
Zahra sangat ragu dengan keputusan yang akan ia ambil. Tapi hati, pikiran dan logika memintanya untuk segera mengatakan apa yang sebenarnya di rasakan dan di pikirkan. Maka saat ia mendongak, menatap sepasang bola mata tegas pria yang tingginya melampaui dirinya itu, Zahra hanya bisa berkata...
"Maafkan saya tidak bisa menerima pinangan anda, Pak Zio..."
Satu kalimat yang menghancurkan mimpi - mimpi dan angan Zio yang sudah melambung dengan penuh rasa bangga.
Jodoh memang tidak ada yang tau dengan siapa kita berlabuh. Tapi ketika pengajuan cinta di tolak, rasanya sangat menyakitkan. Bahkan kaki saja seolah enggan untuk menapak tanah.
"Jika saya menikah dengan Bapak, itu artinya saya harus mengundurkan diri dari perusahaan." ucap Zahra mulai bercerita apa yang mengganjal di dalam pikirannya. "Sementara saya memiliki seorang anak yang hanya bisa mengandalkan saya untuk bisa memenuhi kebutuhannya. Jika saya mengundurkan diri dari Adhitama Group, saya akan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan lain, mengingat usia saya yang sudah tidak lagi muda, Pak Zio."
"Oh, My God! Zahra....!" Zio menggeleng heran dan gemas dengan pemikiran Zahra yang ia anggap sangat tidak masuk akal. ia buang nafas dari mulut dengan sangat kasar dan resah.
"Maafkan saya, Pak Zio... saya tidak bisa semudah itu menerima lelaki untuk menjadi suami saya. Saya punya tanggungan yang tidak bisa saya tinggalkan untuk mengabdi pada seorang suami." kini perempuan 28 tahun itu menunduk dalam. Hati rasanya ingin menangis etika mengucapkan kalimat itu.
Ia tau, dengan apa yang ia ungkapkan. Itu artinya ia menolak Zio sebagai suaminya. Meski sangat berat karena sesungguhnya ia juga memiliki perasaan yang sama pada atasannya itu. Apalagi beberapa jam di kolam renang membuat keduanya semakin akrab dan tanpa ragu saling melempar tawa suka cita bahkan candaan. Dan dalam waktu singkat itu, perasaan yang tumbuh semakin kuat dan nyata.
Tapi dunia Zahra masih harus terus berputar bukan?
Meninggalkan status janda dengan membawa satu anak perempuan yang masih berusia 5 tahun bukanlah hal yang mudah. Banyak yang harus di pertimbangkan.
Tapi ia merasa itu lebih baik untuk Zio yang pasti ingin memiliki istri yang sepenuhnya memiliki waktu untuk nya. Dan ia juga tak ingin merepotkan Zio dengan biaya hidup sang putri.
Selain itu, juga terbaik untuk putrinya, yang memang pasti membutuhkan biaya hidup sampai sang anak kelak berhasil meraih cita - citanya. Dan hidup mandiri. Dengan siapa ia meminta jika dia tidka bekerja?
"Zahra...?" panggil Zio lirih, sangat lirih dan syahdu. "Dengarkan aku..." pintanya. "Lihat mataku.." ujar Zio lagi, sembari mengangkat dagu Zahra untuk mendongak dan menatap matanya.
Zahra pun mengikuti pergerakan tangan kekar Zio yang menyentuh dagunya dan mendongakkan kepalanya, hingga matanya kembali bertemu dengan mata Zio yang menghanyutkan siapa saja yang sedang di lihat dengan tatapan seperti itu.
"Jika aku meminta kamu untuk menjadi istriku, lalu kamu harus keluar dari perusahaan, itu artinya aku dengan seluruh ketulusan ku bersedia untuk menanggung apapun yang kamu butuhkan. Menjadikan tanggunganmu adalah tanggunganku. Kamu cukup di rumah, merawat anak - anak dan menunggu ku pulang bekerja." ucap Zio dengan suara yang sangat lembut.
"Kamu dan aku, kita sama - sama memiliki anak. Jika kamu bersedia menjadi Ibu sambung untuk anak ku, itu artinya aku juga bersedia untuk menjadi Ayah sambung anak kamu."
"Jika kamu bersedia menikah dengan ku, itu artinya mereka berdua adalah milik kita. Dan kita menjaga apa yang menjadi milik kita. Sudah tidak ada lagi anak ku, anak kamu. Semua menjadi anak ki...ta!" jelas Zio memperjelas maksudnya.
