Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 169 ( Prom Night 1 )


__ADS_3

Berdiri di depan cermin meja riasnya, Clarice sudah siap dengan gaun pesta yang khusus di buat untuk ia gunakan menghadiri prom night yang akan di selenggarakan jam 8 malam ini. Dan puncak acara akan di lakukakan ketika jam 10 malam. Dan pesta di perkirakan akan berakhir jam 12 malam.


Mengenakan dress berwarna cream bercampur ivory, berbahan brokat dengan taburan butiran mutiara di bagian pinggang hingga leher sampai lengan ketat yang menutupi siku. Di bagian pundak hingga lengan tidak ada kain lapisan di bagian dalam. Sehingga kulit putih mulus sang gadis masih terlihat oleh mata meski tidak 100%.


Kemudian di bagian roknya mengembang dan bersusun membentuk gaun yang indah. Mulai dari lapisan paling dalam, kemudian tile dan paling luar bahan brokat tanpa mutiara. Panjang dress bagian depan hanya sampai di atas lutut, sedangkan bagian belakang sampai di atas betis.


Gaun yang sangat cantik buatan salah satu desainer ternama Indonesia itu melekat di tubuh ramping nan anggun milik seorang Brighta Clarice Agasta. Rambut di biarkan tergerai bergelombang. Hanya sebuah hiasan rambut membentuk rangkaian bunga yang tersemat di antara helaian rambut kepala sebelah kiri dekat telinga.


High heels setinggi 8 cm dengan tali-tali kecil berwarna senada sudah membalut kakinya yang kecil dan jenjang. Gold Clutch yang hanya muat untuk ponsel dan kartu dengan di sertai tali rantai kecil dengan warna yang sama sudah menyilang di depan dadanya.


Sungguh penampilan yang sempurna untuk prom night sebelum ia benar-benar meninggalkan sekolah yang sudah memberinya ilmu terbaik selama tiga tahun ini. Meski dengan biaya sekolah yang tidak main-main pula.


Mendekati meja belajar, Cla duduk di sana untuk sesaat. Ia menatap beberapa foto yang baru saja ia cetak kemarin dan di tempel pada dinding di atas meja belajar.


Ada beberapa foto yang ia pajang, namun yang selalu menjadi favoritnya adalah foto dirinya saat bersama Arsen tengah mengunci matahari menggunakan tangan mereka yang membentuk lambang love.


Meski membelakangi kamera, tapi foto satu ini sungguh sangat spesial di mata Clarice. Jantungnya berdebar hanya karena melihat satu foto ini saja.


Sang gadis jelita tersenyum manis, mengingat awal-awal perkenalannya dengan sang pemuda. Di mana ia selalu bersikap ketus serta cuek pada Arsen. Dan selalu jengkel ketika sang pembalap memanggilnya dengan sebutan Sayang...


Ah, sang Nona Muda merindukan semua momen yang dulu ia anggap sangat menyebalkan dan malas untuk di ladeni.


Namun kini, ia justru lupa cara bicara dengan nada emosi atau ketus pada sang pemuda. Lupa bagaimana cara memarahi Arsen. Lupa bagaimana cara untuk tidak peduli dengan keberadaan sang pembalap yang kini mulai merambah dunia balap mobil di sirkuit khusus.


Semenjak ia mendengar cerita Arsen jika percobaan berpacaran dengan Shandy gagal, kemudian ada gadis yang tak bisa ia miliki, Cla merasa masih memiliki kesempatan untuk bisa dekat dengan Arsen.


Atau bahkan berharap... Jika dirinya lah yang di inginkan Arsen.


Tergelak sendiri, "Ah... mungkin itu hanya mimpi..." gumamnya. "Jika Shandy yang cantik, muda dan pintar saja tidak bisa membuatnya bertahan. Apalagi aku?" gerutunya merutuki diri yang di anggap tidak mungin bisa bersanding dengan sang pemuda.


Tanpa di ketahui sang gadis, memang dirinyalah yang di inginkan oleh sang pembalap. Biarlah semua masih menjadi misteri untuk beberapa waktu yang akan datang. Karena ada hal yang belum terjawab sampai detik ini.


"Dengan siapa kamu datang, Arsen?" tanya Clarice lirih menatap fotonya bersama sang pemuda.


Tiba-tiba...


"Cla... Vino sudah datang..." seru sang Mommy dari luar pintu kamarnya.


