa yang di ancamkan padanya benar terjadi. Yakni menjadikan kedua adiknya sebagai sandera.


Dan begitu ia sampai di rumah, ternyata benar, Dirman sudah ada di rumah untuk menagih hutang yang sudah beranak pinak.


"Bang, ini separuh dari hutangku," Titan menyerahkan uang sebesar 8 juta pada Dirman. "7 juta lagi akan aku carikan."

__ADS_1


Tertawa culas, "mau cari kemana lagi kamu?" tanya Dirman. "Aku sudah tidak mau memberi mu waktu!"


"Bang, jangan gitulah"


"Aku sudah bosan memberimu waktu! sesuai aturan ku kemarin, berikan adikmu padaku! Hanya sebagai sandera saja. Akan aku kembalikan kalau kau sudah bisa melunasi hutangmu."


"Bang, kamu tau keluarga kami susah. Kami pinjam uang juga untuk pengobatan Ayah! bukan untuk bersenang - senang atau liburan!"


"Aku tidak peduli! yang jelas hutang tetap harus di bayar sesuai perjanjian!"


Bantu kami, Bang! turunkan bunganya!"


"Tidak bisa!" jawab Dirman, "karena kau hanya bisa membayar separuh, serahkan salah satu adikmu!"


"Jangan, Bang!"


"Minggir!"


Sebisa mungkin Titan berusa mencegah Dirman yang berusaha untuk masuk ke dalam rumah kecil itu. Namun karena postur tubuh Dirman yang lebih besar dari Titan, tentu ia lebih mudah untuk menerobos pertahanan Titan.


Sedangkan adik - adiknya yang di sembunyikan di kamar atas dan di jaga oleh Ibunya, tentu saja tidak akan sanggup menahan betapa kuat Dirman mengambil salah satu dari mereka.


"Dia akan aku jadikan pembantu di rumahku sampai hutangmu lunas!" ucap Dirman pada Titan, Ibu dan salah satu dari anak kembar itu.


Semua menangis dan berkata jangan, saat salah satu dari saudara kembar itu di bawa.


Dan saat Dirman berada di anak tangga terakhir gadis yang tidak di bawa berteriak.


"Bawa aku saja, jangan dia! bukankah kami sama!" ucapnya lantang.


Flashback Off . . .


Cafe yang berada di dalam mall itu menjadi saksi bisu cerita Zahra tentang saudara kembarnya yang bernama Titania Azkayla. Dan Gilang sebagai pendengar satu - satunya yang setia mendengar cerita yang di warnai linangan air mata Zahra itu.


"Dua hari setelah itu, Ayah meninggal," jelas Zahra dengan air mata yang sudah menetes berulang kali di pipinya. "Ibu dan Kakak berjuang untuk mendapatkan uang. Namun satu bulan kemudian Ibu meninggal saat gerobak sayurnya di tabrak truk pengangkut pasir. Tinggallah aku dan Kakak. Tapi... ternyata penabrak Ibu memberikan uang kompensasi atas meninggalnya Ibu sebagi korban. Dengan sangat terpaksa, uang itulah yang kami gunakan untu menebus saudara kembarku." Zahra kembali berlinang air mata saat mengenang peristiwa 12 tahun lalu itu.


"Lalu?"


"Dan saat Bang Dirman mengembalikan dia, dia sudah dalam keadaan tidak baik - baik saja. Ia hanya diam di dalam kamar sepanjang hari, sepanjang waktu. Tanpa pernah mau bicara pada siapapun termasuk kami. Dan jadilah ia seperti sekarang." jelas Zahra.


"Lalu dimana Kakakmu?"


"Lima tahun kemudian Kakak saya menikah dan harus pergi keluar pulau untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Demi keluarganya dan juga biaya merawat saudara kembar saya."


"Lalu kamu?"


"Saya melanjutkan sekolah dan kuliah dengan uang yang saya dapat sendiri." jawab Zahra, "seumur hidup saya, di penuhi dengan rasa bersalah pada dia. Karena seharusnya saat itu sayalah yang di bawa."


Gilang mengangguk paham. Ia tak menyangka seberat itu kisah hidup dua Titania yang ia kenal.


"Apa Pak Gilang adalah orang yang beberapa tahun silam merawat Kayla saat ia kabur dari Rumah Sakit Jiwa?"


...🪴 Happy Reading 🪴...

__ADS_1


__ADS_2