"Tapi Nona Clarice tidak selalu bersama Pak Zio, sementara Felia? setiap hari dia akan bersama saya. Jika kita menikah itu artinya setiap hari Felia akan mengganggu Pak Zio. Karena kita tinggal bersama."
"Mengganggu bagaimana maksud kamu?" tanya Zio tidak setuju dengan asumsi Zahra. "Sudah aku katakan, jika kita menikah apa yang menjadi tanggungan mu akan menjadi tanggunganku. Itu artinya Felia memang akan menjadi tanggung jawab ku. Tugas ku untuk menjaganya sebagai Ayah."
"Tapi, Pak..." Zahra tampak masih ragu.
"Zahra, please!" potong Zio tak ingin argumen tidak masuk akal Zahra kembali terdengar oleh telinganya. "Kamu sudah mendengar penjelasanku. Kamu hanya perlu bertanya pada hatimu yang paling dalam..." Zio menunjuk dada Zahra dengan ujung telunjuknya.
"Bersediakah kamu menjadi istriku?" tanya Zio dengan suara yang kembali bergetar.
"Jangan pikirkan yang lain, Zahra. Aku hanya ingin tau isi hatimu, bukan isi pikiran kamu." lanjut Zio. "Aku tau, kamu punya banyak hal yang harus di pikirkan. Tapi biarkan pikiran itu kita selesaikan bersama."
Zahra memaksa untuk menunduk. Melawan jemari Zio yang masih ingin perempuan itu menatap matanya. Zahra benar - benar merasakan hatinya yang terus berkata menginginkan lelaki di hadapannya, tapi lagi - lagi realita berusa menggempur keyakinannya. Tapi hatinya terus saja berteriak untuk menerima pinangan Zio.
"Katakan, Zahra..." pinta Zio dengan sangat lirih dan penuh permohonan. "Biarkan Air kolam ini menjadi saksi kejujuran kita. Menyakitkan atau tidak, apapun itu. Asal hatimu yang berbicara aku pasti akan menerimanya dengan lapang dada."
"Saya..."
Zio menatap lekat wajah Zahra. Berharap apa yang keluar dari bibir Zahra adalah kalimat penerimaan akan pinangannya.
"Saya bersedia menikah dengan anda... Pak Zio..." ucap Zahra pelan dan sangat jelas. Ia melawan pikirannya yang memang selalu mengkontaminasi hatinya. Tapi hatinya juga tidak mampu untuk berdusta.
Mata Zio memicing seolah tidak percaya dengan apa yang di ucapkan sang wanita. Namun bibir sudah menyungging senyum samar.
"Saya bersedia untuk menjadi Ibu sambung Nona Clarice..." jelas Zahra ketika Zio seolah berkata ulangi lagi.
__ADS_1
Kalimat yang di ucapkan Zahra membuat Zio bagai sedang di hujani salju di tengah kemarau panjang yang menghauskan dahaga. Satu kalimat yang seolah mengubah dunianya yang abu - abu menjadi penuh warna bagai pelangi di langit sore yang indah.
Tubuh gagah yang sudah pernah dua kali menikahi wanita berbeda itu seperti membeku di dalam air kolam renang yang setinggi perutnya, namun setinggi dada untuk Zahra.
Tertegun, ia sungguh tak menyangka jika Zahra benar akan menjawab pertanyaannya dengan sebuah kalimat yang membuat jantungnya kini semakin berdebar, setelah debaran itu sempat ia paksa untuk pergi saat Zahra tadi diam saja sampai hitungan habis.
Bagai mendapatkan cinta pertama yang sudah lama ia impikan, nafas Zio ikut tidak beraturan, bahkan sendi - sendi jemari pun ikut membeku.
"Kamu... menerima aku menjadi calon suami kamu?" tanya Zio meyakinkan dirinya jika dia tidak sedang salah dengar maupun hanya halusinasi.
"Iya, Pak.... saya bersedia menikah dengan Pak Zio. Saya menerima Pak Zio sebagai calon suami saya." jelas Zahra lebih panjang dan ia masih menatap ekspresi Zio yang seperti mendapat kejutan teristimewa.