"Ya, Mommy!" jawab Cla.


Cla berjalan menuju pintu untuk menemui satu-satunya paling laki-laki paling dekat yang menawari dirinya untuk datang di acara prom night malam ini. Sesungguhnya yang di tunggu oleh sang gadis untuk mengajaknya datang adalah Arsen.


Namun sampai kemarin, sang pemuda tak ada tanda-tanda akan mengajak. Jadi biarlah, ia mengiyakan ajakan Vino yang di ajukan satu minggu yang lalu. Dari pada harus datang sendiri. Karena Hanna konon di ajak salah satu Atlit dari kelas XII IPS-1.


Clarice berjalan menuju ruang tamu, di mana disanalah Vino tengah menunggunya. Dari tempatnya berdiri kini, ia bisa melihat Vino yang malam ini menggunakan celana hitam, kemeja putih dan di balut dengan jas hitam tanpa dikancingkan, dan tanpa mengenakan dasi apapun.


"Hai..." sapa Cla.


Mendengar suara gadis yang di impikan, Vino menoleh ke belakang, di mana sebelumnya ia tengah menatap dinding yang memperlihatkan sebuah foto keluarga besar seorang Kenzo Adhitama.


"Ha...Ha..Hai, Cla..." balas Vino tergagap.


Bagaimana tidak gagap. Vino bagai melihat bidadari yang turun dari kayangan. Wajah cantik dan putih bersih di balur make up khusus untuk malam prom. Vino sangat jarang melihat Cla memakai make up. Dan malam ini penampilan Cla sungguh memukau.


Meski begitu baginya Cla memang cantik sejak awal berkenalan dulu walau tanpa make up.


Tapi kali ini.... Sang pemuda seperti menemukan waktu yang tepat untuk menjalankan misinya. Misi yang sudah tertahan sekian lama.


"Berangkat sekarang?" tanya Clarice.


"Ya.." jawab Vino.


***


Maka kini Clarice dan Vino melangkah menuju aula yang sudah di tata sedemikian rupa untuk menjadi lokasi malam prom yang tak akan pernah terlupakan untuk semua kelas XII yang turut serta dalam keseruan malam ini.


Dekorasi terbaik dengan barisan kursi yang tata melingkar pada meja bundar yang jumlahnya cukup banyak. Berlapis kain penutup berwarna pink dan putih membuat tampilan menjadi terlihat segar dan cerah di dalam ruang aula yang besarnya bak ballroom hotel bintang 5 itu.


Karpet merah menyambut para siswa yang memasuki aula dengan pasangan masing-masing atau juga hanya datang sendiri.


Clarice melihat kanan kiri begitu memasuki pintu aula. Mencari sosok yang ia kenal selain Vino. Tapi bukan juga teman biasa yang hanya sekedar kenal saja.

__ADS_1


"Cari siapa?" tanya Vino.


"Oh.. emm.. cari Hanna!" jawab Clarice salah tingkah dan berkilah.


Karena yang sesungguhnya ia cari tentu saja sang pembalap yang tak terlihat sejak ia memasuki pagar sekolah menggunakan mobil milik Vino. Lebih tepatnya mobil milik sang Ayah, Beni Lubis.


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Cla, Hanna, Vino, Naufal, Gwen dan Aldi sang Atlit dari kelas XII IPS-1 sudah bertemu dan langsung menyantap hidangan yang sudah di sajikan oleh panitia yang merupakan anggota OSIS di sekolah.


"Di mana Arsen?" tanya Naufal pada semua teman-teman yang berada satu meja dengannya.


"Entahlah..." jawab Hanna.


Sejak tadi Hanna hanya fokus memperhatikan Vino dan Clarice. Ia bisa melihat gelagat Vino yang jelas terlihat tengah mendekati Clarice. Ia sempat berharap, jika dirinyalah yang akan di ajak untuk malam prom. tapi sebelum berangan, ia sudah yakin jika Vino tidak mungkin mengajaknya.


"Padahal dia bilang akan datang..." gumam Naufal.


Waktu terus berjalan, puncak acara yang merupakan pesta dansa untuk setiap murid yang datang bersama pasangan siap untuk di mulai.


"Came on, guys! maju ke depan..." seru MC yang di undang untuk memeriahkan acara malam ini.