Wajah yang semula masam dan di penuhi dengan mendung, seketika terlihat cerah. Tatapan tak percaya, senyuman bangga terpancar hanya untuk Zahra yang seketika menunduk malu saat melihat ekspresi Zio yang di anggap berlebihan.
"YES!!!" seru Zio sedikit tertahan dan langsung menghambur untuk memeluk Zahra dengan erat. Sangat erat. Dan dengan bahagia ia bawa tubuh mungil Zahra berputar di dalam air kolam. Menghiraukan pandangan orang tentang apa yang mereka lakukan.
Bahagia yang di rasakan Zio tidak akan terulang untuk kedua kalinya. Dan ini kali pertama ia mendapat jawaban cinta di tempat umum. Di antara orang - orang yang sedang asyik bermain di kolam renang dewasa.
Toh, ia yakin, orang - orang itu pasti mengira jika mereka adalah sepasang suami istri atau bahkan pengantin baru. Karena tidak ada anak kecil yang bersama mereka berdua.
Namun di balik rasa bahagia yang di rasakan oleh Zio, ada Zahra yang merasa malu dengan apa yang di lakukan Zio saat ini. Terlalu berlebihan untuk mereka yang sama - sama sudah merasakan mahligai pernikahan. Tapi Zahra paham, Zio hanya mengungkapkan rasa bahagia. Hingga akhirnya ia memilih untuk ikut tertawa lepas dan merengkuh leher Zio dengan lebih erat.
Ia biarkan tubuh rampingnya di bawa berputar dengan perasaan yang sama - sama menunjukkan saling menginginkan satu sama lain.
Dan apa yang di lakukan Zio membuat keduanya berakhir dengan menjatuhkan diri ke dalam air kolam. Hingga tubuh mereka tenggelam yang di iringi dengan tawa suka cita di dalam air kolam.
Ya, mereka bagai sepasang muda mudi yang baru saja mengutarakan perasaan. Dan sekarang resmi berpacaran.
Membuka mata di dalam kolam, saling berhadapan dan menatap, juga menautkan kedua tangan mereka, wajah keduanya terlihat sangat bersinar dan berseri. Senyum terlihat begitu tulus dan saling mengagumi satu sama lain.
Muncul kembali di permukaan secara bersamaan, keduanya tertawa lepas sembari mengusap wajah yang terguyur air kolam.
"Ya, Pak! nanti malam saya akan membuat surat pengunduran diri." jawab Zahra tersenyum malu.
Wajah Zio kembali masa,m, "Stop panggil PAK!" ujar Zio. "Mulai sekarang panggil MAS!"
Zahra kembali terkekeh, mengingat kembali jika dia tadi juga tertawa gara - gara panggilan Mas yang di ajukan Zio.
"Iya, Mas Zio!" jawab Zahra, meski sedikit kaku.
"Bagus!" ujar Zio ingin sekali mencium kening Zahra untu pertama ali. Tapi untuk saat ini sebisa mungkin ia menahannya.
"Jadi seluncuran lagi?" tanya Zahra.
"Let's Go!" seru Zio menggenggam tangan Zahra dan kembali meraih pelampung ganda milik mereka.
Kembali menaiki tangga yang tinggi dengan status hubungan yang sudah berbeda, wajah keduanya tampak jauh lebih sumringah. Zio membawa pelampung gandanya dan tangan Zahra ia genggam di tangan kiri. Dan dengan perasaan senang keduanya kini kembali duduk di atas pelampung ganda. Dengan Zahra yang berada di bagian depan.
"Setelah ini kita bermain arung jeram!" ujar Zio.
"Ya, aku mau!" sahut Zahra sebelum pelampung di dorong oleh petugas.
Dan pelampung ganda mereka kembali meluncur, dengan status hubungan yang sudah berbeda. Dari hanya rekan kerja, menjadi calon istri dan calon suami.
Happy Ever Zio and Zahra...
***
Rombongan Kenzo kini mulai mendekati area kolam renang yang luasnya tidak terkira. Setelah Clarice dan Felia puas bermain di playground, kini semua berganti baju renang. Karena tidak menemukan posisi Zio dan Zahra, sehingga anak - anak harus beli baju renang yang baru. Tidak masalah, uang bukan hal susah untuk di dapatkan oleh Kenzo.
__ADS_1
"Hati - hati, Clarice!" seru Calina memperingatkan sang anak sulung yang sedang bermain dengan Felia. Meski ada Kenzo dan Gilang yang ikut turun ke kolam untuk mengawasi anak - anak, tetap saja hati seorang Ibu tak ingin anak nya sampai tergelincir di kolam. Apalagi tertabrak anak - anak lebih besar yang berlarian.
"Yes, Mommy!" jawab Clarice sembari berlarian di antara kolam yang sedalam lutut Kenzo. Laki - laki yang berpawakan bule.
"Felia mau seluncuran di sana?" tawar Gilang pada anak Zahra.
"Ya, Om!" jawab Felia dengan suka cita.
"Panggil Uncle! jangan Om ya?" protes Gilang dengan gemas pada Felia.
"Okay, Uncle!" jawab Felia.
"Kalau panggil Daddy nya Cla juga harus begitu, Uncle! bukan Om... Okay?"
"Okay!" jawab Feli enteng. "Memangnya kenapa?" tanya Felia penasaran.
"Tidak apa! kami hanya tidak suka di panggil Om!" kikik Gilang mencubit gemas pipi Felia.
"Oh, okay, Uncle!" jawab Felia mengikuti saja aturan yang di buat Gilang.
Ini bukan kali pertama Gilang bertemu Felia, sehingga ia sudah mengenal Felia dan dengan senang hati menjaga anak itu. Felia di gendong oleh Gilang untuk menaiki tangga, dan langsung meluncur bersama di seluncuran yang lebar setinggi empat meter itu.
"Yeay! SEERRUU!" teriak Felia saat tubuh mungilnya yang di pangku GIlang menuruni alas seluncuran dengan cepat.
"Mau lagi?" tawar Gilang pada gadis kecil yang mungkin saja akan menjadi keponakannya kelak.
"Mau, Uncle!"
"Cla mau seperti Felia dan Uncle Gilang, Daddy!" pinta Clarice pada Kenzo.
"Okay, Sayang! ayo!"
Kenzo segera menggendong sang anak sambung dan membawanya menaiki tangga. Kemudian di belakangnya ada Gilang yang juga menggendong Felia.
"Bersamaan ya, Uncle?" ajak Clarice pada Gilang yang memangku Felia. Sementara ia di pangkuan Daddy Kenzo.
"Ayo, Cla Sayang! kita balapan!" tantang Gilang.
Dan kedua kelompok meluncur bersamaan. Dan jatuh di dalam kolam secara bersamaan pula. Sungguh riang anak - anak di siang hari itu.
Sedangkan Calina masuk ke dalam kolam khusus anak balita yang belum bisa berenang. Dimana kedalaman kolam hanya sampai betis orang dewasa saja. Ia sigap untuk hanya menjaga Galen yang baru berusia dua tahun.
Lalu Mama Shinta dan Kayla, mereka duduk di kursi tunggu yang tidak jauh dari kolam. Menikmati camilan yang di pesankan oleh Kayla. Ya, Kayla kini sudah memegang uang sendiri, pemberian dari GIlang yang sudah berjanji untuk memenuhi kebutuhan Kayla.
Meski ini liburan pertama untuk Kayla, rupanya gadis itu enggan untuk membasahi tubuhnya dengan air kolam. Ia hanya memilih untuk duduk berdua bersama Mama Shinta sembari berkali - kali mengambil foto rombongannya dari jarak jauh. Dan satu yang paling ia fokuskan untuk mendapat foto seseorang.
Betul! Ia hanya fokus menatap dan memfoto... Ya, Gilang. Yang terlihat tampan dan sangat cocok untuk menjadi seorang Ayah. Gilang yang menjaga keponakannya benar - benar menyentuh hatinya yang baru saja kembali berbaur dengan orang - orang normal lainnya.
' Sejak dulu wajahnya tidak pernah berubah... tetap tampan dan mempesona... '
Gumam Kayla menatap Gilang yang sedang berseluncur dengan keponakannya.
"Kalian berpacaran?" tanya Mama Shinta pada Kayla yang langsung membuat Kayla menoleh Mama Shinta.
***
Sedangkan Zio dan Zahra sudah berada di wahana arung jeram. Dan tengah duduk di kursi yang membentuk lingkaran, bersama dengan orang - orang yang tak mereka kenal
Semua yang ada di dalam sana, sudah tak sabar untuk di buat basah kuyup oleh wahana yang menjadi favorit orang - orang di sana.
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...