Di depan sana, di depan panggung ada space yang cukup luas, yang di sediakan khusus untuk pasangan kekasih yang ingin berdansa.


Maka Naufal dan Gwen yang merupakan pasangan bucin pun langsung memilih untuk ikut maju ke depan.


"Mau berdansa dengan ku?" tawar Vino pada Clarice.


"Ha?" Clarice terdiam mendengar ajakan Vino.


"Berdansa, dengan ku..." ulang Vino.


"Tapi aku tidak bisa berdansa...." jawab Clarice.


"Tidak perlu berdansa, Cla, asal joged saja..." sahut Aldi.


"Sama saja... aku juga tidak bisa..."


"Sudahlah, yang penting kita maju saja dulu..." ujar Aldi. "Ayo, Hann! ikutan!" Aldi menarik tangan Hanna dengan sedikit memaksa.


Selama tiga pasang anak muda berdansa dan berjoget bersama dengan pasangan yang lain, masuklah salah satu murid laki-laki yang ternyata datang seorang diri. Melangkah dengan langkah santai dan senyum samar yang entah apa artinya. Pandangan matanya lurus ke arah depan. Dan berhenti tepat pada sosok ... cantik jelita nan anggun.


Mengenakan sepatu hitam, celana abu-abu, kemeja berwarna putih yang di lapisi tuxedo berwarna abu-abu, sang pemuda melangkah dengan tanpa peduli kanan dan kiri. Tidak peduli dengan tatapan para gadis yang menyayangkan laki-laki setampan ini harus datang seorang diri pada pro night yang hanya sekali ini setelah tiga tahun menempuh pendidikan.


Sebuah jam tangan dengan merk Aigner yang berharga kisaran 10 juta, melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sedang tangan kanannya masuk ke dalam saku celananya. Rambut hitam di sisir dengan rapi dan elegan.


Beberapa pasang mata yang tidak ikut berdansa, tentu tertarik secara tidak langsung ke arah sang pemuda. Menatap heran, juga penuh dengan tanda tanya. Sebagian bahkan sudah berkhayal, jika saja seandainya mereka bisa mendampingi sang pembalap...


"Kenapa dia datang sendiri?" tanya salah satu murid pada temannya.


"Kenapa tidak mengajak Shandy?"


"Aku juga tidak tau..." sahut yang lain.


Arsen, pemuda yang sejak tadi di cari oleh Clarice dan Naufal itu sesungguhnya sudah datang sejak tadi. Hanya saja sang pemuda memilih untuk diam di dalam mobilnya. Menghisap rokok, dan memutar ulang memori saat awal-awal pertama kali memasuki sekolah itu.


Semua momen, setiap detik nya masih sangat jelas teringat di dalam benaknya. Tidak satupun ia lupakan. Namun semua ini harus berakhir, untuk tingkat pendidikan yang lebih tinggi.


Kini ia duduk di meja bundar yang sebelumnya di tempati oleh Naufal, sang pemuda menyaksikan dengan santai banyaknya teman-teman yang memilih untuk berdansa di depan sana. Dan tetu ia hanya fokus pada satu gadis jelita yang terlihat sangat tidak nyaman berada di sana.


Musik dengan iringan DJ lokal yang di mainkan oleh salah satu murid di sekolah itu sendiri kini berganti dengan alunan musik romantis yang membuat mereka semua mengubah gerakan. Dari berjoget riang, jadi berdansa dengan berhadapan dengan pasangan masing-masing.


Clarice membeku dengan suara musik kali ini. Ia bingung harus bagaimana dan berbuat apa. Menyentuh Vino kini rasanya sangat aneh dan sungkan. Selain itu juga tidak nyaman.


Jemari tangan sang pemuda menggenggam erat. Membayangkan dirinya yang kini berada di sana bersama sang gadis. Pasti ia akan langsung memeluk dan membawanya untuk bergerak mengikuti alunan musik. Tidak seperti Vino yang di anggap bodoh karena tidak bisa membaca situasi yang di alami oleh Cla.


"Aku tidak bisa..." ucap Cla disertai dengan gelakan kecil karena malu dan salah tingkah.


"Sebenarnya aku juga tidak bisa.." jawab Vino tersenyum salah tingkah pula. "Kita coba bersama, ya?"


Akhirnya keduanya mencoba untuk berdekatan. Vino menautkan tangannya dengan tangan Cla. Dan keduanya bergerak mengikuti teman-teman yang cukup pandai untuk berdansa semacam ini.


Dari posisi duduknya saat ini, Arsen bisa dengan jelas melihat Clarice dan Vino yang sedang berdansa dengan sangat kaku, dan terlihat keduanya sesekali saling tertawa dan tergelak. Seolah menertawai diri mereka sendiri yang tidak bisa berdansa dengan luwes.

__ADS_1


Hingga waktu untuk berdansa pun berakhir...


Untuk sementara, mereka yang sudah berdiri di depan tidak di perbolehkan untuk duduk di kursinya kembali. Karena dua MC mendatangi satu persatu murid yang ada di depan untuk bertanya kesan dan pesan dari kelulusan ini secara bergantian.


Satu persatu siswa yang di tanya, mengundang tawa dan tepuk tangan dari seluruh siswa yang tergabung dalam acara malam ini. Karena bukan hanya kalimat serius yang di ucapkan oleh mereka. Tapi juga kalimat-kalimat lucu yang membuat perut sakit karena tertawa.


"Yang terpenting bagiku... Aku bahagia melihat sahabatku kini sudah boleh berpacaran..." jawab Naufal menunjuk Clarice dengan gelak tawanya.


"Oh, ya! yang mana sahabat kamu?"


"Itu dia!" Naufal menunjuk Clarice yang berdiri di samping Vino.


"Wooh... semacam surat izin ya...." sahut MC wanita.


"Okay! mari kita datangi dia..." ujar MC laki-laki.


Hingga akhirnya MC laki-laki dan perempuan itu sampai di dekat Clarice. MC itu mulai bertanya pada Cla yang tak menyangka jika dirinya akan menjadi salah satu siswa yang di datangi oleh MC. Dan itu akibat jawaban Naufal.


"Hi, girl..." sapa sang MC laki-laki dengan senyum manis.


"Helo.." balas Clarice menggunakan mic yang di sodorkan oleh sang MC.


"Cantik sekali malam ini..." pujinya tulus berbasa basi. Dan lagi Cla memang terlihat sangat cantik dan berbeda dari biasanya.


"Thank you..."


"Siapa nama kamu, cantik?"


"Clarice..."


"Nama yang cantik dan elegan seperti kamu dan penampilan kamu malam ini, Nona..."


Clarice hanya tersenyum menanggapi pujian yang di anggap berlebihan itu.


"Apa kesan yang kamu dapatkan dari kelulusan tahun ini? Dan kesan kamu selama tiga tahun di tingkat ini?" tanya sang MC.


"Sangat bangga dengan pencapaian selama tiga tahun ini, meski tidak menjadi terbaik di sekolah. Dan yang paling aku senang dari sekolah ini adalah memiliki banyak teman yang sangat baik dan setia."


"Wow! ini seperti yang aku ucapkan saat aku lulus Senior High School dulu, cantik..." sahut MC laki-laki dengan setengah tertawa. "Ada lagi?"


"A... Dan yang paling penting..." Clarice tampak ragu dengan apa yang ingin ia ucapkan.


"Apa?" tanya sang MC yang juga penasaran.


Bukan hanya sang MC yang penasaran. tapi juga Arsen yang masih duduk di kursinya.


"Yang paling paling apa yang di ucapkan Naufal benar adanya..." lanjutnya dnegan gelak tawa penuh canda.


"Wow! Jadi selama ini tidak boleh berpacaran oleh orang tua?"


"Ya, itu benar!" sahut Clarice.


"Jadi tidak punya cinta pertama?"


"Belum..." jawab Clarce menggeleng.


"Kira-kira apa sudah punya target? hahaha!" canda sang MC.


Namun Cla hanya menjawab sebuah gelak tawa yang tidak jelas pula.


"Baiklah girl.... selamat ata apa yang kamu dapatkan dengan kelulusan ini. Semoga kedepannya kau menjadi gadis yang sukses dan mendapatkan cinta pertama yang setia kepada kamu..."


"Aamiin... Thank you..."


"Apa di sini ada yang ingin berbicara menggunakan mic?" tanya sang MC. "Siapa tau ada yang ingin menyampaikan kesan-kesannya selama di sekolah terbaik ini..."


"Saya!"


Seorang pemuda mengangkat tangannya. Dan itu membuat semua siswa menoleh padanya.


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2